Rasanya sangat menyakitkan, menjadi saksi dari insiden tragis yang mencabut nyawa dari orang terkasih.
Menyaksikan dengan mata sendiri, bagaimana api itu melahap sosok yang begitu ia cintai. Hingga membuatnya terjebak dalam trauma selama bertahun-tahun.
Trauma itu kemudian memunculkan alter ego yang memiliki sifat berkebalikan. Kirana, gadis yang mencoba melawan traumanya, dan Chandra—bukan hanya alter ego biasa—dia adalah jiwa dari dimensi lain yang terjebak di tubuh Kirana karena insiden berdarah yang terjadi di dunia aslinya. Mereka saling berbagi raga yang sama dan saling menguatkan.
Hingga takdir membawa mereka pada kebenaran sejati—alasan di balik kondisi mereka saat ini.
Belenggu takdir itu memang telah lama mengincar keduanya. Menjadikan mereka harus menyelesaikan menghadapi takdir itu bersama untuk bisa kembali ke tempat mereka berasal. Kirana dengan dunianya, dan Chandra kembali ke dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inagrafis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Damai
Baru saja Chandra akan menaiki kudanya, mendadak ada suatu pemandangan yang membuatnya terdiam. Melihat perubahan sikap Chandra, Zayne juga ikut menoleh ke arah mata Chandra tertuju. Ternyata Arka datang ke tempat mereka latihan.
"Aku baru saja datang, tapi sepertinya kalian mau pulang," sindir Arka seraya menghampiri Chandra dan Zayne yang masih terpaku di tempatnya.
"Hari ini kami sudah selesai latihan. Aku mendengar kau akan datang, makanya aku ingin pulang untuk menyambutmu," ucap Chandra dengan jujur.
Mendengar perkataan Chandra membuat Arka sedikit tersanjung. Dia mendekat dan tanpa diduga menyelipkan rambut Chandra di balik telinganya. "Aku justru sengaja datang ke sini ingin melihat perkembangan langsung selama Zayne mengajarimu. Kira-kira, dia cocok atau tidak dijadikan sebagai guru," sarkas Arka sambil melirik Zayne dengan terang-terangan.
Zayne menatap tuannya dengan dahi berkerut. Entah apa yang terjadi pada Arka sehingga sikapnya menjadi ketus seperti itu. Zayne yang tidak pernah peka pada lingkungan sekitarnya sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini Arka merasa cemburu dengan kedekatan mereka berdua, Chandra dan Zayne.
Bagaimana tidak dia merasa cemburu. Hampir selama empat belas bulan ini, seluruh waktu Chandra dihabiskan dengan latihan bersama Zayne. Sementara itu, dirinya harus bolak-balik pergi dari Langgar Suci dan Istana karena tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Putra Mahkota.
"Mumpung kau sudah ada di sini, bagaimana kalau kita bertarung. Aku menantangmu, Tuan," celetuk Chandra sambil menyunggingkan salah satu bibirnya.
"Bukan ide yang buruk. Aku juga ingin melihat, sebatas mana kemampuanmu di bawah bimbingan Tuan Zayne," sambut Arka menerima tawaran Chandra untuk melakukan duel atau pertarungan.
Angin sepoi-sepoi menerpa hamparan rumput hijau, menyaksikan pertarungan sengit antara Chandra dan Arka yang akan segera terjadi. Keduanya berdiri di tengah arena, mata mereka berkilauan ditimpa cahaya mentari sore itu, siap menghadapi pertarungan ini dengan serius.
Arka yang merupakan seseorang yang telah berpengalaman dengan pedangnya mulai melancarkan serangan bertubi-tubi. Meski wajahnya terlihat tenang, namun dia tidak ingin meremehkan lawannya.
Chandra juga tidak kalah mengesankan. Sorot matanya tergambar kewaspadaan dan perhitungan, dia mampu menghindari serangan demi seringan dengan lincah dan tangkas. Membuat siapa saja akan kagum melihat gerakan pedangnya yang seperti sedang menari itu.
Pertarungan menjadi semakin intens. Arka terlihat unggul, teknik dan kekuatannya hampir mendominasi pertarungan. Namun, di saat-saat genting itu, Chandra dengan liciknya menciptakan strategi tak terduga. Dia tiba-tiba mengubah ritme pertarungan, membuat gerakan yang membingungkan Arka. Namun kemudian, dia berpura-pura kehilangan fokus, membuat Arka seolah melihat celah.
Saat Arka mengarahkan serangan pamungkasnya, Chandra dengan cepat memanfaatkan kesempatan tersebut. Dengan cepat dan terukur, dia menghindari serangan Arka dan segera mengubah arah pertarungan. Arka yang terkecoh seketika kehilangan fokus. Gerakan yang Chandra tunjukkan belum pernah dia lihat sebelumnya. Di bawah cakrawala senja yang bersinar keemasan, Chandra terlihat menawan seperti peri musim semi.
