Melati dan Rayan sudah 5 tahun menikah, tapi mereka belum di karuniai keturunan. Di usia 5 tahun pernikahan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan, dan hasil nya Rayan yang bermasalah.
Dokter Silvi, sahabat nya Melati memberi saran pada Melati agar Melati mengatakan bahwa diri nya yang mandul. Maka Melati akan melihat seperti apa wajah asli mereka, dan Melati pun menerima saran itu.
Setelah mengatakan hal itu, Melati di perlakukan bak pembantu. Rayan datang dengan membawa wanita hamil yang diakui sebagai anak nya.
Di hari syukuran kelahiran anak nya, Rayan mengundang Melati dan menghina nya di depan banyak orang. Melati lalu memberikan surat hasil pemeriksaan yang asli, Rayan dan kekuarga nya tidak percaya dengan hal itu.
Tapi setelah memeriksa keaslian surat itu, dan melakukan tes DNA maka mereka baru tahu bahwa anak itu bukan anak nya Rayan. Dan saat itu juga Rayan juga sudah di tipu oleh istri baru nya, harta nya sudah di bawa lari oleh wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Melati dan Bunda Ambar sengaja mendorong troli mereka mendekati orang tua nya Andin, mereka berpura - pura memilih barang - barang yang berada tidak jauh dari mereka.
"Pa, Mama pengen jalan- jalan keluar negeri. Mama pengen ke Swis, nanti kita minta uang nya sama Andin!" Bu Salma kembali berkata pada suami nya.
"Iya Ma, nanti kita minta sama Andin. Kan suami nya orang kaya, mereka punya banyak uang!" Pak Gunawan menimpali.
'Kata nya orang kaya, tapi kok minta uang sama anak!' Batin Melati di dalam hati.
"Bunda penasaran, bagai mana ya reaksi keluarga nya Rayan. Saat mereka tahu jika istri baru nya dan keluarga nya adalah penipu!" Bisik Bu Ambar di telinga Melati.
"Itu karma yang pantas buat mereka, bun!" Balas Melati sambil berbisik pada Bunda Ambar.
Melati dan Bunda Ambar meneruskan acara belanja mereka, begitu pun dengan kedua orang tua Andin. Melati sengaja melewati mereka, Melati dan Bunda Ambar bersikap seolah - olah mereka tidak melihat pak Gunawan dan bu Salma.
Di tempat yang lain, Andin sedang berada di balkon kamar nya. Tiba - tiba ponsel nya berdering, bergegas Andin mengambil nya.
"Siapa ya?" Andin bertanya pada diri nya sendiri sambil mata nya menatap layar ponsel nya.
"Hallo sayang,,,!" Terdengar suara laki - laki dari seberang sana.
"Hallo, siapa ini?" Tanya Andin dengan heran.
"Andin, kau lupa ya dengan ku?" Kembali laki - laki dari seberang sana bertanya pada Andin.
"Aku tidak mengenal mu, kau siapa?" Kembali Andin bertanya dengan kesal.
"Ternyata kau sudah melupakan aku, aku adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungan mu!" Kembali laki - laki iti berkata.
Andin terkejut mendengar nya, hampir saja ponsel yang ada di tangan nya terlepas dan jatuh. Tapi dengan cepat Andin menguasai diri nya, dia melihat ke sana kemari takut jika ada yang mendengar nya.
"Jangan bicara sembarang kau, ini adalah anak nya mas Rayan!" Andin berkata dengan geram nya.
"Andin, Rayan adalah laki - laki mandul dan dia tidak bisa menghamili wanita manapun. Anak itu adalah anak ku, apa kau mau melihat bukti nya?" Kembali laki - laki itu bertanya.
Klik.
Andin tidak mau mendengar apapun dari laki - laki itu, Andin pun langsung memblokir nomor itu agar tidak bisa menghubungi nya lagi.
"Sialan, kenapa laki - laki ini datang lagi!" Guman Andin dengan geram.
Ingatan Andin menerawang jauh, mengingat laki - laki tersebut. Orang itu adalah Viki, laki - laki yang memang pernah menjalin hubungan dengan nya dulu. Viki adalah laki - laki penipu, dia selalu menggunakan uang hasil dari menipu nya untuk bersenang - senang dengan banyak wanita.
Dreettt, dreettt, dreettt.
Kembali ponsel Andin berdering, Andin melihat ada nomor baru lain nya yang menelepon nya.
