NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran yang tak akan terlupakan

"Aku lebih tua dari kamu, Malik," ucap Lily lembut. "Jadi, berhenti deketin Kakak. Mending kamu fokus belajar yang benar."

Malik hanya terdiam beberapa detik.

Sementara itu, di sudut ruangan, Kino ikut mendengar ucapan Lily.

'Apa ini jalan buntu buatku...?', Batin Kino. Tanpa sadar ia menundukkan kepalanya. Entah kenapa, dadanya terasa sesak.

"Tapi Malik suka sama Kakak," ucap Malik lantang. "Gimana pun juga, Malik bakal tetap berusaha buat dapetin hati Kak Lily."

Lily hanya mengembuskan napas panjang. Ia menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

"Semangatmu bagus, Lik. Tapi perasaan nggak bisa dipaksa."

Setelah mengatakan itu, Lily melangkah menuju seorang laki-laki yang sejak tadi hanya menundukkan kepala.

"Kak... siapa namanya?"

"Javin," jawab laki-laki itu lirih.

Lily mengangguk pelan.

"Kak... kita bahkan belum saling kenal. Tapi kenapa Kakak bercanda sampai sejauh itu?"

Javin tetap diam. Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya.

"Tatap mata Lily, Kak," Nada suara Lily sedikit meninggi.

Perlahan, dengan penuh keraguan, Javin akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap mata gadis itu.

Sorot mata Lily masih dipenuhi sisa air mata.

"Maaf, Ly..." ucap Javin lirih. "Kakak kebawa suasana."

Lily tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa begitu hambar.

"Bakal Lily coba maafin"

Javin tiba-tiba menggenggam kedua tangan Lily erat. "Maafin Kakak ya."

Lily perlahan melepaskan genggaman itu.

"Tapi..."

"Ini nggak akan gampang," setelah mengucapkan kalimat itu, Lily berbalik meninggalkan Javin.

Langkah Lily berhenti saat melihat Owen berdiri tak jauh darinya. Raut wajah kakak sulungnya itu penuh penyesalan.

"Maafin Kakak ya, Ly"

"Kakak nggak bisa lindungin kamu tadi"

Lily menatap Owen cukup lama. Air matanya kembali menggenang. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari dan memeluk kakak sulungnya itu erat.

Owen membalas pelukan tersebut. Tangannya mengusap lembut punggung Lily.

Di sisi lain, Jaya ikut menghampiri mereka. Ia mengusap pelan rambut putrinya.

"Udah lega, Sayang?" tanyanya lembut.

Lily mengangguk kecil sambil mengusap sisa air mata di pipinya.

"Udah, Pih"

Jaya tersenyum.

"Bagus"

"Tapi..."

"Hukuman mereka tetap berlaku"

Lily langsung menggeleng. "Udah jangan dihukum lagi, Pih."

Jaya tersenyum tipis. "Papi tahu maksud kamu, tapi hukuman ini supaya mereka belajar."

"Biar mereka kapok dan nggak mengulanginya lagi."

"Tenang aja, Papi bakal ngurangin hukumannya."

Lily akhirnya mengangguk pelan.

"Ell,Kino," Jaya menoleh kepada dua anak yang berdiri di dekat tangga.

"Tolong anter Kak Lily ke kamar, ya."

"Iya, Pih," "iya, Om," jawab mereka hampir bersamaan.

Sesampainya di kamar...

Lily duduk di tepi ranjang sambil tersenyum kepada kedua anak laki-laki itu.

"Makasih ya, udah bantuin Kakak tadi"

Ell langsung tersenyum bangga. "Itu memang tugas Ell."

"Ell harus jagain Kak Lily"

Lily tertawa kecil. Ia mengusap pelan rambut adik bungsunya itu. "Kakak beruntung punya adek kayak Ell."

Pipi Ell langsung memerah.

"Kita turun lagi ya, Kak," ucap Ell.

Lily mengangguk.

"Iyaa"

Kedua anak itu pun keluar dari kamar.

Di halaman rumah...

Jaya berdiri sambil memperhatikan lima anak laki-laki yang masih menjalani hukuman.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.

"Kalian tinggal sepuluh putaran lagi," Jaya melirik arlojinya. Setelah memastikan mereka tetap berlari, ia masuk kembali ke dalam rumah.

Di ruang tamu...

Ell dan Kino sedang duduk berdampingan sambil memainkan Game Boy.

"Kak Lily udah tidur, Ell?" tanya Jaya.

Ell menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Ell nggak tahu, Pih, tapi yang pasti Kak Lily belum makan malam."

