NovelToon NovelToon
MATA TEMBUSH PANDANG

MATA TEMBUSH PANDANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dunia Masa Depan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: GIOK LANGKA

Beberapa jam setelah insiden mengejutkan di lorong kos, Chen masih terduduk di tepi ranjangnya. Ia mencoba menenangkan diri dan melatih fokus matanya. Sensasi hangat itu bisa ia kendalikan; jika ia memusatkan pikiran, dinding kamarnya perlahan memudar, tetapi jika ia rileks, pandangannya kembali normal. Namun, sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh tentang keajaiban ini, sebuah hantaman keras di pintunya membuyarkan segalanya.

Brak! Brak! Brak!

"Chen! Buka pintunya! Chen!"

Suara melengking itu sangat familiar. Chen menghela napas berat, sudah tahu siapa yang datang. Begitu pintu dibuka, berdiri seorang ibu-ibu paruh baya dengan wajah merah padam dan berkacak pinggang. Pemilik kos.

"Chen, ini sudah dua bulan kamu nunggak uang kos! Kapan kamu mau bayar?!" omelnya tanpa basa-basi, suaranya menggema di sepanjang lorong. "Saya sudah kasih kelonggaran waktu ya. Besok adalah batas terakhir! Kalau sampai besok kamu belum juga bayar, kamu harus keluar dari kos ini! Masih banyak orang yang mau sewa kos saya ini!"

Chen hanya bisa tertunduk lesu. Di hadapan amarah sang pemilik kos, ia tidak punya kekuatan untuk membela diri. Faktanya, dompetnya memang sedang sekarat.

"Iya, Bu... Maaf. Besok akan saya usahakan," jawab Chen pelan, hanya bisa mengiyakan dan pasrah.

Setelah pemilik kos pergi dengan gerutuan panjang, Chen menutup pintu. Alih-alih putus asa, secercah ide tiba-tiba melintas di benaknya. Ia menatap kedua telapak tangannya, lalu beralih ke cermin usang di kamarnya. Mata ini. Mata tembus pandang ini harus bisa menyelamatkannya dari jalanan.

Kota tempatnya tinggal memiliki sebuah pasar barang antik dan batu mulia yang sangat terkenal. Di sana, bisnis "judi batu" (bets on stones) sangat digandrungi. Orang-orang membeli batu mentah yang belum dipotong dengan harapan menemukan giok berharga di dalamnya.

Chen segera bergegas menuju pasar tersebut. Suasana pasar sangat ramai, dipenuhi aroma asap rokok, suara tawar-menawar, dan deru mesin pemotong batu. Chen berjalan menyusuri lapak-lapak, mencoba mengaktifkan kemampuan barunya. Ia melihat batu-batu besar yang dihargai ribuan yuan, tetapi saat ia memusatkan pandangannya, bagian dalam batu-batu mahal itu ternyata kosong atau hanya berisi giok berkualitas rendah. Pemilik lapak jelas melakukan penipuan.

Langkah Chen terhenti di sebuah lapak kecil di pojok pasar. Di sana, ada sekotak batu-batu sisa yang berukuran kecil dan dihargai paling murah—hanya beberapa puluh yuan.

Pemiliknya bahkan tidak peduli dan membiarkan batu-batu itu berdebu.

Chen berjongkok, lalu memusatkan pandangannya ke kotak tersebut. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang luar biasa. Di dalam salah satu batu paling jelek, paling hitam, dan paling murah di pojokan kotak, memancar seberkas cahaya hijau tirta yang sangat pekat dan murni.

“Ini… ini bukan giok biasa!” batin Chen bergetar. Berdasarkan pengetahuan umum yang pernah ia dengar dari para makelar, warna hijau sekental ini hanya dimiliki oleh Giok Kekaisaran (Imperial Jade)—salah satu jenis giok paling langka dan paling mahal di dunia.

Dengan tangan gemetar, Chen mengambil batu jelek itu.

"Paman, berapa harga batu ini?"

"Ah, ambil saja dengan lima puluh yuan," sahut si penjual malas.

Chen segera menyerahkan uang kertas terakhirnya. Setelah batu itu resmi menjadi miliknya, ia berjalan ke tempat pemotongan umum di tengah pasar. Penonton berkumpul, mengira Chen hanya orang miskin yang sedang membuang-buang uang untuk batu sampah.

Zzzzzzt!

Mesin potong mulai mengikis lapisan luar batu hitam tersebut. Begitu air disiramkan untuk membersihkan debu potongan, kilauan hijau murni yang luar biasa langsung memantulkan cahaya matahari.

"Astaga! Itu Giok Kekaisaran?!"

"Hijau yang sangat murni! Bagaimana mungkin ada di dalam batu sampah seperti itu?!"

Kerumunan langsung heboh. Beberapa kolektor langsung berteriak menawarkan harga tinggi untuk membeli batu di tangan Chen. Namun, di tengah kegaduhan itu, seorang pemuda seusia Chen dengan pakaian bermerek mewah dan pengawalan ketat melangkah maju. Wajahnya tampan, memancarkan aura wibawa orang kaya raya.

"Minggir, minggir," ucap para pengawalnya.

Pemuda kaya itu menatap giok di tangan Chen, lalu beralih menatap Chen dengan tatapan penuh minat dan kekaguman.

"Luar biasa. Memilih batu jelek itu di antara ribuan batu... itu bukan sekadar keberuntungan. Kamu punya insting yang mengerikan, Kawan."

Pemuda itu mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.

"Perkenalkan, namaku Liu. Aku sudah lama mencari orang dengan kemampuan seperti caramu memilih batu tadi. Aku sangat tertarik dengan kehebatanmu."

Chen agak ragu, tetapi ia menjabat tangan itu. "Aku Chen."

Liu tertawa renyah, seolah telah menemukan harta karun yang lebih berharga daripada giok itu sendiri. "Chen, di dunia bisnisku, banyak orang yang mendekatiku hanya demi uang.

Tapi melihat ketenanganmu, aku tahu kamu berbeda. Bagaimana kalau kita menjadi sahabat? Aku butuh orang sehebat kamu di sisiku, dan aku bisa menjamin hidupmu tidak akan kesusahan lagi."

Mendengar ketulusan dari Liu, dan menyadari bahwa ia memang membutuhkan relasi di dunia yang baru ini, Chen tersenyum tipis. Beban utang kosnya seketika menguap.

"Tentu, Liu. Mulai hari ini, kita adalah sahabat," jawab Chen.

...KLIK TOMBOL LIKE DAN VOTE YA GAN 😎...

1
Markario Putra
ok siap bang
👍😁
indrawanto djiwanto
konflik kurang banyak min. kalopun lanjut, ceritanya terus jangan berubah jadi kultivator plus nanti lawan alien atau mkahluk dunia ata dst.
Agus Suciyadi
lumayan bagus sih thor...ceritanya nyambung terus, Mcnya bagus dlm sifat dan sikapnya tidak menye2 yg nafsuan. semangat thor lanjut terus/Good//Good//Good/
Markario Putra: Bantu share yah gan 👍
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!