Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jinak-Jinak Merpati
Malam itu, Randy melangkah masuk ke rumah dengan perasaan waswas. Dia sengaja pulang agak larut, takut kalau Anita bakal nanyain soal dia yang pulang subuh tadi atau soal PIN HP yang diganti.
Randy udah nyiapin mental buat adu mulut atau hadapi muka ketus istrinya.
Namun, begitu pintu depan terbuka, aroma harum masakan langsung menyambutnya. Bukan cuma itu, Anita tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan penampilan yang beda. Dia pakai gaun rumah yang modis, rambutnya dicepol rapi, dan wajahnya segar pakai makeup tipis.
"Malam, Mas sayang! Akhirnya pulang juga," sapa Anita dengan senyum paling manis yang pernah Randy lihat dalam beberapa bulan terakhir. Anita langsung mendekat, mengambil alih tas kerja Randy, lalu mengecup pipi suaminya dengan manja.
Randy melongo. Dia mati kutu di tempat.
"Eh... malam, Nit. Kamu... kok tumben dandan gini? Terus masaknya banyak banget?"
"Ya ampun, Mas, emangnya nggak boleh ya menyenangkan suami sendiri?" Anita mengerucutkan bibirnya, berpura-pura ngambek yang imut.
"Aku tuh mikir, kemarin-kemarin aku mungkin terlalu cuek dan membosankan makanya kamu stres mikirin kerjaan terus. Jadi mulai sekarang, aku mau lebih perhatian lagi sama kamu. Yuk, langsung makan, aku udah masakin kepiting saus padang kesukaan kamu!"
Randy menelan ludah. Alih-alih senang, bulu kuduknya malah agak merinding.
"Ini Anita kenapa tiba-tiba jadi manja banget begini? Dia nggak tahu apa-apa kan soal kemarin?" batin Randy panik sendiri.
Tapi karena rasa bersalahnya yang menumpuk, Randy akhirnya cuma bisa senyum kaku dan nurut diajak ke meja makan.
Sepanjang makan malam, Anita bener-bener memperlakukan Randy bak raja. Disuapin, dilapin sisa saus di bibirnya, sampai dipijatin pundaknya.
Randy bener-bener dibuat bingung sekaligus terjebak dalam kenyamanan yang bikin dia makin merasa berdosa di dalam hati.
Keesokan harinya, saat Randy sudah berangkat ke kantor, barulah topeng manis Anita terlepas. Begitu Vano dijemput oleh mobil jemputan sekolah, Anita langsung masuk ke ruang kerjanya. Wajahnya yang tadinya penuh senyum kini berubah menjadi sedingin es.
Anita membuka laptopnya. Dia bersandar di kursi sambil memutar-mutar ponselnya.
"Lo pikir lo bisa main rapi di belakang gue, Val?" gumam Anita sinis.
Anita mulai melancarkan aksi penyelidikannya. Dia tahu akun Instagram utama Valeria dikunci, tapi Anita nggak bodoh. Menggunakan second account atau akun palsu yang baru dia bikin dengan nama fiktif, Anita mulai bergerilya.
Dia juga memanfaatkan relasinya dengan beberapa teman lama mereka di kampung untuk mencari tahu latar belakang Valeria selama 15 tahun menghilang.
Hasilnya mulai terlihat. Seorang teman lama mengirimkan pesan teks lewat WhatsApp.
“Eh Nita, lo nanyain Valeria ya? Setahu gue sih, keluarganya emang hancur banget gara-gara judi bapaknya. Tapi denger-denger, beberapa minggu terakhir ini si Valeria gaya hidupnya hedon banget di medsos. Padahal kerjanya biasa saja
Banyak yang bilang dia jadi simpanan om-om.”
Anita membaca pesan itu sambil tersenyum kecut. Instingnya langsung bekerja. Dia membuka akun TikTok Valeria yang ternyata tidak dikunci. Di sana, Valeria sering bikin konten video jedag-jedug pamer tas baru, makan di restoran mahal, dan yang paling memicu emosi Anita, ada satu video di mana Valeria memamerkan kunci rumah sewa barunya dengan latar belakang interior rumah yang estetik.
Anita memperbesar video tersebut, fokus pada pantulan kaca di belakang Valeria. Di sana, samar-samar terlihat sebuah mobil hitam yang sangat familiar parkir di depan pagar.
"Mobil Mas Randy..." bisik Anita, napasnya memburu. Kuku-kukunya mencengkeram pinggiran meja.
Kecurigaannya kini 100% terbukti. Sahabat masa kecil yang dia kasihani, yang dia beri pekerjaan, ternyata sedang menikmati fasilitas mewah dari suaminya sendiri di sebuah rumah sewa rahasia.
