NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

Ningsih meletakkan kacamata bacanya di atas nakas. Ia membetulkan posisi selimut bermotif kartun milik Luna, memastikan putri kecilnya itu tertidur dengan nyaman dan hangat.

Setelah mengecup kening Luna dengan penuh kasih sayang, Ningsih melangkah pelan keluar dari kamar.

Tujuan Ningsih malam ini adalah kamar utamanya. Ia harus mengambil sisa berkas penting mengenai aset perusahaan yang sengaja ia sembunyikan di laci rahasia dalam lemari pakaian.

Begitu Ningsih sampai di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka karena tidak tertutup rapat, langkahnya mendadak terkunci. Atmosfer di sekitarnya seketika mendingin. Dari celah pintu yang terbuka beberapa sentimeter itu, samar-samar terdengar suara erangan manja seorang wanita yang bersahutan dengan napas memburu seorang pria.

"Ah... Mas Hendra... pelan-pelan, Mas. Nanti kalau istri mu itu bangun gimana?" bisik sebuah suara wanita yang sangat Ningsih kenali.

Arumi.

"Abaikan saja dia, Sayang. Ningsih sudah tidur di kamar putriku," balas suara Hendra, terdengar serak penuh gairah yang menjijikkan. "Kamu luar biasa, Arumi... Kamu menjepit milikku."

Deg!

Ningsih mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga buku jarinya memutih. Dadanya bergemuruh hebat, dihantam gelombang kemarahan yang nyaris membuat napasnya putus.

Ningsih memang sudah menduga sejak awal bahwa kedua manusia tidak tahu malu itu akan berbuat nekat, tapi yang paling membuat hati Ningsih meradang dan benci adalah lokasi tempat mereka melakukannya.

Kenapa harus di sini? Di dalam kamarnya? Di atas ranjang tempat ia dan Hendra membesarkan Luna selama bertahun-tahun?

Kenapa mereka tidak melakukannya di hotel murahan saja di luar sana?

"Menjijikkan kalian... Benar-benar binatang!" gumam Ningsih dengan suara yang teramat lirih, menahan gemetar di bibirnya.

Amarah yang membakar dada membuat ego Ningsih berteriak untuk mendobrak pintu itu sekarang juga, menjambak rambut Arumi, dan menampar wajah Hendra di depan ibu Arumi yang tidur di bawah.

Tetapi, akal sehat Ningsih bergerak lebih cepat. Menangkap basah mereka sekarang hanya akan memicu keributan tanpa bukti hukum yang sah untuk menendang Hendra ke jalanan tanpa sepeser pun harta.

Ningsih menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan ponsel, lalu mengaktifkan mode perekam video.

Perlahan dan tanpa suara, Ningsih mengarahkan kamera ponselnya tepat ke celah pintu yang terbuka. Di layar ponsel, ia bisa melihat dengan jelas siluet tubuh suaminya dan wanita simpanannya yang sedang larut dalam perbuatan nista di bawah lampu kamar. Ningsih merekam semuanya selama beberapa menit, mengunci setiap desahan dan pergerakan mereka sebagai senjata pemungkas yang akan menghancurkan hidup mereka besok pagi.

Setelah dirasa cukup, Ningsih mematikan rekaman tersebut. Sembari memejamkan matanya erat-erat untuk menghalau rasa mual yang mendera isi perutnya, ia menarik kembali gagang pintu kamar itu hingga tertutup rapat tanpa menimbulkan kecurigaan.

Ningsih bersandar pada dinding. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos satu tetes, melewati pipinya yang mendadak terasa dingin.

"Dosa apa yang sudah aku lakukan di masa lalu, ya Tuhan... Kenapa Engkau menghukum aku sekejam ini?" batin Ningsih merintih pilu.

Pikiran Ningsih melayang pada masa lalu. Saat Hendra masih menjadi pria miskin yang bahkan tidak mampu membeli sepasang sepatu layak pakai untuk melamar kerja.

Dulu, Hendra begitu mencintainya, berlutut di hadapannya sambil menangis dan berjanji demi nama Tuhan tidak akan pernah menduakan cintanya.

Mengapa setelah semua kekayaan berada di genggaman tangannya, Hendra bisa berubah menjadi monster yang begitu tega? Apakah harta benar-benar bisa mencuci otak dan hati nurani seorang manusia?

Ningsih segera menghapus air matanya dengan kasar. Meratapi nasib dan menangisi pria brengsek seperti Hendra sekarang sudah menjadi hal yang sangat percuma dan membuang waktu.

Ningsih menegakkan tubuhnya kembali, sorot matanya yang tadinya rapuh kini berubah menjadi setajam silet. Ia memiliki prinsip hidup yang sangat kokoh, sekali dikhianati, maka pintu maaf telah tertutup rapat, dan ia tidak akan pernah memberikan kesempatan kedua bagi seorang pengkhianat.

"Bersenang-senanglah sampai puas mas!"

Ningsih tersenyum dingin menatap pintu kamarnya yang kembali tertutup rapat. Air mata yang sempat mengalir kini telah mengering, digantikan oleh kilat amarah yang terukur. Tanpa membuang waktu, ia melangkah menjauh dan merogoh ponselnya.

Panggilan itu hanya berdering sekali sebelum suara berat di seberang sana menjawab dengan nada penuh hormat.

"Halo, selamat malam, Nyonya Ningsih. Ada yang bisa saya bantu?"

"Pak Roni, cabut seluruh saham kita di PT Buana sekarang juga! Jangan tersisa satu persen pun!"

Pak Roni di seberang telepon sempat tertegun. "Maksud Nyonya... perusahaan milik pak Hendra? Tapi Nyonya, pencabutan saham secara mendadak bisa membuat perusahaan itu kolaps dalam hitungan hari."

Ningsih terkekeh sinis, tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

"Memang itu tujuanku, Pak Roni. Katakan pada publik dan dewan komisaris bahwa PT Adiwangsa tidak akan pernah lagi bekerja sama dengan tikus seperti dia!"

"Baik, Nyonya. Segera saya proses malam ini juga untuk persiapan rilis besok pagi," jawab Pak Roni patuh.

"Satu lagi," potong Ningsih cepat sebelum orang kepercayaannya itu menutup telepon. "Ajukan tuntutan hukum pidana dan perdata kepada PT Buana. Aku punya bukti valid bahwa mereka sengaja mengoplos dan menurunkan kualitas bahan material properti yang dikirim ke proyek PT Adiwangsa demi meraup keuntungan pribadi. Mereka pikir bisa membodohi ku?"

Pak Roni menarik napas dalam, takjub dengan ketegasan sang nyonya besar.

"Luar biasa. Bukti itu sudah lebih dari cukup untuk menyeret pak Hendra ke jeruji besi, Nyonya. Berkas tuntutan akan siap besok pagi."

"Bagus. Terima kasih, Pak Roni," ucap Ningsih menuntaskan panggilan.

Ningsih menurunkan ponselnya, lalu menatap layar yang menampilkan rekaman video nista suaminya beberapa menit lalu.

"Kamu salah memilih lawan, mas Hendra. Kamu pikir aku ini istri rumahan yang lemah? Kita lihat, apakah selingkuhanmu itu masih sudi mendampingi mu saat kamu miskin nanti!" batin Ningsih.

1
Lee Mba Young
tinggal karma nawang Dan yeni. klakuan kek dajjal.
Nice1808
@Senja dah baca kak🤭🤭
Nice1808
wah parah nawang dan ibunya tega bnget membuang hendra ke panti sosial, kasian kau hendra itu karma mu, moga dipanti kau bisa berkembnag walaupun diatas kursi roda🥺🥺
tinie
eeh aku belum tau udah ada 2bab yg beli ku baca😁😁
tinie
padahal Hendra termasuk pintar dlm marketing
jika bener bener mau tobat
mka saat di panti nanti coba buka website
jualan apa gitu🤔🤔
kan bisa dpt penghasilan
asale tidak korupsi lgi
tinie: nah itu dia
tobatan sambel dia
bukan tobatannasukha😁
total 2 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Nawang, sudah ditolong malah ngelunjak, dasar jalang 😂😂
Amiera Syaqilla
hi
Senja: Halooo
total 1 replies
Nice1808
karyawan nya kayak kerja di club malam🤣kena mental lari trbirit2😀
dasar satria nyicil melulu kapan lunasnya😀
Nice1808: 😡😡😡untung ada ningsih dtg🤣
total 2 replies
tinie
nyicil siang ,malam
pagi dan sore🤣🤣🤣
bengek bengek
Sukliang
menarikk
Yuliaya
kayanya tadi Hendra sempet ngomong di telpon dan manggil Ningsih deh
Yuliaya
hehehe ini pasti piring kaleng ya?
Senja: Iya kaleng
total 1 replies
tinie
gimana rasanya dihina pasangan sendiri😌😌
dului kau congak menghina Ningsi h habis habisan
nah sekarang orang lain yang menghinamu
Dede Maesaroh
karma sakit kan
irala
nawang nawang....Sifat SmS ny dihilangkan dong..kirain kemaren tu udah sadar..nerima suaminy apa adanya..eh pas lihat bg sat bisa jalan dan berdiri tegak..tu kelakuan kumat lagi...
Nice1808
nawang mau jadi pelakor🤣gak mungkin bisa krna ningsih pernah disakiti jadi dia dah tau alasan murahan mu nawang, fokus pada klurga dan kandungan mu aja, seblom kau jadi gembel krna rasa iri mu pada ningsih🤣
Sri Rahayu
bener2 ya Nawang ga kapok, ga tau malu godain suami kakaknya😡😡😡...bener tu Satria blokir no nya🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nice1808
uluh2 satria mau lembur bikin baby🤣🤣,nawang kau salah cari perhatian ma satria dia bukan laki2 brengsek🤣🤣🤣
tinie
penghalang kecilma gampang tinggal kasih jajanan es cream sama jalan jalan
beres
yang resek justru yang tua
🤣🤣🤣
MamDeyh
Astaga Nawang kamu kok gk tobat.. Kamu pikir Ada Satria bakal kepincut modelan kamu😄
Senja: tobat sambel mak hoho
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!