Chandra dengan sigap membalas Arka dengan serangan balik yang tajam. Kecepatan dan ketangkasannya membuat Arka menjadi kewalahan. Dalam sekejap, Chandra berhasil mengambil kendali pertarungan.
Arka tersadar akan tipu daya tersebut, tetapi terlambat. Chandra dengan senyuman mengejek, menahan pedang yang menghunus ke wajah lawan duelnya.
"Pertarungan yang hebat, Pangeran. Tapi jangan biarkan perasaanmu mengalahkan fokusmu dalam pertempuran," nasehatnya setelah melihat cara bertempur Arka yang sangat kacau, bisa gawat jika dia sedang terjun di medan perang yang sesungguhnya.
Meskipun kalah dalam latihan ini, Arka justru tertawa dan mengakui kecerdikan Chandra. "Kau benar, Chandra. Aku harus tetap fokus bahkan dalam latihan. Kau selalu punya trik yang menarik. Gerakan yang kau lakukan tadi, apakah Zayne yang mengajarkannya?"
"Tentu saja bukan. Aku mencoba improvisasi gerakan yang pernah kupelajari sebelumnya dan gerakan yang kupelajari dari Zayne," terang Chandra seraya mengulurkan tangan pada Arka untuk membantunya bangkit.
Arka menerima uluran tangan Chandra dengan senang hati, kemudian bangkit dengan bantuan Chandra. "Improvisasi?" tanyanya merasa asing, karena dia baru mendengarnya untuk pertama kali.
Chandra pun menjelaskan. "Aku menggabungkan gerakan yang kupelajari di tempat lain dan gerakan yang Zayne ajarkan padaku."
Arka mengangguk, memahami maksud perkataan Chandra. "Sepertinya, aku jadi tertarik mendengar ceritamu sewaktu berada di dunia yang lain."
"Ya, ceritanya cukup menarik. Mungkin suatu saat nanti, aku akan bercerita lebih banyak padamu tentang dunia yang aku tinggali itu."
"Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba," ucap Arka sambil memandang wajah Chandra dengan lekat. Sorot matanya dipenuhi dengan kerinduan.
***
Chandra harus pulang ke Langgar Suci sebelum malam tiba. Itulah pesan Empu Agung padanya selama dia menjalani pelatihan di bawah bimbingan Zayne. Tak ingin mengecewakan Empu Agung yang sudah memberikannya kepercayaan, Chandra selalu berusaha menepati janji yang telah dibuatnya bersama dengan Empu Agung.
Masih ada beberapa jam sebelum malam tiba. Chandra, Arka, dan Zayne memutuskan untuk beristirahat sejenak di hamparan terbuka yang menghadap lembah hijau. Matahari mulai condong ke barat, memberikan sinar lembut—tidak seterik beberapa saat sebelumnya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput dan bunga liar, menambah kedamaian suasana sore itu. Mereka duduk di atas rumput liar yang terasa empuk, menikmati waktu istirahat untuk mengembalikan sedikit tenaga yang terkuras akibat pertempuran beberapa saat yang lalu.
Langit biru mulai bertransisi ke warna oranye keemasan, memberikan keindahan yang mempesona di atas cakrawala. Bayangan pepohonan dan bukit-bukit di kejauhan memanjang, menciptakan pola indah di atas lembah hijau. Burung-burung beterbangan kembali ke sarang mereka, menyanyikan lagu khas yang menenangkan hati, diiringi suara gemerisik daun-daun yang ditiup angin menjadi latar belakang yang harmonis.
Chandra menatap Arka dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Arka, bagaimana kesibukanmu kemarin? Kau sudah bertemu dengan pria itu?" tanyanya penasaran. Dia telah mendengar bahwa Arka mengadakan pertemuan dengan kerajaan seberang—Arutala—untuk membangun hubungan persahabatan. Raja baru Arutala adalah orang yang sama yang telah melakukan kudeta dan pemberontakan terhadap otoritas raja sebelumnya, melenyapkan hampir seluruh keluarga kerajaan.
Arka menghela napas panjang sebelum menjawab. "Dia datang langsung dengan kakinya sendiri ke istana Aetherial. Kau tahu, Chandra, aku ingin sekali menghabisi nyawa pria itu saat melihatnya," geramnya sembari mengepalkan tangan penuh amarah. Wajahnya memerah, menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap pria yang sedang mereka bicarakan.
Chandra mencoba mencairkan suasana dengan candaan. "Akan sangat bagus kalau kau memisahkan kepala dari badannya."
"Pria itu agak sulit ditebak, namun akhirnya kami berhasil mencapai kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua kerajaan. Aku pastikan, dia akan menyesal telah melakukan kerjasama denganku," ucapnya sambil tersenyum penuh arti sambil mengepal tangan dengan erat. Matanya tampak menyipit tajam, memperlihatkan kilatan kebencian yang mendalam, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang jahat.
Chandra yang melihatnya sampai merinding. Sepertinya, keinginan balas dendam Arka sangat besar.
Bersambung
Selasa, 14 Oktober 2025