"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 (Permohonan Maaf)
Sementara lobi utama gedung Raharja Group masih dipenuhi riuh redaksi setelah konferensi pers Mike dan Alisha, sebuah mobil sedan perak bergerak tenang meninggalkan area parkir bawah tanah. Di dalam kabin, Anita menatap lurus ke depan dengan jemari yang bertautan erat di atas pangkuannya. Napasnya terdengar agak berat. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama seorang Anita—wanita karier tangguh yang terbiasa menghadapi ratusan klien korporasi berskala besar—merasa begitu canggung, gelisah, bahkan dilingkupi rasa bersalah yang teramat sangat.
Mobil itu berbelok memasuki gerbang megah kediaman utama keluarga Raharja di kawasan Menteng. Begitu mesin mobil dimatikan, Anita masih bergeming di kursinya. Rumah ini pernah ia tinggali selama empat tahun sebagai "Nyonya Raharja", tempat di mana ia selalu disambut hangat oleh sosok pria tua yang tulus menyayanginya sebagai cucu menantu. Mengingat bahwa kedatangannya kali ini adalah untuk mengakui bahwa empat tahun kebersamaan itu hanyalah sebuah kebohongan tertulis di atas kertas kontrak membuat perutnya mulas.
"Anita," sebuah suara bariton yang lembut memecah keheningan kabin.
Anita menoleh dan mendapati Alvin sedang menatapnya dengan binar mata yang penuh ketenangan dan pengertian. Sejak mereka meninggalkan gedung kantor, Alvin tidak pernah melepaskan pandangannya dari Anita, menyadari sepenuhnya setiap perubahan gestur wanita di sampingnya.
"Kalau kamu belum siap, kita bisa berputar balik dan kembali lagi besok," ucap Alvin lembut, mengulurkan tangannya untuk mengusap punggung tangan Anita yang dingin.
Anita menggeleng pelan, mencoba menarik senyuman tipis yang tampak sedikit dipaksakan. "Tidak, Vin. Aku harus menyelesaikannya hari ini. Kakek Surya terlalu baik untuk terus dibiarkan dalam kekecewaan. Aku hanya... merasa sangat canggung. Aku tidak tahu bagaimana harus menatap wajah beliau setelah semua dokumen kontrak itu bocor."
Alvin menggenggam jemari Anita, memberikan remasan hangat yang menyalurkan kekuatan besar ke dalam dada wanita itu. "Kamu tidak sendirian, Anita. Aku ada di sini. Aku akan menemanimu melangkah masuk, berdiri di sampingmu di depan Kakek Surya, dan ikut bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi. Ingat, aku juga ikut andil dalam menyembunyikan rencana Mike selama ini."
Tatap mata Alvin yang penuh komitmen dan tanpa keraguan itu perlahan mengikis rasa canggung di hati Anita. Ia menarik napas dalam-dalam, mengangguk mantap, lalu membuka pintu mobil. Mereka berdua berjalan bersisian memasuki kediaman Menteng, dipandu oleh kepala pelayan menuju kamar tidur utama di lantai dua tempat Surya Raharja sedang beristirahat.
Atmosfer di dalam kamar besar bergaya klasik itu terasa begitu sunyi dan melankolis. Surya Raharja bersandar pada tumpukan bantal sutra di ranjangnya, menatap ke luar jendela besar yang menampilkan pemandangan taman dalam yang asri. Wajahnya yang keriput tampak sangat lelah, memikul beban emosional yang berat setelah mengetahui kebenaran tentang cucu tunggalnya.
"Kakek..." suara Anita memecah kesunyian ruangan dengan nada yang sangat pelan dan penuh hormat.
Surya perlahan memutar kepalanya. Begitu matanya yang mulai merabun menangkap sosok Anita yang berjalan masuk bersama Alvin, kilat keterkejutan melintas sesaat di kornea matanya, sebelum akhirnya digantikan oleh pandangan yang teduh namun sarat akan kesedihan.
Anita melangkah mendekati sisi ranjang, lalu berlutut di atas lantai marmer yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan pria tua itu. "Kakek... Anita datang untuk meminta maaf. Anita meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah membohongi Kakek selama empat tahun ini mengenai pernikahan kami."
Surya terdiam cukup lama, memandangi wanita yang selama empat tahun ini ia banggakan sebagai menantu yang mandiri dan anggun. Helaan napas panjang yang berat terdengar dari dada pria tua itu. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, bukan untuk mengusir, melainkan untuk menyentuh pundak Anita, memintanya untuk bangkit.
"Duduklah, Anita... Alvin. Jangan berlutut di sana," suara Surya terdengar parau dan lirih.
Anita bangkit dan duduk di kursi kayu di samping ranjang, sementara Alvin berdiri dengan tegap di belakang kursi Anita, siap menjadi pelindung tak kasat mata bagi wanita yang dicintainya.
"Kakek sudah mendengar penjelasan Mike tadi siang sebelum kalian ke sini," ucap Surya, matanya menerawang menatap langit-langit kamar. "Cucuku yang bodoh itu... dia menceritakan bagaimana dia memaksamu masuk ke dalam kontrak ini untuk melindungi Alisha dari radar Kakek. Apakah... apakah Mike memperlakukanmu dengan buruk selama empat tahun itu, Nak?"
Anita menggeleng dengan cepat, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes di pipinya. "Tidak, Kek. Mike adalah pria yang sangat menghormati wanita. Dia tidak pernah memperlakukanku dengan buruk. Pernikahan kontrak kami murni sebuah kerja sama bisnis yang saling menguntungkan. Mike membantuku membangun firma hukumku sendiri, dan aku membantunya menjaga ruang kosong di hidupnya sampai Alisha dewasa. Tapi... aku tetap merasa bersalah karena telah memanfaatkan kasih sayang tulus yang Kakek berikan kepadaku seolah-olah aku adalah menantu sungguhan."