“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
“Istri saya sudah bilang kalau itu bukan miliknya, apa kau tidak mendengar?” hardik Albiru yang habis sabar melihat pria itu, dia meminta Alisha masuk ke dalam mobil segera dan tentunya dipatuhi oleh Alisha.
“Oh maaf, berarti saya yang salah.” Albiru tidak lagi menanggapi, dia meninggalkan pria aneh tersebut dan memasuki mobilnya sendiri tanpa peduli.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan basement mall yang cukup temaram itu dan tanpa mereka sadari bahwa saat ini, pria aneh itu menyeringai menatap kepergian mereka.
“Menarik,” gumamnya lalu mencium sapu tangan miliknya sambil menyeringai jahat.
Di dalam mobil, Alisha merebahkan kepalanya di bahu Albiru. Rasa lelah menggerubuni seluruh tubuhnya terlebih di bagian kaki, berbelanja memang menyenangkan tapi efeknya ke kaki cukup besar sampai Alisha sedikit mengeluh karena ngilu.
“Nanti di rumah aku pijat kaki kamu ya,” tawar Albiru yang dibalasi anggukan oleh Alisha. Perempuan itu meraih bantal empuk di jok belakang dan menaruhnya di kedua paha Albiru, dia lalu merebahkan kepala di sana dan mulai memejamkan mata. Albiru hanya mengusap lembut kepala sang istri hingga tertidur lelap dan melajukan mobil dengan pelan agar Alisha tidak terusik.
Di tempat lain, pria aneh yang menemui Alisha tadi kini melaporkan pertemuannya pada Mathias— pria yang telah menyuruhnya mendekati Alisha di mall.
“Suaminya cukup protektif dalam menjaga Alisha, Bos. Kelihatannya agak sulit untuk bisa masuk dalam hubungan mereka,” lapor pria itu.
“Untuk masuk ke dalam hubungan mereka bukan hal yang sulit, aku hanya butuh respon dari Albiru atas istrinya. Agar aku bisa menyusun rencana untuk membunuh Alisha karena klienku ingin Alisha mati tanpa harus membuat banyak drama. Kalau Albiru bisa se protektif itu, berarti dia sangat menjaga Alisha.” Gavin berkata sambil tersenyum simpul, dia mengusap dagunya lalu berdiri dari tempat duduk. “Aku ingin kau terus mengawasi Alisha dan berikan informasi padaku mengenai kegiatannya sehari-hari, aku hanya punya waktu 3 hari untuk mengawasinya sebelum dia aku eksekusi, Theo.” Theo pria yang dipanggil langsung menunduk hormat.
“Baik, Bos.”
Theo keluar dari ruangan bosnya itu, sedangkan Gavin berdiri menghadap jendela yang menampilkan pemandangan kota di malam hari. Gavin kembali teringat pada masa di mana dia dulu menyatakan cinta terhadap Alisha ketika gadis itu masih SMA namun Alisha menolaknya karena belum ingin berpacaran.
“Aku menunggumu hingga kau siap, Sha. Tapi kau malah menjalin hubungan dengan Albiru, rivalku sejak dulu dan itu sangat menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki. Aku setiap saat mengemis cinta darimu tapi kau selalu mengabaikan aku. Kini, aku tidak akan membiarkan kau dan Albiru hidup bahagia apalagi sampai kau melahirkan anak untuknya. Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka Albiru juga tidak bisa.” Gavin berkata tegas dengan kedua tangan mengepal kuat. Rencananya untuk menghabisi Alisha sudah sangat bulat dan dirinya akan melakukan sendiri.
Gavin melihat tangannya lalu berkata kembali. “Tangan ini akan aku lumuri dengan darahmu, Alisha. Sebagai ganti atas rasa sakit yang pernah aku terima dari dirimu, aku tidak peduli dengan kondisimu saat ini dan yang terpenting, kau menderita.” Gavin kemudian tertawa nyaring di mana terselip rasa sakit di balik tawa tersebut.
***
Theo terus mengawasi Alisha dan melaporkan kapan waktu yang tepat bagi Gavin untuk mencelakai Alisha. Sudah tiga hari ini dia memantau kondisi. Theo kembali pulang ke kediaman Gavin untuk menyampaikan hasil pantauannya.
