Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Abadi
Kaki Huang menghantam telak pelipis siluman kera raksasa itu. Benturan tersebut menciptakan riak energi berwarna ungu hitam yang meluas, mematahkan leher sang siluman seketika. Tubuh raksasa seberat beberapa ton itu tumbang, menghantam tanah dengan keras dan debu yang membubung tinggi.
Huang mendarat dengan lutut bertumpu di tanah, napasnya habis, dan tato di dahinya perlahan memudar. Kemenangan itu membuatnya membayar mahal; meridiannya retak di beberapa tempat karena memaksakan energi yang terlalu besar.
"Lin Huang..." Mu menatap remaja manusia di depannya dengan tatapan yang kini sepenuhnya berubah menjadi rasa hormat dan takjub yang mendalam. Anak ini baru saja membunuh makhluk ranah Fondasi Jiwa dengan tubuh fisiknya.
"Ayo... pergi," bisik Huang lirih, memaksakan diri untuk memapah Mu yang terluka.
Elysa dengan cepat menyelimuti mereka berdua dengan sisa Qi hijaunya. Mereka bertiga tertatih-tatih melewati celah batu, tepat ketika ribuan siluman lain mulai pulih dari keterpanaan akibat tekanan aura Huang tadi.
Begitu mereka keluar dari celah bukit, pemandangan di depan mereka berubah drastis. Kabut kelam Hutan Kematian mendadak lenyap, digantikan oleh pemandangan sebuah lembah hijau yang sangat luas, di mana sebuah pohon raksasa yang puncaknya menembus awan berdiri dengan megah di kejauhan. Sebuah tirai cahaya keemasan tipis membentang di batas lembah tersebut.
Gerbang Hutan Abadi Ras Peri.
Melihat buruan mereka hampir mencapai zona aman, ribuan siluman di belakang mereka melolong frustrasi dan mempercepat kejarannya. Jarak mereka tinggal puluhan meter.
"Lompat!" teriak Elysa.
Ketiganya melemparkan diri melewati tirai cahaya keemasan tersebut. Tepat setelah tubuh mereka menyeberang, gelombang pertama siluman menghantam tirai pelindung itu.
ZAAAPPP!
Petir keemasan menyambar dari langit, menghanguskan lusinan siluman terdepan menjadi abu dalam sekejap. Melihat kekuatan pelindung kuno tersebut, ribuan siluman lainnya terpaksa mengerem langkah mereka, melolong marah di perbatasan, namun tidak ada satu pun yang berani melangkah maju.
Huang, Elysa, dan Mu jatuh telentang di atas rumput hijau yang lembut dan beraroma harum. Aman. Mereka akhirnya aman.
Huang menatap langit biru bersih di atas Hutan Abadi, senyum tipis terukir di wajahnya yang penuh darah dan debu. Dia telah berhasil melewati ujian hidup dan mati pertamanya, melintasi batas wilayah ras, dan menapakkan kaki di dunia yang baru baginya.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Huang tahu bahwa perlindungan ini hanya sementara. Tanda yang muncul di dahinya tadi adalah bukti bahwa rahasia di dalam tubuhnya jauh lebih besar dari yang dia duga—dan dunia tidak akan membiarkannya bersembunyi di sini selamanya.
Hutan Abadi menyambut mereka dengan ketenangan yang terasa begitu asing bagi Huang. Di sini, udara bersih dari hawa kematian; setiap embusan angin membawa aroma nektar bunga dan energi alam (Qi) yang begitu murni hingga membuat meridian Huang yang retak terasa sejuk, perlahan mulai menutup dan memulihkan diri dengan sendirinya.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari balik pepohonan perak yang daunnya berkilauan seperti permata, muncul belasan sosok penunggang rusa bertanduk emas. Mereka adalah Pasukan Penjaga Penjuru Ras Peri. Mengenakan zirah jala perak dan memegang tombak panjang, wajah-wajah rupawan mereka tampak tegang, terutama ketika pandangan mereka jatuh pada sosok Huang yang compang-camping dan berlumuran darah hitam siluman.
"Putri Elysa! Pengawal Mu!" Pemimpin pasukan, seorang peri pria berambut emas panjang, melompat turun dari tunggangannya dan segera berlutut. "Kami merasakan gejolak besar di perbatasan. Syukurlah Anda selamat. Tapi... siapa manusia ini? Mengapa Anda membawa Ras luar ke tanah suci?"
