Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catur Nyawa di Teluk Osaka
Angin laut di Teluk Osaka pada jam tiga pagi terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit. Di kejauhan, lampu-lampu pelabuhan berkedip lesu, kalah oleh kabut tebal yang menyelimuti perairan. Alea berdiri di dek kapal feri kecil yang sudah disewa Kenji, tangannya menggenggam erat pagar besi yang dingin.
Di sampingnya, Arka sedang membersihkan luka gores di lengannya dengan alkohol. Ia tidak meringis, tapi rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa kesabarannya sudah mencapai batas.
"Kau yakin dengan ini, Arka?" tanya Alea, suaranya hampir hilang ditelan deru ombak. "Menghadapi O-Sensei di markas terapungnya... itu seperti menyerahkan diri ke mulut naga."
Arka mematikan senter kecilnya dan menatap Alea. Mata abu-abunya tampak lebih gelap malam ini. "Shigeru Nakamura, atau yang mereka panggil O-Sensei, bukan pria yang bisa kau lawan dengan peluru dari jauh, Alea. Dia adalah arsitek dari semua kehancuran ini. Jika kita ingin Yuki berhenti mengejar kita, kita harus memutus kepalanya—secara metaforis atau harfiah."
Arka mendekat, menyampirkan jaket wolnya ke bahu Alea. "Dan kau... kau adalah kartu AS-ku. Data di flashdisk itu bukan hanya soal jalur logistik. Itu adalah bukti bahwa Shigeru telah mencuri dana pensiun dari para tetua klan Yakuza lainnya untuk menutupi kerugian akibat ulah Baron. Jika data itu tersebar, bukan kita yang akan membunuhnya, tapi orang-orangnya sendiri."
Kapal feri mereka berhenti sekitar lima ratus meter dari sebuah kapal pesiar mewah bergaya tradisional Jepang yang lego jangkar di tengah teluk. Itu adalah Kurofune, benteng terapung milik Shigeru Nakamura.
Sesuai kesepakatan lewat radio, hanya Arka dan Alea yang diizinkan naik. Kenji tetap di kapal feri dengan instruksi khusus: jika dalam satu jam mereka tidak kembali, Kenji harus menyebarkan data tersebut ke seluruh jaringan gelap dunia.
Saat mereka melangkah naik ke tangga gantung Kurofune, barisan pria berbaju hitam dengan tato yang menutupi leher hingga jemari menyambut mereka dengan tatapan haus darah. Mereka digiring menuju aula utama di dek atas.
Aula itu sangat luas, dilapisi tikar tatami yang wangi. Di ujung ruangan, duduk seorang pria tua dengan kimono abu-abu sederhana. Rambutnya putih bersih, wajahnya penuh kerutan yang menyimpan ribuan cerita kekejaman, namun matanya masih setajam elang. Di sampingnya berdiri Yuki, yang kini mengenakan perban di lengannya akibat ledakan di kuil semalam.
"Duduklah, Arkaen Malik," suara Shigeru terdengar berat dan tenang, namun memiliki daya tekan yang luar biasa. "Dan Nona Senja... selamat datang di akhir perjalananmu."
Arka duduk bersila dengan tenang, Alea mengikutinya di samping. Suasana begitu sunyi hingga detak jam dinding kuno di pojok ruangan terdengar seperti dentuman palu.
"Aku datang untuk bernegosiasi, Shigeru-sama," ucap Arka tanpa basa-basi.
"Negosiasi?" Yuki menyela dengan nada sinis. "Kau meledakkan kuil keluarga kami, mencuri data rahasia, dan sekarang kau bicara soal negosiasi?"
Shigeru mengangkat tangan, membungkam putrinya seketika. "Katakan, Arka. Apa yang membuatmu begitu percaya diri datang ke sini tanpa senjata?"
Arka melirik Alea. Alea mengeluarkan tablet digital dan meletakkannya di atas meja rendah di depan Shigeru. Layar itu menampilkan grafik transaksi keuangan yang sangat rumit, dengan nama-nama besar di dunia bawah tanah Jepang sebagai penerima manfaat yang dirugikan.
"Ini adalah alasan kenapa aku percaya diri," ucap Arka. "Data ini menunjukkan bahwa Anda, O-Sensei, telah mengkhianati kode etik Yakuza. Anda mencuri dari saudara-saudara Anda sendiri untuk menutupi kegagalan investasi di Indonesia. Jika aku menekan satu tombol di ponselku, seluruh klan di Jepang akan mengepung kapal ini sebelum matahari terbit."
Wajah Shigeru tetap datar, namun Alea melihat jemarinya yang memegang cangkir teh sedikit bergetar. Yuki, di sisi lain, tampak terperangah. Ia jelas tidak tahu tentang pengkhianatan ayahnya sendiri.
"Kau berani mengancamku di rumahku sendiri?" desis Shigeru.
"Ini bukan ancaman, ini adalah tawaran perdamaian," Arka condong ke depan. "Hentikan semua pengejaran terhadap kami. Tutup semua kantor perwakilan Nakamura di Jakarta. Dan biarkan aku mengelola wilayah Asia Tenggara tanpa gangguan kalian. Sebagai imbalannya, data ini akan hancur bersamaku."
Shigeru terdiam lama. Ia menatap teh di cangkirnya, seolah sedang membaca masa depan di sana. Tiba-tiba, ia tertawa kecil. "Ayahmu, Don Malik, selalu bilang bahwa kau adalah singa yang lebih cerdas darinya. Dia benar."
"Tapi," Shigeru melanjutkan, matanya menatap Alea dengan dingin. "Aku tidak bisa membiarkan seorang saksi seperti Nona Senja pergi begitu saja. Dia tahu terlalu banyak. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan tambahan? Arka tetap bebas, tapi Nona Senja tinggal di sini sebagai jaminan."
"Tidak akan pernah," Arka menjawab secepat kilat, tangannya sudah meraba pisau kecil yang disembunyikan di balik lengan bajunya.
"Tunggu, Arka," Alea memegang lengan Arka. Ia menatap Shigeru dengan keberanian yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. "O-Sensei, Anda bicara soal kehormatan. Tapi Anda baru saja ditangkap basah mencuri dari klan Anda sendiri. Jika saya tinggal di sini, Anda hanya akan menambah satu lagi beban yang bisa meledak kapan saja. Saya bukan jaminan, saya adalah saksi hidup atas kejatuhan Anda jika Anda mencoba bermain curang."
Alea menatap Yuki. "Dan kau, Yuki. Kau ingin menjadi pemimpin klan selanjutnya, kan? Apakah kau ingin memimpin sebuah klan yang dihancurkan oleh aib ayahnya sendiri? Jika kau membiarkan kami pergi, kau punya kesempatan untuk membersihkan nama Nakamura sebelum semuanya terlambat."
Yuki tampak bimbang. Ambisinya berbenturan dengan kesetiaannya. Ruangan itu mendadak dipenuhi oleh aura perang dingin yang mencekam.
Tiba-tiba, suara alarm dari jam tangan Arka berbunyi. Satu jam telah berlalu.
"Satu jam sudah lewat, Shigeru-sama," ucap Arka sembari berdiri. "Kenji sedang menunggu perintahku. Jika aku tidak mengirim kode aman dalam tiga puluh detik, seluruh Jepang akan tahu rahasiamu."
Shigeru menatap Arka, lalu menatap putrinya. Ia melihat api di mata Yuki yang menunjukkan bahwa putrinya lebih mementingkan masa depan klan daripada dendam pribadi.
"Pergilah," ucap Shigeru akhirnya, suaranya terdengar sangat tua dan lelah. "Tapi jangan pernah menginjakkan kaki di Jepang lagi. Jika aku melihat bayanganmu di tanah ini, aku tidak akan peduli lagi pada rahasia atau klan. Aku akan membakarmu hidup-hidup."
Arka tidak menunggu jawaban kedua. Ia menarik Alea berdiri dan berjalan mundur dengan waspada menuju pintu keluar. Yuki menatap mereka pergi dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa benci, tapi juga sedikit rasa hormat yang tersembunyi.
Mereka sampai di dek kapal feri Kenji tepat saat fajar mulai menyingsing di cakrawala Teluk Osaka. Warna oranye dan merah muda menghiasi langit, memantul di permukaan air yang tenang.
Begitu kapal menjauh dari Kurofune, Alea jatuh terduduk di kursi kayu, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Adrenalin yang tadi menahannya kini menghilang, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa.
"Kita melakukannya..." bisik Alea, air matanya menetes tanpa bisa ditahan.
Arka berlutut di depannya, memegang kedua pipi Alea dengan tangannya yang hangat. "Kau melakukannya, Alea. Kau baru saja menghadapi naga paling berbahaya di Jepang dan membuatnya bertekuk lutut."
Arka mencium kening Alea dengan penuh perasaan. "Terima kasih karena sudah tidak meninggalkanku di sana."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Arka. Meskipun aku harus membakar seluruh dunia bersamamu," balas Alea sembari memeluk leher Arka erat.
Di tengah laut Jepang yang luas, mereka menyadari bahwa meskipun satu musuh telah dikalahkan, posisi mereka kini semakin tinggi di puncak rantai makanan dunia bawah tanah. Dan di puncak itu, angin selalu bertiup lebih kencang.
"Kita pulang?" tanya Alea.
Arka menatap ke arah ufuk timur. "Ya, kita pulang. Tapi bukan ke Jakarta. Kita harus mampir ke Singapura. Ada seseorang yang sudah menunggu kita di sana dengan informasi tentang siapa sebenarnya yang mendanai Baron sejak awal."
Alea menghela napas panjang. "Tentu saja. Kenapa aku berpikir ini akan berakhir dengan mudah?"
Arka terkekeh, mencium bibir Alea dengan lembut. "Karena jika ini mudah, itu bukan hidup kita, Alea."
Kapal feri itu pun melaju membelah ombak, meninggalkan Osaka dan memulai babak baru dalam pertempuran mereka untuk mencari keadilan murni di tengah dunia yang penuh noda.