“Dia akan ke taman besok bersama dengan Dafrina dan Dhevi, Bos. Kita bisa menculiknya saat di perjalanan nanti.” Gavin menganggukkan kepala.
“Kau culik dan bawa dia padaku, setelah itu kita pergi ke luar negeri agar Albiru tidak bisa menemukan istri tercintanya. Aku sangat tahu jaringan Albiru cukup luas di sini tapi di luar negeri? Dia tidak memiliki kekuasaan apapun.”
“Baik Bos, akan saya lakukan dengan baik.”
***
“Kamu gak jadi ke taman sama bunda?” tanya Albiru ketika istrinya itu meminta untuk ikut ke kantor.
“Enggak deh, aku mau ikut kamu aja. Tiba-tiba malas ke sana.” Albiru tersenyum dan mencubit gemas pipi Alisha yang mana saat ini istrinya itu tengah memasangkan dasi.
“Oke deh, aku bakalan semangat kalau ditemani sama kamu.” Alisha terkekeh dan menyembunyikan wajah meronanya di dada Albiru.
Mereka berdua pamit untuk pergi ke kantor hari ini, Alisha menaiki mobil lebih dulu baru disusul oleh Albiru. Theo yang sudah memantau seketika memukul setir berulang kali karena rencananya untuk menculik Alisha gagal.
Theo segera menghubungi Gavin dan mengatakan bahwa Alisha ikut dengan Albiru pagi ini.
“Aku tidak mau tau, aku sudah menyiapkan keberangkatan kita ke Rusia malam ini dan aku tidak mau kau gagal, Theo. Lakukan apapun agar Alisha bisa bersamamu.” Gavin membentak Theo melalui panggilan telepon itu.
“Baik Bos, akan saya lakukan.”
Panggilan berakhir dan Theo mengikuti mobil Albiru, mobil itu selalu melewati jalanan yang ramai hingga Theo kesulitan untuk mengambil kesempatan. Dia menghubungi beberapa orang anggotanya agar membantu untuk menculik Alisha. Ketika Theo putus asa, ternyata Albiru membelokkan mobil ke arah yang cukup sepi, pria itu menyeringai lalu menghalangi mobil Albiru saat jalanan benar-benar sepi.
Alisha memegang tangan suaminya saat mobil di depan menghalangi. “Dia siapa, Bi?” tanya Alisha takut.
“Kamu di sini aja ya, biar aku yang menemui dia.”
“Jangan keluar, aku takut, Bi.”
“Kamu gak usah takut, aku di sini.” Albiru mengusap lembut kepala istrinya lalu mencium kening Alisha sebelum keluar dari mobil.
Albiru mengetuk pintu mobil orang yang sudah menghalanginya dan Theo keluar, jelas saja Albiru langsung emosi. “Kau lagi? Mau apa kau hah? Sejak awal aku melihatmu memang ada yang berbeda. Apa maumu brengsek?” bentak Albiru yang hanya dibalas senyuman oleh Theo.
“Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan istrimu, apa boleh?” Albiru langsung mencengkeram kerah baju Theo dan melayangkan pukulan, Theo menghadapi Albiru dengan berani hingga terjadi baku hantam di antara mereka. Tak lama, di dalam mobil, Alisha dibekam oleh seorang pria yang baru saja datang menggunakan mobil lain lalu membawanya tanpa disadari oleh Albiru.
Alisha dibekap hingga pingsan dan dimasukkan ke dalam mobil anggota suruhan Theo. Theo sengaja memancing emosi Albiru agar anggotanya bisa membawa Alisha, dia menyibukkan Albiru dengan pertarungan sengit hingga Albiru terkecoh. Theo akhirnya kalah telak di tangan Albiru, pria itu terkapar dengan wajah babak belur serta darah yang memenuhi wajah.
“Jangan coba-coba mengganggu istriku lagi atau kau akan mati di tanganku,” tegur Albiru lalu menendang perut Theo. Pria itu terbatuk dan memuntahkan darah ke tanah. Albiru kembali ke dalam mobilnya dan panik saat tak ada lagi Alisha di sana.
Dia mengedarkan pandangan ke sana kemari tapi tidak menemukan Alisha. Dia hendak kembali pada Theo tapi pria itu sudah melesat pergi, Albiru mengejar mobil Theo untuk karena dia yakin kalau Alisha menghilang karena ulah dari Theo.