NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status Yang Ketahuan

Tring... tring... tring...

HP Imel bunyi. Cepet dia ngambil benda pipih itu dari tas Hermes miliknya.

Di layar muncul nama "Renaldi".

"Mmmm... ada apa gerangan, kok Renaldi nelpon jam segini," batin Imel.

Tanpa kasih salam, dia langsung nyambar.

"Ada apa, Renal? Bukannya kamu lagi kerja? Kenapa nelpon jam begini?"

"Assalamualaikum, Mbak. Kenapa Mbak bikin status gitu di WA?"

ucap Renaldi dari seberang. Suaranya nahan emosi.

"Sialan, aku lupa nyembunyiin dari Renaldi," batin Imel. Dia panik.

"Halo, Mbak? Halo... Mbak ada di situ kan, Mbaaaak?"

pinta Renaldi. Nadanya naik.

"Ih iya, ada apa sih, Renal?" jawab Imel. Suaranya udah getar takut.

"Jawab, Mbak. Kenapa bikin gitu?" Renaldi agak teriak.

"Emangnya Mbak cuma interaksi sama kamu sama istrimu?

Itu status Mbak buat temen Mbak, kok. Kegeeran banget kamu,"

Imel mulai panik. Dia membela diri.

Gak terima jawaban itu, Renaldi membalas lagi.

"Halah, Mbak. Jujur aja. Status itu buat istri aku, kan, Mbak?"

"Kalau iya kenapa? Emangnya kamu mau ngapain, Mbak, hah?

Kan yang Mbak bilang juga bener. Kalian kerja setengah mati juga

gak ada anak buat nikmatin hasil kerja kalian,"

sambar Imel. Dia gak mau kalah.

"Mbak, ini urusan rumah tangga aku.

Sejak kapan aku ikut campur urusan Mbak?"

Renaldi mulai emosi. Napasnya berat.

"Halah, dasar kamu aja yang bodoh. Bini gak mampu ngasih anak

masih aja dipertahanin. Emangnya pelet apa yang dia kasih ke kamu, hah, Renal?

Renal... Renal, kenapa aku bisa punya adik sebodoh kamu ini?"

ucap Imel. Nadanya nyinyir banget.

"Tut... tut... tut..."

Imel langsung matiin telpon. Gak kasih Renaldi ngomong lagi.

"Mbak... Mbak..." Renaldi teriak ke HP.

Tapi panggilannya udah putus.

Tanpa sepengetahuan Andira, Renaldi juga udah baca status WA Imel.

Dia sampe nelpon Intan buat minta penjelasan.

Tapi Renaldi gak tau kalau istrinya juga udah baca status itu.

"Semoga aja Andira gak baca status itu.

Semoga Imel nyembunyiin dari Andira," batin Renaldi.

Dia berdoa di sela kerjaannya.

Tiba-tiba HP nya bunyi lagi. Kring... kring... kring...

Nama "Sayang" muncul di layar.

"Halo, Sayang. Ada apa?" jawab Renaldi cepet.

"Mas, aku gak enak badan. Bisa jemput aku pulang?"

jawab Andira dari seberang. Suaranya lemas.

"Iya, Sayang. Tunggu ya. Mas jemput sekarang juga,"

pinta Renaldi. Dia langsung grab kunci motor.

Karena kepikiran status WA iparnya, akhirnya Andira sakit kepala.

Pusingnya nyesek banget. Dia minta pulang buat istirahat.

Sampe di rumah, Renaldi langsung gendong istrinya ke kamar.

"Kepalanya pusing banget, Mas," bisik Andira.

Renaldi usap jidat istrinya. "Kenapa, Sayang?

Apa yang kamu pikirin?"

"Gak kenapa-kenapa, Mas," jawab Andira. Dia muter badan.

Renaldi curiga. Dia kenal banget istrinya.

Kalau Andira terlalu mikir sesuatu yang serius, pasti kepalanya sakit.

"Sayang, Mas kenal kamu. Kalau kamu terlalu kepikiran pasti sakit kepala.

Jujur aja. Apa kamu baca status WA Mbak Imel?"

tanya Renaldi pelan. Dia duduk di pinggir kasur.

Andira diem bentar. Terus dia angguk pelan.

"Iya, Mas. Kok Mas tau kalau Mbak Imel bikin status buat aku?"

Renaldi narik napas. "Iya, Mas udah baca.

Bahkan Mas udah telpon minta penjelasan ke Mbak Imel.

Dia menyangkal dulu, abis itu ngaku.

Apa Mas harus jujur ke semua orang biar mereka gak ngepoin kamu terus, Sayang?"

ucap Renaldi sambil buang badan ke sofa. Dia frustasi.

Andira langsung duduk di samping Renaldi.

Dia genggam tangan suaminya erat.

"Jangan, Mas. Biar ini jadi rahasia kita berdua.

Mas gak perlu jelasin apapun ke siapapun.

Yang penting kita berdua sama tau kenyataannya,"

pinta Andira. Matanya berkaca-kaca.

"Aku percaya Tuhan kasih cobaan gak akan ngelewatin batas kemampuan umatnya.

Pasti ada jalan keluarnya, Mas," sambung Andira sambil nyender ke bahu suaminya.

Renaldi diem lama. Dia ngerasain angetnya tangan istrinya.

"Ya udah, kita makan ya. Biar kamu minum obat terus istirahat.

Mas lanjut ke kantor lagi ya, Sayang," ucap Renaldi akhirnya.

Andira ngangguk. Mereka makan bareng seadanya.

Nasi, telur dadar, sama sambel.

Abis makan, Andira minum obat sakit kepala.

Terus dia berbaring di kasur. Renaldi mengambil kain selimut dan menyelimuti istrinya

"Mas jalan ya, Sayang. Semoga cepet sembuh.

Jangan pikirin hal yang bikin kamu sakit,"

ucap Renaldi sambil benerin selimut di tubuh Andira.

Dia ngecup kening istrinya lama.

Andira balas ngecup pipi suaminya. Terus dia cium tangan Renaldi.

"Iya, Mas. Hati-hati ya."

Renaldi senyum tipis. Dia keluar kamar pelan-pelan.

Sebelum nutup pintu, dia noleh lagi. Liat istrinya udah merem.

Di ruang tamu, HP Renaldi bunyi "ting".

Chat dari nomor Imel masuk: "Udah aku blokir kamu, Renal.

Gak usah sok ngatur hidup aku!"

Renaldi cuma baca, terus dia arsipin chat itu.

Dia gak mau bales. Dia gak mau ribut lagi.

Di kantor, Renaldi kerja sambil bengong.

Kepalanya penuh sama kata dokter kemarin. "Bapak yang mandul."

Dia malu. Malu banget. Tapi lebih malu lagi kalo istrinya yang dihina.

Makanya dia ngerti kenapa Andira milih nutupin.

Jam istirahat, Intan nelpon.

"Ndir, kamu udah baikan? Maaf ya aku gak bisa jaga kamu tadi."

Andira jawab lemas, "Udah, Ntan. Makasih ya udah khawatir.

Aku cuma masuk angin aja kok."

Dia bohong lagi. Buat kesekian kalinya.

Biar sahabatnya gak kepikiran. Biar suaminya gak kepancing emosi.

Sore itu Renaldi pulang lebih cepet. Dia bawa bubur ayam.

Favorit Andira kalau lagi sakit.

"Sayang, Mas bawain bubur. Makan dikit ya,"

ucap Renaldi sambil nyuapin.

Andira makan dikit, terus geleng. "Mas, aku udah enakan.

Makasih ya udah jemput, udah jagain aku."

Renaldi pegang tangan istrinya. "Mas gak apa-apa jagain kamu seumur hidup.

Yang Mas gak sanggup liat kamu nangis karena omongan orang."

Andira langsung peluk suaminya. "Mas, janji ya.

Kita hadepin semua ini berdua aja. Gak usah ngelibatin siapa-siapa."

"Iya, Sayang. Janji," bisik Renaldi di kuping istrinya.

Malam itu mereka gak nonton TV.

Mereka cuma duduk di teras. Minum teh anget.

Andira nyender, Renaldi usap-usap rambutnya.

Dari rumah sebelah, kedengeran suara Imel ketawa.

Kayaknya lagi VC sama temen-temennya.

Tapi di teras rumah kecil itu, hening.

Hening yang anget. Karena ada dua orang yang milih saling jagain.

Sebelum tidur, Andira bisik, "Mas, makasih udah gak maksa jelasin ke Mbak Imel."

Renaldi jawab, "Mas yang makasih, Sayang. Udah milih nutupin aib Mas."

Mereka tidur pelukan.

Status Imel masih ada. Hinaan masih bertebaran.

Tapi di antara mereka berdua, ada tembok namanya kepercayaan.

Dan tembok itu lebih kuat dari seribu status jahat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!