"Komandan Alistair, dia adalah penyelamat kami," jawab Elysa tegas, meskipun tubuhnya masih lemas. "Tanpa Lin Huang, aku dan Mu tidak akan pernah bisa kembali melintasi Hutan Kematian. Segera siapkan tabib istana dan laporkan kedatangan kami pada Ibu Ratu."
Alistair melirik Huang dengan tatapan dingin dan penuh selidik. Di dunia kultivasi, Ras Peri terkenal sebagai kaum yang menutup diri dan memandang rendah ras lain, terutama manusia yang mereka anggap serakah dan berumur pendek. Namun, melihat perintah langsung dari sang putri dan kondisi Mu yang terluka parah, Alistair tidak punya pilihan selain patuh.
"Baik, Putri. Bawa mereka!"
---
Dua hari berlalu di dalam Paviliun Penyembuhan yang dibangun di atas dahan Pohon Kehidupan raksasa.
Huang terbangun dari meditasi panjangnya. Ketika dia membuka mata, kilatan cahaya ungu di pupilnya tampak jauh lebih solid dan terkendali.
Berkat kemurnian Qi di Hutan Abadi dan pil penyembuh tingkat tinggi yang diberikan Elysa secara diam-diam, tubuh Huang tidak hanya pulih, tetapi fondasi kultivasinya kini telah sepenuhnya mantap di Ranah Kondensasi Qi tingkat akhir. Tinggal selangkah lagi, dia akan menembus Ranah Fondasi Jiwa.
’Kekuatan ini... sudah jauh melampaui seluruh generasi muda di Keluarga Lin,’ batin Huang, mengepalkan tangannya yang kini dialiri energi ungu yang tenang namun pekat.
Tok, tok.
Pintu anyaman kayu paviliun terbuka, dan Elysa melangkah masuk. Dia tidak lagi mengenakan pakaian berburu yang kotor, melainkan gaun hijau sutra khas kerajaan yang membuatnya tampak anggun luar biasa. Di belakangnya, Mu berjalan dengan langkah yang masih sedikit kaku, namun wajahnya tampak jauh lebih segar.
"Kau sudah mengonsolidasikan energimu, Lin Huang?" tanya Elysa dengan senyum lembut.
"Terima kasih atas bantuanmu, Putri Elysa. Tubuhku sudah jauh lebih baik," jawab Huang sambil bangkit dan membungkuk hormat.
"Tidak perlu seformal itu, Huang. Di sini, kau adalah tamu kehormatanku," kata Elysa, namun wajahnya kemudian berubah menjadi serius. "Tapi aku harus jujur padamu. Ibu Ratu telah mendengar laporan tentang pertempuran di perbatasan—terutama tentang kekuatan aneh yang kau tunjukkan saat meremukkan Siluman Kera Ranah Fondasi Jiwa."
Mu melangkah maju, suaranya merendah. "Bocah, tetua agung kaum kami mengenali tanda tiga sayap hitam yang sempat muncul di dahimu. Itu adalah Tanda Kutukan Iblis Agung Asura, penguasa tertinggi Ras Iblis sepuluh ribu tahun lalu. Ibu Ratu ingin menemuimu di Aula Tetua pagi ini."
Huang tidak terkejut. Dia sudah menduga bahwa kekuatan sebesar ini pasti akan mengundang badai besar, ke mana pun dia pergi. "Apakah mereka akan mengeksekusiku karena memiliki energi Ras Iblis?"
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," tegas Elysa, matanya memancarkan tekad yang kuat. "Tapi kau harus bersiap. Aula Tetua bukanlah tempat yang ramah bagi manusia."
Beberapa saat kemudian, Huang berjalan di koridor megah yang terbuat dari jalinan akar pohon raksasa menuju Aula Tetua. Di sepanjang jalan, ratusan mata kaum peri menatapnya dengan kombinasi antara rasa ingin tahu, benci, dan waspada.
Begitu pintu aula terbuka, aura tekanan yang sangat kuat langsung menghantam Huang. Di dalam ruangan melingkar itu, duduk belasan tetua peri dengan jubah putih, dan di takhta tertinggi, duduk seorang wanita dengan kecantikan abadi yang memancarkan wibawa luar biasa—Ibu Ratu Ras Peri, Tatiana.
"Manusia bernama Lin Huang," suara Ratu Tatiana bergema, lembut namun bergetar seperti lonceng perak yang membawa tekanan spiritual luar biasa.
"Kau telah menyelamatkan putriku, dan untuk itu, Kerajaan Peri berutang budi padamu. Namun, kau membawa sesuatu yang sangat berbahaya di dalam tubuhmu. Sesuatu yang bisa memicu perang besar di antara empat ras jika terungkap ke dunia luar."