SETIAP HARI UP UNTUKMU🤩
Kedatangan lelaki-lelaki muda Eropa yang ganteng-ganteng telah menuai pusat perhatian. Disaat yang bersamaan, lelaki-lelaki dan wanita-wanita muda pun ikut menghilang satu demi satu secara misterius.
Holsi dan teman-temannya menyadari hal itu dan tahu rahasia dibalik itu semua. Namun, mereka semua berhasil dibungkam oleh dua tokoh yang menawan namun iblis. Holsi dan teman-teman nya berhasil di usir dan di hina kan banyak orang.
Dua tokoh menawan itu semakin dipuja-puji bak dewa-dewi. Peminatnya dari kalangan remaja yang begitu tergila-gila pada dua tokoh itu.
Lalu, jelas nya seperti apa? Baca Sekarang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Firmo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 29
Disebuah perumahan elite kota bogor bernama BNR, tinggalah sebuah keluarga kaya raya dari perancis, yaitu keluarga besar Livino.
Jadi, Livino adalah lelaki kelahiran Paris, Perancis. Dan ia dibesarkan di Paris itu sendiri. Livino ketika itu, menikahi seorang wanita bernama Kartina. Ketika Kartina sedang kuliah S2 di Paris, Perancis.
Kartina itu sendiri adalah wanita Indonesia kelahiran Bogor, dia pindah ke Prancis sejak ia lulus SMA ketika usianya masih 17 tahun.
Livino dan Kartina yang sudah bertemu sejak usia mereka masih 23 tahun, menikah diusia mereka yang sudah menginjak 25 tahun. Sudah bisa dilihat bahwa, keluarga Livino adalah keluarga kaya raya, namun keluarga Kartina tidaklah kaya raya. Entah seperti kehabisan wanita atau apa, Kartina yang memiliki paras tidak cantik, mampu memikat hati Livino yang seorang pemuda tampan nan kaya raya. Namanya juga sudah jodoh, mereka begitu cocok, walaupun Kartina tak secantik wanita bule lainnya. Dan hati Livino yang baik hati pun, mampu menerima Kartina yang tak cantik, sederhana, dan tak spesial di mata banyak lelaki.
Anak pertama dari pernikahan mereka telah lahir pada tahun 1997, bernama Ary yang berjenis kelamin laki-laki. Kemudian, setelah mengandung anak keduanya, Kartina dan Livino memutuskan untuk pindah ke Bogor saja, dan menetap seumur hidup di perumahan elite BNR, kota Bogor.
Anak kedua mereka lahir pada tahun 2000, yang juga dikaruniai anak laki-laki kedua dari pernikahan mereka dan diberikan nama Ery.
Kemudian, dua tahun setelahnya. Kartina kembali mengandung anak ketiga yang lahir pada tahun 2002, namun kali ini mereka dikaruniai anak perempuan yang mereka namai Swift.
Dan 3 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2005, Kartina kembali mengandung anak lagi yang mereka namai Emilius, yang berjenis kelamin laki-laki.
13 tahun berlalu dari 2005, dan sekarang sudah menginjak tahun 2018.
Luar biasa memang, anak-anak lelaki dari pernikahan Livino dan Kartina ini, dianugerahi wajah yang ganteng-ganteng bule Eropa, benar-benar asli dari ayah kandung mereka, yaitu Livino. Ary, Ery, dan Emilius sangat di cintai oleh kedua orang tuanya. Bukan hanya ganteng nan menawan, mereka pun adalah Selebgram muda Bogor kota yang terkenal akan gantengnya, bulenya, dan jagonya mereka dalam berbahasa Indonesia.
Apakah benar buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Mungkin itu hampir saja benar.
Seperti contohnya, Swift. Satu-satunya anak perempuan dari pernikahan Livino dan juga Kartina. Namun sayang, Swift tidak bule, Swift tidak putih kulitnya, Swift tidak cantik, Swift pun tidak tinggi, dan tidak berbakat seperti saudara-saudara kandungnya itu.
Swift memiliki rupa seperti wanita Indonesia, namun ia tidak cantik. Ia, bisa dibilang wanita yang biasa saja. Dan ia satu sekolah dengan Erik, Holsi, Nuel, Agil, Ifo, dan kedua temannya Halzet. Yaitu sekolah SMA Fier 4 Bogor. Bahkan, Swift berteman baik dengan mereka semua.
Swift hari ini, sedang duduk di kasur empuknya. Ia tipe remaja yang suka membaca buku, selalu menggunakan kaca matanya, dan ia benar-benar terlihat cupu sekali, dan yang paling membuat ia sedih dalam hidupnya adalah, Swift seperti tidak pernah dianggap oleh kedua orang tuanya, bahkan kedua kakak kandungnya sendiri.
