NovelToon NovelToon
Office Crush

Office Crush

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:240.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Scarlettema

Zidan Arkan, seorang CFO muda yang selama ini selalu mendapatkan perhatian dari banyak orang terutama kaum hawa, merasa harga dirinya terluka saat ada satu orang perempuan yang selalu mengabaikannya sejak hari pertama pertemuan mereka. Zidan berencana untuk membuat perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Tapi Lalita, nama perempuan itu, baru saja bercerai dari mantan suaminya dan sedang tak ingin membuka hatinya untuk laki-laki lain yang kemungkinan besar akan menyakitinya sama seperti mantan suaminya. Berhasilkah rencana Zidan? Akankah Lalita jatuh ke dalam pelukan Zidan? Atau malah Zidan yang bertekuk lutut dihadapan Lalita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Zidan dan Lalita masih saling berpagutan dengan penuh gairah di dalam kamar Lalita yang gelap gulita. Lidah mereka saling mengecap satu sama lain. Tangan Zidan mulai masuk ke dalam kaos biru Lalita, membelai punggungnya yang mulus, lalu tak lama kemudian melepaskan kaos tersebut melalui kepala Lalita. Sedetik setelah kaosnya lepas, bibir Zidan dan Lalita langsung bersatu lagi, seolah enggan untuk saling menjauh meski hanya dalam hitungan detik. Tangan Lalita pun mulai masuk ke dalam kaos hitam Zidan, membelai dada bidangnya yang dihiasi rambut-rambut tipis.

Lalita hendak melakukan yang sama, melepaskan kaos Zidan, namun Zidan malah melepaskan diri dan mundur. Lalita memajukan dirinya dan mencoba menggapai tubuh dan bibir Zidan yang meninggalkannya, tapi dia tidak menemukannya dalam kegelapan. Tiba-tiba ruangan kamar Lalita menjadi terang. Ternyata Zidan tadi mundur untuk menyalakan lampu. Lalita jadi terlihat seperti orang bodoh saat ini.

Dilihatnya Zidan berjalan menuju tempat tidur dengan santai, lalu duduk sambil membawa kotak P3K dan kantong plastik berisi perban yang mereka beli di apotek sebelumnya. Zidan menepuk-nepuk tempat tidur dan mengisyaratkan Lalita untuk duduk dihadapannya.

"Kemarilah, aku akan mengganti perbanmu." Ekspresinya sangat biasa saja, seolah-olah sebelumnya tidak ada kejadian apapun yang melibatkan perasaan dan hawa nafsu diantara dua insan manusia.

Dengan cemberut dan bersungut-sungut, Lalita menurutinya. Bagaimana bisa dia melepaskanku setelah memancing hasratku seperti barusan? Lalita menatap tajam mata Zidan. Semua gairah dan mood baik yang dimilikinya beberapa saat lalu mendadak menguap semuanya.

"******** atau plin-plan. Kamu yang mana?" tanya Lalita saat sudah duduk dihadapan Zidan.

"Apa tidak ada pilihan lain yang lebih baik?" Zidan balik bertanya sambil tangannya mulai melepas perban yang melilit dada Lalita. Meskipun terlambat, tapi dia menyadari kesalahannya beberapa menit yang lalu. Tidak seharusnya dia menyentuh tubuh Lalita dan memanfaatkannya dalam keadaannya yang masih terluka. Saat Zidan sadar, dia menarik diri, tanpa dia ketahui kalau apa yang dia lakukan ternyata membuat Lalita marah.

Lalita lalu menjelaskan kalau sikap Zidan kepadanya sejak awal sangat tidak konsisten. Pertama dia memperlakukan Lalita dengan sangat baik, tapi ternyata itu hanyalah sebuah permainan dan kebohongan. Kedua, setelah kebohongannya terungkap Zidan malah mendiamkannya dan suka marah-marah di kantor. Padahal dalam kondisi tersebut seharusnya Lalita yang marah-marah, bukan Zidan. Ketiga, saat ke Singapura dia awalnya marah karena merasa diabaikan Lalita, tapi lalu menunjukkan sikap cemburunya kepada Lalita, padahal dia jelas tidak ada hubungan apapun dengannya. Di Singapura juga dia mulai kembali baik dan bahkan sampai tidur dengan Lalita. Tapi setelah kembali dari Singapura dia mengabaikannya lagi. Keempat, Zidan membantunya meloloskan diri dari Adit, dia juga mengobati lukanya dan memberikan tempat tinggal. Namun kemarin dia marah lalu meninggalkannya seharian dan pulang malam hari dalam keadaan mabuk. Sampai pagi tadi Zidan terlihat masih marah kepadanya. Saat sore sudah kembali baik dan mulai mencumbu Lalita lagi. Tapi baru saja, setelah mencumbu Lalita tiba-tiba dia melepaskannya.

"....dan aku selalu saja dengan bodohnya masuk ke dalam permainanmu," ucap Lalita di akhir penjelasannya. Tidak ada rasa sedih, yang ada hanya rasa kecewa. Kecewa kepada dirinya sendiri yang selalu saja jatuh ke dalam permainan Zidan.

"Ini sudah banyak yang sembuh lukanya, yang kecil-kecil tinggal menunggu kering. Yang besar masih sedikit terbuka. Sebaiknya jangan diperban semuanya, hanya luka yang masih terbuka saja, agar lainnya bisa lebih cepat kering." Zidan mengobati luka Lalita di dadanya, berpura-pura mengabaikan penjelasan Lalita meski sebenarnya dia mendengarkannya dengan baik.

"Jadi, yang mana?" Lalita menegaskan lagi pertanyaan yang sebelumnya dia tanyakan namun belum mendapatkan jawaban dari Zidan.

"Let me see, ini, ini, ini, ini, ini, ada lima yang lukanya masih sedikit terbuka. Aku akan menutup dengan kain kassa dan plester untuk luka yang ini saja." Zidan menyentuh beberapa titik luka yang menurutnya masih belum menutup sempurna. Sebenarnya Zidan tahu kemana arah pertanyaan Lalita, tapi dia sengaja tidak menggubrisnya.

Lalita menghela nafas panjang. "You jerk."

Zidan mengabaikannya, dia masih fokus untuk menutup luka di dada Lalita. Selama beberapa saat tidak ada yang bicara. Zidan menutup luka Lalita satu per satu, sedangkan Lalita hanya menatap Zidan tapi terlalu malas untuk bicara dengannya saat ini.

"Jangan pakai baju saat tidur, biarkan saja seperti itu biar lebih cepat kering lukanya dan tidak terkena gesekan dengan bajumu." Zidan membereskan peralatan P3K-nya.

Lalita tidak menjawabnya, dia malah membawa tubuhnya naik ke atas tempat tidur dan berbaring, dengan sengaja mengabaikan Zidan. Zidan keluar dari kamar Lalita dengan membawa kotak P3K dan sampah perban yang lama, tapi kembali lagi beberapa menit kemudian. Lalita pura-pura memejamkan matanya saat melihat kelebatan tubuh Zidan masuk ke dalam kamarnya. Lalita merasakan Zidan mencium keningnya dan membelai rambutnya, berkata selamat malam kepadanya, lalu pergi meninggalkan kamarnya.

Keesokan harinya Lalita bangun pagi dan memasak. Meskipun dia masih marah kepada Zidan, tapi bagaimanapun juga laki-laki itu sudah sangat banyak membantunya. Rasanya tidak berlebihan kalau dia memasak untuknya dan juga untuk dirinya sendiri. Jam tujuh pagi. Semua masakan sudah siap dan tertata rapi di atas meja makan. Tapi Zidan belum juga keluar kamar. Lalita mengetuk pintu kamarnya, berusaha untuk membangunkan Zidan.

30 menit kemudian.

Lalita juga berusaha membangunkan Zidan dengan cara menelepon ponselnya, tapi juga tidak berhasil. Dia mendengar suara dering ponselnya dari depan pintu kamar Zidan, tapi tidak ada tanda-tanda laki-laki itu akan menerima panggilannya. Lalita bingung, bukankah Zidan biasanya datang pagi ke kantor? Jam masuk kantor jam 8 pagi, tapi ini sudah 7.30 dan Zidan belum bangun juga. Apakah dia sakit?

Lalita lama berdiri di depan pintu kamar Zidan. Dia ragu, apakah harus masuk ke dalam dan membangunkannya? Sekalian memeriksa apakah laki-laki itu sedang sakit atau tidak. Tapi..... Bayangan naked woman di atas tempat tidur Zidan tidak pernah mau pergi dari otaknya. Bayangan itu selalu datang setiap kali melihat pintu kamar Zidan yang terbuka.

Ting tong..

Terdengar bunyi bel pintu apartemen Zidan. Lalita berjalan menuju pintu dan melihat siapa yang datang dari lubang kecil di pintu. Ternyata Pak Gufron, sopirnya yang datang. Sepertinya dia juga menunggu Zidan dari tadi di tempat parkir.

Ting tong..

