Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Pertarungan di Markas Gerombolan Rawa Belong
Sebuah pedang bewarna hitam muncul di ikuti oleh aura kematian yang kental.
"Itu Pusaka Pedang Langitan..." Tak bisa dicegah kata meluncur dari mulut ketua Gerombolan Rawa Belong Ranggau Manusuk. Mata Ranggau Manusuk menatap Pusaka Pedang Langitan dengan serakah.
"Pendekar Suling Perak, serahkan pusaka Pedang Langitan dan aku akan memberi kematian mudah bagi mu."
"Oh kau tahu ini Pusaka Pedang Langitan ? Kalau begitu kau boleh bangga mati oleh pedang ini." Ucap Bagaga Alam tanpa tekanan.
Diam diam Ranggau Manusuk merasa hatinya bergetar. Dia mulai merasa gelisah.
Dipinggir rawa payau. Adipati Muncak Gede mulai bergerak meninggalkan daratan dengan perahu. Perahu perahu kecil itu meluncur dengan kecepatan tinggi karena dikayuh dengan menggunakan energi mendalam.
Saking cepatnya, dasar perahu nyaris mengambang di atas permukaan rawa payau.
Kembali kedalam markas Gerombolan Rawa Belong.
Ranggau Manusuk berkata dengan suara pelan. "Linsang Api, Nyi Belong Ranti kita serang bersama Pendekar Suling Perak ini."
Linsang Api dan Nyi Belong Ranti segera bergeser. Dua tetua Gerombolan Rawa Belong itu membentuk segitiga mengurung posisi Bagaga Alam. Tiga puluh anggota Gerombolan Rawa Belong yang berada ditingkat pendekar bumi juga membuat lapisan kedua. Mereka siap siaga dengan berbagai senjata mereka.
"Pendekar Suling Perak, lebih baik kau menyerah, dan serahkan Pusaka Pedang Langitan. Dengan begitu kematian mu tidak akan terlalu menyakitkan." Ketua Gerombolan Rawa Belong, Ranggau Manusuk masih mencoba untuk mempengaruhi Bagaga Alam.
"Yaa... Serahkan pedang itu dan aku akan minta ampunan untuk nyawamu. Kita bisa menikmati hubungan yang sangat indah dan penuh kehangatan." Nyi Belong Ranti ikut bicara.
Bagaga Alam melirik Nyi Belong Ranti dengan jijik. "Kau nenek peot. Apakah kau mengira aku tidak bisa melihat sosok jelek mu yang asli ?"
Tentu saja Nyi Belong Ranti menjadi sangat marah. Pendekar Suling Perak mengatainya seorang nenek peot ?? Penghinaan macam apa itu. Memang usianya sudah empat puluhan. Tapi wajahnyna masih cantik dan tubuhnya masih sekal dan sintal. Bagian bagian tertentu menonjol membentuk lekukan sempurna, sangat lah menggairahkan.
"Dasar monyet gila. Karena matamu buta akan keindahan. Biarlah kejadian buta sempurna."
Zhuiiiiiinng...! Ssssssssssshh...!!
Dua batang jarum merah melesat mendengung bagai tawon menuju kedua mata Bagaga Alam.
Pusaka Pedang Langitan berkelebat dan ting, tuing....
Dua batang jarum itu kembali dengan cepat, lebih cepat kepada Nyi Belong Ranti.
"Sialan keparat...!!" Nyi Belong Ranti memaki dan melenting menghindar.
Nyi Belong Ranti kembali menyerang. Sebuah selendang menyambar dengan cepat ke muka Bagaga Alam. Saat itu pula tetua 1 Linsang Api melepas dua pukulan jarak jauh. Dua gumpalan api yang sangat panas melesat sangat cepat kearah Bagaga Alam.
Bagaga Alam tersenyum ringan. Dia menghilang. Dua gumpalan api yang sangat panas menghantam dinding pagar yang membentengi markas Gerombolan Rawa Belong.
Dhuuuaaaaaaaaaarrrr...!!
Pagar itu meledak, hancur berkeping keping.
Anggota Gerombolan Rawa Belong melihat kearah dinding pagar yang telah hancur. Mereka kaget melihat banyak perahu merapat. Orang orang diatas perahu perahu itu melompat ke daratan pulau.
Hancuuurkaaaaan....!!
Teriakkan berkumandang dari orang orang Adipati pangeran Muncak Gede yang turun dari perahu.
Ratusan anggota Gerombolan Rawa Belong segera berlari menyambut kedatangan Adipati Muncak Gede dan Pasukan Macan Perak.
Pertempuran besar segera pecah. Pasukan Macan Perak dengan ganas dan penuh semangat menyerbu. Jerit kesakitan dan teriakan kematian terdengar bersahutan.
Danang Wesi dan Ni Kirana bergerak lincah. Setiap kali senjata mereka berkelebat. Satu nyawa langsung melayang.
Sementara itu Linsang Api dan Nyi Belong Ranti celingukan mencari sosok Bagaga Alam yang tiba-tiba menghilang.
"Aku disini...!" Terdengar suara Bagaga Alam dekat dengan tetua 1 Linsang Api.
Linsang Api kaget. Dia segera mundur dua langkah. Namun sinar hitam berkilau melintas.
Craaaaaazzzss...! Uuughh...!!
