Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Misi Selesai
Arka mengepalkan tangannya. Ia tak mau ada nyawa melayang seperti dirinya, semua orang berhak hidup jika belum waktunya.
"Baiklah! Aku akan menyelamatkannya dengan pengetahuan yang aku punya darimu. Bersyukurnya ada sistem ini yang menghidupkan aku kembali... aku tak boleh menyia-nyiakannya!" kata Arka dengan tatapan mata bertekad.
"Sistem, beri tahu aku di mana posisi pasien itu!" perintah Arka seraya kembali berlari.
[Petunjuk Navigasi: Ruang ICU VIP Nomor 04, Lantai 3. Pasien mengalami kondisi catalepsy parah yang memalsukan tanda-tanda kematian.]
Arka melompati tangga darurat, mengabaikan rasa lemas pada otot-ototnya yang baru kembali berfungsi.
Tiba di Lantai 3, suasana tampak jauh lebih riuh. Di depan ruang VIP Nomor 04, terlihat sekelompok dokter, perawat, dan keluarga menangis
"Dokter! Tolong periksa sekali lagi! Anak saya pasti masih hidup! Saya mohon!" ratap seorang wanita paruh baya bergaun mewah, memegang tangan seorang dokter senior.
Dokter senior itu menghela napas berat dan menggelengkan kepala. "Maafkan kami, Ibu Siska. Grafik EKG sudah mendatar selama 10 menit. Pupil matanya tidak lagi merespons cahaya. Secara medis, putri Anda, Nona Clara, telah meninggal dunia pukul 02.15 WIB."
"Tidak! Clara!" jerit wanita itu histeris sebelum akhirnya pingsan di pelukan suaminya.
Di tengah tangisan gema keluarga tersebut, Arka membelah kerumunan tanpa ragu.
"Minggir! Dia belum mati!" teriak Arka lantang.
Sontak seluruh orang di lorong itu menoleh. Suasana hening seketika melihat sosok pria muda berwajah pucat, bertelanjang dada, dan hanya terbungkus robekan kain kafan.
"Siapa kamu?! Penjaga! Tangkap orang gila ini!" seru sang Dokter Senior dengan nada marah dan terkejut.
"Aku bilang dia belum mati! Kematian yang kalian lihat itu palsu!" tangkas Arka sambil menerobos masuk ke dalam kamar VIP, mengunci pintu dari dalam sebelum para petugas keamanan sempat menghentikannya.
"Hei! Buka pintunya! Kamu menyalahi hukum!" teriak Dokter dari luar sambil menggedor pintu kaca dengan kencang.
Arka tidak peduli. Ia menghampiri tubuh seorang gadis muda yang terbaring kaku di atas bangsal. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan.
"Sistem, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Arka cepat.
[Anda bisa menggunakan CPR dan poin untuk menyelamatkannya]
[Ambil CPR di sebelah kanan Anda]
Dengan tangan yang diusahakan tidak gemetar, Arka mengambil CPR.
Dari luar, para petugas keamanan mulai mencoba mendobrak pintu.
Brak! Brak!
"Tahan sebentar lagi..." gumam Arka.
Ia memfokuskan pandangannya. Pengetahuan dari Sistem ke dalam otaknya membuat tangannya bergerak dengan sangat cepat.
"Gunakan poin untuk menyatakan jantungnya berdetak lagi, aku mohon...!"
[Poin di potong 500 poin]
[Sisa 500 poin]
Arka meletakkan CPR di dada gadis itu dengan pengetahuan dari sistem dengan yang dianjurkan secara universal adalah 100–120 kali per menit.
Tekan dada dengan kedalaman 5–6 cm dan biarkan dada terangkat penuh kembali.
"Bangunlah! Kembali!" seru Arka sambil menekan titik saraf dada gadis itu dengan teknik khusus yang diajarkan Sistem.
Brak!
Pintu berhasil didobrak. Para petugas keamanan dan Dokter Senior menerobos masuk.
"Pegang dia! Amankan orang gila ini!" perintah Dokter Senior dengan wajah merah padam.
Dua orang petugas keamanan langsung memiting lengan Arka dan memitingnya ke lantai.
"Lepaskan aku! Lihat pasiennya dulu!" teriak Arka, mencoba memberontak.
"Kamu sudah merusak jenazah! Kamu akan dipenjara karena ini!" bentak Dokter Senior seraya melangkah mendekati bangsal untuk mencabut jarum-jarum yang dipasang Arka.
Namun, sebelum tangan dokter itu menyentuh jarum, sebuah suara mengejutkan terdengar dari monitor jantung.
Bip... Bip... Bip...
Garis datar di monitor tiba-tiba melompat naik. Suara napas tersengal yang berat terdengar dari tenggorokan gadis yang terbaring itu.
"Gasp... Uhuk! Uhuk!"
Gadis itu mendadak membuka matanya, dadanya naik turun mengirup udara.
"I... ibu... " gadis itu memanggil ibunya dengan terbata-bata.
Seluruh ruangan seketika membeku. Dokter Senior itu terperanjat mundur hingga hampir terjatuh, matanya menatap monitor dan pasiennya secara bergantian dengan tidak percaya.
"Ti-tidak mungkin..." bisik Dokter Senior itu dengan bibir gemetar. "Detak jantungnya... kembali?"
Arka, yang masih dipiting di lantai, hanya menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.
"Sudah kubilang, kan? Dia belum waktunya mati," kata Arka pelan pada dokter itu.
[Ting!]
[Misi Berhasil]
[Selamat Anda mendapatkan 2.000.000]
[Selamat Anda mendapatkan 1000 poin]
[Obat penyembuhan kanker otak 40%]
[Saldo 2.000.000]
[Insting penyembuhan:2%]
[Pendeteksi penyakit:2%]
[Kecerdasan:2%]
[Keberanian:2%]
[Keterampilan Tindakan:2%]
[Pengendali Energi:2%]
[Pengetahuan ramuan/obat-obatan:2%]
[Ketahan Mental:2%]
[Poin:1500]
[Level 2]
Ibu gadis tadi yang masih terpaku mendadak sadar dan langsung memeluk erat putrinya.
"Nak, kau akhirnya bangun nak, kau bangun," kata ibu Siska terisak penuh hari dan kebahagiaan.
"I... bu... "
"Lepaskan dia," kata Dokter Senior itu dengan wajah murung.
Kedua petugas keamanan itu langsung melepaskan tangan Arka, ia langsung berdiri dan memegang tangannya yah sakit karena di telan dengan kuat.
"Ughh, sakit banget," keluh Arka.
"Kamu... dari mana tahu jika pasien belum meninggal?" tanya dokter senior itu menatap Arka tajam.