Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Rangga sudah rapi dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, tampak segar seolah rasa sakit semalam hanyalah mimpi buruk yang lewat.
Di depan kedai, Ayu sedang sibuk menyapu halaman dan menata kursi-kursi kayu sebelum pelanggan pertamanya datang. Ia tampak sederhana namun manis dengan hijab instan berwarna cokelat muda yang menutupi kepalanya dengan rapi. Ia tampak fokus, masih mengenakan celemek favoritnya.
"Selamat pagi, Ayu," sapa Rangga.
Ayu hampir saja menjatuhkan sapu lidi di tangannya. Ia menoleh dengan cepat, sedikit merapikan bagian depan hijab instannya karena merasa kaget. Matanya membelalak melihat Rangga sudah berdiri tegak di sana dengan senyum lebar yang terlihat begitu menjengkelkan.
"Mas Rangga? Ngapain ke sini jam segini? Kedai saja belum buka!" seru Ayu.
"Mas sudah benar-benar sehat? Jangan bilang datang ke sini mau pingsan lagi."
Rangga tertawa renyah, melangkah masuk ke area halaman kedai tanpa menunggu dipersilakan. "Berkat kamu yang ngerawat saya semalam, saya sekarang merasa bisa lari maraton, Yu. Malah saya nggak bisa tidur lagi setelah subuh karena nggak sabar mau lihat kedai ini buka."
"Jangan berlebihan. Mas ke sini mau nagih utang atau mau apa?"
"Saya ke sini mau jadi pelanggan pertama," jawab Rangga sambil menarik salah satu kursi kayu dan duduk dengan santai. "Saya pesan kopi hitam satu, dan saya nggak mau ditolak. Ini permintaan"
Ayu menghentikan sapuannya, ia menatap Rangga yang tampak sangat betah duduk di sana.
"Kopi saja, kan? Nggak pakai nasi goreng putih lagi?" tanya Ayu sedikit menyindir.
"Kalau boleh pakai nasi goreng buatan kamu lagi sih, saya nggak akan nolak," balas Rangga sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ayu hanya mendengus, namun ia tetap melangkah menuju dapur untuk menyiapkan pesanan Rangga.
Nenek Tari keluar dari pintu dalam sambil membawa nampan kecil berisi beberapa cangkir kosong. Begitu melihat sosok jangkung Rangga duduk di sana, langkahnya terhenti sejenak, lalu senyumnya mengembang.
"Loh, sudah datang, Den? Berarti sudah benar-benar sehat ya?" tanya Nenek Tari dengan nada hangat.
"Sudah, Nek. Sudah merasa baikan daripada semalam."
Tiba-tiba, suara Rangga merendah namun terdengar sangat jelas sampai ke telinga Ayu. "Nek... bolehkan kalau sekarang saya dekatin Ayu lagi? Saya serius mau memperbaiki semuanya."
Nenek Tari terkekeh pelan, matanya melirik ke arah dapur tempat Ayu berada. "Boleh, Den. Mau dijadikan istri juga boleh banget. Nenek sih sudah percaya sama Den Rangga. Tapi ya itu, tanya dulu sama ayunya, mau apa enggak. Jangan dipaksa."
Rangga tersenyum penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah dapur, tepat saat Ayu keluar membawa segelas kopi hitam pesanan Rangga.
Begitu Ayu meletakkan gelas di depan Rangga, pria itu tidak melepaskan tatapannya. Ia sengaja sedikit mencondongkan badannya ke depan.
"Yu... Nenek sudah kasih restu, nih. Nenek bilang kamu boleh saya jadikan istri," ucap Rangga.
"Sekarang saya tanya langsung, kamu mau enggak?"
Ayu merasa jengkel. "udah cepat minum kalo sudah pergi sana. Kesal aku lihat mukamu"
Rangga justru tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Ayu. Bukannya ciut karena diusir, ia malah merasa gemas melihat wajah Ayu yang memerah sampai ke telinga di balik hijab instannya.
"Tuh kan, Nek. Galaknya kumat lagi," adu Rangga pada Nenek Tari dengan nada manja yang dibuat-buat.
Ayu menghentakkan nampan kosongnya ke atas meja kayu dengan bunyi brak yang cukup keras. "Mas! Cepat minum kopinya, kalau sudah selesai pergi sana! Kesal aku lihat muka Mas sepagi ini!"
Nenek Tari hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa kecil, memilih untuk masuk kembali ke dalam rumah dan membiarkan mereka berdua menyelesaikan urusannya. "Nenek masuk dulu ya, Den. Takut kena semprot Ayu juga kalau di sini terus."
Setelah Nenek Tari menghilang, suasana kembali hening. Rangga menyesap kopinya perlahan, matanya tetap tidak lepas dari Ayu.
"Galak banget sih, Yu. Padahal semalam pas saya pingsan, kamu manggil Mas Rangga lembut banget sambil megangin tangan saya," goda Rangga sambil meletakkan gelas kopinya kembali.
Ayu hampir saja melempar toples di tangannya. "Itu karena Mas sekarat! Jangan disamain!"
