Jika ada yang bertanya apa yang membuatku menyesal dalam menjalankan rumah tangga? maka akan aku jawab, yaitu melakukan poligami atas dasar kemauan dari orang tua yang menginginkan cucu laki-laki. Hingga membuat istri dan anakku perlahan pergi dari kehidupanku. Andai saja aku tidak melakukan poligami, mungkin anak dan istriku masih bersamaku hingga maut memisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minami Itsuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 MULAI LELAH
Ibuku menoleh, tampak sedikit terkejut mendengar nada serius dalam suaraku. "Ada apa dengan Laras?" tanyanya dengan cemas, meskipun di wajahnya terlihat raut yang sedikit tertutup.
"Aku ingin ibu memberi Laras sedikit kebebasan. Aku tahu ibu ingin yang terbaik untuknya, tapi menurut dokter, tidak ada pantangan makanan apapun selama kehamilan, asalkan tidak berlebihan. Laras merasa sangat tertekan dengan semua aturan yang ibu terapkan. Ini tidak baik untuk kesehatannya, Ibu." Aku mencoba menjelaskan dengan lembut, berharap ibuku bisa mengerti.
Tapi justru reaksi ibuku yang sangat berbeda dari yang aku harapkan. Wajahnya berubah, matanya menatapku tajam. "Apa maksudmu? Laras mulai membangkang? Ibu hanya ingin dia menjaga kehamilannya dengan baik. Apa yang salah dengan itu?" suara ibuku terdengar tinggi, marah, dan penuh ketegasan.
Aku menelan ludah, mencoba menahan emosi. "Ibu, bukan itu maksudku. Tapi Laras juga butuh ruang untuk merasa nyaman, untuk menikmati kehamilannya. Jangan hanya melihatnya dari sudut pandang yang ketat, yang penuh aturan. Kadang, kebebasan sedikit bisa membuatnya merasa lebih bahagia dan lebih sehat."
Ibuku menatapku dengan tatapan penuh kekecewaan. "Jadi kamu ingin membiarkan Laras makan seenaknya, tanpa peraturan? Itu tidak bisa, anakku. Kamu harus ingat, dia membawa cucu kita, dia harus menjaga kehamilannya dengan sebaik-baiknya."
Aku merasa mulai frustasi, tapi aku tahu ini bukan saatnya untuk kalah argumen. "Ibu, aku bukan membiarkan Laras makan seenaknya. Aku hanya ingin dia tidak merasa tertekan. Kebahagiaan emosional juga sangat penting selama kehamilan."
Ibuku menarik napas panjang, kemudian berdiri dengan marah. "Kamu sudah berubah. Kamu lebih memihak kepada Laras daripada keluargamu sendiri," katanya tajam, sebelum pergi meninggalkan ruang tamu.
Aku merasa hati ini seperti hancur mendengar kata-kata ibuku. Aku tahu bahwa dia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya, tapi aku juga tahu bahwa aku harus berdiri di samping Laras, terutama saat ia sedang membutuhkan dukungan. Perasaan ini begitu berat, tetapi aku yakin aku harus melindungi Laras dari tekanan yang bisa membahayakan kesehatannya dan bayi kami.
...****************...
Esok paginya aku mengantar Laras untuk pergi mengontrol kandungan, apalagi keadaan Laras tidak begitu sehat karena ibuku semakin menekan Laras semenjak aku menegur ibuku. Kata dokter Laras harus tetap menjaga kandungannya agar tetap sehat dengan cara tidak boleh stress.
. Aku bisa melihat betapa lesunya wajah Laras, meskipun ia berusaha tersenyum untuk menenangkan aku. "Jangan khawatir," katanya dengan lembut, meskipun aku tahu betapa beratnya bagi dia.
Saat dokter memeriksa kondisi Laras, ia menjelaskan bahwa kehamilan Laras dalam keadaan baik, namun stres yang berlebihan bisa memengaruhi kondisi janin. "Laras, saya sarankan untuk lebih banyak beristirahat dan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan stres. Kehamilan ini harus dijalani dengan tenang," kata dokter dengan suara yang tenang namun penuh perhatian.
Aku mengangguk mendengar nasihat dokter, lalu menoleh ke Laras yang duduk di sampingku. "Kamu harus mengikuti apa kata dokter, jangan biarkan dirimu terlalu tertekan. Aku akan berusaha membuat semuanya lebih mudah untukmu," kataku dengan penuh keyakinan.
Laras tersenyum tipis, tapi aku bisa melihat kekhawatiran di matanya. "Tapi, aku tidak bisa mengabaikan apa yang ibu katakan. Aku merasa dia terus memantau dan memberi perintah tentang apa yang aku makan dan bagaimana aku menjaga kehamilan ini," ujar Laras dengan suara pelan, tampak kebingungan dan tertekan.
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Aku akan berbicara lagi dengan ibu. Kamu tidak perlu merasa tertekan. Kehamilanmu adalah prioritas utama, dan aku akan selalu mendukungmu," kataku dengan suara penuh tekad. Aku tahu, ini bukan hanya soal Laras, tapi juga tentang keluargaku. Aku harus menemukan jalan tengah agar semuanya bisa berjalan dengan baik tanpa ada pihak yang merasa tertekan.
Setelah pemeriksaan selesai, kami kembali ke mobil. Aku menatap Laras dengan serius. "Aku tidak akan membiarkan kamu merasa seperti ini lagi. Aku akan membuat ibu mengerti bahwa kamu harus bebas dari tekanan. Kita akan menghadapi ini bersama," kataku dengan penuh keyakinan.
Laras hanya mengangguk pelan, meskipun aku bisa melihat rasa cemas masih ada di matanya. Kami pulang dengan perasaan campur aduk, tapi aku tahu satu hal pasti—aku akan berjuang untuk Laras dan kehamilannya.
Saat mobilku sudah hampir keluar dari perkarangan rumah sakit, aku sempat melihat seseorang yang aku kenal tengah menggendong seorang bayi sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil, dan aku tahu siapa wanita itu. Dia adalah mantan istriku Aisyah.
Saat itu, aku terdiam sesaat melihat Aisyah dengan bayi di tangannya. Sebuah perasaan campur aduk menghampiri, mulai dari rasa kaget hingga kerinduan yang tiba-tiba muncul. Aisyah, meskipun sudah berpisah denganku, masih memiliki pengaruh besar dalam hidupku. Bayi itu, meskipun aku tidak tahu siapa, membuat hatiku terasa berat.
Aku melihat Aisyah memasukkan bayi ke dalam mobil dengan hati-hati, lalu ia masuk ke dalam mobil dan menghilang dari pandanganku. Rasa ingin tahu muncul, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya. "Siapa bayi itu?" pikirku dalam hati.
"Mas, kamu lihat apa?" tanya Laras penasaran apalagi melihat wajahku Tengah kebingungan. Laras menyadari kegelisahanku dan meraih tanganku. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan penuh perhatian.
Aku tersenyum tipis, mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. "Aku baik-baik saja."
Selama perjalanan pulang, pikiranku terus melayang kepada Aisyah dan bayi yang ia gendong. Banyak pertanyaan yang muncul, mengganggu pikiranku. Apakah Aisyah sudah menikah lagi? Dan jika iya, mengapa baru sekarang dia muncul dengan bayi? Secepat itu kah?
Tapi tidak mungkin, aku dan Aisyah baru berpisah 5 bulan lalu. Mungkin saja bayi itu bukan anaknya, bisa jadi itu adalah anak dari saudara Aisyah atau bahkan mungkin orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kehidupanku lagi. Aku berusaha menepis pikiranku dan fokus pada Laras yang ada di sampingku. Ini adalah saat yang penting untuk kami berdua.
...****************...
Tak terasa, kehamilan Laras sudah berusian 9 bulan. Tinggal menghitung hari aku dan keluarga besar menyambut cucu laki-laki yang ibu dan ayah dambakan.
Kehamilan Laras sudah hampir mencapai titik puncaknya, dan hari-hari yang penuh harap itu semakin dekat. Semua orang, terutama ibu dan ayah, sudah tidak sabar menunggu kelahiran cucu laki-laki yang telah lama mereka dambakan. Ada kebahagiaan yang begitu terasa di rumah ini. Setiap sudut rumah tampak penuh dengan harapan dan kegembiraan untuk menyambut anggota baru dalam keluarga.
Laras kini semakin dekat dengan saat-saat melahirkan, dan meskipun terlihat lelah, senyumannya selalu ada. Aku juga merasa cemas dan bersemangat pada saat yang sama. Kami sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, dari perlengkapan bayi hingga mental kami untuk menyambut perubahan besar dalam hidup kami.
Reza menyesal seumur hidup, thor
terutama Reza yg menjadi wayang...
semangat Aisyah
kehidupan baru mu
akan datang