Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan Belas
Qingxing sudah menunggu di depan Paviliun Timur.
Begitu melihat Lin Xiao kembali, ia langsung menghampiri dan memeriksa tubuhnya dari atas sampai bawah.
"Nyonya! Anda baik-baik saja? Nyonya Tua tidak mempersulit Anda?"
"Tidak."
Lin Xiao menjawab.
"Beliau hanya mengajakku minum teh."
"Hanya... minum teh?"
"Mm."
Lin Xiao tersenyum tipis.
"Teh yang sangat enak."
Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu menyandarkan tubuhnya pada daun pintu sambil mengembuskan napas panjang.
Telapak tangannya basah oleh keringat.
Bukan karena takut teh itu beracun.
Ia yakin Nyonya Tua tidak akan melakukan hal seperti itu.
Yang membuatnya tegang adalah tatapan wanita tua itu.
Tatapan yang seolah menembus semua penyamarannya, melihat seluruh rahasianya, tetapi tetap memilih untuk membiarkannya.
Nyonya Tua tahu.
Ia tahu bahwa dirinya bukan lagi Shen Qingyue yang dulu.
Tetapi wanita itu tidak membongkarnya.
Tidak memanggil orang untuk menangkapnya.
Tidak memanggil pendeta Tao untuk mengusir roh jahat.
Ia hanya menuangkan secangkir teh tambahan dan berkata:
"Jangan membuatku kecewa."
Itu adalah sebuah pesan.
Pesan dari pemegang kekuasaan tertinggi di rumah Marquis:
Aku menerimamu. Sekarang buktikan bahwa kau layak mendapatkannya.
Lin Xiao berdiri lama di balik pintu.
Lalu perlahan-lahan duduk di lantai.
Qingxing terkejut.
"Nyonya! Ada apa?"
"Tidak apa-apa."
Lin Xiao mendongak dan tersenyum.
"Hanya saja..."
"Kurasa secangkir teh ini benar-benar sepadan."
Di luar jendela, pohon begonia akhirnya mekar untuk pertama kalinya hari itu.
*
Malam itu, pintu Halaman Timur kembali diketuk.
Bukan ketukan keras seperti di siang hari, bukan pula ketukan pelan dari para pelayan. Suaranya sangat lirih, seolah takut didengar orang lain. Tiga kali ketukan, berhenti sejenak, lalu tiga kali lagi. Irama yang tenang, seperti seseorang yang masih ragu apakah ia harus masuk atau tidak.
Qingxing sudah tertidur, tetapi Lin Xiao masih terjaga. Ia duduk di bawah cahaya lampu minyak, memegang surat yang ditemukan di bawah tembok, membacanya untuk ketiga kalinya sambil mengarahkannya ke cahaya.
Tulisan di atas kertas itu hampir bisa ia hafal.
"Obat Nyonya Tua bermasalah. Orang yang mengganti obat bukan berasal dari ruang obat."
Saat ketukan itu terdengar, jemarinya berhenti sejenak. Ia melipat surat itu, menyelipkannya ke dalam lengan bajunya, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Siapa?"
Suasana di luar hening sesaat. Tak lama kemudian, sebuah suara rendah yang terasa familiar terdengar.
"Aku."
Tangan Lin Xiao berhenti di atas palang pintu.
Pei Yanzhi.
Ia tidak langsung membukakan pintu. Dari balik daun pintu, ia bertanya, "Marquis datang selarut ini, ada urusan?"
Di luar kembali sunyi beberapa saat. Setelah itu, Pei Yanzhi berkata, "Buka pintunya dulu."
Lin Xiao berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka palang.
Di bawah sinar bulan, Pei Yanzhi berdiri di luar. Ia mengenakan pakaian santai berwarna gelap tanpa mahkota kepala, rambutnya hanya diikat dengan sebuah tusuk giok. Ia berdiri di bawah tangga batu, dengan pohon begonia yang hampir mati di belakangnya. Cahaya bulan memanjangkan bayangannya.
Ia datang sendirian.
Tanpa pengawal.
Tanpa lentera.
"Marquis..."
"Kita bicara di dalam."
Pei Yanzhi melewati Lin Xiao dan langsung masuk ke ruang utama.
Lin Xiao menutup pintu dan mengikutinya masuk.
Di ruangan itu hanya ada satu lampu minyak. Cahayanya redup, membuat wajah mereka tampak setengah terang dan setengah gelap. Pei Yanzhi tidak duduk. Ia berdiri di samping meja, menatap wajah Lin Xiao seolah sedang memastikan sesuatu.
"Sore tadi kau pergi menemui Nyonya Tua."
Lin Xiao mengangguk.
