Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Air susu dibalas air tuba
Pinggang sebelah kiri Larissa membiru akibat menghantam sudut meja, dan telapak tangannya lecet menahan tubuhnya di atas lantai marmer.
Dia duduk di tepi ranjang kamar utama dalam kegelapan. Dia sengaja tidak menyalakan lampu dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian malam yang hanya diiringi oleh sisa-sisa rintik hujan di luar.
Di pangkuannya ada selembar kertas yang selama setahun ini menjadi rahasia paling sakral sekaligus paling beracun dalam hidupnya.
Hasil analisis sperma Bram Baskoro.
Larissa membelai permukaan kertas yang mulai agak menguning itu. Air matanya menetes membasahi baris tulisan medis yang menyatakan kecacatan suaminya.
“Aku mengorbankan diriku sendiri untuk selembar kertas ini,” bisiknya perih. Dia rela menelan caci maki mertuanya, rela meminum puluhan botol jamu pahit yang merusak pencernaannya, dan rela mengaku sebagai wanita dengan "rahim lemah" ke seluruh dunia, murni karena dia tidak ingin melihat ego Bram hancur sebagai seorang laki-laki.
Dia mengira pengorbanan sebesar itu akan dibalas dengan kesetiaan yang abadi. Namun ternyata, air susu dibalas dengan air tuba yang mematikan.
Pukul sepuluh malam, suara deru mobil Bram terdengar memasuki garasi. Jantung Larissa bertalu keras. Langkah kaki Bram yang tergesa-gesa menaiki tangga terdengar berdentum di koridor atas.
Brak!
Pintu kamar dibuka dengan kasar, Bram melangkah masuk tanpa melihat ke arah Larissa yang duduk di kegelapan. Pria itu langsung menyalakan lampu kamar dengan sentakan kasar, membuat mata Larissa menyipit karena silau.
Wajah Bram tampak mengeras, dipenuhi oleh sisa-sisa amarah siang tadi dan ketidaksabaran yang kentara.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Bram membuka lemari pakaian besarnya. Ia menarik sebuah koper berukuran sedang dari bagian atas, lalu mulai melempar beberapa setel kemeja kerja, setelan jas, dan pakaian santainya ke dalam koper dengan gerakan kasar.
Larissa berdiri perlahan dari tepi ranjang, menggenggam kertas hasil lab lama itu di balik punggungnya. "Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Larissa, suaranya terdengar sangat parau dan tipis.
Bram mendengus remeh, bahkan tidak sudi menoleh. "Bukan urusanmu. Aku tidak sudi bernapas di bawah atap yang sama dengan wanita gila yang berani berbuat kasar pada asistenku."
Mendengar kalimat yang begitu protektif dari mulut suaminya, benteng kesabaran Larissa yang selama ini dia jaga ketat akhirnya runtuh, hancur berkeping-keping menjadi amarah yang meluap.
"Maksudmu, Vera?" Larissa melangkah maju, suaranya meninggi, bergetar hebat menahan seluruh desakan emosi yang membakar dadanya.
"Kamu pergi demi wanita ular itu?! Setelah semua yang kulakukan untukmu, setelah semua pengorbananku selama ini kamu memperlakukannya seolah dia adalah korban?!"
Bram menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik dengan wajah menantang. "Pengorbanan apa, Ris?! Pengorbanan karena kamu mandul dan menipu keluargaku?! Sudah kubilang, jangan mulai bertingkah lagi!"
"Mas!" Larissa berteriak, menyodorkan kertas di tangannya tepat di depan dada suaminya.
"Buka matamu! Lihat kertas ini! Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya bermasalah di antara kita selama lima tahun ini!"
Bram mengernyitkan dahi, matanya melirik sekilas ke arah kop surat Klinik Utama Permata yang tertera di kertas tersebut.
Dalam hitungan detik, begitu membaca nama dan baris diagnosis di sana, seluruh warna di wajah Bram seketika lenyap.
Pria itu membelalak lebar, bibirnya bergetar samar karena gelombang kepanikan yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam ego tertingginya.
"Mas, aku memegang hasil tesmu yang asli dari klinik dua tahun lalu!" suara Larissa pecah bersama air mata yang kembali luruh, mencurahkan segala rasa sakit yang dia pendam sendirian.
"Kamu tahu betul siapa yang sebenarnya mandul di sini! Kamu tidak punya sperma, Mas! Kamu tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk Ibumu! Aku diam selama ini, aku menelan makian dari Ibumu, murni demi menjaga martabat dan harga dirimu sebagai laki-laki! Tapi kenapa... kenapa kamu begitu tega padaku?!"
Mendengar rahasia paling mengerikan tentang dirinya dibongkar secara gamblang oleh istri yang selalu dianggapnya penurut, kepanikan Bram berubah menjadi kemurkaan yang brutal.
