NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Seseorang bertopeng menyeret tubuh pria yang tak sadarkan diri itu ke tengah lingkaran ritual. Di sekelilingnya, puluhan lilin menyala redup membentuk bayangan-bayangan mengerikan di dinding batu yang lembap. Kelopak mawar hitam tersebar mengitari lingkaran tersebut, seolah menjadi persembahan bagi sesuatu yang tidak seharusnya dibangkitkan.

Pria bertopeng melepaskan penutup wajahnya. Cahaya lilin menyorot wajah dingin yang selama ini bersembunyi di balik kesetiaan palsu.

Fumiro.

Tak disangka, dia adalah salah satu antek kepercayaan Tuan Yamato.

Fumiro mundur beberapa langkah memberi jalan kepada sosok berjubah hitam yang berdiri di hadapan lingkaran ritual itu. Master Genjiro menatap pria pingsan tersebut dengan senyum tipis penuh misteri. Tatapannya tajam dan mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan antara kegilaan dan ambisi.

Dengan perlahan, Master Genjiro mengambil pisau kecil berukir simbol kuno dari balik jubahnya. Tanpa ragu, dia menyayat ujung jari pria itu hingga setetes darah menetes keluar.

Darah itu jatuh ke dalam mangkuk berisi ramuan hitam pekat yang sebelumnya telah dibacakan mantra-mantra terlarang. Saat darah bercampur dengan cairan tersebut, aroma anyir memenuhi ruangan.

Suara bisikan mantra Master Genjiro mulai menggema pelan.

Api lilin bergetar.

Udara berubah semakin dingin.

Setelah ritual itu selesai, Master Genjiro mengangkat mangkuk tersebut perlahan, lalu menyiramkan ramuan itu ke tubuh pria yang tak sadarkan diri itu.

Tak lama kemudian, hembusan angin dingin menerpa ruangan itu dengan begitu kuat hingga seluruh lilin padam dalam sekejap. Kegelapan menyelimuti ruangan, menyisakan suara gemuruh pelan yang menggema dari dalam lingkaran ritual.

Fumiro menundukkan kepala, sementara senyum tipis terukir di wajah Master Genjiro seolah dia telah menunggu momen itu sejak lama.

Perlahan, asap hitam mulai bermunculan dari tengah lingkaran. Asap itu berputar liar membentuk pusaran mengerikan sebelum akhirnya menampakkan sosok makhluk yang begitu menyeramkan. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya panjang terurai panjang ke tanah dengan kulit pucat seperti bayangan, sementara sepasang matanya menyala merah di tengah kegelapan.

Suara geram rendah keluar dari mulut makhluk itu, membuat seluruh ruangan bergetar.

Tanpa peringatan, makhluk tersebut langsung menerkam pria yang masih tak sadarkan diri itu. Tubuh pria itu melayang beberapa senti dari lantai saat energi kehidupannya diserap paksa. Cahaya samar berwarna kebiruan keluar dari tubuhnya dan perlahan masuk ke dalam tubuh makhluk mengerikan tersebut.

Malangnya, pria itu tersadar dan mencoba bergerak, tetapi semuanya sudah terlambat.

Dalam hitungan detik, tubuhnya hancur menjadi abu yang beterbangan di udara. Bersamaan dengan itu, beberapa kelopak mawar hitam jatuh perlahan di antara sisa-sisa abu, menciptakan pemandangan mengerikan yang terasa seperti pertanda kematian.

Makhluk itu kemudian menoleh perlahan ke arah Master Genjiro.

Mahkluk Kutukan berkata "Manis sekali aku menyukainya, terimakasih Tuanku."

"Setelah ini kau boleh mencari mangsa sendiri dan lakukan tugasmu seperti apa yang telah diperintahkan."

"Baik Tuanku."

Makhluk kutukan itu mengangkat kepalanya perlahan. Senyum mengerikan terbentuk di wajah pucatnya sebelum suara tawanya menggema memenuhi ruangan.

“Ahahaha...!”

Tawanya melengking panjang, bercampur dengan suara gemuruh angin yang berputar liar di dalam ruangan ritual. Aura kelam menyelimuti seluruh tempat itu hingga membuat napas terasa begitu berat.

Wujud makhluk tersebut perlahan terlihat semakin jelas.

Dia adalah sosok wanita dengan tubuh basah kuyup seolah baru saja keluar dari dasar danau yang paling gelap. Rambut hitamnya terurai panjang hingga menyentuh lantai, menutupi sebagian wajahnya yang pucat mengerikan. Dari sela-sela rambut itu, tampak sepasang mata merah redup yang menatap penuh rasa lapar.

