Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebar Bersama Rival Kembaranku
Jauh di seberang benua.
Ella baru saja menyelesaikan pemeriksaan berkas terakhir di atas mejanya.
Ia mengembuskan napas lega.
Semua laporan yang akan dikirim sore nanti telah selesai.
Namun sebelum dikirim...
Ella kembali membuka catatan kecil di samping laptopnya.
Catatan itu bukan miliknya.
Melainkan daftar koreksi yang dibuat Emma malam sebelumnya melalui panggilan video.
Periksa kembali angka investasi halaman 14.
Jangan langsung menyetujui proposal tanpa membaca lampiran.
William selalu memperhatikan detail kecil.
Kalau ragu, baca sekali lagi.
Ella tersenyum tipis.
"Terima kasih..."
gumamnya pelan.
Ia kembali membuka halaman empat belas.
Benar saja.
Ada satu angka yang salah ketik.
Kalau tidak diperbaiki...
Bisa menjadi masalah besar saat rapat.
Ella segera mengoreksinya.
Lalu mencetak dokumen final.
Tak lama kemudian...
William masuk ke ruangannya.
"Sudah selesai?"
Ella berdiri.
"Sudah."
William menerima dokumen itu.
Ia membaca beberapa halaman dengan cepat.
Hening.
Ella menunggu dengan sedikit gugup.
Beberapa menit kemudian William menutup map tersebut.
"Tidak ada kesalahan."
Ella mengembuskan napas lega.
"Bagus."
"Kerja yang rapi seperti biasa."
"Terima kasih Tuan William."
William mengangguk singkat lalu keluar.
Begitu pintu tertutup...
Ella tersenyum sendiri.
Ini pertama kalinya ia menyelesaikan pekerjaan Emma tanpa revisi tambahan.
Tentu...
Berkat bantuan Emma.
Ia merapikan mejanya.
Namun pikirannya justru kembali pada makan malam kemarin.
Richard.
Ayah kandung Emma.
Dan...
Ayah kandungnya juga.
Ella menatap keluar jendela.
Senyum kecil muncul tanpa sadar.
"Ayah kami ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan."
"Kalau ada kesempatan..."
"Aku ingin mengenalnya lebih banyak."
Ia ingin tahu kebiasaan Richard.
Makanan kesukaannya.
Cerita masa mudanya.
Semua hal yang selama dua puluh tahun tidak pernah sempat ia ketahui.
Namun ia hanya bisa mengenalnya sebagai "Emma".
Bukan sebagai putri yang hilang.
Pikiran itu membuat dadanya sedikit sesak.
Ella menggeleng pelan.
"Tidak boleh sedih Ella."
Ia mengambil ponsel dan tasnya.
"Waktunya makan siang."
Baru saja ia membuka pintu ruang kerja...
Seseorang juga keluar dari ruangan tepat di seberang koridor.
Roman James.
Setelan jas biru tua.
Map hitam di tangan kirinya.
Ekspresi dingin yang hampir tidak pernah berubah.
Mereka sama-sama berhenti.
Roman mengangkat sebelah alis.
"Kebetulan."
Ella tersenyum sopan.
"Siang."
Roman mengangguk.
"Apa Kau sudah selesai?"
"Ya baru saja dan dikoreksi langsung oleh bos."
"Aku juga."
Hening.
Koridor mendadak terasa lebih sunyi.
Roman menutup map yang dibawanya.
"Lapar."
ucapnya singkat.
Ella mengangguk.
"Aku juga."
Setelah mengatakan itu...
Ella baru menyadari.
Mereka ternyata sedang menuju tempat yang sama.
Lift.
Pintu lift terbuka.
Mereka masuk bersamaan.
Tidak ada orang lain.
Hanya mereka berdua.
Lift mulai bergerak turun.
Ella berdiri sambil menggenggam tasnya.
Sedangkan Roman berdiri di sampingnya dengan kedua tangan di dalam saku.
Tak ada percakapan.
Namun entah mengapa...
Ella justru merasa lebih gugup dibanding biasanya.
Keheningan itu terasa aneh.
Bukan menegangkan.
Tetapi membuat jantungnya sedikit lebih cepat.
Roman melirik sekilas.
"Kenapa kau selalu terlihat gugup? Kemana perginya rasa percaya dirimu yang berlebihan itu Ella?"
Ella spontan menggeleng.
"Tidak. Aku tidak gugup hanya saja sedang memikirkan sesuatu."
"Benarkah?"
"Iya."
Roman kembali menatap lurus.
"Kau selalu memainkan tali tasmu saat gugup."
Ella langsung melihat tangannya.
Benar saja.
Tanpa sadar ia sedang memutar-mutar tali tas.
Wajahnya langsung memerah.
"Aku..."
Roman memotong pelan.
"Kau mudah dibaca akhir-akhir ini."
Ella semakin salah tingkah.
"Hm ya karna aku hanya sedikit lelah."
"Hm."
Lift kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian Roman berkata,
"Kau sangat berubah."
Ella menoleh.
"Semua orang mengatakan itu padaku padahal aku merasa biasa saja."
"Aku juga merasakan perubahan dari Emma yang perkasa menjadi lebih manusiawi."
Roman menatap angka lift yang terus bergerak turun.
"Dulu..."
"...aku tidak pernah bisa mengajakmu bicara lebih dari satu menit dan dapat dipastikan kau akan menatap ku sinis dengan ucapan sinis yang memancing emosiku."