Egonya menolak mentah-mentah kenyataan bahwa dirinya adalah pria cacat. Baginya, kebenaran di atas kertas itu adalah ancaman kematian bagi reputasi dan harga dirinya.
"Diam kamu! Kurang ajar!" bentak Bram dengan mata yang memerah penuh kilat kegilaan.
Tanpa peringatan, Bram merangsek maju dan mencengkeram pergelangan tangan Larissa dengan sangat keras, memaksa istrinya melepaskan kertas tersebut.
Larissa menjerit kesakitan saat tubuhnya didorong hingga membentur meja rias. Bram merebut kertas hasil tesnya itu dengan napas yang memburu seperti binatang buas.
"Ini palsu! Kamu sengaja membuat dokumen palsu ini untuk menjatuhkanku, kan?!" teriak Bram, suaranya meninggi hingga urat-urat di pelipisnya menegang.
"Kamu frustrasi karena hasil lab kemarin menyatakan rahimmu rusak dan mati permanen, makanya kamu mengarang cerita gila ini untuk membalas dendam padaku?!"
"Itu asli, Mas! Kamu sendiri yang terlalu takut membaca hasilnya saat itu!" ratap Larissa di sela tangisnya, mencoba merangkak maju untuk merebut kembali satu-satunya kartu as yang dia miliki.
"Jangan jadi pengecut, Mas!"
Namun Bram tidak lagi mendengarkan. Dengan mata yang berkilat panik dan kejam, pria itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah korek api gas.
Di depan mata Larissa yang membelalak horor, Bram menyalakan pemantik tersebut dan menyentuhkan apinya pada ujung kertas dokumen laboratorium asli setahun lalu.
Wusss.
Api dengan cepat melahap kertas putih tersebut. Lidah-lidah api yang berwarna jingga kebiruan menari-nari di udara kamar, membakar setiap baris bukti medis yang menyatakan kemandulan Bram Baskoro.
"Mas! Jangan! Aku mohon jangan dibakar!" Larissa menjerit histeris, mencoba menerjang maju untuk menyelamatkan kertas itu, namun Bram menggunakan lengan kirinya yang kuat untuk mendorong bahu Larissa kembali hingga istrinya jatuh terduduk di atas lantai.
Bram membiarkan kertas itu terbakar hingga menyisakan sepertiga bagian, lalu melemparkannya ke dalam wadah tempat sampah besi di sudut kamar.
Dalam hitungan detik, seluruh bukti otentik yang selama ini Larissa simpan dengan mengorbankan air matanya, telah berubah menjadi tumpukan abu hitam yang tak lagi berbentuk.
Suasana kamar tidur itu mendadak jatuh ke dalam keheningan yang mencekam, hanya menyisakan bau gosong kertas yang menyengat.
Larissa terpaku di atas lantai, matanya menatap kosong ke dalam wadah besi tempat abu itu berada. Jiwanya terasa ikut terbakar bersama kertas tersebut.
Pria yang dia lindungi mati-matian, baru saja memusnahkan bukti pengorbanannya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.
Bram mengatur napasnya yang memburu, merapikan kembali kerah kemejanya yang sedikit berantakan. Senyum sinis dan penuh kemenangan perlahan kembali terukir di wajahnya begitu menyadari bahwa ancaman terbesar bagi dirinya telah musnah menjadi abu.
Pria itu melangkah mendekat, berdiri tegak di hadapan Larissa yang masih terduduk lemas di lantai.
Bram membungkukkan tubuhnya sedikit, menunjuk tepat di depan wajah Larissa dengan telunjuknya yang dingin.
"Sekarang dengar baik-baik, Larissa," bisik Bram, nadanya mengalun sangat rendah namun penuh dengan racun. "Siapa yang akan percaya pada kata-kata seorang wanita mandul sepertimu? Hm?"
Larissa mendongak, menatap wajah suaminya yang tampak seperti iblis di bawah pendar lampu kamar.
"Tanpa dokumen itu, semua ucapanmu tentang diriku hanyalah sampah yang tidak berguna. Di mata hukum, di mata Ibu, dan di mata seluruh dunia, kamulah satu-satunya wanita cacat yang tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Baskoro," lanjut Bram dengan tawa lirih yang sangat kejam.
"Kamu tidak punya bukti apa-apa lagi untuk membela diri. Jadi bersiaplah, besok pagi pengacaraku akan mendaftarkan gugatan ini, dan kita selesaikan semua ini di pengadilan.
Bram menegakkan tubuhnya, menyambar gagang kopernya dengan sentakan kasar, lalu melangkah lebar keluar dari kamar tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Suara bantingan pintu depan yang keras menandakan bahwa pria itu telah pergi, meninggalkan Larissa sendirian meratapi abu pengorbanannya yang telah diinjak-injak sampai habis.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut