Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Wanita itu kemudian melangkah menuju jendela kaca raksasa yang menghadap ke taman pribadi kediaman Mahadinata yang luas.
"Lidya," panggil Bianca tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya teratur dan terkesan tenang.
"Ya, Nona?" sahut Lidya dengan nada halus yang dibalut kepatuhan mutlak. Ia lalu melangkah maju lebih dekat.
"Mobil Bugatti Veyron hitam-merah yang dikendarai pria itu tadi siang... apakah ada catatannya di database resmi Ibukota?"
Lidya lalu menjawab dengan penuh kesigapan, "Kami sudah memeriksanya, Nona. Mobil itu tidak terdaftar atas nama siapapun. Keberadaannya seolah-olah diimpor khusus melalui otoritas tingkat tinggi."
Senyuman di bibir Bianca semakin mengembang. Rasa penasaran yang membara di dalam dadanya kini menjelma menjadi ketertarikan yang sangat dalam.
"Anak terbuang dari Keluarga Adhitama..." bisik Bianca pelan, memandangi pantulan dirinya di jendela kaca. "Rahasia apa yang sebenarnya kau sembunyikan?"
Ia lalu memutar badannya secara anggun, menatap asisten pribadinya dengan wibawa penuh.
"Terus pantau setiap pergerakan Darius Adhitama. Pastikan tidak ada satu detail pun yang terlewat dari pengawasanku," perintah Bianca dengan suara tegas.
"Baik, Nona. Akan saya laksanakan," jawab Lidya seraya membungkuk hormat, lalu melangkah mundur keluar dari ruang kerja tersebut.
Setelah pintu tertutup rapat, Bianca berjalan mendekati meja, meletakkan gelas kristalnya, lalu mengukir senyuman misterius.
Di sisi lain, Mercedes-Maybach S-Class hitam yang dikendarai Darius membelah jalanan utama Ibukota menuju Perumahan Dama Sanctuary yang mewah.
Namun, saat mobilnya melintasi sebuah persimpangan jalan, seorang wanita cantik berambut pirang keemasan menyeberang jalan tanpa memperhatikan arus lalu lintas.
Dengan refleks dan ketenangan yang luar biasa, Darius langsung menginjak pedal rem secara presisi. Mobil itu kemudian terhenti persis hanya beberapa sentimeter sebelum menyentuh kaki wanita tersebut.
Wanita berambut pirang keemasan itu tersentak kaget. Tubuhnya membeku sejenak, sementara napasnya memburu akibat keterkejutan yang mendadak.
Setelah menyadari bahwa mobil mewah di hadapannya berhasil berhenti tepat waktu tanpa menyentuhnya sedikit pun, wanita itu buru-buru membungkukkan badannya beberapa kali.
"M-Maafkan saya! Maafkan saya, saya tidak memperhatikan jalan!" ucap wanita berambut pirang keemasan itu dengan suara penuh penyesalan.
Tanpa menunggu tanggapan, wanita berambut pirang keemasan itu segera berbalik dan berlari kecil, lalu menghilang dengan cepat di antara kerumunan pejalan kaki.
Di balik kemudi Mercedes-Maybach, Darius menatap lurus ke arah wanita itu. Melihat garis wajah dan proporsi tubuhnya, sorot mata Darius yang biasanya dingin seketika bergetar halus.
'Karina?' batin Darius, menyebut sebuah nama yang sudah lama tidak pernah terlintas di kepalanya.
Darius segera menurunkan kaca mobilnya sepenuhnya dan memajukan badan ke dekat jendela, hendak memanggil wanita itu.
Namun, wanita berambut pirang keemasan itu sudah melangkah jauh dan sosoknya lenyap sepenuhnya ditelan gelapnya malam serta deretan bangunan di sudut jalan.
Darius terdiam beberapa saat di dalam mobil. Jemarinya mencengkeram kemudi sedikit lebih erat dari biasanya. Kehadiran wanita yang sangat mirip dengan Karina memancing tanda tanya baru di pikirannya.
Setelah kembali tenang, Darius perlahan menginjak pedal gas secara halus. Mobil Mercedes-Maybach hitam itu kembali meluncur membelah jalanan menuju Perumahan Dama Sanctuary.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Darius
mulai memperlambat laju mobilnya saat mendekati gerbang besi setinggi lima meter milik Perumahan Dama Sanctuary.
Di pos penjagaan, komandan keamanan l yang sedang berjaga langsung mengenali sorot lampu dan siluet elegan mobil tersebut.
