Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RATAKAN!
Levin tertawa sinis. Ia mengepalkan tangannya kuat, membalas tatapan Victor dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Brengsek! Kalian berdua pengkhianat!"
Victor meraih pistol di balik bajunya lalu mengarahkannya ke Levin, lalu ke Livia.
Levin menyeringai tipis. Ia juga mencabut pistolnya, dan mengarahkannya ke arah Victor.
"Dan kau juga sama. Kau mengkhianatiku," ucap Levin.
Sedangkan Livia, ia mundur. Wajahnya pucat. "A-aku tidak...."
"DIAM!" bentak Victor dan Levin bersamaan.
DUG
Chloe masih duduk santai di kursi. Menopang dagunya. Ia menatap pertunjukan di depannya seperti sedang menonton drama.
Erivo, Nicholas, dan Eleanor berdiri di atas panggung, diam memperhatikan. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang.
Victor, pria paruh baya itu, sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia melangkah ke arah Levin dan menyodorkan pistol ke kepala pria itu. Levin pun tidak ingin tinggal diam. Ia membalas.
"STOP! APA YANG KALIAN LAKUKAN!" bentak Livia.
Keduanya tidak merespons.
DUG
"Menarik," gumam Chloe pelan.
Victor dan Levin tidak menanggapi teriakan Livia.
DOR!
Levin menembak. Pelurunya menembus lengan Victor, membuat pria paruh baya itu terhuyung ke belakang sambil memegangi lengannya yang berdarah.
"AAKH!" raung Victor. Darah segar mengucur di antara jarinya.
DUG
Livia menjerit. "DARAH! ADA DARAH!"
"AYAH!" teriak Daniel, ingin mendekat tapi lengannya ditahan oleh ibunya.
Nicholas langsung turun dari panggung dan menghampiri adik laki-lakinya itu.
Ia membekap tubuh Victor dari belakang. Tapi dengan cepat Victor menepis tangan kakaknya dengan kasar.
"LEPASKAN!" teriak Victor.
Nicholas melonggarkan dekapannya. Ia mundur selangkah ke belakang.
Matanya memerah karena amarah dan sakit hati. Victor mengangkat pistol dengan tangan satunya.
"Berani sekali kau menembakku," ucapnya kepada Levin yang sedang meniup laras pistolnya yang masih mengepul.
"Kenapa aku tidak berani... kepada pengkhianat sepertimu," balas Levin dengan seringai tipis yang mematikan.
Livia menggelengkan kepala. "I-ini pasti ada kesalahpahaman...."
Wanita paruh baya itu menatap ke arah Chloe yang duduk dengan santai di kursi, menopang dagunya.
Chloe sedikit memiringkan kepalanya, lalu tersenyum manis kepada Livia.
DUG
"Benar, Bibi," ucap Chloe. Suaranya lembut, tapi menggema di ballroom yang hening. "Ini kesalahpahaman."
Ia berdiri. Heels-nya berbunyi tek... tek... saat berjalan ke tengah.
"Kesalahpahaman yang kalian buat sendiri... untuk menjebak Tuan Erivo Reinhard. Dan kalian pikir aku ini bodoh."
DUG
Hening.
Victor menoleh. Ia menurunkan pistolnya, menatap Chloe yang kini berdiri di depan Livia.
Dan perlahan pria itu tertawa. "Jadi? Kau mengetahui semuanya?"
Chloe tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Levin.
"Dan kau...." ucap Chloe dingin. "Aku membiarkanmu bebas dan menikmati hidupmu di luar penjara, tapi ternyata kau tidak mendengar apa yang aku katakan."
Levin menyeringai. "Untuk apa aku mendengar ucapan wanita gila sepertimu."
Chloe melangkah mendekat. Jarak mereka hanya satu meter.
DUG
"Gila?" Chloe memiringkan kepala. "Kau benar. Aku ini memang wanita gila... gila karena ingin balas dendam atas apa yang sudah kau dan orang tuamu lakukan kepada mendiang ibuku dan kepadaku selama lima tahun."
"Aku Chloe Weiss... dan aku tidak selemah dulu. Jadi apa yang sudah aku katakan, akan aku lakukan," lanjutnya.
Chloe menatap satu per satu orang yang ada di ballroom itu, lalu ia tersenyum tipis. "Tadinya aku ingin melihat kalian bertiga saling membunuh... Tapi aku masih menghormati papa mertuaku yang sangat baik kepadaku."
DUG
Nicholas menatapnya. Tidak ada ekspresi di wajah pria paruh baya itu.
Erivo mendekat, begitu pun dengan Eleanor.
"Ini... apa maksudnya... Mama tidak mengerti?" tanya Eleanor kepada Chloe.
Chloe menatap ibu mertuanya dengan senyuman tipis. "Seperti yang Mama mertua lihat. Mereka bertiga ingin memfitnah Erivo. Ingin membuat aku dan Erivo saling membunuh karena bukti palsu yang Nyonya Livia tunjukkan tadi."
DUG
Livia mundur. "Aku... aku tidak..."
"Bukti palsu?" Chloe memotong. "Apa perlu aku perlihatkan sekali lagi, Bibi?"
Livia menggelengkan kepalanya. "T... tidak...." Wajahnya pucat, tubuhnya bergetar ketakutan.
Nicholas menatap adik perempuannya itu dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Dan... mereka bertiga bekerja sama untuk menghancurkan Weiss Group... dan mengatasnamakan Erivo Reinhard. Supaya seluruh Geneva bilang, Erivo Reinhard sengaja menghancurkan perusahaan istrinya karena tidak ingin kalah saing," lanjut Chloe.
Erivo mengepalkan tangan. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.
DUG
"Berani sekali kalian," desis Erivo. Suaranya rendah tapi mematikan.
Ia langsung mengulurkan tangan ke arah anak buah bayangannya yang berada di balik panggung.
Seketika seorang pria berpakaian serba hitam dengan jaket kulit hitam yang terdapat gambar kepala macan putih muncul.
Pria itu segera meletakkan pistol di tangan tuannya, lalu menghilang dalam sekejap.
Erivo menimbang pistol itu di tangannya, pelan. Tatapannya mengarah lurus ke Victor.
"Dua tahun yang lalu, aku tidak menghabisimu karena aku mendengar ucapan papaku... dan aku juga masih menghargaimu sebagai pamanku," ucap Erivo pelan.
Eleanor langsung bergetar ketakutan. "E..Erivo.... jangan lakukan ini," ucapnya.
Tapi Erivo tidak sedikit pun menoleh ke arah ibunya itu. Nicholas memberikan kode kepada anak buahnya lewat gerakan mata.
Dengan cepat dua orang pria berpakaian serba hitam menghampiri Eleanor. "Mari, Nyonya. Kami antar Anda pulang," ucap salah satu dari pria itu.
Eleanor menggeleng. "Tidak.... Putraku... Aku tidak ingin meninggalkannya." Matanya sudah berkaca-kaca.
DUG
"Ma," ucap Erivo akhirnya. Suaranya bergetar. "Pergilah."
Eleanor menangis. "Erivo..... Jangan, Nak."
Tanpa mereka sadari, saat ini Daniel mendekat ke arah Chloe dengan pistol di tangannya.
DUG
"CHLOE!"
Chloe tersenyum tipis saat bayangan Daniel sudah tepat berada di belakangnya. Pistol mengarah ke pelipisnya.
"JANGAN BERGERAK!" teriak Daniel. Suaranya bergetar, tapi tangannya mantap. "BIARKAN KAMI PERGI."
DUG
Seluruh ballroom membeku.
Erivo langsung mengangkat pistolnya. Arahnya berubah. Dari Victor... ke Daniel.
"TURUNKAN PISTOLMU!" raung Erivo.
Daniel tertawa histeris. Air matanya jatuh. "Kalau kau ingin menembakku? Tembak! Aku tidak peduli! Yang penting ayahku selamat!"
Chloe tidak panik ataupun takut. Ia justru menatap Daniel, pelan.
"Kau ingin menembakku...? Ayo. Tembak. Aku tidak takut mati," ucap Chloe, matanya memerah.
DUG
"CHLOE!" bentak Erivo. "MUNDUR!"
Chloe tidak menanggapi. Ia justru melangkah maju satu langkah, hingga moncong pistol Daniel menempel di pelipisnya.
"Lihat aku, Daniel," ucap Chloe pelan. "Kau yakin ingin menembakku?"
Daniel gemetar. "Aku.... aku...."
"Kau pikir kalau kau menembakku, ayahmu akan dibiarkan pergi begitu saja?" Chloe tersenyum getir. "Tidak. Kau cuma akan masuk penjara seumur hidup. Dan ibumu akan kehilangan dua orang sekaligus."
DUG
Tangan Daniel bergetar hebat. Air matanya jatuh deras.
"Aku... aku hanya ingin ayahku dibebaskan..." isaknya.
"Aku tahu," jawab Chloe. Suaranya lembut. "Tapi keluarga tidak dibangun di atas mayat. Ayahmu sendiri yang melakukan kejahatan ini. Bukan aku, bukan Erivo, bukan Tuan Nicholas, dan juga bukan Nyonya Eleanor."
Chloe menoleh sedikit ke Erivo, memberikan kode dengan gerakan mata. Kode rahasia yang hanya Queen Daisy dan Erivo yang tahu artinya.
Erivo terdiam sejenak melihat kode gerakan mata itu.
Kode itu artinya: "Ratakan semuanya, sekarang juga."
DUG
Mata Erivo langsung berubah. Dari ragu... menjadi dingin.
Ia mengangguk pelan. Hanya sekali.
"RATAKAN!" teriak Erivo.
BRAK!!!
Puluhan anggota Tiger White dengan jaket kepala macan putih masuk dan mengepung.
Daniel terkejut. Tangannya gemetar. "K-kalian..."
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 🙏 😊 🥰 🥰.
dtggu kelanjutan ny kak ,,
😊😊😊🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
dtggu kelanjutan ny yx kak
pensiun dr petinjuu jdi mafia dy skraaang ,,
🤭🤭🤭🤭😆😆
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 gembul amat kak ,, kasihan kak jgn di kasih nasi nnti ngantuk mereka ,, 😆😆😆😆
gpp kak ,,
dtggu kelanjutan ny ,,
penasaran sypa sebenarny MR. T ini ,,
Mr Tukiman?
Mr Tukul???
atau
Mr Tuyul???
krn dy kn gx pernah muncul Dan di sebut bayangan ,,
fix ni bukan org ,,
tp tuyul ,,
makany di panggil Mr.T ,,
🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂
Kali ni km bakal mati kalajengking tuaa ,,
semangat queen ,, mlm ini km pasti menang ,,
🤭🤭😂😂