NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

"Kenapa kamu masih diam, Alana?! Tatap aku!"

Suara Devran bergetar rendah, sarat akan tekanan emosional yang teramat pekat. Pria itu mencengkeram kedua sisi bahu Alana yang kini sudah mengenakan jubah mandi kering setelah tubuhnya dihangatkan.

Di dalam kamar utama yang remang-remang itu, napas Devran memburu, mengembus hangat di atas kening Alana yang masih menyisakan rona kemerahan dari kedekatan mereka sebelumnya.

Alana mencoba memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap mata elang Devran yang malam ini tampak begitu menuntut.

"Lepaskan saya, Devran... Ini sudah larut malam."

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Alana Kirana! Kita sudah melewati batas kontrak kerja itu sejak kamu membiarkan aku mendekapmu tadi!" bentak Devran, suaranya naik satu oktav, mengalahkan deru angin badai yang masih menghantam kaca balkon.

"Lima tahun! Lima tahun aku hidup dalam teka-teki sialan yang kamu buat! Kenapa malam itu... kenapa setelah malam tanggal 12 November itu, kamu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun?!"

"Untuk apa saya tinggal?!" Alana mendadak berteriak balik, matanya yang basah berkilat menantang.

"Untuk melihat Anda menikahi Siska Lorenza?! Untuk menjadi pemuas nafsu sesaat bagi seorang pewaris takhta Adhitama Group yang arogan?! Saya punya harga diri, Devran!"

"Siapa yang mengatakannya padamu?!" Devran mengguncang bahu Alana dengan frustrasi.

"Siapa yang bilang malam itu hanya pemuas nafsu?! Aku mencarimu ke seluruh penjuru Jakarta keesokan harinya, Alana!"

"Aku membatalkan seluruh agenda bisnisku hanya untuk menemukan desainer interior yang tiba-tiba menghilang dari tempat tidurku seperti hantu!"

Alana tertawa sumbang, air matanya mulai meluncur deras melewati pipinya yang pucat.

"Mencari saya? Jangan berbohong, Devran! Siska memperlihatkan foto pertunangan kalian yang sudah direncanakan oleh keluarga besar Anda pagi itu juga!"

"Dia mendatangi kos-kosan saya, melemparkan sekeranjang uang di depan muka saya, dan bilang bahwa Anda sendiri yang menyuruhnya untuk mengusir saya dari proyek restorasi!"

"Dan kamu langsung memercayai ular itu?!" suara Devran terdengar sangat terluka, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol tegang.

"Kamu lebih percaya pada Siska daripada pada pria yang malam itu memelukmu dan membisikkan namanya di telingamu, Alana?! Kamu begitu mudah menyerah pada kita?!"

"Saya tidak punya pilihan, Devran!" tangis Alana akhirnya pecah, dadanya naik turun dengan sesak.

"Saya sendirian! Yatim piatu! Tidak punya kekuasaan apa pun!"

"Sementara Siska mengancam akan menghancurkan karier saya, memenjarakan saya dengan tuduhan palsu jika saya berani mendekati Anda lagi! Dan beberapa minggu kemudian... saya tahu saya hamil."

"Saya mengandung Leo di rahim saya. Anda pikir bagaimana perasaan seorang wanita berumur dua puluh dua tahun yang ketakutan setengah mati di kota kejam ini?!"

Devran tertegun. Cengkeramannya di bahu Alana perlahan melonggar, berubah menjadi usapan lembut yang gemetar.

Sepasang mata elangnya yang biasa memancarkan dominasi mutlak kini tampak berkaca-kaca. "Kamu... mengandung Leo sendirian... di Swiss?"

"Ya! Di Zurich, di sebuah flat kecil yang dingin!" Alana mencengkeram kemeja Devran, menumpahkan seluruh rasa sakit yang dipendamnya selama lima tahun.

"Saya bekerja sampai jam tiga pagi dengan perut buncit demi membayar biaya sewa! Saat Leo lahir dan dokter bilang dia memiliki penyakit sumsum tulang belakang, dunia saya runtuh, Devran!"

"Saya mencari donor ke seluruh Eropa, tapi tidak ada yang cocok! Dan saat itu... seseorang misterius dari Swiss membantu saya, memberikan perlindungan hukum pada Leo..."

"Seseorang misterius... The Old Adhitama?" potong Devran cepat, matanya menyipit tajam, mengingat trik catur khas keluarganya yang dikuasai Leo.

"Katakan padaku, Alana! Siapa pria tua di Swiss yang mengajarimu dan Leo?! Siapa yang berani menghapus seluruh data medis anakku dari server Zurich?!"