"Sekarang..."
"...kau mulai menjawab dengan lembut."
Ella tersenyum kecil.
"Mungkin aku sedang berusaha menjadi lebih baik."
Roman tidak menjawab.
Namun tanpa sadar...
Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Lift akhirnya terbuka.
Ella melangkah keluar lebih dulu.
Roman mengikuti di belakang.
Beberapa pegawai yang melihat mereka tampak saling berpandangan.
Biasanya...
Emma Taylor dan Roman James akan saling berdebat bahkan sebelum tiba di kafetaria.
Hari ini...
Keduanya justru berjalan berdampingan dalam diam.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada sindiran.
Pemandangan yang terasa sangat asing.
Roman sendiri masih memperhatikan punggung Ella.
Ia tidak mengerti.
Wanita yang selama bertahun-tahun menjadi rival terbesarnya itu...
Kini justru membuatnya ingin terus mengamati.
Bukan karena kelemahannya.
Melainkan karena ketenangan yang baru ia tunjukkan.
Sedangkan Ella...
Sama sekali tidak menyadari bahwa detak jantungnya yang sedikit lebih cepat bukan lagi karena gugup menghadapi pekerjaan.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ada seorang pria yang membuat keheningan terasa tidak canggung, justru nyaman.
Dan perasaan asing itu membuatnya diam-diam bertanya pada dirinya sendiri.
"Apakah begini rasanya mulai memperhatikan seseorang?"
Koridor menuju area kantin perusahaan mulai ramai dipenuhi para karyawan yang memanfaatkan waktu istirahat makan siang.
Ella dan Roman berjalan berdampingan.
Tetap menjaga jarak.
Tidak ada lagi percakapan.
Bagi Ella, keheningan itu justru terasa lebih nyaman daripada harus memikirkan topik pembicaraan.
Sementara Roman sesekali melirik wanita di sampingnya.
Perubahan Emma benar-benar sulit ia pahami.
Namun...
Semakin ia mencoba mengabaikannya...
Semakin sering pandangannya justru kembali tertuju pada wanita itu.
Mereka melewati lorong yang baru saja dipel.
Sebuah papan bertuliskan 'Caution Wet Floor' berdiri di sudut lorong.
Beberapa karyawan memilih berjalan memutar.
Ella tidak menyadarinya.
Pikirannya masih melayang pada kecanggungan bersama Roman.
Satu langkah...
Dua langkah...
Bruk!
Sepatu haknya terpeleset.
"Ah.."
Tubuh Ella kehilangan keseimbangan.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Roman yang berada tepat di sampingnya langsung bereaksi.
Refleks.
Tangannya meraih pinggang Ella sebelum tubuh wanita itu jatuh ke lantai.
Dalam satu gerakan...
Roman menarik Ella ke arahnya.
Ella pun tanpa sadar menabrak dada Roman.
Deg.
Untuk sesaat...
Waktu seolah berhenti.
Ella membelalakkan mata.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Satu tangan Roman masih melingkar di pinggangnya agar tidak terjatuh.
Sedangkan tangan Ella refleks mencengkeram bagian depan jas Roman.
Keduanya sama-sama terdiam.
Ella bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
Cepat.
Sangat cepat.
Ia tidak mengerti kenapa.
Roman pun merasakan hal yang sama.
Entah karena gerakan spontan tadi...
Atau karena untuk pertama kalinya ia memeluk wanita yang selama ini hanya ia anggap rival.
Beberapa karyawan yang berjalan di belakang mereka langsung berhenti.
"Eh..."
"Itu..."
"Bukankah itu Nona Emma dan Tuan Roman?"
Bisik-bisik mulai terdengar.
"Tadi Roman memeluknya, kan?"
"Aku tidak salah lihat?"
"Biasanya mereka saling berdebat."
"Kenapa sekarang seperti itu?"
Suara-suara pelan memenuhi lorong.
Barulah Roman tersadar.
Ia segera melepaskan pegangannya.
"Maaf."
Nada suaranya kembali datar.
Ella juga buru-buru mundur satu langkah.
"Aku yang hampir terjatuh tadi..."
Ia menarik napas.
"Terima kasih sudah menolongku."
Roman mengangguk singkat.
"Kau harus memperhatikan jalan."
"Hm."
Ella menundukkan kepala.
Pipinya mulai terasa hangat.
Ia bahkan tidak berani menatap Roman lagi.
Roman sendiri memalingkan wajah, berusaha kembali tenang.
Namun anehnya...
Sensasi saat tanpa sengaja memeluk wanita itu masih tertinggal di benaknya.
Mereka kembali berjalan menuju kantin.
Kali ini dengan jarak sedikit lebih renggang.
Tanpa mereka sadari...
Puluhan pasang mata masih mengikuti langkah keduanya.
Dan sejak siang itu...
Rumor baru mulai berembus di Williams Corporation.
Rival paling sengit di perusahaan...
Tiba-tiba terlihat saling menyelamatkan.
Tak seorang pun mengetahui bahwa perubahan kecil itu bukan sekadar kebetulan.
Melainkan awal dari takdir baru yang perlahan mulai mempertemukan dua hati yang sebelumnya tak pernah sekalipun saling memandang lebih dari sekadar lawan.
mulai ngikuti sepertinya menarik