Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutang Darah
Derap langkah kaki Devan yang tegas kian mendekat. Suara sepatu kulitnya memantul keras di atas lantai marmer koridor.
Di dalam ruangan, wajah Arya seketika memucat. Tanpa membuang waktu, pria itu memberi isyarat panik dengan tangannya.
"Nona Aisha, cepat taruh foto itu! Jangan sampai Tuan Devan melihat Anda memegangnya, saya mohon!" bisiknya dengan nada memohon yang sangat mendesak.
Jantung Aisha berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Namun, melihat kepanikan di wajah Arya yang polos, Aisha akhirnya menahan diri. Dengan tangan gemetar, dia mengembalikan bingkai foto kayu itu ke posisi semula di balik meja kerja Devan, tepat ketika gagang pintu diputar.
Klek.
Pintu kayu jati berukuran raksasa itu terbuka lebar. Devan melangkah masuk dengan jas yang kini dikancingkan rapi. Aura dominan dan dingin langsung memenuhi ruangan. Tatapan mata elangnya menyapu sekeliling, menangkap sosok Arya yang berdiri kaku di depan meja kerjanya dan Aisha yang berdiri beberapa langkah di sampingnya dengan wajah yang agak pucat.
Alis Devan bertaut.
"Arya? Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu seharusnya menyiapkan berkas evaluasi untuk rapat komisaris besok?" suara Devan terdengar menuntut.
Arya membungkuk dalam-dalam untuk menutupi ekspresi wajahnya yang tegang.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tadi hanya mengantarkan dokumen jadwal kunjungan Anda untuk minggu depan dan memastikan Nyonya Aisha tidak memerlukan sesuatu."
Devan menatap Arya intens selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa, seolah bisa membaca kebohongan dari gelagat tangan kanannya itu. Namun, Devan tidak memperpanjangnya.
"Begitu. Kamu boleh keluar sekarang."
"Baik, Tuan Muda. Permisi, Nona Aisha," pamit Arya seraya memberi hormat tipis, melirik Aisha sejenak dengan pandangan sarat peringatan sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Ruangan mewah berlantai 45 itu kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan.
Devan berjalan santai menuju meja kerjanya. Dia melonggarkan ikatan dasinya, lalu meletakkan beberapa berkas rapat di atas meja marmer. Saat tangannya bergerak, sudut matanya secara tidak sengaja menangkap posisi bingkai foto kayu kecil di sudut meja.
Posisi foto itu sedikit bergeser dua sentimeter dari letak aslinya. Dan di atas kacanya, ada bekas usapan samar jari yang basah.
Devan membeku seketika. Pria itu perlahan menoleh, menatap Aisha yang kini berdiri bersedekap dada di dekat sofa kulit hitam. Matanya yang memerah dan napasnya yang belum sepenuhnya stabil mempertegas semua kecurigaan Devan.
"Kamu menyentuh barang-barang di mejaku," ucap Devan, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.
Kehangatan yang sempat ditunjukkannya saat membelanya di pesta semalam kini lenyap tanpa bekas.
Aisha menatap balik mata gelap Devan. Dia sudah lelah terus diputarbalikkan oleh kebohongan pria ini. Rasa takutnya kalah oleh rasa haus akan kebenaran.
"Ya, aku menyentuhnya," aku Aisha tanpa ragu, melangkah satu titik lebih dekat ke arah Devan.
"Aku melihat foto itu, Devan. Foto anak laki-laki dan anak perempuan berpita merah yang memegang kotak musik."
Rahang Devan mengeras. Urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak emosi yang mendadak meledak di dadanya.
"Sudah kubilang, jangan lancang mencampuri ruang pribadiku, Aisha! Foto itu—"
"Jangan bohong lagi!" potong Aisha dengan suara melengking, air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes membasahi pipinya.
"Jangan sebut itu kebetulan lagi, Devan! Anak perempuan di foto itu adalah aku! Aku mengenali pita merah itu! Dan anak laki-laki di sampingku, itu kamu, kan?!"
Devan mengepalkan tangannya di atas meja marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Dia berdiri membelakangi Aisha, menatap lurus ke luar dinding kaca raksasa yang menampilkan lanskap kota. Dia tidak boleh runtuh. Belum saatnya. Jika Aisha tahu sekarang bahwa seluruh alasan kecelakaan 20 tahun lalu dan kematian orang tua kandungnya melibatkan tangan dingin Hendra, gadis ini akan hancur secara mental.
