NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jebakan singkat di jam 3

Jarum jam dinding di koridor kampus seolah bergerak sengaja diperlambat. Sepanjang sisa jam kuliah, aku sama sekali tidak bisa mencerna materi yang diberikan dosen. Setiap kali menutup mata, bayangan mata hitam Axel yang menatapku dari halaman bawah seakan menembus langsung ke dalam kepalaku. Tatapan yang menguliti, menuntut, dan penuh dengan peringatan tak kasatmata.

Tepat pukul tiga sore, bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Mahasiswa lain bersorak lega, mengemas barang-barang mereka dengan ceria sembari merencanakan agenda nongkrong sore. Sementara bagiku, bel itu adalah lonceng yang menandakan waktu kebebasan diriku telah habis.

"Ai, lo beneran langsung balik? Nggak ikut ngopi dulu di depan? Anak-anak mau bahas kelanjutan hunting foto buat tugas akhir lho," ajak Devan sambil menyampirkan tas ranselnya di sebelah bahu dia berjalan di sampingku saat kami menuruni tangga menuju lantai dasar.

Aku menggeleng lemah, mencoba tersenyum sealami mungkin meski bibirku terasa kaku. "Sori banget Dev. Gue ada... urusan kerjaan yang nggak bisa ditunda, Klien semalam minta laporan cepat."

"Kerjaan apa sih ai? Kok misterius banget sejak semalam? Lo nggak lagi terlibat masalah, kan?" Devan menghentikan langkahnya di tangga terakhir, menatapku lurus dengan gurat cemas yang kentara.

Sebagai teman yang tumbuh bersama di UKM Fotografi, dia tahu betul ritme hidupku yang biasanya transparan.

"Nggak ada Dev gue aman, sumpah. Nanti malam gue kabari lewat grup ya," jawabku buru-buru, memotong kecurigaannya sebelum berkembang menjadi penyelidikan yang lebih jauh.

Begitu kami melangkah keluar dari pintu kaca gedung FISIP, hawa sore kota yang gerah langsung menyergap. Dan di sana, tepat di tempat drop off di mana beberapa dosen dan mahasiswa berlalu-lalang, Bentley hitam mengilat itu sudah terparkir dengan anggun. Pria bersetelan jas hitam yang mengantarku tadi pagi sudah berdiri di samping pintu belakang, menungguku dengan sikap tubuh tegap tanpa ekspresi.

Kehadiran mobil itu kembali memicu bisik-bisik dari beberapa mahasiswa yang lewat. Aku bisa merasakan wajahku memanas karena menjadi pusat perhatian.

"Itu... mobil yang jemput lo?" suara Devan meninggi satu oktaf, matanya membelalak menatap kendaraan mewah tersebut. "Ai, klien macam apa yang mampir ke kampus pakai Bentley buat jemput mahasiswa magang?"

"Gue duluan, Dev!" tanpa menjawab pertanyaannya, aku setengah berlari meninggalkan Devan yang masih terpaku di tempat.

Sopir Axel dengan sigap membukakan pintu belakang begitu aku mendekat. Aku segera melompat masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk ber AC, dan pintu ditutup dengan bunyi klek kedap suara yang berat.

Semua pandangan dan bisikan dari dunia luar seketika lenyap, digantikan oleh aroma kulit mewah dan keheningan yang mencekik.

Mobil mulai melaju perlahan, membelah area parkir kampus dan bergerak menuju jalan raya utama. Aku menyandarkan punggungku ke jok kulit yang empuk, memejamkan mata, dan menghela napas panjang untuk meredakan debaran jantungku yang menggila. Setidaknya, Axel tidak ada di dalam mobil ini, aku punya waktu sekitar tiga puluh menit untuk menenangkan diri sebelum kembali menghadapi pria itu di mansionnya.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan selama lima menit.

Ponsel baru yang diberikan Axel di dalam saku kemejaku mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nomor yang tidak tersimpan, namun aku tahu pasti siapa pemiliknya dengan tangan yang kembali gemetar, aku menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Halo..." jawabku lirih.

"Kau terlambat tiga menit masuk ke dalam mobil."

Suara berat, dingin, dan tanpa emosi itu langsung mengalir lewat speaker ponsel, membuat bulu kudukku meremang seketika.

Axel tidak menyapa, tidak basa-basi. Dia langsung menghitung kesalahanku seolah dia memiliki stopwatch yang memantau setiap detik kehidupanku.

"Ma_maaf, Tuan Axel. Tadi di tangga jalanan agak ramai, dan teman sekelas kusempat menahan ku untuk bertanya soal tugas," aku membela diri dengan suara ketakutan, meremas ujung rok sepanku dengan tangan yang lain.

"Aku tidak suka mendengar alasan,"

 potongnya tajam. "Dan aku melihat pria di sampingmu tadi di tangga. Siapa dia?"

Jantungku seperti berhenti berdetak."Dia melihatnya? Bagaimana bisa? Dia kan sudah pergi dari kampus sejak siang tadi!" batin ku panik

Aku refleks menengok ke jendela belakang, namun mobil ini sudah jauh dari area kampus. Kemudian mataku beralih ke spion tengah, menatap sopir di depan yang tetap fokus mengemudi. Baru aku sadar, sopir ini atau mungkin pengawal lain di sekitar kampus pasti telah melaporkan setiap jengkal pergerakanku secara langsung padanya.

"Dia... Devan, Tuan. Teman satu tim untuk tugas akhir kuliah. Kami hanya bicara soal tugas fotografi," jawabku jujur, takut jika kebohongan kecil akan membuat hukumanku menjadi berat.

Hening sejenak di seberang telepon. Hanya terdengar suara helaan napas Axel yang pelan namun terasa berat dan mengancam.

"Ingat aturan nomor tiga, Aira. Dan ingat statusmu di mansion itu. Kau milikku selama enam bulan ini siapa pun pria yang mencoba mendekatimu, atau siapa pun pria yang kau biarkan berada di dekatmu... berarti sedang menantang otoritas keluarga Reynard." Axel menjeda kalimatnya, nadanya merendah, berubah menjadi bisikan yang lebih ngeri dari ancaman pembunuhan. "Aku bisa membuat teman tim fotografimu itu kehilangan tangannya sebelum dia sempat menyentuh kameranya lagi. Paham?"

"Jangan! Tolong jangan, Tuan Axel! Saya mohon," air mataku nyaris tumpah karena panik. Devan tidak tahu apa-apa, dia hanya teman baik yang mengkhawatirkanku. Aku tidak bisa membiarkan orang lain terluka karena nasib sial yang menimpaku.

"Saya berjanji akan menjaga jarak dari siapa pun. Saya tidak akan bicara dengan dia lagi kalau bukan urusan nilai kuliah. Tolong jangan apa-apakan Devan."

"Tergantung pada kepatuhanmu, Nona Pramesti," ucap Axel dingin, menggunakan nama belakangku dengan penekanan yang aneh seolah nama itu memicu rasa benci yang dalam di hatinya. "Sopirku tidak akan membawamu langsung ke mansion. Datanglah ke Restoran The Emerald di pusat kota sekarang. Aku ada pertemuan bisnis, dan kau harus mendampingiku sebagai pajangan."

"Mendampingi... Anda?" aku tertegun.

"Pakai gaun yang sudah disiapkan di dalam kotak di bawah jok depanmu. Ganti pakaianmu di dalam mobil. Kau punya waktu dua puluh menit sebelum mobil sampai. Jangan membuatku menunggu lagi, atau temanmu yang akan membayar keterlambatanmu."

Pip.

Sambungan telepon diputus secara sepihak. Aku menurunkan ponsel dari telingaku dengan tubuh yang lemas. Di bawah jok depan, aku melihat sebuah kotak beludru hitam berukuran besar yang sebelumnya tidak kuperhatikan.

Dengan panik dan waktu yang terus berjalan, aku mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah gaun malam brokat berwarna merah marun yang sangat elegan, lengkap dengan sepasang sepatu hak tinggi yang senada. Gaun itu tampak sangat mewah, namun warnanya yang merah pekat mengingatkanku pada genangan darah kering di gudang pelabuhan malam itu.

Aku memandang ke depan, ke arah kaca pembatas antara jok belakang dan sopir yang ternyata telah diubah menjadi mode buram, memberikan privasi penuh bagiku untuk mengganti pakaian. Axel telah memikirkan segalanya. Dia menjebakku dalam skenarionya tanpa memberi celah sedikit pun untuk menghindar.

Dengan tangan yang gemetar di dalam mobil yang melaju kencang menembus jalanan kota Sampit, aku mulai melepas kemeja kuliahku dan memakai gaun merah tersebut. Setiap jengkal kain mewah yang menempel di kulitku terasa seperti rantai baru yang mengikatku lebih erat ke dalam dunia gelap Axel Reynard. Dunia di mana aku hanyalah sebuah barang, yang dipelihara untuk sebuah alasan misterius yang belum kupahami sepenuhnya.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!