Pak Gufron menekan bel lagi. Lalita hanya melihatnya saja. Tidak mungkin dia membukakan pintu dan membiarkan Pak Gufron tahu kalau dia menginap di apartemen Zidan. Kalau sampai tersebar di kantor bisa ramai dan heboh dunia persilatan, eh dunia perkantoran PT. CJR maksudnya.

Ting tong..

Setelah menekan bel tiga kali dan menunggu cukup lama, akhirnya Pak Gufron menyerah. Dia berbalik dan pergi, mungkin memutuskan untuk menunggu di tempat parkir saja dimana dia bisa duduk-duduk sambil merokok.

Ceklek....

Akhirnya pintu kamar Zidan terbuka juga, lalu muncullah laki-laki dengan wajah dan rambut yang berantakan, baik rambut lebat di atas kepalanya maupun rambut-rambut tipis yang berkeliaran di sekitar dada dan perut bawahnya. Ya, Zidan dengan pedenya keluar kamar dengan hanya mengenakan boxer. Dan Lalita juga dengan pedenya memandangi tubuh Zidan yang membuatnya menelan ludah.

"Siapa, La?"

"Pak Gufron. Tapi aku tidak buka pintunya kok." Mata Lalita masih saja mengawasi tubuh liat Zidan yang tampak begitu menggoda pagi ini.

"Memangnya jam berapa sih? Kok dia sudah datang." Zidan mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk.

"Jam 8."

"Apa? Pantas, sudah terlambat sekali ini." Meskipun berkata seperti itu, tapi Zidan tidak segera beranjak mandi dan bersiap-siap, malah mendekati Lalita dan berdiri didepannya sambil memperhatikan wajah Lalita.

"Aku dari tadi berusaha membangunkanmu, tapi kamu tidak bangun juga."

"Kok aku sama sekali tidak terasa ya. Kamu bangunkan aku pakai cara apa sih?" Zidan penasaran.

"Aku ketuk-ketuk pintu kamarmu. Aku telepon ke ponselmu. Tapi kamu sama sekali tidak bangun."

"Kenapa tidak masuk ke dalam saja? Aku pasti langsung bangun kalau kamu datang dan membangunkanku di tempat tidur." Zidan menarik tubuh Lalita ke dalam pelukannya.

"Senang deh, pas bangun tidur gini bisa langsung ketemu kamu. Tapi bakalan lebih senang lagi kalau pas buka mata langsung melihatmu disampingku." Zidan berbisik di telinga Lalita, sebelum kemudian bibirnya merayap dari belakang telinga ke leher dan meninggalkan jejak basah di sana.

"Zidan kamu sudah telat..." ucapan Lalita terpotong karena bibir Zidan sudah menginvasi bibirnya, menciumnya dengan lembut dan menggoda. Tangannya memeluk tubuh Lalita semakin erat, sehingga membuat Lalita menyadari ternyata bagian tubuh Zidan yang lain juga terbangun dan saat ini mulai mendesak dirinya.

1
Jhonson Tjahyadi
Mr Zudan gentle and brave,,it's oke,,,
Dewie Qii
Luar biasa
Sri Widayati
😓😭
Sri Widayati
Luar biasa
Adji Purwanto
bagus ceritanya...
Ali Amril
kalau ada masalah baiknya dibicarakan dengan baik"jangan ambil kesimpulan seadidi belum tentu yg dilihat dan yg didengar sesuai kenyataan yg terjadi
Lusyana Dewi
upnya lamaaa niyy...ayoo author...semangat
Del
Tim Zidan Lalita fix❤️🤭😂
Nurus Saada Smti
aku lebih suka Lalita bersama Andrew...
Nur Hasmalawati
Aku juga lebih suka zidan sama lalita, ga tau knp, klo sama andrew kaya kurang greget gtu .. 😂😂😂
qiqiel
aku tim zidan 😁
Vina Aryaduta
akhirnya...
semangat Thor,,aku selalu nunggu updatean mu
Vie Triean Liee
ampun deh, direbutin 3 cowok itu gmnaaaaa
Del
please Zidan dong yg sama Lalita, mereka kan belum ada kata putus
yu sisca
mumet, mumet dah lalita
qiqiel
aku memilih zidan 😁
vetty christiandi
wow...wow..wow....

Lalitaaa apa rasanya diperhatiin 3 cowok gitu ? tell me please
vetty christiandi
thor aku maunya lalita sm zidan.

andrew cariin cwk lain yg baik yaaa yaa yaaa
yu sisca
berharap lalita sama zidan tapi kok kasian sama andrew
Novie Juliandini
ayo thor semangat lanjutkan...aq selalu menanti karyamu...😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!