Selenophile

Selenophile

Kirana Mikayla Athaya

Rambut terurai, bulu mata lentik yang terpejam. Perlahan, kelopak itu terbuka, menampilkan kornea mata berwarna cokelat bening yang tampak indah namun sayu. Ia memandang langit-langit kamar dengan hampa, cerminan dari perasaannya yang telah lama hilang kebahagiaan.

Gadis itu menghela napas berulang kali. Entah sudah berapa lama ia mencoba untuk menutup mata dan menyudahi episode panjang hari ini, tapi matanya tak kunjung mengatup dan terbuai dalam mimpi. Setiap kali ia menutup mata, bayang-bayang masa lalu terus mengusik dan mengganggu pikirannya. Kadang pula, terbesit ide gila yang menghasut dirinya untuk mengambil jalan pintas, yaitu dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri.

Gadis itu adalah Kirana Mikayla Athaya, seorang gadis malang yang tak lagi nyenyak tidurnya. Setiap kali ia memejamkan mata, kepala dan hatinya akan dipenuhi dengan perasaan gusar dan was-was. Hal itu kembali terjadi sama seperti malam-malam sebelumnya. Karena isi kepalanya terlalu berisik, ia akhirnya bangkit dari ranjang, dan berjalan perlahan menuju balkon kamar.

Semilir angin malam menembus piyama tidurnya, namun Kirana tak menghiraukan dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Gadis itu memandang ke atas langit, tepat pada bulan purnama yang sedang bersinar indah.

Sungguh, betapa malang nasibnya. Rembulan bahkan masih beruntung, karena memiliki ribuan bintang yang siap menemaninya. Sementara dirinya, satu per satu, orang-orang yang ia cintai, pergi meninggalkannya tanpa pernah bertanya, apakah Kirana siap untuk ditinggalkan?

Tetesan bulir bening jatuh dari sudut matanya yang mengembun. Perasaan sesak yang Kirana rasakan sejak sepuluh tahun yang lalu selalu datang—menghantam dadanya bertubi-tubi seperti ombak yang menghantam batu karang.

Ia tidak tahu, sampai kapan mampu bertahan dari penderitaan ini, karena hatinya tak sekuat batu karang. Bahkan batu karang sekali pun, pasti akan rapuh pada masanya setelah dihantam bertubi-tubi oleh ombak di lautan.

Kirana merasa seperti tenggelam dalam lautan kesedihan yang dalam. Jika tak teringat pada keluarganya yang masih tersisa saat ini, mungkin dia sudah menerjunkan diri dari balkon kamar atau menusukkan sesuatu ke lehernya.

"Kirana rindu Bunda. Kenapa Bunda yang harus pergi? Seharusnya malam itu Kirana menuruti perkataan Bunda, Bunda pasti masih hidup." Suara Kirana pilu terdengar, dan menyayat hati. Hanya rembulan yang menjadi saksi bisu dari rintihannya sepanjang malam.

Sepuluh tahun yang lalu, tepat di hari perayaan ulang tahunnya, Kirana harus kehilangan seseorang yang sangat dan paling berharga dalam hidupnya.

Nahas tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Tak ada yang tahu bahwa pada malam itu, malaikat maut sedang mengintai mereka. Betapa jelasnya kenangan yang membekas dalam ingatan Kirana, seolah semua itu baru saja terjadi kemarin.

Kirana ingat betul, bagaimana detik-detik ketika mobil yang dikendarai oleh ia dan bundanya, tergelincir lalu berguling. Kejadian itu begitu cepat, tiba-tiba saja Kirana terpental ke luar mobil dan mendarat di rerumputan yang tumbuh di pinggir jalan. Saat Kirana membuka matanya, dia melihat sang bunda tersenyum dengan cairan merah kental yang mengalir di wajahnya.

"BOOOM!"

Api memercik dan mobil itu sekejap berubah menjadi api unggun yang membara.

"Bundaaaaa!" Kirana berteriak dengan tangan yang terulur, menyaksikan bundanya dipanggang hidup-hidup oleh si jago merah.

Gadis itu membuka matanya, terbangun dari mimpi buruk yang terasa panjang. Hal yang dia lihat pertama kali adalah langit-langit kamar yang selalu sama. Saat dia menoleh ke arah jam weker di atas nakas, ternyata sudah pukul 6 pagi. Waktunya bangun dan bersiap untuk pergi ke kampus.

Perlahan, gadis itu bangkit dari tidurnya—dari tidur menjadi duduk—karena nyawa yang belum terisi penuh. Setelah beberapa saat kemudian, dia pun berdiri dan berjalan menuju ke sisi cermin di dalam kamarnya, memandang pantulan dirinya di dalam cermin itu.

"Selamat beristirahat, Kirana. Aku tahu kamu lelah. Sekarang biarkan aku yang menggantikan tempatmu," ucap gadis di dari dalam pantulan cermin itu. Dan gadis itu bukan lagi Kirana. Ia adalah Chandra atau alter ego yang mendiami tubuh Kirana.

Chandra adalah alter ego atau sisi lain yang ada dalam diri Kirana. Kemunculannya menandakan bahwa Kirana sudah tidak sanggup lagi menjalani hari-hari yang melelahkan, dan ia mempercayai tubuhnya pada Chandra.

Chandra baru saja selesai berkemas, karena hari ini ada sesuatu yang harus dilakukan di kampus. Adapun pakaian yang akan dia gunakan hari ini cukup sederhana. Dia memilih kaos hitam lengan panjang dan celana panjang berwarna senada, pakaian yang memberikannya kebebasan bergerak.

Rambutnya yang panjang diikat kuncir satu. Dia tidak menyukai rambut yang digerai begitu saja. Itu membuatnya merasa sedikit risih. Apalagi kalau ditambah aksesoris kepala seperti bando, pita dan sejenisnya, dia sangat-sangat tidak menyukainya—terlalu mengganggu di mata pokoknya.

Setelah merasa puas dengan penampilannya, Chandra menyambar tas hitam yang tergeletak di atas meja belajar, tas yang memang khusus digunakan ketika menjalani keseharian sebagai manusia normal.

Dengan sepatu sneaker berwarna putih, Chandra menuruni satu per satu anak tangga dengan elegan. Anak tangga yang terhubung dengan lantai dua itu berakhir di ruang keluarga yang menyatu dengan dapur, hanya disekat oleh bar mini.

Desain minimalis namun mewah menjadi daya tarik rumah berlantai dua itu.

Semua orang sudah berkumpul di meja makan, duduk di kursi mereka masing-masing. Melihat kedatangan Chandra, perhatian mereka langsung tersedot.

"Kak, itu sepertinya Chandra?" bisik perempuan yang lebih tua satu tahun usianya dari Kirana.

Lauri tak membalas perkataan Sandra, adik keduanya. Justru, dia memperlihatkan raut wajah yang tampak diliputi dengan kekhawatiran, dan terdengar mengembuskan napas dengan berat. Firasatnya mengatakan, bahwa telah terjadi sesuatu pada Kirana tadi malam, sehingga Chandra muncul dan mengambil alih kesadaran adiknya saat ini.

Memikirkan kondisi Kirana yang tak baik-baik saja, sudah cukup membuatnya merasa sesak. Dia tahu bahwa Kirana telah berjuang dengan keras melawan trauma yang menyeretnya ke dalam jurang kegelapan. Namun, kemunculan Chandra selalu menunjukkan bahwa Kirana kembali ke titik awal—ketidakmampuan adiknya untuk menghadapi rasa sakit hingga memaksa dirinya untuk membiarkan alter ego-nya mengambil alih.

Sejak malam tragis itu, hidup Kirana tidak pernah sama lagi. Trauma yang mendalam dan kesedihan yang tak terperi menciptakan celah di dalam dirinya, sebuah ruang hampa yang akhirnya diisi oleh sosok lain. Sosok yang kuat, berani, dan tak kenal takut, dan dia memanggil dirinya sebagai Chandra.

Chandra muncul sebagai alter ego yang memberikan perlindungan dan rasa aman saat Kirana terlalu lemah untuk menghadapi dunia. Chandra adalah sosok yang kuat dan siap menggantikan Kirana kapan pun diperlukan. Dia tidak takut pada apa pun, pemberani, suka menentang, dan tidak mau diatur.

Setiap kali Kirana merasa dunianya tidak baik-baik saja, dan juga tidak memiliki masa depan, Chandra akan mengambil alih kesadaran Kirana. Chandra menjalani hidup dengan keberanian yang tidak dimiliki Kirana, menjadi perisai yang melindungi dari kepedihan yang terlalu besar untuk ditanggung seorang diri.

"Kenapa adik saya jadi seperti ini, Dok?" tanya Lauri saat mendapati sikap Kirana yang kerap berubah-ubah setelah berhasil bangun dari masa kritisnya. Kadang dia bersikap seperti orang asing dan mengatakan bahwa dia bukan Kirana, dan memperkenalkan dirinya sebagai Chandra.