Anita menutup laptopnya dengan hentakan keras. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemuruh di dadanya demi Vano.
"Oke, jadi lo berdua mau main kucing-kucingan? Gue jabanin," desis Anita dengan senyum dingin yang mengerikan.
"Gue bakal bikin lo makin nempel sama gue, Mas, sampai si ular itu kelaparan dan stres sendiri karena lo nggak bisa dateng ke sarangnya."
Keesokan hari pada siang harinya, Anita memutuskan untuk melancarkan serangan psikologis pertamanya. Tanpa memberi tahu Randy, dia menyetir mobilnya menuju kantor pusat. Di kursi penumpang, sebuah tas kain berisi kotak makan siang premium berukuran besar sudah siap.
Kali ini, Anita sengaja memakai pakaian paling modis dan elegan, lengkap dengan kacamata hitam bermerek.
Begitu melangkah masuk ke lantai teratas, area meja sekretaris yang dulunya ditempati Melati tampak kosong. Anita berjalan pelan, langkah kakinya sengaja dibuat tanpa suara di atas karpet tebal.
Pintu ruangan direktur yang terbuat dari kaca buram itu tampak sedikit renggang, menyisakan celah kecil yang tidak tertutup rapat.
Anita hendak mengetuk pintu, namun gerakannya terhenti seketika saat mendengar suara tawa genit dari dalam ruangan.
"Ih, Mas Randy... jangan di sini dong, nanti kalau ada karyawan yang masuk gimana?" Suara Valeria terdengar manja, setengah berbisik.
"Nggak bakal ada yang berani masuk tanpa izin, Sayang. Kan Melati udah nggak ada," sahut suara Randy, terdengar penuh gairah.
Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Anita mengintip. Di sana, tepat di balik meja kerja besar yang dibeli menggunakan uang warisan orang tua Anita, Randy sedang memeluk pinggang Valeria dengan posesif.
Sedetik kemudian, Randy langsung menunduk dan mencium bibir Valeria dengan panas. Valeria tidak menolak, dia justru mengalungkan tangannya ke leher Randy, menikmati ciuman terlarang itu.
Deg!
Dada Anita serasa dihantam godam besar. Dunianya runtuh seketika. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri suaminya berciuman dengan sahabatnya adalah rasa sakit yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
Air mata Anita hampir saja lolos, namun dia langsung teringat wajah Vano. Dia tidak boleh hancur sekarang. Belum saatnya.
Dengan kekuatan mental yang luar biasa, Anita memundurkan langkahnya. Dia menarik napas dalam-dalam, menghapus setitik air mata di sudut matanya, lalu memasang kembali kacamata hitamnya.
Dia merapikan bajunya, lalu sengaja melangkah mundur agak jauh ke koridor sebelum sengaja membuat suara langkah kaki yang keras.
Plak! Plak! Plak!
"Mas Randy? Valeria? Aku masuk ya!" seru Anita dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat ceria dari luar.
Mendengar suara itu, suasana di dalam ruangan langsung riuh panik. Terdengar suara barang jatuh dan langkah kaki yang grasa-grusu
Begitu Anita mendorong pintu dan melangkah masuk, dia mendapati Randy sedang berdiri tegang di dekat jendela sambil pura-pura membaca berkas, sementara Valeria sibuk merapikan rok span dan rambutnya yang agak berantakan dengan wajah seperti habis melihat hantu.
"Lho, Anita sayang? Kamu... kok nggak ngabarin dulu mau ke sini?" tanya Randy terbata-bata, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Valeria juga mencoba tersenyum, meski bibirnya gemetaran.
"Eh, iya, Nita. Tumben banget main ke kantor."
Anita tersenyum sangat manis, seolah-olah dia tidak melihat adegan menjijikkan beberapa detik lalu. Dia meletakkan tas bekalnya di atas meja dengan santai.
"Iya nih, sengaja bikin surprise buat suami aku dan sekretaris barunya," ucap Anita manja, langsung berjalan menghampiri Randy dan menggelayut mesra di lengan suaminya.
"Aku masakin menu spesial lagi buat kalian. Dimakan ya, Mas? Oh ya, Val... muka kamu kok merah banget gitu? Terus lipstik kamu agak comot tuh di pinggir, abis makan apa emangnya?" tanya Anita dengan nada polos namun matanya menatap tajam di balik kacamata hitamnya.
Mendengar pertanyaan santai tapi mematikan itu, Randy dan Valeria seketika mematung dengan wajah pucat pasi.
Bersambung