Akibat perselingkuhan yang di lakukan Owen calon tunangannya, membuat Sonya menghibur diri di sebuah Club di kota Paris. Yang nyaris saja menghancurkan masa depannya.
Karena kecerobohannya, Sonya tidak mengetahui pria asing sudah menaruh obat ke dalam gelas minumnya. Dan Sonya nyaris di manfaatkan pria asing itu kalau saja Alex, pria yang selama ini Sonya benci, tidak datang menyelamatkannya.
Satu hal berlanjut ke hal lainnya, yang membuat mereka harus menikah. Dan perlahan tapi pasti rasa benci Sonya ke Alex berubah menjadi cinta.
Meskipun Alex cenderung cuek dan dingin terhadap perjuangan cinta Sonya, Sonya tetap berusaha mendapatkan hati pria dingin, kaku dan angkuh itu.
Tapi kisah tragis masa lalu Alex membuat Alex menutup diri untuk cinta yang baru.
Sampai akhirnya Sonya harus memilih...
Tetap mengejar cintanya pada Alex..
Atau melepasnya dan menerima cinta yang lain.
Dan ketika saat itu tiba...
Bersediakah Alex melepaskan Sonya...?
Mampukah Alex melupakan masa lalunya...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali Bertemu Hardhan
Dari kejauhan, Alex menyaksikan langsung bagaimana Karina diperlakukan, tahanan wanita lainnya tidak ada henti-hentinya membully dan menyiksanya pelan-pelan, dengan hukuman ringan tapi sering. Yang akan membuat siapapun tidak akan sanggup memikul penderitaan itu lebih lama lagi.
Dan Alex sudah meminta orang yang tepat, untuk memastikan Karina terus mendapatkan ganjaran seperti itu setiap harinya. Sampai Karina merasa frustasi dan membunuh dirinya sendiri.
"Ini belum seberapa Nona Karina, tunggu berita mengejutkan lainnya tentang keluargamu. Itu semua adalah ganjaran yang akan kau terima karena sudah membuat Boss nyaris kehilangan anak dan istrinya. Dan kau sudah menghilangkan nyawa Anindira!"
"Aku akan melakukan apapun untuk Boss... untuk seseorang yang sudah menyelamatkanku dari keterpurukan..."
Alex teringat saat pertama kalinya bertemu Hardhan tujuh belas tahun yang lalu, dan pertama kalinya Hardhan membawa Alex ke rumahnya.
Semua bermula saat Alex kebetulan lewat, dan melihat remaja awal seusianya sedang dipukuli oleh beberapa pria dewasa.
Tanpa pikir panjang lagi Alex menolong remaja itu, dengan membabi buta ia arahkan pukulan dan tendangannya ke arah pria dewasa itu, sampai akhirnya mereka semua kabur, meninggalkan Alex yang babak belur berdua saja dengan remaja itu.
"Bodoh...!! Kau cari mati yaa...!!!" teriak remaja itu dengan suara yang menggelegar.
Lalu remaja itu mengulurkan tangannya membantu Alex berdiri, tapi Alex terlalu lelah hingga ia hanya bisa duduk sambil menghapus darah disudut bibirnya.
Sambil bertolak pinggang anak itu memarahi Alex, "Kenapa kau menolongku...?!! tanyanya.
"Aku habis melihat kematian, dan tidak ingin melihatnya lagi..." jawab Alex sambil meringis karena wajahnya yang terasa sakit saat ia berbicara.
Remaja itu duduk di samping Alex, lalu mengulurkan tangannya, "Hardhan..." katanya, dan Alex menyambut uluran tangan itu, "Alex.."
Lalu Hardhan mendesah panjang, "Aku justru ingin menjemput kematian... Makanya aku memancing amarah pria-pria mabuk tadi... Sayangnya kau menolongku." jelasnya sambil tertawa pahit.
Alex tahu ada nada kesedihan yang mendalam di nada suara Hardhan, kesedihan yang juga Alex rasakan sebulan yang lalu.
"Kenapa...?" tanya Alex. Ia sudah tahu pasti jawabannya, hanya saja ia tetap ingin memastikannya.
"Papaku meninggal dua minggu yang lalu... Aku selalu merindukannya, aku tidak terima Papa meninggalkanku... Dan itu semua terlalu mendadak...!! Aku tidak sanggup lagi menahan kesedihan ini..." desah Hardhan lirih.
"Kau tidak akan bisa membayangkan kesedihanku..., pagi harinya aku masih bisa bercanda dan tertawa dengannya, tapi siangnya Papa pergi untuk selamanya... Itu terlalu kejam bukan...? Terlalu menyakitkan..." lanjut Hardhan, menahan suaranya agar tidak tercekat.
"Kau hadir di pemakaman Papamu...?" tanya Alex.
"Aku bahkan ikut turun ke makamnya dan mengangkat jenazahnya." jawab Hardhan dengan suara parau.
"Kau masih memiliki ibu...? adik atau kakak...?" tanya Alex lagi.
Hardhan mengangguk.