"Benar. Nyonya Tua memanggilku untuk berbincang sebentar."
"Apa yang kalian bicarakan?"
Lin Xiao menatapnya tanpa langsung menjawab.
Malam ini, Pei Yanzhi datang untuk bertanya. Ia tidak yakin apakah pria itu datang atas perintah Nyonya Tua atau atas kemauannya sendiri.
Jika ini adalah perintah Nyonya Tua, nada bicaranya seharusnya lebih resmi.
Namun jika ini keinginannya sendiri, pertanyaannya pasti lebih bersifat pribadi.
Tetapi sekarang, sikap Pei Yanzhi berada di antara keduanya. Tidak sepenuhnya formal, tetapi juga bukan obrolan santai.
"Kami membicarakan soal Selir Zhou," jawab Lin Xiao. "Nyonya Tua bertanya apa pendapatku tentang dirinya. Aku hanya berkata, 'Dia adalah wanita Marquis, jadi aku tidak pantas banyak bicara.'"
Alis Pei Yanzhi bergerak sedikit.
"Hanya itu?"
"Ya. Setelah itu, Nyonya Tua tidak bertanya lagi."
Pei Yanzhi terdiam beberapa saat, lalu melakukan sesuatu yang tidak disangka Lin Xiao.
Ia duduk di hadapannya.
Bukan duduk sebentar lalu pergi, melainkan benar-benar menyingkap ujung jubahnya dan duduk dengan santai di kursi, satu tangan diletakkan di atas meja, seolah siap berbicara panjang.
"Apa yang kau katakan hari ini sudah disampaikan Nyonya Tua kepadaku."
Lin Xiao ikut duduk. Ia menuangkan secangkir teh untuk dirinya sendiri, tetapi tidak menuangkannya untuk Pei Yanzhi.
Pria itu melirik teko di tangannya, tetapi tidak mengatakan apa pun.
"Apa yang dikatakan Nyonya Tua?"
"Beliau bilang sekarang kau sudah pandai berbicara."
Lin Xiao mengangkat alis.
"Itu pujian macam apa?"
"Bagi beliau, itu memang pujian." Pei Yanzhi berkata pelan. "Nyonya Tua jarang memuji orang."
Lin Xiao memegang cangkir tehnya tanpa meminumnya, juga tanpa menjawab.
Ruangan kembali sunyi.
Api lampu minyak bergoyang perlahan, memantulkan bayangan mereka di dinding.
Tiba-tiba, Pei Yanzhi membuka suara.
"Dulu kau tidak seperti ini."
"Marquis sudah mengatakan hal itu beberapa kali."
"Karena aku terus memikirkannya." Ia menatap mata Lin Xiao. "Selama tiga tahun sejak kau menikah ke keluarga ini, aku tidak pernah benar-benar memperhatikanmu. Aku selalu mengira kau adalah wanita yang lemah dan tidak punya pendirian."
"Tetapi apa yang kau lakukan akhir-akhir ini... bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang seperti itu."
"Kalau begitu, sekarang Marquis sudah melihatnya."
"Aku sudah melihatnya." Pei Yanzhi mengangguk. "Tetapi aku tidak tahu mana dirimu yang sebenarnya."
Lin Xiao meletakkan cangkir teh dan bersandar ke kursinya.
Melihat pria di depannya, ia tiba-tiba menyadari satu hal.
Pei Yanzhi datang malam ini bukan untuk membela Selir Zhou, bukan untuk menyampaikan pesan Nyonya Tua, bahkan bukan untuk mempertanyakan perubahan dirinya.
Ia datang karena ingin mengetahui jawabannya.
Ia bingung.
Seseorang yang selama tiga tahun diabaikannya tiba-tiba mulai bersinar. Dan sekarang, ia sendiri tidak tahu apakah yang ia rasakan adalah kewaspadaan, rasa bersalah, atau sekadar rasa ingin tahu.
"Marquis," kata Lin Xiao perlahan, "kalau aku bilang bahwa Shen Qingyue yang dulu dan Shen Qingyue yang sekarang sama-sama nyata, apakah Marquis akan percaya?"
Pei Yanzhi tidak menjawab.
"Shen Qingyue yang dulu adalah seseorang yang terjebak. Ia tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus mempercayai siapa, dan tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup. Jadi, ia memilih untuk diam."
"Sedangkan Shen Qingyue yang sekarang adalah seseorang yang tidak ingin terus terjebak. Ia memutuskan untuk mencari jalannya sendiri."
Ia menatap mata Pei Yanzhi.
"Menurut Marquis, mana di antara keduanya yang lebih palsu?"
Pei Yanzhi tetap diam.