“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Permulaan
" Gimana kamu sudah mempelajari, apa yang saya suruh? " Tanya Adrian di sela makan nya tatapannya mengarah ke Arumi, yang tengah mengaduk-ngaduk minuman yang ia pesan.
" Sudah pak " Sahut Arumi ia menyunggingkan senyuman misteri.
" Baguslah kalau begitu, semoga saja kamu benar-benar bisa diandalkan. Saya berharap banyak dengan mu " Ujar Adrian ia kembali melahap makanan tersebut.
" 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 waktu " Batin Arumi
" Bu Seruni silakan di makan " Ahdi mempersilakan Seruni makan. Saat pesanan yang di pesan Arumi sudah tiba, Arumi tersenyum " Mari pak, terimakasih "
" Sama-sama, Selamat makan "
Adrian menatap lekat wanita yang tengah memakan pesanan nya itu, tetiba sebuah rasa penasaran membuncah dari dadanya.
" Kamu sudah berumah tangga? " Tanya Adrian membuka obrolan.
" Belum pak " Sahut Arumi pelan sembari menyeka bibir nya yang belepotan.
" Bu Seruni masih single?, saya kira ibu sudah ada yang punya secantik ini loh? " Celetuk Ahdi nampak terkejut Arumi tersenyum miring mendengarnya. " 𝘠𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯.. 𝘠𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘈𝘋𝘙𝘐𝘈𝘕! " batin Arumi
" Pak Ahdi bisa saja, saya single kok saya mau fokus kerja. Cari uang untuk Ibu saya di kampung " Sahut Arumi
" Ibu nya di kampung toh?, anak rantau? " Tanya Ahdi yang mengambil alih pembicaraan tersebut. Arumi tersenyum patah mendengar kalimat ' 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘶 ' kalimat tersebut menusuk dadanya, ia kira dahulu ia datang ke kota besar seperti Jakarta akan bahagia.
Namun ironisnya ia menderita dan sekarang, ia terjerat oleh dendam yang membara di hatinya. Arumi menyadarkan dirinya sekarang ia mengangguk lemas
" Ya, saya anak rantau " Sahut Arumi serak suaranya menahan tangis. Mata bawahnya berkendut mendengar nya
" Dari daerah mana? " Tanya Adrian selepas makan membuat Arumi tersenyum
" Sulawesi Selatan Pak " Sahut Arumi
Adrian terdiam mendengar nya, Sulawesi Selatan mengingat kan nya pada wanita itu ' Arumi ' anak yang telah membuat kedua orang tuanya berpisah. Ia mengepal tangannya di bawah meja
" Dari Makassar toh, ternyata Perempuan makassar ternyata. Cantik-cantik ya " Puji Ahdi
" Bapak bisa saja " Sahut Arumi tersipu ia tahu rayuan itu adalah Rayuan lelaki hidung belang.
***
Sementara itu di sebuah perusahaan. Seorang lelaki tampan tidak beranjak sedikitpun kedua matanya dari layar ponsel, ia menanti beberapa pesan dari orang-orang yang mencari wanita yang ia incar.
" Ck!!, kenapa dia bisa-bisanya keluar dari supermarket sih? " Arsya misuh-misuh mendengar kabar Arumi yang keluar dari supermarket. Ia menghampaskan bobot tubuhnya ke kursi kebesarannya, Tetiba pintu ruangannya terbuka lebar
" Bos tidak ke supermarket? " Tanya Deo asisten pribadi nya yang selalu menggantikan tugasnya. Kala ia mengurus supermarket milik keluarga
Sorot mata tajam Arsya langsung menyorot Deo. " Kenapa ngga suka saya disini? " Tudingnya pedas membuat Deo meneguk ludahnya kasar
" Ngga bos saya benar-benar ngga bermaksud seperti itu! " Deo menggeleng kan kepalanya.
" Gimana, Tentang Si Wanita baper itu udah ketemu? " Tanya Arsya mengalihkan topik pembicaraan. Membuat dahi Deo mengerut
" Wanita baper? " Ulang Deo
" Arumi "
" Oh, tentang mbak Arumi saya belum ada informasi apa-apa! "
" DEOOO!!"
***
Selepas dari kantor Adrian pulang ke rumahnya, ia memejamkan matanya yang sedaritadi begitu berat sekali. Untuk di tutup tetiba bayangan Arumi memenuhi benaknya
" Kenapa dia familiar sekali ya? " Tanya Adrian ia memijat pelipisnya mengingat-ngingat siapa kah wanita yang mirip dengan Seruni wanita yang bekerja di kantornya. " Mungkin ada tapi, ngga tahu siapa mungkin bukan dia! " Tegas Adrian
Perbincangan nya dengan Arumi terbayang di otaknya kembali, ia terdiam cukup lama tetiba bibir nya terangkat membuat senyuman licik. " Cantik juga, lekuk tubuh nya — mempesona " Gumam Adrian
Fantasi liar nya menari-nari di pelupuk matanya. Senyuman miring predator terbit seolah siap menelan siapapun