Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kevin benar-benar menyiksa Vivi, ia sengaja menarik ulur Vivi mendapatkan pelepasannya.
Setelah puas bermain dan juga menyiksa Vivi, barulah Kevin memompa tubuh Vivi sampai keduanya mendapatkan pelepasan bersama.
"Malam ini cukup, tapi ingat! Ini bukan yang terakhir kali, setelah ini kamu gak bisa lepas dari aku!" Seru Kevin sambil berdiri dan mengenakan kembali celananya.
"Kamu gila, Vin!" seru Vivi.
"Kamu gak bisa lari dari aku, kalo kamu berani macam-macam, aku bisa sebar video ini." Kevin mengangkat ponselnya ke udara.
"Aku pergi dulu, terimakasih untuk malam ini, bye." Kevin melambaikan tangannya dan tersenyum menyeringai.
"Dasar Kevin sialan!!!" Vivi berteriak dengan kuat.
Kevin yang masih mendengar teriakan Vivi pun, tersenyum tipis.
"Ini semua gara-gara Nuraa, aku gak akan biarin kamu bahagia dengan Aska, Raa." Vivi mencengkram kuat sofa.
—————
"Om." Panggil Nuraa, sambil berjalan mendekat ke arah Rahardian yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama Salma.
"Sini, Raa." Salma menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
"Si kembar udah tidur ya, Tant?" Tanya Nuraa sembari duduk di samping Salma.
"Baru aja tidur, makannya tante bisa nemenin om kamu nonton."
"Om aku mau bicara," ujar Nuraa.
"Bicara aja, Raa. Mau ngomong soal apa, kenapa ragu-ragu kaya gitu," balas Rahardian.
"Om... aku mau menikah sama kak Aska secara agama dulu atau nikah siri," kata Nuraa lagi dengan satu tarikan napasnya.
"Loh kenapa mau nikah secara siri? Apa Aska yang minta seperti itu?" tanya Rahardian.
"Bukan, Om. Kak Aska gak tau soal ini, sebenarnya kak Aska bilang lusa mereka sekeluarga mau datang melamar ke sini."
"Tapi setelah aku pikir-pikir, aku mau pernikahan aku dan kak Aska di percepat aja, kita bisa nikah siri dulu, setelahnya baru mengurus dokumen untuk menikah resmi secara negara, yang penting aku dan kak Aska sudah sah aja dulu sebagai pasangan suami dan istri, Om," kata Nuraa lagi.
"Kamu yakin, Raa? Apa kamu gak punya wedding dream?" tanya Rahardian lagi.
"Iya, Raa. Setiap wanita biasanya punya impian pernikahan mereka mau kaya gini dan gitu, mau pesta yang megah dan sebagainya," timpal Salma.
"Semua itu kan tetap bisa di lakukan om, tante... resepsi pernikahan bisa diadakan setelahnya, kan?"
"Kenapa kamu mengambil jalan seperti ini?" tanya Rahardian.
"Aku gak mau Kevin terus ganggu aku, Om. Kak Aska gak bisa berbuat banyak selagi status dia bukan suami aku, om juga kan gak mungkin selalu ada di samping aku dan jagain aku."
"Pagi tadi dia datang ke butik, dan aku yakin dia pasti bakalan terus datang ke butik buat cari aku."
"Kalo seperti itu, memang sebaiknya pernikahan kamu dengan Aska di percepat, terus kamu maunya kapan?" tanya Rahardian lagi.
"Besok," jawab Nuraa dengan mantap
"Baiklah, om mau hubungin pak ustadz kenalan om dulu," balas Rahardian.
"Terimakasih, Om. Aku ke kamar dulu ya, mau ngabarin kak Aska." Nuraa berdiri dari duduknya.
Berjalan ke arah kamarnya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Mas yakin?" tanya Salma setelah kepergian Nuraa.
"Iya, mas percaya Aska lelaki yang baik, lagian kita sudah di sini, kalo Aska sama seperti Kevin, kita bisa langsung ambil tindakan."
"Berarti aku harus siap-siap dong, biar gimana pun kita harus menjamu Aska sekeluarga."
Salma berdiri berjalan ke arah dapur untuk memberitahukan bi Sarti tentang acara besok, sementara Rahardian langsung menghubungi ustadz yang akan menikahkan Nuraa dan juga Aska, besok.
——————
📞"Halo, Sayang... apa aku ganggu?" tanya Nuraa.
📞"Gak sama sekali Raa," jawab Aska lesu.
📞"Kok suaranya gak semangat gitu sih, aku punya kabar baik buat kamu," balas Nuraa.
Jantung Aska berdebar kencang saat Nuraa mengatakan akan memberikannya kabar baik, yang ada di pikiran Aska adalah Nuraa akan memberikan kabar tentang dirinya yang akan kembali bersama Kevin.
Memikirkan hal tersebut, Aska menjadi kian cemas karenanya.
Ia bahkan lupa jika sedang berbicara dengan Nuraa di telpon, Aska termenung karena kecemasannya sendiri.
📞"Sayang... dengerin aku gak?" kali ini Nuraa berbicara dengan suara sedikit keras.
"Maaf, tadi kamu bilang apa, Raa? Saya lagi gak fokus," jawab Aska.
"Hmmm... pasti kak Aska lagi mikirin soal ucapan Vivi," bathin Nuraa.
📞"Aku bilang... aku punya kabar baik."
📞"Aku tadi ngomong sama om Rahardian, soal aku pengen kita nikah secara siri dulu besok, setelahnya baru kita urus dokumen untuk syarat menikah resmi," ujar Nuraa.
Aska seketika langsung berdiri, kecemasan di wajahnya langsung hilang.
📞"Kamu serius, Raa. Saya gak salah dengar, kan?" tanya Aska, memastikan kembali.
📞"Kamu gak salah dengar, om Rahardian sudah setuju, dan aku mau, pernikahan itu di lakukan besok, gimana?" tanya Nuraa.
📞"Kenapa kamu mau kita menikah siri dulu? Bahkan kamu minta besok, saya belum mempersiapkan mahar untuk kamu, Raa."
📞"Saya mau memberikan yang terbaik untuk kamu, saya mampu, tapi kalo mendadak seperti ini, gimana caranya, Raa."
📞"Kalo lusa, saya masih punya waktu sehari untuk bersiap," kata Aska lagi.
📞"Gak usah mikirin hal itu, kan bisa di ganti nanti, mungkin bulan madu keliling dunia?" Nuraa tersenyum geli membayangkan dirinya dan juga Aska.
📞"Aku tau sekarang kamu lagi ragu sama aku gara-gara ucapan Vivi, kan? Evelyn udah cerita semua ke aku."
📞"Tolong jangan dengarkan ucapan Vivi, Sayang... aku dengan sadar memutuskan untuk membuka hatiku, kamu juga tau semua butuh proses, kan?" ujar Nuraa.
📞"Tapi aku mau, besok akad nikah kita, tanpa ada Vivi," kata Nuraa lagi.
📞"Gak masalah, saya paham Raa," balas Aska.
📞"Yaudah, aku tutup dulu telponnya ya, sampai ketemu besok, jangan banyak mikir, setelah ini langsung istirahat, Sayang," ujar Nuraa.
Aska tersenyum sumringah mendapati perhatian kecil dari Nuraa.
Aska meletakkan ponselnya ke meja yang ada di samping ranjang tidurnya, sementara hal yang sama pun di lakukan Nuraa.
Keduanya sama-sama merebahkan diri ke kasur dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.
Aska menatap langit-langit kamarnya, tubuhnya terasa ringan, napasnya pun jauh lebih ringan dari biasanya, sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa bisa di kendalikan, Aska menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang berbinar.
Karena rasa bahagianya, matanya sulit sekali untuk terpejam, sementara di kamarnya Nuraa pun merasakan hal yang sama.
Sesekali Nuraa geleng kepala dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, saat dirinya membayangkan Aska.
"Semoga besok gak ada hambatan apapun ya Allah," ucapnya lirih.
Berbeda dengan Aska dan juga Nuraa yang sedang merasakan kebahagian, Vivi justru terus mengumpat Nuraa dan Kevin.
Vivi juga mengutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh, sampai mengambil langkah yang salah.
Bersambung...