Rangga kemudian berdiri, langkahnya perlahan mendekat ke arah meja dapur tempat Ayu berada. Ia tidak lagi bercanda. "Iya, iya, saya minum cepat nih. Tapi jangan kesal terus, Yu. Nanti kalau kamu marah-marah, bumbu masakannya jadi pahit, kasihan pelanggan kamu."
"Kamu nggak mau jadi istri aku, Yu?" tanya Rangga sekali lagi, memastikan pendengarannya tidak salah.
"Enggak," jawab Ayu singkat tanpa menoleh. "Siapa juga yang mau nikah sama om-om?"
Rangga langsung memegang dadanya, berpura-pura terluka secara dramatis. "Om-om? Sembarangan! Aku ini masih muda, Yu. Kamu nggak lihat apa? Tiap minggu aku ke gym, badan masih tegap begini. Otot masih ada, perut juga belum buncit!"
Ayu mendengus, ia mulai menyusun piring-piring di rak dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan. "Tetap saja, Mas itu sudah kepala tiga. Sudah lewat masanya."
Rangga berjalan mendekat ke arah meja dapur, menyilangkan tangan di dada sambil menatap punggung Ayu.
"Heh, kamu juga ingat umur, Yu! Umur kamu itu sudah 28 tahun. Di umur segini, kalau bukan aku, mana ada lagi laki-laki yang mau sama kamu? Stok laki-laki baik di Bandung ini sudah menipis, sisa yang aneh-aneh doang," balas Rangga telak.
Ayu langsung berbalik, matanya melotot tajam ke arah Rangga. "Apa Mas bilang? Mana ada yang mau sama aku? Wah, Mas menghina ya! Biarpun aku 28, yang antre di kedai ini bukan cuma mau makan, tapi banyak yang mau minta nomor WhatsApp aku!"
"Palingan yang minta nomor itu cuma mau nawarin asuransi atau pinjol," ledek Rangga sambil tertawa kecil, menikmati wajah Ayu yang semakin merah padam karena emosi.
"Mas Rangga! Pergi sana! Benar-benar ya, bukannya bikin tenang malah bikin darah tinggi pagi-pagi!" Ayu mengangkat lap serbetnya, bersiap untuk mengibaskannya ke arah Rangga.
Rangga langsung mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah sebelum terkena kibasan lap serbet Ayu.
"Iya, iya! Galak amat sih. Nanti juga saya pergi, tapi kan saya belum sarapan, Yu. Gimana sih, masa pelanggan pertama diusir sebelum makan? Bisa sial kedai kamu nanti," keluh Rangga sambil kembali duduk dengan tampang tak berdosa.
Ayu hanya mendengus kasar, namun tetap mengambilkan piring.
"Ya sudah, duduk diam di situ! Jangan banyak omong lagi."
Baru saja Ayu hendak mengambilkan nasi, suara deru motor berhenti tepat di depan kedai. Seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja polo dan potongan rambut undercut yang klimis masuk ke dalam kedai. Wajahnya bersih, senyumnya ramah, dan auranya terlihat sangat tenang berbanding terbalik dengan Rangga yang berisik.
"Pagi, Ayu. Wah, sudah buka lagi ya? Saya lewat tadi lihat gerbangnya terbuka, langsung putar balik," sapa pria itu dengan suara yang lembut.
Wajah Ayu yang tadinya ketus pada Rangga, seketika berubah menjadi manis. Ia tersenyum lebar, jenis senyum yang sejak tadi tidak ia berikan pada Rangga. "Eh, Mas Adrian! Iya, Mas, baru saja buka hari ini. Mau sarapan seperti biasa?"
"Iya, Ayu. Nasi kuningnya satu, tapi jangan terlalu pedas ya seperti biasanya," jawab pria bernama Adrian itu sambil melirik ke arah Rangga yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak bersahabat.
"Eh, lagi ada tamu ya?"
"Bukan tamu, Mas. Itu cuma... pelanggan lama yang kebetulan lewat," jawab Ayu enteng, seolah keberadaan Rangga di sana tidak terlalu penting.
Rangga yang mendengar jawaban itu langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia memperbaiki posisi duduknya, membusungkan dada, dan menatap Adrian dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ayu, kok beda banget penyambutannya?" sindir Rangga dengan nada suara yang sengaja diberatkan. "Sama saya galaknya minta ampun, sama yang ini kok suaranya mendadak jadi kayak pakai pemanis buatan?"
Ayu tidak memedulikan sindiran Rangga. Ia justru sibuk menyiapkan pesanan Adrian dengan sangat teliti. "Mas Adrian ini pelanggan setia, Mas. Sopan, nggak banyak protes, dan yang penting... nggak pecicilan"
Adrian hanya tersenyum canggung ke arah Rangga, sementara Rangga merasa darahnya mulai mendidih. Ternyata saingannya bukan cuma umur atau kenangan masa lalu, tapi juga pelanggan setia yang tampaknya sudah sangat akrab dengan Ayu.