Mendengar itu, Jaya langsung menuju lantai dua.

Tok...

Tok...

Tok...

Jaya mengetuk pintu kamar Lily.

Tak ada jawaban.

Perlahan ia membuka pintu. Lily sudah tertidur pulas. Jaya berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap lembut pipi putrinya.

"Lily..."

"Bangun sebentar, Nak, makan dulu yaa"

"Biar badan kamu nggak lemes"

Lily menggeliat pelan. "Nggak mau, Pih, Lily cuma pengen tidur," suara gadis itu terdengar serak.

Jaya menghela napas pelan. Ia tahu putrinya benar-benar kelelahan, baik secara fisik maupun perasaan. Jaya kemudian mengecup lembut kening Lily.

"Ya udah, tidur yang nyenyak ya, Sayang"

"Besok Papi libur", "Seharian di rumah sama kalian"

Mendengar itu, Lily hanya mengangguk pelan dalam keadaan setengah tertidur.

Jaya pun keluar sambil menutup pintu kamar perlahan.

Sesampainya di ruang tamu...

Ell dan Kino masih asyik bermain Game Boy. "Kalian udah makan belum?" tanya Jaya.

"Belum, Pih," jawab Ell.

"Kak Lily udah tidur, Om?" tanya Kino.

Jaya mengangguk, "Udah."

"Ya udah, ayo kita keluar cari makan"

Ell langsung bersorak girang. "Yey! Makan!"

Kino ikut tersenyum. Sebelum pergi, Jaya berjalan ke teras rumah.

"Papi keluar sebentar beli makan," Tatapannya langsung mengarah kepada lima anak laki-laki yang masih kelelahan.

"Jangan ada yang berani kabur!"

Rafa langsung mengacungkan jempol sambil masih terengah-engah, "Siap, Pih."

"Hati-hati"

Jaya hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.

Pukul 21.00.

Akhirnya hukuman itu selesai. Kelima laki-laki tersebut langsung menjatuhkan diri di halaman rumah.bNapas mereka memburu. Tubuh mereka dipenuhi keringat.

Tak ada satu pun yang masih sanggup bercanda seperti sore tadi. 

Malam itu, mereka benar-benar memahami satu hal.

Sebuah candaan yang salah bisa meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang mereka bayangkan.

"Eh, lo mau ke mana, Waf?" tanya Malik saat melihat Wafa berjalan menjauh.

Namun Wafa sama sekali tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkahnya, lalu berlari masuk ke dalam rumah.

Melihat respons itu, Malik mengernyit bingung. Owen yang menyadarinya langsung tersenyum tipis.

"Dia emang suka gitu, Lik. Mungkin kecapekan."

"Oh..." Malik mengangguk pelan.

Di sisi lain, Javin mengusap kedua lengannya yang masih terasa pegal. "Raf, gue nginep sini ya. Badan gue rasanya remuk semua."

Rafa terkekeh kecil.

"Iya, aman, Bro"

Tak lama kemudian, mobil Jaya memasuki halaman rumah. Ell dan Kino turun sambil membawa beberapa kantong berisi makanan.

"Nih, makan dulu sana," ujar Jaya kepada anak-anak yang masih berada di halaman. Ell dan Kino langsung menyodorkan kantong makanan itu kepada Rafa, Wafa, Malik, dan Javin.

"O ya," lanjut Jaya sambil menoleh kepada Malik dan Javin. "Kalau kalian mau nginep, nginep aja. Nggak usah sungkan."

"Iya, Om. Makasih udah ngizinin," jawab Malik sopan.

"Iya, Om. Makasih," timpal Javin.

Jaya hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam rumah diikuti Ell dan Kino.

"Ell, Kino, sana bersih-bersih dulu, habis itu tidur ya"

"Iya, Pih," jawab Ell semangat.

"Iya, Om," sahut Kino.

Keduanya pun berlari menaiki tangga.

Pukul 21.30.

Owen, Rafa, Malik, dan Javin akhirnya selesai makan malam.

"Udah, sekarang pada tidur sana," ujar Owen.

Mereka pun berpencar menuju kamar masing-masing. Namun langkah Owen justru berhenti di depan kamar Lily.

Perlahan ia membuka pintu. Lily masih tertidur pulas. Owen duduk di tepi ranjang, lalu mengusap lembut rambut adiknya.

"Maafin Kakak ya, Ly...", suara Owen bergetar penuh penyesalan.

Di kamar Wafa.

Malik duduk di tepi ranjang sambil menggoyangkan pelan bahu sahabatnya.

"Wafa... bangun"

"Napa sih, Lik?" gerutu Wafa dengan mata masih terpejam. "Gue mau tidur, jangan ganggu."