"Buka gerbang utama! Tuan kembali!" seru sang komandan keamanan melalui radio komunikasinya dengan nada sigap dan sedikit tegang.
Seketika itu juga, palang pintu otomatis perlahan terangkat dan gerbang besi tempa yang berat itu bergeser terbuka tanpa suara.
Empat petugas keamanan berseragam berlari kecil menempati posisi di sisi jalan. Mereka berdiri tegap, lalu memberikan penghormatan saat Mercedes-Maybach hitam itu masuk melintasi gerbang.
Darius membawa mobilnya melaju mulus menyusuri jalanan kompleks yang sepi, teduh, dan diterangi lampu-lampu taman bernuansa hangat.
Setelah melintasi beberapa blok, Darius tiba di Mansion Nomor Satu dan langsung memasukkan mobil Mercedes-Maybach hitamnya itu ke garasi bawah tanah.
Darius lalu melangkah keluar dari dalam mobil. Ia berjalan tenang menuju lift pribadi di sudut garasi dan menekan tombol ke lantai dasar.
TING!
Pintu lift terbuka dengan mulus. Begitu Darius melangkahkan kakinya ke luar menuju aula utama, langkahnya yang mantap seketika disambut oleh jajaran pelayan yang telah bersiaga.
"Selamat datang kembali di mansion, Tuan," sapa Angelina dengan suara yang lembut, merdu, dan penuh rasa hormat.
Empat pelayan wanita di belakangnya diam-diam melirik Darius. Sorot matanya yang tajam, dingin, namun dipenuhi aura kepemimpinan membuat dada mereka berdesir pelan.
Darius menghentikan langkahnya sejenak, mengedarkan pandangan ke sekeliling aula utama yang tampak begitu bersih, hangat, dan terawat tanpa celah.
"Kalian belum beristirahat?" tanya Darius singkat, suaranya mengalun datar namun tenang di dalam ruangan yang luas itu.
Angelina mengangkat wajahnya perlahan sambil mengukir senyuman. "Tugas kami adalah memastikan kenyamanan dan kesiapan seluruh mansion, Tuan."
Wanita itu lalu melangkah satu tindak ke depan dengan sikap sigap. "Apakah Tuan memerlukan sesuatu? Seperti hidangan malam atau minuman hangat?"
"Tidak perlu," tolak Darius dengan nada tenang. "Aku sudah makan malam. Buatkan saja secangkir teh hangat, lalu antarkan ke kamarku."
"Baik, Tuan," sahut Angelina seraya menundukkan kepala dengan patuh. "Akan segera saya siapkan."
Darius melepaskan jas hitamnya, lalu menatap kepala pelayan itu dan pelayan lainnya. "Setelah teh itu diantarkan, kalian semua boleh beristirahat. Tidak ada lagi yang perlu diurus malam ini."
Mendengar perintah yang bernada dingin namun sarat akan kebaikan itu, rona kehangatan seketika menyelimuti hati para pelayan wanita tersebut.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan," ucap Angelina dan keempat pelayan lainnya secara serempak.
Darius kemudian mengangguk singkat, lalu membalikkan badan dan melangkah santai menuju lantai atas. Ia memasuki kamar utamanya yang luas dan berarsitektur elegan.
Ia menggantungkan jas hitamnya di sudut ruangan, lalu berjalan menuju area balkon pribadi. Darius menyandarkan kedua lengannya di pagar besi ukir, membiarkan terpaan angin malam menerpa wajahnya.
Pikiran pria itu kembali melayang pada kejadian di persimpangan jalan tadi. Sosok wanita berambut pirang keemasan yang hampir tertabrak oleh mobilnya memicu riak kecil di dalam benaknya.
'Karina...' batin Darius seraya menyipitkan mata. Bayangan wanita itu kembali hadir tanpa diundang dalam ingatannya.
Pikiran Darius kembali terlempar jauh ke masa lalu, tepatnya lima tahun lalu di pinggiran sebuah kota kecil di Negara Ruskavia.
Angin malam mengusung bau anyir yang kental dari luka di perut dan bahu kiri Darius. Salju tipis yang turun melahap warna merah dari tubuhnya, menandai tiap jejak gontai yang tersisa.
Itu adalah tahun pertama Darius sebagai pembunuh bayaran setelah melepas seragam militernya, sebuah pembaptisan darah yang hampir merenggut nyawanya.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya