⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Suara Hana yang tiba-tiba muncul dari balik rak sambil membawa tumpukan buku seketika memutus kontak gaib tersebut. Bersamaan dengan itu, arwah pemuda lebam tadi mendadak memudar dan menghilang kembali ke dalam bayangan rak buku.
Aiko membuka matanya dengan terengah-engah, wajahnya pucat dengan peluh keringat dingin yang membasahi keningnya. Ia menatap Hana yang kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa heran dan cemas.
"A-aku tidak apa-apa, Hana," jawab Aiko terbata-bata, mencoba mengatur napasnya yang memburu pendek. "Hanya... kepalaku mendadak pusing sekali."
Hana meletakkan bukunya dan menyentuh dahi Aiko. "Ya ampun, badanmu dingin sekali, Aiko! Apa ini karena wali barumu yang super ketat itu membuatmu stres? Sebaiknya kita pulang saja sekarang."
Aiko hanya mengangguk lemah. Sambil merapikan barang-barangnya, matanya melirik ke arah luar jendela perpustakaan. Di seberang jalan bawah sana, dua mobil sedan hitam milik pengawal Ren masih terparkir diam menunggunya.
**
Malam hari ketika dua mobil sedan hitam yang mengawal Aiko kembali melewati gerbang besar kediaman Tachibana-gumi. Sepanjang perjalanan pulang dari kampus, Aiko hanya diam membisu di kursi belakang. Denyut di kepalanya perlahan mereda, namun kata-kata arwah pemuda di perpustakaan tadi sore masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinganya.
Pria bermata serigala itu... dia yang memberikan perintah untuk membuang tubuhku ke sungai...!
Aiko melangkah turun dari mobil dengan tubuh yang terasa luar biasa lelah. Ketika pelayan wanita tua di aula depan menawarkan untuk menyiapkan makan malam, Aiko menolaknya dengan halus. Ia memilih untuk langsung melangkah menuju kamar tidur utama di lantai dua.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan Yukata tidur berwarna putih, Aiko tidak langsung merebahkan diri di atas kasur lantainya. Ia malah berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah halaman belakang rumah yang gelap. Gadis itu duduk bersimpuh di atas lantai, memeluk lututnya sendiri sambil menatap kosong ke arah pohon-pohon bambu yang bergoyang pelan ditiup angin malam.
Suasana rumah utama ini terasa jauh lebih mencekam di malam hari. Hawa dingin yang tidak wajar merayap di sela-sela dinding kayu.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam ketika suara gesekan halus dari pintu geser terbuka. Aiko tidak menoleh ia sudah tahu dari langkah kaki yang berat dan tegas itu bahwa Ren telah kembali.
Ren melangkah masuk ke dalam kamar, melepaskan dasi hitam dan dua kancing teratas kemejanya dengan gerakan frustrasi. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap terlihat waspada dan tajam. Pria itu baru saja kembali dari interogasi panjang di wilayah barat untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh pamannya, Kaito.
Ren menghentikan langkahnya saat melihat Aiko yang masih duduk termenung di depan jendela dalam kegelapan, tanpa menyalakan lampu kamar sama sekali.
"Mengapa kau belum tidur?" tanya Ren datar, suaranya yang berat memecah keheningan malam. Ia berjalan menuju meja kerjanya, meletakkan jam tangan dan ponselnya di sana.
Aiko perlahan memutar kepalanya, menatap siluet tubuh Ren yang diterangi oleh cahaya bulan yang samar. "Aku tidak bisa tidur. Udara di rumah ini terlalu dingin."
Ren mendengus pendek, mengendurkan lengan kemejanya yang digulung hingga sebatas siku. "Jika kau tidak terbiasa dengan rumah tua, aku bisa menyuruh Daichi memasang pemanas tambahan besok pagi. Jangan bertingkah seolah-olah aku sedang menyiksamu di sini."
Aiko menurunkan kakinya, membetulkan posisi duduknya menjadi bersimpuh rapi menghadap ke arah Ren. "Ini bukan soal pemanas ruangan, Tuan Tachibana. Hawa dingin di rumah ini tidak berasal dari cuaca luar... tapi dari sesuatu yang tertanam di dalam tanahnya."
Ren mengerutkan alisnya. Ia membalikkan tubuh sepenuhnya, bersandar pada tepi meja kerja sambil bersedekap, menatap Aiko dengan pandangan penuh selidik. "Kau mulai berbicara aneh lagi, Aiko. Daichi memberi tahuku bahwa kau sempat terlihat pucat dan gemetaran di perpustakaan kampus sore tadi. Apa yang sebenarnya terjadi padamu di luar sana?"
Aiko tersenyum tipis. "Aku hanya tidak sengaja memikirkan sesuatu hal yang menarik. Tentang bagaimana sebuah tempat yang indah bisa menyimpan cerita yang begitu mengerikan."
"Jangan berputar-putar," potong Ren tajam, tidak menyukai nada bicara Aiko yang penuh teka-teki. "Katakan saja apa maksudmu."
Aiko terdiam selama beberapa detik, matanya menatap lurus ke arah mata suaminya. "Tuan Tachibana... apakah kau pernah pergi ke dermaga di wilayah barat?"
Pertanyaan itu seketika membuat suasana di dalam kamar berubah drastis. Tubuh Ren menegang, dan tatapan matanya yang semula hanya penuh selidik kini berubah menjadi dingin. Nama tempat yang baru saja diucapkan Aiko bukanlah tempat biasa, itu adalah wilayah privasi tingkat tinggi milik klan Tachibana yang tidak seharusnya diketahui oleh orang luar, apalagi oleh seorang gadis kuliahan seperti Aiko.
Ren melangkah mendekati Aiko. Sebelum Aiko sempat bereaksi, Ren sudah berjongkok di hadapannya, tangan kanannya bergerak cepat mencengkeram rahang Aiko dengan cukup kuat, memaksa gadis itu untuk mendongak menatapnya.
"Dari mana kau mendengar tentang dermaga wilayah barat, Aiko!?" desis Ren dengan nada mengancam, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aiko. membuat napas Aiko terasa sesak. "Kurogawa tidak mungkin tahu tentang tempat itu kecuali mereka memiliki mata-mata di lingkaran dalamku. Katakan padaku, siapa yang memberi tahumu!?"
Meskipun rahangnya terasa sakit akibat cengkeraman tangan Ren, Aiko tidak memperlihatkan rasa takut. Matanya tetap tenang, menatap lurus ke dalam bola mata pria yang kini mengintimidasinya.
"Tidak ada orang hidup yang memberi tahuku, Tuan Tachibana," jawab Aiko dengan suara yang bergetar pelan dan tegas. "Dan ayahku tidak ada hubungannya dengan hal ini."
"Kau pikir aku akan mempercayai omong kosongmu!?" Ren mempererat cengkeramannya, membuat sudut bibir Aiko sedikit meringis. "Tempat itu adalah area tertutup. Siapa pun yang berani mendekat atau mengintip aktivitas kami di sana... tidak akan pernah bisa kembali dengan selamat. Dan kau... kau baru dua hari berada di rumah ini dan tiba-tiba menyebutkan tempat itu dengan begitu mudah?"
"Aku tahu tempat itu karena ada seseorang yang menangis di sana," ucap Aiko pelan. "Seorang pemuda... mengenakan almamater kampus yang sama denganku. Tubuhnya penuh luka lebam, dan dia bilang... pria bermata serigala memberikan perintah untuk membuang tubuhnya yang sudah tidak bernyawa ke dalam sungai."
Ren seketika membeku. Cengkeraman tangannya di rahang Aiko perlahan melonggar.
Kasus pemuda itu terjadi sekitar tiga bulan yang lalu. Seorang mahasiswa sial yang tidak sengaja tersesat ke area dermaga barat saat klan Tachibana sedang melakukan transaksi senjata gelap. Sesuai hukum dunia bawah, anak itu harus dilenyapkan karena telah melihat terlalu banyak. Dan memang benar, Ren sendiri yang memberikan perintah dingin malam itu untuk membuang jasadnya ke sungai agar tidak meninggalkan jejak bagi polisi.
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren