"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30.Jadi bahan gosip.
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut lewat celah jendela kayu ruang makan, menimpa meja panjang yang ditata rapi dengan hidangan sederhana namun menggugah selera seperti nasi hangat, telur dadar gurih, potongan buah segar, dan dua cangkir teh manis yang masih mengepulkan uap. Udara pagi di rumah peninggalan Kakek Martin terasa sejuk dan segar, membawa aroma tanah basah serta bunga melati yang tumbuh subur di sudut halaman.
Ivy dan Nyonya Lusi duduk berhadapan, senyum tak pernah lepas dari wajah mereka sepanjang waktu. Tidak ada ketegangan, tidak ada rasa cemas menunggu amaran atau tatapan tidak suka seperti dulu. Hanya obrolan ringan dan tawa kecil yang saling bersahutan, menghangatkan setiap sudut ruangan yang dulu terasa sepi itu.
“Mama teringat waktu kau masih kecil, kau selalu berebut memakan potongan mangga paling besar di piring,” ujar Nyonya Lusi sambil tertawa pelan, tangannya mengusap lembut rambut putrinya. “Kau bahkan pernah menyembunyikan mangga di balik punggungmu agar tidak dibagi dengan siapa pun.”
Wajah Ivy memerah padam menahan malu, namun ia ikut tertawa riang. “Itu karena saat itu mangga kesukaanku sangat sedikit, Ma. Lagipula aku kan masih kecil, belum mengerti cara berbagi dengan baik.”
Tawa itu perlahan mereda, saat Ivy tanpa sadar menengadah ke atas. Senyumnya sedikit memudar saat melihat angka yang melayang di sana—bukan lagi delapan puluh seperti beberapa hari lalu, melainkan tujuh puluh tujuh. Angka itu masih bersinar terang, namun ia tahu maknanya jelas: sejak kemarin ia tidak memiliki kesempatan bertemu Rama, tidak ada sentuhan atau kebersamaan yang bisa menambah sisa hidupnya. Waktu terus berjalan, dan detik demi detik perlahan mengurangi kesempatannya untuk tetap bernapas di dunia ini. Namun ia segera menguatkan hati, tidak ingin membiarkan hal itu merusak kebahagiaan pagi ini bersama ibunya.
Saat mereka selesai menyantap sarapan, Nyonya Lusi meletakkan serbet di tepi piring, lalu menatap Ivy dengan sorot mata penuh harapan. “Ivy, ada satu hal lagi yang ingin Mama sampaikan pagi ini. Mama sedang berusaha menghubungi seorang dokter spesialis yang sangat hebat, namanya Dokter Darto. Beliau dikenal dokter bedah saraf terbaik, dan hampir 89% pasien yang memiliki riwayat pasien dengan penyakit yang sama dengan mu, bisa hidup lebih yang di targetkan oleh dokter lain. Mama berharap, dengan bantuan beliau, kita bisa menemukan jalan keluar terbaik untuk kondisi kesehatanmu.”
Mata Ivy melebar sedikit, namun ia segera mengangguk lembut dengan senyum tenang. “Terima kasih banyak, Ma. Aku setuju sepenuhnya. Apa pun yang Mama usahakan, aku akan ikut dan berusaha sekuat tenaga juga.” Ia percaya pada ibunya, dan ia juga tidak akan berhenti berjuang untuk hidupnya sendiri—terutama sekarang, saat hidupnya mulai terasa begitu berharga dan penuh warna.
Baru saja ia hendak berbicara lagi, pandangannya tertuju pada jam dinding di sudut ruangan. Matanya membelalak kaget. “Ya ampun! Ma, aku hampir terlambat! Hari ini adalah hari terakhir aku ke sekolah sebelum upacara kelulusan!”
Dengan tergesa-gesa Ivy berdiri, merapikan seragamnya yang sudah rapi, lalu berpamitan singkat. Nyonya Lusi ikut berdiri, mencium kening putrinya dengan lembut. “Hati-hati di jalan, sayang. Sopir sudah menunggu di depan. Mama menunggumu pulang nanti.”
Ivy berlari kecil menuju mobil yang sudah menyala, hatinya berbunga-bunga penuh semangat. Ia merasa hari ini akan menjadi hari terbaik yang pernah ia lalui semenjak datang ke kota ini—hari di mana ia akan mengenakan selempang lulusan terbaik dan berjalan tegak sebagai kebanggaan dirinya sendiri.
Namun saat mobil berhenti di gerbang sekolah dan ia melangkah masuk, perasaan bahagia itu perlahan digantikan oleh rasa ganjil yang samar. Semua siswa yang berpapasan dengannya menatapnya dengan pandangan yang aneh seperti ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya, ada yang menyeringai sinis, dan ada pula yang tampak kasihan sekilas lalu memalingkan wajah segan.
Ivy mengerutkan kening, namun ia berusaha tenang. Ia tidak ingin berburuk sangka sebelum mengetahui kebenarannya. Dengan langkah tetap tegak dan kepala terangkat, ia berjalan melewati kerumunan menuju kelasnya sendiri, mencoba mengabaikan semua tatapan dan bisikan yang terasa seperti jarum halus menusuk kulitnya.
Baru saja ia duduk di bangku paling belakang, suara bisikan di sekitarnya semakin keras dan mulai terdengar jelas oleh telinganya.
“Lihat saja dia, berjalan seenaknya seolah tidak tahu apa-apa…”
“Benar-benar berani ya, bertunangan dengan pria yang usianya jauh lebih tua darinya. Katanya pengusaha kaya, pasti tujuannya cuma harta kan?”
“Kasihan sekali masa mudanya harus dikorbankan begitu. Apa orang tuanya tidak sayang sama dia sampai mau menikahkannya dengan bujangan tua?”
Setiap kata itu seolah menghantam dada Ivy bertubi-tubi. Ia tahu betul bisikan itu ditujukan padanya. Napasnya memburu, namun ia berusaha menahan amarah agar tidak meledak di tempat. Ia segera berdiri, berjalan menghampiri sekelompok teman sekelasnya yang tadi berbisik paling keras, lalu menatap mereka dengan tatapan tajam namun tenang.
“Maaf, boleh aku tahu… siapa sebenarnya yang kalian maksudkan?” tanyanya dengan suara tegas dan jelas, tidak ada sedikit pun keraguan di sana.
Salah satu gadis yang berdiri di depan menyeringai sinis, menatap Ivy dari atas ke bawah seolah meremehkan. “Kenapa kamu marah begitu? Kalau kamu tidak merasa itu menyinggung dirimu, untuk apa kamu mendekat dan bertanya seperti ini? Jangan-jangan kamu memang merasa bersalah?”
Gadis lain yang berdiri di sampingnya segera mengangkat layar ponselnya, memperlihatkan sebuah postingan di forum resmi sekolah yang sudah dibagikan ribuan kali. “Lihat saja sendiri, ini sudah tersebar ke seluruh angkatan. Tidak usah pura-pura tidak tahu lagi.”
Ivy membaca tulisan itu dengan cepat, dan seketika itu juga dadanya terasa sesak hebat. Bahasa yang digunakan, nada fitnah yang tersirat… ia tidak perlu melihat nama pengirimnya pun sudah tahu siapa pelakunya. Hanya satu orang yang begitu membenci dirinya dan senang menyebarkan berita bohong demi menghancurkan nama baiknya siapa lagi kalau bukan Oliv.
Genggaman tangannya mengepal erat di sisi rok seragam, kuku menancap hingga telapak tangannya terasa nyeri, namun ia tetap menahan emosi agar tidak meluap tanpa kendali. Ia tidak akan membiarkan Oliv menang begitu saja. Dengan langkah yang mantap dan tegas, ia berbalik badan dan berjalan keluar kelas menuju sayap bangunan tempat kelas Oliv berada.
Oliv sialan… batinnya bergumam penuh amarah yang tertahan. Apa hakmu menyebarkan urusan pribadiku dan memutarbalikkan kebenaran di depan semua orang? Kau pikir kau bisa terus menyakitiku tanpa balasan? Hari ini aku akan menuntutmu menjelaskan semuanya.
Ia berjalan cepat menyusuri lorong sekolah yang kini semakin lengang, matanya menatap lurus ke depan dengan tekad yang bulat. Ia harus menemui Oliv, menatap matanya langsung, dan memastikan bahwa kebenaran akhirnya akan terungkap.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