"Lo belum makan, kan?"

"Di bawah masih ada nasi goreng, makan dulu, gue temenin."

Wafa menggeleng. "Gue nggak lapar."

"Tapi, Waf..."

"DIEM, napa, Lik!, Gue mau tidur!"

Bentakan itu membuat Malik terdiam. Ia hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut tidur disamping Wafa.

Keesokan harinya Pukul enam pagi. 

Seperti biasa, Jaya dan Owen sudah berada di dapur. Jaya sedang menggoreng nasi, sementara Owen sibuk membuat telur dadar. Aroma masakan memenuhi seluruh rumah.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara langkah pelan dari arah tangga. Lily berjalan turun dengan tubuh yang masih sempoyongan.

Sesampainya di dapur, ia langsung duduk di kursi sambil memegangi kepalanya. Jaya yang pertama kali menyadari kehadiran putrinya langsung tersenyum.

"Eh, anak Papi yang cantik ternyata udah bangun."

Owen ikut menoleh. Namun senyumnya langsung menghilang. Wajah Lily tampak sangat pucat.

Tanpa pikir panjang, Owen mematikan kompor lalu menghampiri adiknya.

"Kamu sakit, Dek?"

Belum sempat Lily menjawab, Owen langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Lily. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah panik.

"Kamu demam"

Jaya ikut memeriksa suhu tubuh Lily. Benar saja. Tubuh putrinya terasa panas.

"Kak Owen, tolong bawa adik ke kamar"

"Papi mau bikin bubur", nada suara Jaya terdengar tenang, tetapi jelas menyimpan rasa khawatir.

"Iya, Pih"

Owen segera membantu Lily berdiri. Pelan-pelan ia menggandeng adiknya menuju kamar.

"Istirahat dulu ya, Kakak ambilin obat."

Lily hanya mengangguk lemah.

Beberapa menit kemudian...

Jaya dan Owen masuk ke kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat. Di belakang mereka, Ell ikut masuk dengan wajah cemas.

"Yok, makan dulu, habis itu minum obat."

Jaya membantu Lily duduk, lalu dengan sabar menyuapinya sedikit demi sedikit.

"Kak Lily..."

Ell duduk di samping ranjang. "Cepet sembuh ya," nada suaranya terdengar begitu sedih.

Lily tersenyum kecil.

"Iya, Dek, terima kasih."

Setelah menghabiskan bubur dan meminum obat, Lily kembali berbaring. Tak lama kemudian ia tertidur.

Owen menoleh kepada Ell. "Dek, ayo keluar, biar Kak Lily istirahat."

Namun Ell tetap duduk di tempatnya. Ia tampak enggan meninggalkan sang kakak.

Jaya tersenyum kecil. "Ayo, Ell, main Lego sama Papi."

Mendengar ajakan itu, wajah Ell langsung berbinar. "Asyik!", Ia segera turun dari ranjang dan mengikuti ayahnya.

Pukul sembilan pagi. Semua orang berkumpul di ruang keluarga.

Semua...

Kecuali Lily yang masih beristirahat di kamar. Jaya sedang menemani Ell dan Kino bermain Lego. Sementara Owen merapikan ruang tamu.

"Wafa," Jaya memanggil putranya. "Kamu belum makan, kan?"

"Makan dulu sana, Papi tadi masak nasi goreng, kak Owen juga bikinin susu buat kamu ada di dalam kulkas."

Wafa hanya mengangguk malas.

"Iya," Ia berjalan menuju dapur.

Malik diam-diam mengikuti dari belakang.

Sesampainya di dapur, Wafa mengambil sepiring nasi goreng, telur, dan segelas susu yang sudah disiapkan Owen.

Namun...

Belum sempat ia meminum susunya...

Malik langsung mengambil gelas itu.

"Hah?" Wafa menatap kesal, "Kenapa lo minum, sih, Lik?!"

Malik menghabiskan isi gelas itu tanpa bersalah. "Lo nggak boleh minum susu, Waf, Lo cuma boleh minum air putih."

Mendengar ucapan itu, Wafa langsung terdiam. Tatapannya berubah datar. Ia tidak membalas apa pun. Seolah tidak ingin pembicaraan itu berlanjut.

Sore harinya...

Malik, Javin, dan Kino akhirnya pamit pulang ke rumah masing-masing. Rumah keluarga Jaya kembali terasa lebih tenang.

Meski begitu, bekas kejadian beberapa hari terakhir masih terasa di hati masing-masing.