Air terus menetes dari ujung rambut dan gaunnya, membasahi lantai di sekitar lingkaran ritual. Namun yang paling mengerikan adalah senyumnya. Senyum tipis yang tampak tidak manusiawi.

Makhluk itu memiringkan kepalanya perlahan ke arah Master Genjiro, lalu kembali tertawa kecil sebelum tubuhnya berubah menjadi kabut hitam.

Dalam sekejap, Makhluk kutukan itu menghilang.

Yang tersisa hanyalah hawa dingin menusuk dan beberapa kelopak mawar hitam yang berjatuhan perlahan di lantai ruangan.

Dengan tawa sombongnya Tuan Yamato berkata "Hahaha aku rasa Kaisar tidak akan bisa tidur nyenyak kali ini."

---

Malam yang hening, hawa dingin menyelimuti suasana istana. Tidak ada orang yang lalu lalang karena takut bertemu Hantu Ratu.

Master Seijun pergi menemui Kaisar untuk membicarakan rumor ini. Diperjalanan, Master Saijun mendengar samar-samar suara tertawa wanita. Master Seijun menghentikan langkahnya. Tiba-tiba, hembusan angin menerpa dirinya. Tetesan air jatuh satu persatu dari langit. Master Seijun lari berteduh menghindari hujan dan melanjutkan langkahnya menemui Kaisar.

Master Seijun telah sampai dan langsung menemui Kaisar. Dia memberikan hormat kepada Kaisar.

Master Saijun berkata "Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Kaisar."

"Ada keperluan apa kau menemuiku?."

Master Seijun menjelaskan tentang rumor yang beredar di istana serta memberitahu kebenaran bahwa sebenarnya itu adalah makhluk kutukan yang menyamar sebagai seseorang karena kekuatannya.

Kaisar berkata "Berarti mimpi itu bukanlah Ratu, namun makhluk kutukan yang menyamar. Sebenarnya aku juga tidak percaya dengan rumor ini, makhluk itu telah menyebabkan keonaran tentang Ratu."

"Karena makhluk ini orang-orang mengira bahwa itu adalah arwah Ratu yang bergentayangan, sebaiknya kita harus memberitahu orang-orang besok tentang makhluk kutukan ini."

"Dan tugaskan para pemburu untuk menangkap makhluk kutukan itu segera."

"Baik Kaisar."

---

Malam itu, hujan turun tanpa henti membasahi seluruh halaman istana. Suara rintiknya terdengar samar dari balik jendela kamar Ryujin, menciptakan suasana tenang yang perlahan mengundang rasa kantuk.

Di atas meja kayu yang dipenuhi gulungan berkas, Ryujin masih duduk dengan tatapan serius.

Tangannya terus menulis laporan mengenai kemunculan Makhluk Kutukan yang akhir-akhir ini semakin sering terjadi. Cahaya lampu minyak menerangi wajahnya yang tenang dan dingin, sementara bayangan tubuhnya memanjang di dinding kamar.

Namun, suara hujan yang monoton perlahan membuat kelopak matanya terasa berat.

Perlahan, Ryujin menopang kepalanya dengan tangan kirinya sambil tetap memandangi tulisan di hadapannya. Suara rintik hujan yang jatuh tanpa henti di luar jendela membuat suasana terasa semakin tenang dan menenangkan.

Kelopak matanya mulai terasa berat.

Tatapannya perlahan mengabur.

Hingga tanpa sadar, Ryujin terlelap dalam posisi duduk, dengan kepalanya masih bersandar pada tangan kirinya di atas meja kerja.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar di tengah malam.

“Ryujin…!”

Suara Yua memanggil dari balik pintu terdengar lirih, namun dipenuhi kepanikan.

Ryujin perlahan terbangun. Dia mengangkat kepalanya dengan tatapan sedikit samar akibat kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Setelah menyadari suara itu adalah Yua, dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu.

Saat pintu dibuka, Ryujin langsung terdiam.

Yua berdiri di depan kamarnya dengan wajah pucat dan napas tak beraturan. Tubuhnya tampak gemetar ketakutan, sementara ujung rambutnya sedikit basah terkena hujan malam. Sorot matanya menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi.

Ryujin berkata "Apa yang terjadi? mengapa kau begitu ketakutan?."

Sambil menangis Yua menjawab "Tutup pintunya, makhluk Kutukan itu mengejarku dan ingin membunuhku, tolong aku Ryujin.."