Ketika pulang sekolah, Swift selalu menghabiskan waktu dikamar. Ia seperti di anak tiri oleh kedua orang tuanya, bahkan kedua kakaknya sendiri. Namun, Swift dianugerahi rasa sabar yang teramat luar biasa. Sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Swift sudah menyadari jika Ayah dan ibunya benar-benar tidak menganggapnya. Tetapi hal itu tak masalah untuknya, selama dia tetap bersama kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya, itu sudah membuat ia bersyukur.
Emilius, adik kandung satu-satunya Swift mengetuk pintu kamar Swift. "Kakak..."
Lalu Swift, menoleh. "Sini masuk ajja."
Dengan perlahan, Emilius yang ganteng itu masuk ke dalam kamar Swift. Ia terlihat sedang membawakan nampan berisikan cangkir teh hangat dan biskuit yang lezat. "Kak, aku bawa makanan dan minuman ini untuk kakak."
Swift yang melihat kebaikan Emilius, menjadi tersentuh. "Makasih ya kamu, kamu baik banget ih sama kakak."
Kemudian dengan penuh hati-hati, Emilius berjalan ke arah meja belajar Swift. "Hehe, aku kan sayang kakak."
Tahukah kamu? jika Emilius benar-benar berbeda dengan sifat kedua orangtuanya dan juga kedua kakak kandungnya. Emilius ini memiliki hati yang lembut dan baik hati. Buktinya, ia begitu menganggap Swift didalam kehidupan nya. Walaupun keluarga dan kedua kakak kandungnya tak menganggap sama sekali.
Lalu, Swift menutup halaman dari buku tebal itu. "Sini duduk. Nanti kakak ambil sendiri kok teh sama biskuitnya..."
Dengan senangnya, Emilius menghampiri Swift lalu duduk dikasur bersama Swift. "Hehe, maafin mama ya kak. Yang nggak ajak kakak lagi buat kumpul keluarga di ruang tamu di lantai satu."
Dan Swift tetaplah tersenyum. "Tak apa. Kakak udah biasa kok menghadapi sifat mama yang egois sama kakak. Tapi ingat ya, jangan jahat sama Mama, karena Mama tetaplah mama kita."
Lalu Emilius pun ikut tersenyum. "Iya kak siap. Eh, kakak lagi baca apa itu?"
Kemudian Swift memberikan bukunya itu ke Emilius. "Jadi kakak itu, lagi baca kisah novel *Kucing & Unicorn.* Kakak beli itu di toko buku yang di Cijeruk, kemarin."
Dengan penuh rasa ingin meminjam, Emilius ungkapkan. "Kak, aku boleh nggak pinjem bukunya sekarang?"
Lalu Swift mengelusi rambut pirang Emilius. "Boleh banget, kan kakak sayang kamu."
"Makasih banyak kak. Aku benar-benar nggak faham sama Kak Ary, Kak Ery, Mama, Papa yang sejahat itu sama kakak. Padahal kakak baik banget..." Tutur Emilius yang nampak sedih.
Kemudian Swift berjalan ke arah kursi meja belajarnya, ia lalu duduk. "Udah, jangan di pikirkan. Kakak akan selalu baik-baik ajja, walaupun mama & papa kadang suka buat kakak sedih."
Kemudian Emilius berjalan ke arah Swift, lalu memeluknya begitu erat. "Aku akan selalu ada buat kakak. Jangan sedih, kan ada aku, adik kakak."
Lalu Swift tersenyum tegar. "Iya, makasih ya."
Setelah berkata demikian, Emilius berjalan meninggalkan kamar Swift. "Kak, aku kebawah dulu ya. Mau baca buku ini..."
Lalu, Emilius menutup pintu kamar dengan rapat.
Setelah kepergian Emilius, Swift memakan biskuitnya dan teh hangatnya itu.
Lalu, jendela yang ada didepannya yang langsung menghadap hutan Huner yang jauh di mata, Swift pandang dengan penuh hati yang sedih.
Kemudian, Swift pun menangis sejadi-jadinya. "Hiks, kenapa sih, kenapa? Apa aku ini bukan anak kandung mereka? Apa aku ini anak buangan? Sampai-sampai aku seperti anak tiri yang nggak berguna disini! Hiks, aku cape, aku lelah, 11 tahun di sakiti oleh kedua orang tua sendiri dan kakak kandung sendiri. Lelah banget..."
Tiba-tiba, seruan Agil menyeru di kepala Swift dengan penuh misterius.
*Swift, Swift, oh Swift..."
Spontan, Swift langsung menyadari akan seruan yang menyerupai suara Agil. Disini, Swift belum mengetahui keberadaan Agil yang sebenarnya.
"Astaga! Agil?" Kata Swift dengan tegas.
tunggu ya
Author.....lanjut, tuntaskan ceritanya
cling gitu
Apakah dia murid baru