Keesokan paginya

Lily akhirnya sudah kembali mengenakan seragam sekolahnya. Ia berjalan menuju dapur dengan rambut yang telah rapi diikat.

"Selamat pagi, Pih."

"Pagi, Sayang," Jaya tersenyum hangat. "Udah nggak pusing lagi?"

Lily mengangguk, "Udah enggak, Pih."

Tak lama kemudian, Owen datang dengan masih mengenakan piyama biru muda.

"Lho?, Kakak nggak kuliah?"tanya Lily heran.

Owen ikut duduk di sampingnya, "Kakak masuk siang."

"Oh..."

Belum lama mereka mengobrol, Ell datang dengan senyum lebar. "Selamat pagi semuanya!"

"Pagi, Dek," balas Jaya sambil mengusap kepala putra bungsunya.

"Lho, Wafa sama Rafa belum bangun, Pih?" tanya Owen.

Jaya menggeleng. "Mereka udah berangkat dari tadi, katanya ada acara di sekolah."

Lily mengernyit pelan, 'Perasaan... di sekolah nggak ada acara apa-apa, deh'

"Papi nanti berangkat ke kantor agak siangan, terus kira-kira pulang jam tujuh malam. Selama papi nggak di rumah, kalian jangan berantem lagi, ya," ucap Jaya dengan nada tegas yang terdengar seperti peringatan.

Mendengar itu, Owen, Lily, dan Ell justru tertawa kecil.

"Iya, Pih," jawab Ell sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

"O ya, Pih. Nanti biar kakak aja yang nganter adik-adik ke sekolah," ujar Owen.

Jaya mengangguk pelan, "Ya udah, kalau gitu"

Mereka pun mulai menyantap sarapan bersama. Suasana pagi itu jauh lebih tenang dibanding hari sebelumnya.

Sesekali Ell mengobrol dengan Lily, sementara Jaya sesekali mengingatkan Owen agar tidak terlambat berangkat ke kampus.

Tak lama kemudian, sarapan pun selesai.

"Kak Owen nggak ganti baju dulu?" tanya Ell polos saat melihat kakaknya masih mengenakan kaus tidur berwarna biru muda.

Owen terkekeh pelan, "Nggak usah, lagian nanti kakak cuma duduk di dalam mobil. Habis nganter kalian, baru kakak langsung ke kampus."

"Oh... ya udah," gumam Ell mengangguk paham.

"Lily," suara Jaya membuat Lily menoleh.

"Iya, Pih?"

Jaya mengambil sebuah kotak bekal dari atas meja, lalu menyerahkannya kepada putrinya.

"Papi titip ini, ya. Tolong kasih ke Wafa. Tadi pagi dia buru-buru berangkat, jadi belum sempat sarapan."

Lily menerima kotak bekal itu dengan kedua tangan. "Iya, Pih."

Senyum tipis terukir di wajahnya. Meski semalam ia dan Wafa sempat bertengkar hebat, ia tetap tidak tega membiarkan adiknya berangkat sekolah dalam keadaan perut kosong.

Jaya mengusap pelan kepala Lily, "Terima kasih, Sayang."

Lily hanya membalas dengan senyum kecil.

"Ya udah, Pih. Kita berangkat dulu," pamit Owen sambil mengambil kunci mobil.

"Hati-hati di jalan"

"Iya, Pih"

Ell langsung berlari kecil menuju garasi, sementara Lily mengikuti dari belakang sambil membawa tas sekolah dan kotak bekal milik Wafa.

Sesampainya di depan mobil, Ell buru-buru membuka pintu belakang dan langsung masuk.

"Hehe... Ell duduk belakang sama Kak Lily."

Lily ikut masuk ke kursi belakang, sedangkan Owen duduk di kursi pengemudi.

"Semua udah siap?"

"Siap!" jawab Ell penuh semangat.

Owen menyalakan mesin mobil, lalu perlahan kendaraan itu keluar dari halaman rumah.

Dari teras, Jaya masih berdiri memperhatikan mereka sampai mobil menghilang di tikungan jalan.

Barulah ia mengembuskan napas pelan.

"Semoga hari ini berjalan lebih baik," gumamnya lirih.

Sementara itu, di dalam mobil...

Ell tampak sibuk bercerita tentang permainan Lego yang ingin ia beli minggu depan. Lily hanya sesekali menanggapi sambil memangku kotak bekal milik Wafa.

Tatapannya tertuju pada bekal itu.

'Semoga dia benar-benar mau makan...' batinnya pelan.

Tanpa mereka sadari, hari itu akan menjadi awal dari sebuah kejadian yang kembali mengubah suasana keluarga mereka.

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!