Mendengar penjelasan Yua, sorot mata Ryujin langsung berubah tajam. Rasa kantuk yang tadi masih tersisa seketika menghilang.

“Ada Makhluk Kutukan di dekat sini?” ucapnya pelan.

Tanpa membuang waktu, Ryujin segera berbalik hendak mengambil katananya dan pergi mencari makhluk tersebut. Namun, sebelum dia melangkah lebih jauh, Yua tiba-tiba meraih tangan Ryujin dengan erat.

Brak!

Dengan cepat, Yua menutup pintu kamar itu kembali.

Ryujin sedikit terkejut dan menoleh ke arah Yua. Gadis itu menundukkan kepala dengan napas yang masih gemetar. Genggamannya pada tangan Ryujin terasa dingin, seolah dia benar-benar ketakutan.

“Jangan pergi…” bisik Yua lirih.

Untuk sesaat, suasana di dalam kamar menjadi hening, hanya terdengar suara hujan yang terus turun di luar malam.

Ryujin berkata "Jangan khawatir, aku akan melindungimu, aku akan menangkap Makhluk Kutukan itu sekarang juga."

Yua mendekati Ryujin sambil menatap tajam.

Dengan senyum manisnya dia berkata "Aku tidak ingin dirimu terluka, tetaplah disini bersamaku."

Ryujin terdiam sesaat. Pada akhirnya, dia mengembuskan napas pelan lalu kembali mendekat ke arah Yua.

Tanpa banyak bicara, Ryujin meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Salah satu tangannya melingkar melindungi tubuh Yua, sementara tangan lainnya membelai lembut rambutnya yang sedikit basah.

“Tenanglah.. aku di sini,” ucap Ryujin dengan suara rendah dan menenangkan.

Yua terdiam di dalam pelukan itu. Degupan jantung Ryujin terdengar jelas di telinganya, perlahan membuat rasa takut yang sejak tadi menghantuinya mulai mereda.

Di balik keberanian dan keteguhannya yang tak pernah goyah, Ryujin selalu menyimpan perasaan kepada Yua.

Dan malam itu, tanpa sadar, pelukannya menjadi jawaban atas semua perasaan yang selama ini ia sembunyikan. Ryujin terpaku dengan sikap Yua.

Ryujin berkata "Aku selalu ada untukmu, aku akan melindungimu."

Yua menatap Ryujin dengan senyum kecil yang perlahan kembali menghiasi wajahnya. Melihat itu, Ryujin ikut tersenyum lega karena akhirnya rasa takut di wajah Yua mulai menghilang.

Dengan lembut, Yua mengangkat tangannya lalu membelai pelan wajah Ryujin. Tatapannya begitu hangat, seolah ingin mencari jawaban dari sorot mata Ryujin.

“Apa kau mencintaiku, Ryujin..?” bisiknya lirih.

Ryujin menatap Yua cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Jika bukan karena mencintaimu… aku tak mungkin setakut ini kehilangannya.”

Tangannya bergerak pelan menyentuh pipi Yua, membelainya dengan begitu hati-hati seolah Yua adalah sesuatu yang paling berharga baginya.

Perlahan, Ryujin mendekatkan wajahnya. Napas mereka saling beradu tipis, sementara tatapan keduanya tak mampu lagi berpaling satu sama lain.

Ryujin memejamkan mata perlahan.

Dan di detik ini dia hendak mencium Yua. Namun, belum sampai tiba-tiba Ryujin mendengar suara tangisan wanita di dekatnya. Ryujin membuka mata dan terkejut melihat Yua tidak ada didepannya.

Justru dia melihat wanita basah kuyup yang dilihatnya saat itu sedang duduk di kursi.

Ryujin melihat sekeliling dan tidak ada Yua disitu. Hanya ada makhluk kutukan yang sedang menangis.

Dengan kesal Ryujin berkata "Makhluk jahat!! Beraninya kau mengelabuhiku!!."

"Aku menangis karena kasihan kepadamu anak muda.. kasihan sekali cintamu bertepuk sebelah tangan, hahaha."

Mendengarnya, Ryujin emosi dan mengeluarkan katana untuk menghabisi Makhluk itu.

Dengan nada tinggi Ryujin berkata "Lenyaplah kau makhluk sialan!!"

Makhluk kutukan itu bergerak begitu cepat, berpindah-pindah tempat seperti bayangan yang tak dapat disentuh. Setiap kali Ryujin mencoba menyerangnya, sosok itu kembali menghilang lalu muncul di sudut ruangan yang berbeda sambil mengeluarkan tawa menyeramkan.

Namun, Ryujin tidak gentar sedikit pun.

Dengan genggaman katana yang semakin erat, dia melesat maju menggunakan seluruh kekuatannya. Tebasan demi tebasan memenuhi ruangan, menciptakan percikan api di sekitarnya.

Hingga akhirnya, Ryujin berhasil memojokkan makhluk itu.

Ujung katananya mengarah tepat ke dada sang makhluk kutukan. Aura membunuh yang keluar dari Ryujin membuat suasana di ruangan itu terasa menyesakkan.

Tanpa ragu, Ryujin melangkah maju dan hendak menusukkan katananya tepat ke jantung makhluk tersebut.

Namun di detik terakhir. Wujud makhluk itu tiba-tiba berubah.

Ryujin membelalak kaget.

Sosok mengerikan itu kini berubah menjadi Yua. Yua berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan gemetar, sementara ujung katana Ryujin hanya berjarak beberapa senti dari dadanya.

Dengan tatapan sedih dia berkata "Kau akan membunuhku? apa kau tidak mencintaiku?."

Ryujin terkecoh.

Makhluk kutukan itu tersenyum tipis melihat keraguan di mata Ryujin. Dalam sekejap, sosok yang menyerupai Yua itu mendorong tubuh Ryujin hingga terpental beberapa langkah ke belakang.

Brak!

Saat Ryujin kembali menstabilkan tubuhnya, makhluk itu sudah berlari keluar ruangan.

“Berhenti!” teriak Ryujin.

Tanpa membuang waktu, Ryujin segera mengejarnya menembus derasnya hujan malam. Namun makhluk kutukan itu terus berpindah-pindah layaknya bayangan, membuat jejaknya sulit ditangkap. Sayangnya makhluk itu lolos dan Ryujin basah kuyup karena kehujanan mengejaranya.

Dengan kesal Ryujin berkata "Sial.. dia lolos."

---

Jinsei tertidur lelap. Namun, Dia terbangun karena merasa seperti ada tetesan air yang mengenai wajahnya. Jinsei membuka matanya sambil mengusap wajahnya.

Saat mengusap-usap matanya, remang-remang Jinsei melihat Yua sedang duduk disampingnya.

Jinsei berkata "Kaukah itu Yua?."

Yua mengangguk sambil tersenyum.

Dia berkata "Aku datang karena tidak bisa tidur, ada suara tawa wanita dikamarku membuatku terganggu."

Jinsei berkata didalam hatinya "Suara tawa yang didengar Yua apakah ulah makhluk wanita pendendam."

Yua berkata "Apa kau tidak keberatan jika aku menginap?."

"Dengan senang hati, apapun yang kau mau pasti akan kuberikan. Kau bisa tidur disini, aku akan tidur dikursi."

"Tapi, ayahmu tidak suka jika aku dekat-dekat denganmu."

Jinsei terkejut mendengarnya.

"Mana mungkin, dia sangat menyukaimu. Tidurlah, aku akan menjagamu."

"Terimakasih, kau baik sekali Jinsei."

Jinsei beranjak dari tempat tidur dan berpindah ke kursi. Namun tak lama kemudian, langkah pelan terdengar mendekatinya.

Jinsei menoleh, dan seketika matanya sedikit membelalak saat melihat Yua tiba-tiba duduk di pangkuannya begitu saja.

Belum sempat ia berkata apa-apa, Yua sudah lebih dulu menyenderkan kepalanya perlahan pada dada Jinsei. Yua memejamkan mata sejenak sebelum berkata dengan suara lembut yang hampir seperti bisikan.

“Bolehkah aku tidur di pangkuanmu Jinsei?”

Untuk sesaat, Jinsei terpaku.

Dengan lembut Jinsei berkata "Mengapa tidak."

Kedua tangan Yua perlahan melingkar di leher Jinsei. Yua menatapnya lekat dengan sorot mata yang begitu dalam, seolah sedang mencari kejujuran di balik tatapan Jinsei.

“Jika harus memilih… mana yang akan kau pilih antara cinta dan ambisi?” bisik Yua pelan.

Jinsei terdiam sesaat.

Tangannya bergerak merangkul pinggang Yua dengan lembut, menarik gadis itu sedikit lebih dekat ke dalam pelukannya. Tatapannya tak berpaling sedikit pun dari wajah Yua.

