"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Syuting Pertama dan Fokus yang Tertuju
Pagi itu, area taman belakang Hanlim High School telah ditutup untuk umum. Beberapa kru siswa dari jurusan film tampak sibuk mengatur lighting dan kamera di bawah instruksi tegas Guanlin. Dengan headset di leher dan papan naskah di tangan, Guanlin terlihat sangat berbeda. Aura dinginnya berubah menjadi aura kepemimpinan yang sangat kuat dan berwibawa.
Di sudut set, sebuah kursi sutradara khusus telah disiapkan. Di sampingnya, terdapat kursi kecil yang lebih empuk dengan bantal bulu berwarna soft pink—kursi khusus untuk Aira.
"Aira, kemarilah," panggil Guanlin dengan suara rendah namun terdengar jelas di tengah kebisingan kru.
Aira berjalan mendekat sambil memeluk buku catatannya. Ia memakai sweater rajut oversize yang membuatnya tampak sangat mungil. "Iya, Pak Sutradara?" ucap Aira dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana.
Guanlin tidak bisa menahan senyum tipisnya. Ia membimbing Aira untuk duduk di kursinya, lalu ia sendiri berlutut di samping kursi itu agar tingginya sejajar dengan Aira. "Ini adalah adegan paling penting. Aku butuh instingmu sebagai penulis. Jika menurutmu emosi aktornya tidak sampai pada apa yang kau tulis di naskah Miss KA, beritahu aku. Jangan sungkan, mengerti?"
Aira mengangguk mantap, wajahnya merona karena diperlakukan begitu spesial di depan kru lainnya. "Siap, Kak Guanlin! Aira bakal jagain setiap kata yang Aira tulis."
Proses syuting dimulai. Guanlin sangat fokus pada monitor, namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Aira. Setiap kali ada jeda pengambilan gambar (break), hal pertama yang dilakukan Guanlin bukanlah memeriksa kamera, melainkan memastikan kondisi Aira.
"Aira, apa kau haus?" tanya Guanlin pelan. Sebelum Aira menjawab, Guanlin sudah menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya dan sebatang cokelat kesukaan Aira.
"Makasih, Kak..." Aira menerima cokelat itu dengan senang hati. Ia mulai bermanja-manja, menyandarkan kepalanya di lengan kursi Guanlin. "Kak Guanlin kalau lagi kerja serem ya, kru-kru tadi sampai nggak berani napas pas Kakak teriak 'Action'."
Guanlin terkekeh, ia mengusap puncak kepala Aira dengan lembut, sebuah tindakan yang sangat kontras dengan ketegasannya pada kru beberapa menit lalu. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk proyek kita. Tapi untukmu, aku tidak akan pernah berteriak."
Tiba-tiba, angin bertiup cukup kencang, membuat rambut Aira berantakan. Tanpa ragu, Guanlin meletakkan papan naskahnya dan menggunakan jemarinya untuk merapikan helaian rambut Aira, menjepitnya di belakang telinga dengan sangat hati-hati. Momen itu terasa sangat intim, seolah-olah dunia di sekitar mereka yang sibuk mendadak berhenti berputar. Hanya ada sutradara dan penulisnya yang saling berbagi kehangatan.
Saat memasuki adegan emosional di mana tokoh utama harus menangis, Aira merasa ada yang kurang. Ia menarik ujung kemeja Guanlin pelan. "Kak... bagian ini, Aira rasa aktornya terlalu sedih yang 'berisik'. Harusnya dia sedih yang diam, kayak orang yang nggak punya tenaga lagi buat nangis."
Guanlin tertegun mendengar penjelasan Aira. Ia melihat kembali ke monitor, lalu mengangguk setuju. "Kau benar. Kesedihan yang sunyi jauh lebih menyakitkan."
Guanlin kemudian mengajak Aira masuk ke dalam tenda monitor yang lebih tertutup agar mereka bisa berdiskusi lebih dalam tanpa gangguan kru lain. Di dalam tenda yang sempit itu, mereka duduk sangat berdekatan. Aroma parfum kayu cendana milik Guanlin memenuhi ruangan kecil itu.
"Gimana kalau kita tambahkan satu baris dialog di sini?" Guanlin membungkuk di atas naskah Aira, membuat bahu mereka bersentuhan.