"Siapa lagi ini?" Guman Andin sambil bertanya pada diri nya sendiri.
Andin membiarkan panggilan itu hingga berakhir, dia takut jika ada nomor baru yang menelepon nya. Tapi kembali nomor itu menghubungi Andin, mau tidak mau akhir nya Andin pun menjawab panggilan itu.
"Hallo!" Sapa Andin sambil menempelkan benda pipih itu di telinga nya.
"Hallo Andin, jangan coba - coba menutup panggilan dari ku atau memblokir nomor ini. Karena jika hal itu sampai terjadi, maka aku pastikan aku akan mengirim kan bukti pada Rayan. Bahwa anak yang ada di dalam kandungan mu, bukan lah anak nya melainkan anak ku!" Terdengar suara Viki dari seberang sana.
"Kau,,, sebenar nya apa mau mu?" Tanya Andin dengan geram.
"Andin, kau tanya apa mau ku? Ku rasa kau sudah tau, apa mau ku!" Viki berkata sambil tertawa keras.
"Viki, jangan ganggu aku!" Bentak Andin dengan geram.
"Bagai mana aku bisa tidak mengganggu mu Andin, karena kau membawa anak ku!" Kembali Terdengar suara tawa Viki dari seberang sana.
"Viki, katakan apa mau mu!" Kembali Andin berkata.
"Andin sayang jangan kasar pada ku, santai saja sayang!" Ujar Viki kembali.
"Viki, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu, katakan apa yang kau ingin kan!" Kembali Andin bertanya.
"Andin sayang, transfer uang pada ku sekarang juga. Tidak banyak kok, cuma 10 juta saja!" Terdengar suara Viki di seberang sana.
"Baik lah, aku akan kirim kan uang nya pada mu sekarang juga. Tapi jangan pernah menghubungi aku lagi!" Andin berkata dengan geram nya.
"Kirim kan uang nya sekarang juga, atau aku akan memberi tahu suami mu tentang anak kita!" Ujar Viki lagi.
"Baik lah Viki, aku kirim sekarang juga!" Jawab Andin.
Klik.
Andin pun langsung memutuskan panggilan telepon dengan Viki, dia membuka aplikasi keuangan di ponsel nya dan mengirim kan uang pada Viki. Andin takut jika Rayan dan keluarga nya tahu bahwa ini bukan lah anak nya, maka sudah pasti Rayan akan membuang nya.
"Sialan, kenapa dia bisa muncul lagi!" Guman Andin dengan geram.
Andin mengusap wajah nya sendiri dengan kasar, baru saja dia mendapatkan kebahagiaan dengan menjadi istri nya Rayan. Tapi laki - laki yang menjadi masa lalu nya itu malah datang dan mengancam nya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku yakin Viki tidak akan berhenti begitu saja, dia pasti akan meminta uang tutup mulut lagi!" Andin bermonolog pada diri nya sendiri.
Andin memijit pelipis nya sendiri, dia merasakan kepala nya yang sakit akibat memikir kan Viki.
Tring.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel nya Andin, Andin langsung membuka nya.
[Andin sayang, terima kasih ya. Jaga anak kita baik - baik ya, karena jika terjadi sesuatu pada nya, maka aku akan menuntut mu!] Tulis Viki melalui pesan singkat.
"Dasar Sialan!" Umpat Andin.
Andin lalu membanting ponsel nya ke sofa, tapi sebelum nya dia sudah menghapus pesan dari Viki.
"Viki, aku tidak akan membiarkan mu terus - terusan memeras ku. Tapi apa yang harus aku lakukan? Jika aku tidak menuruti semua keinginannya, maka dia pasti akan memberi tahu mas Rayan tentang anak ini. Apa yang harus aku lakukan?" Andin pun stres sendiri dengan hal ini.
Baru saja Andin merasakan senang nya menjadi orang kaya, tapi kini Viki datang dan mengancam diri nya. Andin sadar Viki hanya butuh uang, jika dia bisa memberikan uang sebanyak yang di minta Viki. Maka rahasia nya akan aman, tapi Andin tidak punya banyak uang.
Jika dia terus meminta pada Rayan, apalagi jumlah nya pasti tidak sedikit. Andin sadar, bahwa lama - kelamaan Rayan pasti akan curiga.
"Apa yang harus aku lakukan, agar masalah Viki tidak di ketahui oleh Mas Rayan?" Kembali Andin bertanya pada diri nya sendiri.