"Melihat dari gejalanya dan setelah saya melakukan beberapa pemeriksaan serta observasi, kami menemukan sesuatu yang cukup unik dalam kondisi pasien. Pasien sepertinya mengidap suatu kondisi yang disebut "alter ego"."

"Alter ego? Saya baru mendengarnya, Dok. Bisa Dokter bantu jelaskan, apa itu Alter ego?"

"Alter ego adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Dalam kasus pasien, pasien memiliki dua identitas atau karakter yang berbeda. Saya paham bahwa ini mungkin sulit dipahami, dan kami akan memberikan dukungan serta penjelasan sebaik mungkin."

"Bisa bantu jelaskan pada saya, Dok. Kenapa Kirana sampai memiliki alter ego?"

"Salah satu faktor yang membuat kepribadian atau identitas yang lain muncul dalam diri seseorang bisa disebabkan oleh trauma atau kesedihan mendalam yang dialami oleh pasien. Dalam kasus pasien, pasien baru saja mengalami kesedihan dan kehilangan sosok yang begitu berharga dalam hidupnya. Oleh sebab itu, saya akan memantau perkembangan psikolog pasien dan mencoba mencari cara untuk mengatasinya. Kita akan melihat sudah sejauh mana alter egonya mendominasi. Namun tentu saja, saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya harap sebagai keluarganya, Anda bisa memberikan dukungan terbaik kepada Kirana," papar sang dokter menjelaskan panjang lebar mengenai keadaan yang sedang Kirana alami saat ini.