"Kalau memang itu kamu, lalu kenapa?" sahut Devan, suaranya terdengar begitu dingin dan acuh tak acuh, sebuah benteng pertahanan yang sengaja dia bangun tinggi-tinggi.
"Apa yang ingin kamu dengar, Aisha? Kamu mau aku mengaku kalau kita adalah teman masa kecil yang terpisah oleh takdir?"
Aisha menahan napas, dadanya sesak.
"Jadi, kamu benar-benar ingat padaku?"
Devan berbalik perlahan. Tatapan matanya begitu datar, seolah foto itu tidak berarti apa-apa baginya.
"Aku ingat. Lalu kenapa?" Devan tersenyum sinis, sebuah senyuman manipulatif yang menyembunyikan rasa perih di hatinya sendiri.
"Apakah kamu berpikir dengan fakta bahwa kita pernah kenal sewaktu kecil, pernikahan transaksi ini mendadak berubah jadi kisah romantis? Sadarlah, Aisha. Bagiku, masa lalu hanyalah masa lalu. Anak kecil di foto itu sudah mati bersama masa lalunya."
Kata-kata itu menghantam ulu hati Aisha bagai tembakan peluru.
"Kalau kamu menganggap masa lalu itu tidak penting, kenapa kamu menyimpan foto itu di meja kerjamu? Kenapa kamu menyimpan kotak musikku di laci rahasiamu?!"
"Karena benda-benda itu adalah pengingat," jawab Devan cepat, melangkah maju mendekati Aisha hingga mengikis jarak di antara mereka. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aisha yang bergetar.
"Pengingat akan hutang darah yang belum lunas."
Aisha terpaku.
"Hutang darah?"
"Apa maksudmu dengan hutang darah, Devan?" bisik Aisha, suaranya bergetar hebat.
"Apa hubungannya masa kecil kita dengan alasan kamu membeliku dari Papa Hendra?!"
Devan menatap wajah cantik di depannya dengan kilatan emosi yang sangat kompleks, rasa benci yang membara pada keluarga Hendra, dan rasa cinta posesif yang begitu dalam pada gadis ringkih di depannya ini.
Devan mengangkat tangannya, jemari kasarnya menyapu air mata di pipi Aisha dengan sangat lembut, sebuah kontras yang membuat Aisha semakin kebingungan.
"Suatu hari nanti kamu akan tahu, Aisha," bisik Devan di dekat telinga gadis itu, suaranya begitu rendah hingga membuat bulu kuduk Aisha berdiri.
"Tapi bukan sekarang. Tugasmu saat ini hanya tetap berada di sampingku, memakai namaku, dan menyaksikan bagaimana aku merobohkan orang-orang yang sudah merusak hidupmu."
Sebelum Aisha sempat mencerna ucapan Devan, ponsel di saku jas Devan berdering nyaring.
Devan merogoh ponselnya, menatap layar sejenak, lalu mengangkatnya dengan ekspresi yang seketika berubah serius.
"Ada apa?"
Suara di balik telepon terdengar panik dan bergema pelan keluar dari speaker telepon:
"Tuan Muda Devan! Bahaya! Pihak Hendra baru saja mendatangi kasino utama di kawasan bawah tanah! Mereka membawa pengacara dan mengklaim memiliki dokumen perjanjian asli yang menyatakan bahwa jika Anda tidak menyerahkan saham Alister Group dalam waktu tiga hari, mereka akan melaporkan transaksi 'penjualan manusia' atas nama Nyonya Aisha ke publik dan media internasional!"
Mata Devan seketika menyipit tajam siap membantai mangsanya. Senyum maut terukir di sudut bibirnya yang tipis. Hendra rupanya mulai tidak sabar dan termakan umpan yang dipasang Devan.
"Bagus," ucap Devan singkat.
"Biarkan mereka melangkah lebih jauh. Siapkan pasukan di markas bawah tanah. Aku akan turun sendiri malam ini."
Devan mematikan teleponnya, lalu menoleh pada Aisha yang menatapnya dengan raut wajah penuh horor.
"Siapkan dirimu, Aisha," Devan merapikan jasnya kembali, matanya memancarkan kegelapan yang tak terelakkan.
"Nanti malam, kamu ikut denganku ke dunia bawah tanah Alister. Sudah waktunya kamu melihat wajah asli dari 'Papa' kesayanganmu itu."