RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Setelah beberapa saat berlalu dalam suasana haru, Sara perlahan melepaskan diri dari pelukan Raven. Ia menatapnya dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Raven, bisakah kamu ceritakan padaku lebih banyak tentang masa kecilku... tentang Papa, Mama, dan hal-hal yang dulu biasa kita lakukan. Aku ingin tahu masa laluku," pintanya lembut, tangan kecilnya masih erat menggenggam tangan Raven.
Raven tersenyum hangat mendengar permintaan itu. Ia mengajak Sara duduk kembali di sofa empuk, lalu mulai bercerita dengan penuh semangat, seolah kenangan manis itu baru saja terjadi kemarin.
"Kalau soal orang tuamu, aku tak banyak tahu karena waktu itu aku hanya menghabiskan waktu bermain bersamamu. Tapi jangan khawatir, jika kau ingin tahu seperti apa mereka dulu, kau bisa bertanya pada Mommy dan Daddy. Mereka pasti tahu banyak tentang orang tuamu."
"Itu artinya dulu Mama dan Papa aku juga kenal dekat dengan Mommy dan Daddy?" tanya Sara penasaran.
"Hmm! Orang tua kita bersahabat sejak masa kuliah!"
Sara mengangguk paham. "Kalau begitu, ceritakan tentang masa lalu kita aja!"
"Baiklah dengarkan baik-baik ya! Dulu aku anak yang sangat dingin dan pendiam! Aku tak suka keramaian. Hingga suatu hari semuanya berubah. Saat itu aku sedang dikejar orang yang ingin menculikku, aku lari ketakutan tanpa arah sambil menangis. Tiba-tiba kau menarik tanganku dan mengajak bersembunyi di balik pot bunga besar di taman. Ternyata kau adalah tetangga baru yang baru saja pindah dari luar kota. Sejak saat itu kita sering bertemu dan menjadi sahabat akrab," cerita Raven dengan wajah berseri-seri. "Kita juga pernah membangun rumah pohon kecil di halaman belakang rumahmu, dan kau sendiri yang menamainya 'Markas Rahasia Kita'."
Sara mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum atau mengangguk pelan. Meskipun ingatannya belum kembali, namun setiap kata yang keluar dari mulut Raven membawa rasa hangat dan nyaman di hatinya.
"Dulu kau juga sangat suka menggambar," lanjut Raven lembut. "Kau selalu melukis kita berdua berdiri di depan sebuah rumah besar yang dikelilingi hamparan bunga warna-warni. Kau bilang, itu adalah rumah impian kita kelak."
Sara terkekeh pelan. "Tampaknya aku sudah punya cita-cita yang jelas sejak dulu ya?"
"Benar, dan aku selalu menjadi orang pertama yang berhak melihat hasil karyamu," jawab Raven sambil tersenyum manis.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi nyaring. Sara dan Raven saling berpandangan sejenak, lalu Raven segera berdiri membukakan pintu. Di sana tampak sosok Leon dengan pakaian santai namun tetap rapi, berdiri tegak sambil menenteng sesuatu di tangannya.
"Kak Leon!" seru Sara riang, langsung berdiri menyambutnya.
"Maaf mengganggu waktu kalian berdua," ucap Leon rendah namun jelas. "Saya kebetulan mencari makan di luar, jadi sekalian membelikan untuk Nona Sara yang biasanya sering terbangun karena lapar di malam hari. Sebelumnya saya mampir ke apartemen Nona namun tidak ada orang, jadi saya yakin Nona pasti ada di sini."
Wajah Sara seketika berseri-seri. "Wah, terima kasih banyak ya, Kak Leon! Tahu saja aku lagi lapar! Kamu memang yang terbaik!"
Leon melangkah masuk sebentar untuk meletakkan makanan di meja, lalu segera pamit untuk kembali ke unitnya.
"Eh Kak! Ayo makan bersama saja! Ini terlalu banyak kalau hanya kami berdua, tak akan habis!" ajak Sara cepat.
"Saya sudah makan di luar tadi. Silakan dinikmati saja," tolak Leon sopan lalu segera pergi meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Leon, keduanya duduk menikmati hidangan hangat itu sambil terus bercerita dan tertawa lepas, merasakan kehangatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Setelah meja kembali rapi, Sara meraih tasnya. "Aku kembali ke apartemenku dulu ya, Raven."