Bersambung

Jum’at, 22 Agustus 2025

Terpopuler

Comments

Zeepree 1994

Zeepree 1994

assalamualaikum ka othor semoga sukses ya ceritanya, aku izin baca ya Thor

2025-10-07

1

lihat semua
Episodes
1 Kirana Mikayla Athaya
2 Sandra Nathania Athaya
3 Laurenthia Talitha Athaya
4 Awal Mula Kemalangan
5 Terima Akibatnya!
6 Masalah Baru
7 Bagaskara Alsaki Khandra
8 Dua Sisi Mata Koin
9 Takdir Ramalan
10 Bukan Bayangan Kirana
11 Empu Agung
12 Kehidupan Baru
13 Adaptasi
14 Perayaan Suci Lunar
15 Arkana Respati Yudhistira
16 Mencari Tahu Jawaban
17 Tentang Putri Chandra
18 Swastamita
19 Perjalanan Panjang Kirana
20 Goa Serintik Harum
21 Silsilah Keluarga Yasa
22 Berdamai Dengan Masa Lalu
23 Ikatan Takdir
24 Bertemu Kembali
25 Kembali Pulang
26 Gadis Takdir
27 Menemukanmu
28 Zayne Indragon
29 Hari yang Damai
30 Wira Rakabuming
31 Sadara Sandyakala Dipta
32 Hubungan yang Rumit
33 Anashera & Andhira
34 Kebangkitan Kekuatan Suci
35 Pecahan Jiwa Anashera
36 Artefak Suci
37 Radeva Pradipta Yasa
38 Pesan Terakhir
39 Misi Baru
40 Sepasang Gelang Amerta
41 Serangan Pertama
42 Permaisuri Arutala
43 Ingatan Pitaloka
44 Kekuatan Suci Lunar
45 Tuan Hadyan
46 Haruntara
47 Harapan di Tanah Terkutuk
48 Pertemuan Pertama
49 Langgar Suci Arutala
50 Menarik Perhatian
51 Selubung Penat
52 Beranjangsana ke Makam Chandra
53 Lembah Tumasik
54 Ledakan Amarah
55 Bertambah Luka Hati
56 Ingatan yang Kembali
57 Tindakan Ceroboh
58 Hutan Larangan
59 Asiah
60 Asiah (2)
61 Penyesalan Sang Permaisuri
62 Perseteruan yang Terus Berlanjut
63 Runding
64 Kerjasama
65 Tamu Tak Diundang
66 Hening yang Berbisa
67 Pengumuman Hiatus Sementara
68 Di Sini, Bersamamu
69 Tabir Pahit Masa Lalu
70 Tabir Pahit Masa Lalu (2)
71 Saling Peduli
72 Saling Melengkapi
73 Serangan Datang Lagi!
74 Terjebak di Antah Berantah
75 Terjebak di Antah Berantah (2)
76 Reuni Teman Lama
77 Huru-Hara
78 Satu Hari Sebelum Semuanya Usai
79 Firasat
80 Tertangkap Basah
81 Kembalinya Chandra
82 Petaka yang Mengamuk
83 Dendam yang Dibawa Dari Masa Lalu
84 Penyesalan Tavisha
85 Masa Lalu Wira
86 Masa Lalu Wira (2) : Hidup yang Kejam untuk Seorang Anak Kecil
87 Masa Lalu Wira (3) : Pertempuran Tak Berujung
88 Masa Lalu Wira (4) : Perang Telah Dimenangkan
89 Masa Lalu Wira (5) : Kecurigaan Terhadap Buana
90 Masa Lalu Wira (6) : Yang Menghangatkan Hati
91 Masa Lalu Wira (7): Keputusan yang Salah
92 Masa Lalu Wira (8): Hari Pemberontakan
93 Asa yang Tak Pernah Usai
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Kirana Mikayla Athaya
2
Sandra Nathania Athaya
3
Laurenthia Talitha Athaya
4
Awal Mula Kemalangan
5
Terima Akibatnya!
6
Masalah Baru
7
Bagaskara Alsaki Khandra
8
Dua Sisi Mata Koin
9
Takdir Ramalan
10
Bukan Bayangan Kirana
11
Empu Agung
12
Kehidupan Baru
13
Adaptasi
14
Perayaan Suci Lunar
15
Arkana Respati Yudhistira
16
Mencari Tahu Jawaban
17
Tentang Putri Chandra
18
Swastamita
19
Perjalanan Panjang Kirana
20
Goa Serintik Harum
21
Silsilah Keluarga Yasa
22
Berdamai Dengan Masa Lalu
23
Ikatan Takdir
24
Bertemu Kembali
25
Kembali Pulang
26
Gadis Takdir
27
Menemukanmu
28
Zayne Indragon
29
Hari yang Damai
30
Wira Rakabuming
31
Sadara Sandyakala Dipta
32
Hubungan yang Rumit
33
Anashera & Andhira
34
Kebangkitan Kekuatan Suci
35
Pecahan Jiwa Anashera
36
Artefak Suci
37
Radeva Pradipta Yasa
38
Pesan Terakhir
39
Misi Baru
40
Sepasang Gelang Amerta
41
Serangan Pertama
42
Permaisuri Arutala
43
Ingatan Pitaloka
44
Kekuatan Suci Lunar
45
Tuan Hadyan
46
Haruntara
47
Harapan di Tanah Terkutuk
48
Pertemuan Pertama
49
Langgar Suci Arutala
50
Menarik Perhatian
51
Selubung Penat
52
Beranjangsana ke Makam Chandra
53
Lembah Tumasik
54
Ledakan Amarah
55
Bertambah Luka Hati
56
Ingatan yang Kembali
57
Tindakan Ceroboh
58
Hutan Larangan
59
Asiah
60
Asiah (2)
61
Penyesalan Sang Permaisuri
62
Perseteruan yang Terus Berlanjut
63
Runding
64
Kerjasama
65
Tamu Tak Diundang
66
Hening yang Berbisa
67
Pengumuman Hiatus Sementara
68
Di Sini, Bersamamu
69
Tabir Pahit Masa Lalu
70
Tabir Pahit Masa Lalu (2)
71
Saling Peduli
72
Saling Melengkapi
73
Serangan Datang Lagi!
74
Terjebak di Antah Berantah
75
Terjebak di Antah Berantah (2)
76
Reuni Teman Lama
77
Huru-Hara
78
Satu Hari Sebelum Semuanya Usai
79
Firasat
80
Tertangkap Basah
81
Kembalinya Chandra
82
Petaka yang Mengamuk
83
Dendam yang Dibawa Dari Masa Lalu
84
Penyesalan Tavisha
85
Masa Lalu Wira
86
Masa Lalu Wira (2) : Hidup yang Kejam untuk Seorang Anak Kecil
87
Masa Lalu Wira (3) : Pertempuran Tak Berujung
88
Masa Lalu Wira (4) : Perang Telah Dimenangkan
89
Masa Lalu Wira (5) : Kecurigaan Terhadap Buana
90
Masa Lalu Wira (6) : Yang Menghangatkan Hati
91
Masa Lalu Wira (7): Keputusan yang Salah
92
Masa Lalu Wira (8): Hari Pemberontakan
93
Asa yang Tak Pernah Usai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!