“Tentu saja cinta, karena pada akhirnya… kaulah yang akan selalu kupilih.”

Mendengar jawaban itu, senyum tipis muncul di wajah Yua. Dengan lembut, ia membelai wajah Jinsei, jemarinya bergerak perlahan seolah takut kehilangan sosok di hadapannya.

“Aku sangat mencintaimu Jinsei, kumohon jangan pernah kau mengkhianatiku.”

Untuk sesaat, suasana di antara mereka menjadi begitu sunyi.

Hanya terdengar suara hujan malam yang jatuh perlahan di luar jendela.

Perlahan, Jinsei menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Yua. Suasana hangat di antara mereka membuat dirinya terlena, seolah untuk sesaat dia ingin melupakan seluruh ambisi dan kekacauan yang selama ini membebaninya.

Napas mereka saling beradu tipis.

Namun tepat sebelum bibir mereka bersentuhan,

“Tapi… pada akhirnya kau juga akan membunuhku demi takhta."

Suara Yua terdengar pelan, namun cukup untuk membuat tubuh Jinsei membeku.

Jinsei langsung membuka matanya.

Tatapannya dipenuhi keterkejutan, seolah tak percaya Yua baru saja mengatakan hal itu.

“A.. apa maksudmu? kenapa kau bicara seperti itu? aku tidak mengerti.” ucapnya pelan.

Yua tersenyum samar. Namun kali ini, senyum itu terasa begitu menyedihkan.

Dengan lembut, dia mengusap pipi Jinsei sebelum berbisik lirih,

“Sayang sekali… kau tidak bisa memperjuangkan cintamu.”

Yua perlahan berdiri dari pangkuan Jinsei. Tatapannya menunduk sesaat sebelum dia berbalik, seolah hendak pergi meninggalkan ruangan itu bersama kesedihan yang tak mampu dia sembunyikan.

Namun baru beberapa langkah. Jinsei segera menarik tubuh Yua ke dalam pelukannya dari belakang. Pelukan itu begitu erat, seakan dia takut kehilangan Yua jika melepaskannya sedikit saja.

Yua terdiam.

Sementara Jinsei menundukkan kepalanya pelan di bahu Yua, napasnya terdengar berat bercampur emosi yang selama ini ia tahan sendiri.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucap Jinsei dengan suara rendah namun penuh ketegasan.

Pelukannya semakin erat.

“Aku berjanji akan menjadikanmu ratuku.”

Yua tertawa kencang mendengar perkataan Jinsei. Jinsei menyadari ada yang aneh dengan sikap Yua. Dia tersadar mengapa Yua bisa membicarakan takhta?.

Jinsei berjalan mundur perlahan. Yua membalikkan badan. Jinsei terkejut saat melihat wajah Yua berubah menjadi sosok yang mengerikan.

Jinsei tersadar bahwa dia bukanlah Yua, melainkan adalah Makhluk Wanita Pendendam, Makhluk Kutukan ciptaan Master Genjiro, sekaligus adalah makhluk suruhan ayahnya.

Dengan amarah Jinsei berkata "Beraninya kau mengelabuhiku!! apa yang kau lakukan disini! mengapa kau tidak melakukan tugasmu saja!!"

"Hahaha aku hanya kasihan kepadamu.. karena orang yang kau cintai sebentar lagi akan menjadi targetku, hahaha."

"Tidak akan kubiarkan itu terjadi! apa yang kau inginkan? aku akan menuruti permintaanmu asal kau jangan mengganggu Yua."

"Bagaimana jika aku mengambil jiwamu sebagai gantinya, jika kau benar-benar mencintai gadis itu. Keputusan yang sangat mudah bukan? Hahaha."

Dengan senyum licik Jinsei berkata "Dasar makhluk tidak tahu diri!". Jinsei mengeluarkan katananya dan menghajar makhluk itu dengan kekuatannya. Mereka bertarung sengit.

Namun, karena kekuatan makhluk itu lebih besar, katana Jinsei berbalik arah dan menusuk jantung Jinsei. Jinsei kalah tidak bisa berbuat apa-apa.

Makhluk Kutukan tertawa kencang, dia mendekati Jinsei dengan berkata, "Kecerobohanmu sendiri yang akan membunuhmu."

Jinsei langsung terbangun dari tidurnya. Dia menghela nafas, ternyata itu semua hanyalah mimpi.

Jinsei berkata "Sialan.. mengapa makhluk itu datang ke mimpiku, aku khawatir dengan Yua."

Hujan deras mulai agak reda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!