Namun Raven segera menahan langkahnya. "Tidak boleh pergi! Malam ini kau tidur di sini. Aku masih sangat merindukanmu, lagipula kita sudah suami istri. Sepantasnya kita tidur satu kamar agar hubungan kita makin erat," ucapnya dengan tekad bulat.
Wajah Sara seketika memerah padam. "Maksudmu tidur satu kamar?! Jangan bermacam-macam ya, Raven! Kita masih sekolah!" tegurnya dengan nada sedikit tinggi, meski matanya tak sanggup menatap tajam.
"Memangnya ada aturan tertulis suami istri tak boleh sekamar kalau masih sekolah?" goda Raven sambil tersenyum jahil.
"Itu aturanku sendiri, dan kau harus menurutinya!" dengus Sara, namun langkahnya justru tak beranjak pergi.
"Kan Mommy dan Daddy juga bilang, suami istri harus sering bersama agar makin saling mengenal satu sama lain," balas Raven dengan nada serius, padahal hatinya tertawa geli melihat tingkah malu-malu Sara yang sangat menggemaskan.
"Tapi kan kita sudah sepakat untuk tinggal terpisah dulu!"
"Itu dulu, sekarang beda. Kau bukan sekadar istri bagiku, kau adalah Putri Cantik yang kucari selama bertahun-tahun. Jadi sudah sepantasnya kau ada di sisiku," jawab Raven meyakinkan.
Sara hanya bisa menghela napas pasrah, lalu berjalan mendahuluinya ke kamar tidur sambil bergumam pelan tentang alasan yang tidak masuk akal. Begitu masuk kamar, Raven tertegun melihat Sara sedang menyusun guling dengan rapi di tengah ranjang besar, membatasi sisi kanan dan kiri dengan jelas.
"Kenapa buat benteng?" tanya Raven heran.
"Ini garis batas kita! Jangan sampai kau berani melewatinya, kalau melanggar ada hukumannya!" seru Sara dengan wajah serius, padahal jantungnya berdegup kencang.
"Hukuman apa?" tanya Raven cepat dengan tatapan menggoda.
"Itu dipikirkan besok saja! Aku sudah sangat mengantuk. Kau juga harus segera istirahat, besok masih harus sekolah dan bekerja. Aku bisa tidur sampai siang nanti juga tak apa-apa! Enak juga ternyata kena skors!" ujar Sara sambil menarik selimut, tampak sedikit senang dengan liburannya itu.
"Wah parah nih anak, kena skors malah senang! Kalau begitu aku juga cari masalah saja besok, biar bisa punya banyak waktu berdua sama istri cantikku!" canda Raven sambil mendekat.
"Jangan berani-berani! Kalau kau buat ulah, aku lapor Mommy dan Daddy supaya kau dicoret dari Kartu Keluarga Krisnawardhana!" ancam Sara yang terdengar justru menggemaskan.
"Curang banget main lapor orang tua!" protes Raven sambil berusaha menggelitik pinggang Sara.
Namun saat ia bergerak mendekat, kakinya tak sengaja tersandung tumpukan guling. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan tanpa sengaja bibirnya mendarat tepat di bibir Sara yang terbelalak kaget.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Keduanya terpaku mematung, saling menatap dengan mata terbelalak—ada keterkejutan, kecanggungan, namun juga rasa hangat yang tiba-tiba meledak di dada. Beberapa detik kemudian mereka buru-buru menjauh. Wajah Sara merah padam dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut, sementara Raven duduk kaku di tempatnya dengan jantung yang berpacu cepat.
"Sudah... sudah malam. Kita tidur saja," suara Sara terdengar samar dari balik selimut.
Raven mengangguk gugup, lalu menyusun kembali batas guling itu dengan hati-hati. "Selamat malam, Putri Cantik," bisiknya lirih.
"Selamat malam, Kris," jawab Sara pelan.
Malam itu mereka berbaring terpisah namun hati mereka kini terikat erat, menanti hari esok dengan perasaan yang semakin tumbuh dan mekar indah.
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/