Aira merasa jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba fokus pada kertas di depannya, tapi kehadiran Guanlin yang begitu dekat membuatnya gugup. "B-boleh... Kakak mau tambah dialog apa?" rengek Aira dengan suara yang semakin kecil dan manja.
Guanlin menoleh ke arah Aira, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Dialog tentang janji untuk tetap bersama, apa pun yang terjadi." Guanlin menggenggam tangan Aira yang sedang memegang pena. "Terima kasih sudah ada di sini, Aira. Aku tidak tahu apa jadinya proyek ini tanpa kehadiranmu di sampingku."
Aira hanya bisa menunduk malu, menyembunyikan senyum bahagianya di balik naskah. Di luar sana, para kru mungkin melihat Guanlin sebagai pemimpin yang kaku, tapi di dalam tenda ini, Aira tahu bahwa Guanlin adalah pangeran yang paling lembut yang pernah ia temui. Tidak ada Sunoo, tidak ada Heeseung, dan tidak ada Eunwoo. Hari ini, dunia Aira hanya berputar di sekitar Guanlin.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Sebagian besar kru siswa sudah pulang karena hari mulai gelap, menyisakan hanya beberapa teknisi senior yang sedang membereskan kabel di kejauhan. Aula tua Hanlim, yang menjadi lokasi utama adegan klimaks, kini terasa sunyi dan dingin. Hanya ada satu lampu spotlight besar yang masih menyala, menciptakan lingkaran cahaya di tengah panggung kayu yang sudah usang.
Aira duduk di pinggir panggung, kakinya yang mungil berayun-ayun manja. Ia memakai jaket denim milik Guanlin yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari tubuhnya. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau kertas naskah membuat Aira merasa sangat nyaman.
"Kak Guanlin... Aira capek banget," rengek Aira sambil menyandarkan kepalanya di tiang penyangga lampu. Mata bulatnya tampak sedikit berair karena menahan kantuk.
Guanlin, yang baru saja selesai memeriksa hasil rekaman di monitor, berjalan mendekat. Ia melepaskan headset dari lehernya dan duduk di lantai panggung, tepat di bawah kaki Aira. "Sini, istirahat dulu. Maaf ya, aku terlalu ambisius sampai lupa kalau penulis kecilku ini butuh istirahat."
Aira menunduk, menatap wajah Guanlin yang tampak sangat tampan di bawah sorotan lampu remang. Ia memberanikan diri untuk mengusap kening Guanlin yang sedikit berkeringat. "Kakak juga capek. Kakak dari tadi berdiri terus, marah-marah terus ke kru. Kakak nggak mau istirahat juga?"
Guanlin meraih tangan Aira yang ada di keningnya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan sangat lembut. "Istirahatku itu saat melihatmu tersenyum, Aira. Selama kau di sini, aku merasa punya energi sepuluh kali lipat."
Wajah Aira seketika memerah panas. Ia menarik tangannya dan menutupi wajahnya dengan jaket Guanlin yang kebesaran. "Ih! Kakak belajar gombal dari mana sih? Kak Yoongi pasti bakal marah kalau tahu Kakak ngomong begini ke Aira!"
Guanlin tertawa pelan, suara tawa yang sangat langka dan hanya ia tunjukkan saat bersama Aira. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Aira. "Aira, di adegan terakhir nanti, tokoh utamanya harus berdansa sendirian di bawah lampu ini. Tapi aku merasa ada yang kurang dalam naskahmu."
"Kurang apa?" tanya Aira bingung sambil menerima uluran tangan Guanlin dan turun dari panggung.
"Kurang emosi yang nyata. Bagaimana kalau kita mencobanya? Hanya kita berdua, tanpa kamera, tanpa kru," bisik Guanlin.
Guanlin menarik pinggang Aira mendekat. Tangan kanannya berada di pinggang mungil Aira, sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan Aira. Di tengah aula yang sunyi itu, mereka mulai bergerak perlahan, berputar di bawah lingkaran cahaya spotlight. Tidak ada musik, hanya suara deru napas mereka dan gesekan sepatu di atas lantai kayu.
Aira merasa jantungnya berdetak sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Guanlin, bermanja pada kehangatan tubuh pria itu. "Kak... peluknya kencang banget, Aira nanti nggak bisa napas..."
"Biar saja. Dengan begitu kau tidak akan bisa lari dariku," balas Guanlin dengan suara rendah yang sangat seksi. Ia menunduk, menghirup aroma rambut Aira yang wangi stroberi. "Aira, terima kasih sudah mempercayakan naskah Miss KA-mu padaku. Aku berjanji akan menjaganya, dan menjagamu, dengan seluruh kemampuanku."
Aira mendongak, menatap mata Guanlin yang berkilau karena pantulan lampu. Di saat itu, Aira menyadari bahwa Guanlin bukan lagi sekadar kandidat riset atau teman sekolah. Dia adalah pelindung yang membuatnya merasa aman bahkan di tengah ketakutan akan rahasianya yang bisa terbongkar kapan saja.
Setelah "dansa tanpa musik" yang sangat romantis itu, Guanlin mengantar Aira menuju mobil jemputan yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Namun, sebelum Aira masuk ke mobil, Guanlin menahan lengannya pelan.
"Aira, tunggu sebentar," Guanlin mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bintang kecil yang sangat indah. "Ini bukan properti film. Ini dariku. Pakai ini, agar kau selalu ingat bahwa kau adalah bintang utama di film ini... dan di hidupku."
Aira terpaku, matanya berkaca-kaca karena haru. "Kak Guanlin... ini bagus banget. Tapi Aira nggak bawa apa-apa buat Kakak."
"Kau sudah memberikan segalanya dengan berada di sampingku hari ini," ujar Guanlin sambil memakaikan kalung itu ke leher Aira. Jari-jarinya yang panjang sesekali menyentuh kulit leher Aira, memberikan sensasi dingin yang menggelitik.
Tiba-tiba, suara klakson mobil yang sangat keras terdengar. Itu adalah Jungkook yang sudah tidak sabar menunggu di dalam mobil van hitam. Ia menurunkan kaca jendela dan berteriak, "GUANLIN! SUDAH LEWAT JAM TUJUH! PULANGKAN ADIKKU SEKARANG!"
Guanlin mendesah pelan namun tersenyum geli. Ia mengacak rambut Aira untuk terakhir kalinya hari itu. "Masuklah. Sebelum 'Harimau' itu keluar dari mobilnya. Sampai jumpa besok di set syuting, Tuan Putri."
Aira berlari kecil menuju mobil sambil memegangi liontin bintangnya. Begitu masuk ke mobil, Jungkook langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. "Kenapa lama sekali? Kenapa wajahmu merah? Apa dia melakukan sesuatu padamu?!"
Aira hanya tersenyum manja dan memeluk lengan Jungkook. "Nggak ada apa-apa kok, Kak Kookie sayang... Kak Guanlin cuma... cuma ngajarin akting dikit. Hehe."
Aira menempelkan wajahnya di jendela mobil, menatap sosok Guanlin yang masih berdiri tegak di depan gerbang sekolah sampai mobil mereka menghilang di tikungan jalan. Malam itu, Aira tertidur pulas dengan senyuman di wajahnya, merasa menjadi gadis paling beruntung karena memiliki sutradara yang begitu mencintainya.
📢 SO SWEET! 😍 Guanlin bener-bener dapet momen emas malam ini di aula tua! Dansa tanpa musik dan kalung bintang... siapa yang nggak baper coba? Tapi apa kabar pangeran lainnya ya?
👇 VOTE [A] TEAM GUANLIN! Pokoknya mereka berdua harus jadian! | [B] Aku kangen Sunoo! Munculin Sunoo di Bab depan dong! | [C] Eunwoo mana Eunwoo? Visualnya harus balik lagi!
💬 KOMEN: Kira-kira apa reaksi Kak Jungkook kalau tahu Aira dapet kalung dari Guanlin? Bakal langsung dibuang atau disita? 😂
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab selanjutnya mungkin bakal makin panas, kira-kira ada hal baru apa ya!
⭐ KASIH RATING 5 STARS biar Aira terus dimanja sama cowok-cowok tampan ini!
BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #AiraGuanlin #PrivateDance #DirectorSweet #JealousBrother