Alana menggelengkan kepalanya dengan histeris, air matanya semakin deras mengalir.

"S-Saya tidak bisa mengatakannya. Dia melarang saya. Dia bilang jika Anda tahu, nyawa Leo dan saya akan berada dalam bahaya besar dari musuh-musuh Adhitama yang sebenarnya!"

Devran menangkup wajah Alana dengan kedua tangan kekarnya, memaksa wanita itu menatap lurus ke dalam matanya yang memancarkan keyakinan mutlak.

"Aku adalah penguasa Adhitama saat ini, Alana! Tidak ada satu pun musuh di dunia ini yang bisa menyentuhmu atau Leo selama kalian berada di dalam dekapanku!"

"Katakan padaku kebenarannya, Siapa dia?! Apakah dia... kakek buyutku?!"

Alana menatap wajah Devran yang begitu dekat. Keikhlasan, cinta yang posesif, dan rasa protektif yang luar biasa besar terpancar dari mata pria itu.

Pertahanan Alana benar-benar berada di ambang kehancuran total. Bibirnya yang bergetar perlahan terbuka, bersiap membocorkan rahasia terbesar yang ia bawa dari Swiss.

"Dia... dia adalah...."

DZZZT... KLIK!

Belum sempat Alana menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara dengungan keras terdengar dari arah panel listrik utama mansion.

Dalam sekejap mata, seluruh cahaya lampu tidur temaram di dalam kamar utama mendadak padam. Tidak hanya di kamar itu, gemerlap lampu dari jendela-jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta pun ikut lenyap, menyisakan kegelapan total yang sangat pekat di seluruh penjuru Adhitama Mansion.

"Devran?!" Alana memekik ketakutan, secara refleks langsung merangsek masuk ke dalam pelukan hangat Devran dalam kegelapan.

"Tenang, Alana. Aku di sini," bisik Devran, mendekap tubuh Alana erat-erat dengan insting protektifnya yang langsung siaga. Pria itu menoleh ke arah jendela, matanya mencoba beradaptasi dengan kegelapan.

Mansion mewah seperti Adhitama Mansion memiliki tiga lapis sistem generator listrik cadangan otomatis yang seharusnya menyala dalam waktu kurang dari tiga detik jika terjadi pemadaman masal akibat badai.

Namun, lima detik berlalu... sepuluh detik... keheningan dan kegelapan tetap mencekam, tanpa ada tanda-tanda generator cadangan berfungsi.

"Sial. Ini bukan pemadaman biasa karena badai," desis Devran, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan waspada.

BEEP... BEEP... BEEP...

Tiba-tiba, ponsel khusus milik Devran yang tergeletak di atas meja nakas bergetar hebat, memancarkan cahaya layar biru yang terang di tengah kegelapan. Di atas layarnya, sebuah panggilan masuk tanpa nomor identitas berkedip-kedip.

Devran melepaskan pelukannya dari Alana sesaat untuk meraih ponsel tersebut, lalu menekan tombol jawab dengan gerakan tegas.

"Reno? Kenapa generator cadangan tidak menyala?!"

Namun, suara yang keluar dari pengeras suara ponsel itu bukanlah suara Reno. Melainkan sebuah suara berat, serak, dan sangat berwibawa yang diubah melalui enkripsi siber tingkat tinggi, diiringi oleh suara ketukan bidak catur di atas papan kayu yang terdengar sangat jelas.

"Selamat malam, Devran. Tujuh langkah skakmat dari putra kecilmu di papan catur kemarin sore adalah peringatan pertama dariku agar kamu berhenti menyelidiki masa lalu di Swiss."

Devran seketika membeku, jantungnya berdegup kencang oleh rasa syok yang luar biasa. "Siapa kamu?! Bagaimana bisa kamu meretas jaringan privat mansionku?!"

Suara di seberang telepon tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat familier bagi garis keturunan Adhitama.

"Aku adalah masa lalu yang kamu kira sudah mati, dan aku adalah masa depan yang akan mengambil kembali Leo jika kamu gagal melindunginya malam ini. Selamat bermain dalam kegelapan, Cucuku."

TUT... TUT... TUT...

Panggilan itu terputus sepihak, menyisakan Devran yang berdiri kaku di tengah kegelapan total kamarnya, sementara badai di luar semakin mengamuk dengan kilatan petir yang mendadak menyinari wajah tampannya yang kini dipenuhi oleh kengerian konspirasi terbesar dalam hidupnya.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!