"Cih dasar bodoh...! Begitu saja sudah putus asa... Kau masih jauh lebih beruntung dariku..." ejek Alex.
"Beraninya kau mengataiku bodoh!! Apa maksudmu...?!!!" teriak Hardhan.
"Kau masih bisa hadir ke pemakaman Papamu, sedang aku... Aku baru tahu orang tuaku sudah meninggal setelah aku sadar dari komaku selama dua minggu. Setelah sembuh dari luka-lukaku, aku di titipkan di sebuah panti asuhan, sampai sekarang. Aku tidak memiliki apapun selama hidupku, hanya
orang tuaku itu lah yang aku miliki...." jelas Alex.
"Kau beruntung masih memiliki ibu dan saudara yang harus kau jaga, kenapa kau juga mau meninggalkan mereka...? Mereka pasti juga bersedih atas meninggalnya papamu, kau seharusnya menghibur mereka, bukannya menambah kesedihan mereka dengan kematianmu..." lanjut Alex.
Sepertinya kata-katanya menyadarkan Hardhan, karena pria itu langsung menangis, dan berteriak. Hardhan mengeluarkan semua kesedihannya yang sudah ia pendam selama dua minggu ini.
Sampai akhirnya beberapa pria berjas hitam datang menghampiri mereka, Alex sudah pasang badan untuk melindungi Hardhan, dan melotot ke arah pria-pria itu.
"Tuan muda anda tidak apa-apa...?" tanya salah satu pria itu ke Hardhan.
"Saya baik-baik saja..." jawab Hardhan sambil berdiri dan menepuk-nepuk kotoran di belakang celana panjangnya.
"Kita pulang..." ajak Hardhan mengulurkan tangannya ke Alex.
"Pulang...?" ulang Alex bingung.
"Iya pulang ke rumahku... Aku akan meminta Mama untuk mengadopsimu..."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi... Ayo cepat bangun...!!" seru Hardhan sambil menarik Alex berdiri.
Hardhan sendiri yang memapahnya, di bantu salah satu pengawalnya di sisi lain Alex.
"Biar saya saja tuan muda..." pengawal lainnya menawarkan diri menggantikan Hardhan memapah Alex.
"Tidak perlu, Alex sudah menolongku tadi. Cepat jalan...!"
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Hardhan, Alex melihat takjub rumah mewah bak istana itu. Sampai suara ibu-ibu yang panik mengalihkan perhatian Alex.
"Oh astaga anak nakal..., kali ini apalagi yang sudah kau lakukan...?" pekik mamanya Hardhan sambil melihat dengan teliti tiap bagian tubuh Hardhan yang terluka. Membuat Alex kembali teringat mamanya.
"Ma aku baik-baik saja..., mungkin harusnya aku pulang tinggal nama, kalau saja Alex tidak menolongku tadi Ma..." jelas Hardhan.
Dan untuk pertama kalinya Mamanya Hardhan melihat Alex, lalu bergegas mendekatinya, "Ya Tuhan Nak..., wajahmu parah sekali..." ujar Mamanya Hardhan sambil menangkup lembut pipi Alex, lalu mengalihkan perhatiannya ke salah satu pengawal tadi, "Cepat bawa masuk dan segera panggil Dokter Daru..." perintahnya.
Alex langsung di bawa ke ruang keluarga, dan duduk di salah satu sofa empuk itu, "Mbok... tolong ambilkan waslap basah dan air hangat yaa..." perintah mama.
"Baik Nyah..."
Hardhan duduk di samping Alex, "Ma..., aku mau Mama mengadopsi Alex menjadi anak Mama... Ya Ma..." pinta Hardhan.
"Adopsi...?" ulang Mama lalu mengalihkan perhatiannya dari Alex ke Hardhan terus le Alex lagi.
"Iya Ma... Kedua orang tuanya meninggal sebulan yang lalu, dan sekarang Alex tinggal di panti asuhan."
Mama baru akan menjawab ketika air hangat dan waslap yang ia minta tadi sudah datang, Mama membasahi waslap dengan air hangat itu, lalu membersihkan luka-luka di wajah Alex.
Alex meringis menahan perih tiap kali air hangat itu membasuh luka-lukanya, air matanya mengalir ke pipinya, bukan karena luka itu, tapi karena mama Hardhan sama lembutnya dengam mamanya, dan itu membuat Alex terharu.
"Berapa umurmu Nak...?" tanya mama lembut.
"Bulan depan saya genap tiga belas tahun tante..." jawab Alex.
"Kau lebih muda dua tahun dari Hardhan..." gumam Mama, "Kau juga sama tampannya dengan Hardhan..." goda mama.
"Darimana mama tahu Alex tampan...? mukanya saja penuh luka begitu...?" ledek Hardhan.
"Anak nakal... Kau meragukan pendapat mamamu...?" tanya mama sambil menjitak kepala Hardhan, membuat Alex tertawa lebar tapi langsung meringis karena lukanya kembali perih.
Mama kembali melihat Alex, "Kita harus mengobati luka-luka itu terlebih dahulu, sambil menunggu Dokter Daru..." seru mama.