Tetua 1 Linsang Api kaget ketika ujung Pusaka Pedang Langitan menoreh dadanya.
Bekas torehan itu mengalirkan darah. Tapi aneh, darah dari luka didada Linsang Api bewarna hitam dan bau. Luka bekas tebasan langsung membusuk.
"Ketua tolong aku..." Tetua 1 Linsang Api berteriak minta tolong.
Ketua Ranggau Manusuk melesat menyerang Bagaga Alam.
Bagaga Alam tidak memperdulikan. Dia bergerak mendekati Nyi Belong Ranti. Nyi Belong Ranti tidak tinggal diam. Dia menyambut kedatangan Bagaga Alam dengan serangan selendangnya.
Selendang Nyi Belong Ranti meledak di samping kepala Bagaga Alam. Tiba-tiba gumpalan asap tebal putih kelabu menyebar.
Craasssh... Tes
Pusaka Pedang Langitan berkelebat dan selendang Nyi Belong Ranti putus.
Gila dalam kungkungan kabut racun pelemah tulang dia masih sempat menebas selendang ku ?
Nyi Belong Ranti bergumam dalam hati. Namun pada kenyataannya dia tertawa terkikik.
"Hi hi hii hiii... Pendekar Suling Perak ak. Akhirnya kau haerus kalah oleh racun pelemah tulang ku, hi hi hi hii hiii hi...."
Ketua Ranggau Manusuk diam menunggu. Namun dia bersama Nyi Belong Ranti kaget mendengar suara Bagaga Alam.
"Apa yang kalian tertawakan ?"
Bagaga berdiri dekat tetua 1 Linsang Api. Pusaka Pedang Langitan berkelebat dan kepala tetua 1 Linsang Api jatuh menggelinding.
"Sekarang giliran mu nenek peot." Bagaga Alam menunjuk Nyi Belong Ranti dengan pusaka Pedang Langitan.
"Kau tidak terpengaruh oleh racun pelemah tulang ku ?"
"Racun lemah itu tidak bisa memberi pengaruh apapun pada ku. Bersiaplah untuk mati nenek peot."
Bagaga Alam yang mendapatkan gelar baru sebagai Pendekar Suling Perak melesat. Dia menyerang ketua Ranggau Manusuk.
Ranggau Manusuk kaget karena tiba-tiba Bagaga Alam menyerang dirinya.
Trrraaaaaaaaaannngg....!!
Suara benturan keras terdengar menghentak membelah udara di markas Gerombolan Rawa Belong.
Ketua Ranggau Manusuk terdorong mundur lebih dari tiga langkah.
Bagaga Alam memanfaatkan efek benturan. Dia menggunakan bias energi benturan dan melesat melewati Nyi Belong Ranti.
Nyi Belong Ranti tersentak, sebuah garis merah muncul di lehernya. Tangan Nyi Belong Ranti bergerak menggapai lehernya. Namun belum lagi tangannya mencapai leher. Nyi Belong Ranti sudah jatuh dan kepalanya menggelinding di tanah.
Bagaga Alam menatap tajam pada Ketua Ranggau Manusuk. Dia berucap dengan suara datar tanpa nada.
"Bangsat...! Kau harus membayar dengan nyawamu...!!"
Ketua Ranggau Manusuk langsung menyerang Bagaga Alam dengan jurus jurus kuat.
Kujang pusaka darah yang bewarna merah bergerak melengkung sarat dengan energi mendalam yang sangat kuat. Bayangan kilau kujang membentuk siluet padat dan sangat tajam.
Zhuiiiiiinng....!!
Bukan hanya satu. Siluet kujang itu berulang secara berurutan menuju beberapa bagian tubuh vital.
Bagaga Alam mendengus. Pusaka Pedang Langitan berkelebat menyambut kedatangan empat serangan beruntun.
Blaaaaarrr...! Blaaaaarrr...! Dhuuuaaaaaaaaaarrrr...!!
Ledakan dahsyat terjadi. Bias energi mendalam yang sangat kuat menyebar kemana-mana.
Tiga puluh anggota Gerombolan Rawa Belong tingkat pendekar bumi yang tadi mengelilingi pertarungan ketua Ranggau Manusuk dan Bagaga Alam telah bergabung dengan anggota Gerombolan Rawa Belong yang lain.
Pertempuran antara Pasukan Macan Perak dan anggota Gerombolan Rawa Belong berlangsung ketat. Keberadaan Pati Maung Sakti dan Adipati Muncak Gede serta Danang Wesi menjadi pengaruh yang besar. Terutama Adipati pangeran Muncak Gede, Pati Maung Sakti dan Danang Wesi yang sudah berada ditingkat pendekar langit. Juga Ni Kirana. Mereka menjadi mesin pembunuh bagi anggota Gerombolan Rawa Belong.
"Kita hadapi dulu gadis itu." Salah seorang dari anggota Gerombolan Rawa Belong yang sudah berada ditingkat pendekar bumi berseru kepada rekannya.
Enam orang anggota Gerombolan Rawa Belong yang berada ditingkat bumi lasung menyerang Ni Kirana. Ni Kirana bergerak menghindar. Tapi akhirnya di terpisah dari rekan rekannya.
Ni Kirana segera dikurung oleh enam orang anggota Gerombolan Rawa Belong.
\=\=\=\=\=***\=©