NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 : SENYUM YANG MENUTUP RENCANA TERSEMBUNYI

...BAB 24 ...

...SENYUM YANG MENUTUP RENCANA TERSEMBUNYI...

Keesokan harinya, matahari bersinar terang biasa. Arka datang membawa beberapa makanan cemilan dan buah-buahan segar, langkahnya santai, senyumnya teduh persis seperti hari-hari kemarin. Tidak ada satu pun gerak‑gerik yang berubah. Di dalam rumah pun semuanya tampak sama persis — seolah pembicaraan berat malam sebelumnya tidak pernah terjadi sama sekali.

Bu Kirana menyambut sambil tersenyum lebar. "Ya ampun, datang lagi Nak. Ibu bilang berkali‑kali tidak perlu repot‑repot setiap hari, tapi kamu selalu saja datang. Sungguh, rasanya Ibu seperti punya anak ke dua berkat kehadiranmu."

Arka tersenyum lembut sambil meletakkan barang bawaannya. "Justru saya yang harus berterima kasih, Bu. Di sini rasanya seperti rumah sendiri. Lagian Bapak Aditya butuh teratur minum obat, dan Ibu juga tidak boleh terlalu lelah sendirian mengurus semuanya."

Matanya beralih pelan menatap Alina yang sedang melipat pakaian kering di sudut ruangan, sorotnya melunak seketika — damai sekali, sampai‑sampai hampir terlihat jelas rasa yang selama ini dia simpan rapat‑rapat selama lima tahun mengawasinya dari kejauhan. Arka mendekati Alina. Berdiri di sofa sampingnya Alina yang terduduk sibuk merapikan pakaiannya.

"Kamu pagi‑pagi sudah sibuk sekali, Lin? Jangan dipaksakan kalau badan terasa kurang enak ya. Nanti kalau jatuh sakit, semua bisa repot. Termasuk, aku..." ucapnya pelan di akhir kalimat seolah berbisik, perhatian.

Alina menelan pelan ludahnya, mengangkat wajah sambil tersenyum wajar, sama sekali tanpa kecurigaan.

"Iya, terima kasih banyak Ka. Cuma sedikit saja kok, sebentar lagi juga selesai. Kamu duduk saja dulu sana, sebentar lagi tehnya siap."

Farhan berjalan keluar dari kamar kerja milik Alina yang memang selalu jadi tempat Farhan dan Alina saling membantu dalam menyelesaikan masalah kerjaan. Tangannya memegang berkas tebal, menyapa santai tanpa ada tatapan aneh sedikit pun.

"Pagi, Ka. Pas sekali kamu datang. Kemarin sempat saya cek ulang semua berkas administrasi kamu yang ada di kantor. Wah, rapi sekali semuanya, lengkap semua persyaratannya. Jarang ada klien sedetail kamu."

Arka tersenyum makin lebar. Jantungnya yang sempat berdebar kencang semalaman karena khawatir ketahuan soal jejak alat sadap dan data masa lalunya yang kosong, perlahan kembali tenang sepenuhnya.

"Alhamdulillah kalau begitu, Mas. Saya memang berusaha selalu mengurus semuanya dengan rapi saja. Tidak mau merepotkan banyak pihak."

"Tepat sekali. Nah soal pengurusan surat tanah yang kamu minta bantuan minggu lalu, besok insya Allah sudah bisa diambil. Saya sudah urus sampai selesai, tidak ada kendala apa‑pun. Semua data cocok, aman." ucap Farhan meyakinkan.

Arka mengangguk puas, rasa percaya dirinya kembali memuncak.

"Benar‑benar sangat membantu, Mas Farhan. Saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi."

Dimas berjalan pelan dari arah dapur, membawa minuman di atas nampan, wajahnya tenang‑tenang saja seperti biasa, pendiam persis kesan yang selama ini dia berikan.

"Pagi, Ka Arka. Teh manis hangat." menyodorkannya pada Arka.

Arka menerima sambil tersenyum lebar.

"Waduh, terima kasih banyak ya Dim. Baru pulang beberapa hari dari Madinah tapi sudah sigap sekali membantu di rumah. Ibu Kirana benar‑benar beruntung punya anak sebaik kamu."

Dimas duduk di kursi paling ujung. "Hanya kewajiban anak, Ka. Biasa saja." ucapnya pelan lalu meneguk minumannya setelah mengucap 'bismillah'

"Oh ya, ngomong‑ngomong, kemarin sempat dengar kamu ingin berkunjung ke makam mendiang Ayahmu di daerah Bandung sebentar lagi? Perjalanannya agak jauh dan jalannya kurang bagus, hati‑hati ya. Kalau butuh teman atau kendaraan lebih besar, bilang saja sama saya. Saya siap kapan saja membantu." tawar Arka tiba-tiba.

Seketika itu Alina, Farhan dan Dimas saling berpandangan HANYA sepersekian detik — sangat cepat, sampai mustahil tertangkap mata orang lain. Soal rencana ke makam itu baru saja mereka bicarakan pelan‑pelan sepuluh menit sebelum Arka melangkah masuk pagar. Tidak ada orang luar yang tahu. Sama sekali.

Alina cepat menutupi dengan senyum biasa.

"Iya benar, baru saja kami membahasnya tadi. Kamu memang selalu tahu saja ya hal‑hal kecil di rumah ini, Ka." sindirnya kecil.

Arka sedikit terkejut sendiri karena tidak sengaja kebobolan, lalu segera menutupinya dengan tawa kecil santai.

"Ah cuma kebetulan saja dengar sepintas lalu lewat pagar tadi saat mau masuk. Kebetulan sekali kan?"

"Lihat deh, peka sekali anak ini. Berbeda jauh sama orang lain yang lewat saja tidak peduli. Makanya Ibu makin sayang sama kamu, Nak. Kalau saja Dimas punya kakak laki‑laki, pasti persis seperti dirimu." puji Kirana menghampirinya, untuk menutupi ketegangan Arka.

Arka menunduk malu‑malu, tapi di dalam hatinya menjerit lega luar biasa — mereka benar‑benar tidak curiga apa‑apa.

"Jangan begitu Bu, saya jadi tidak enak hati. Saya cuma berusaha berbuat baik semampu saya saja. Itu pun karena saya juga merasa sudah dianggap keluarga di sini."

Dia beranjak berdiri hendak mengambil gelas kosong di atas rak tinggi. Saat tangannya terulur lurus ke atas, ujung lengan baju panjangnya kembali tertarik naik cukup jauh. Bekas luka panjang memanjang dari pergelangan sampai hampir ke siku kembali terlihat jelas persis seperti kemarin sore.

Mata Dimas sempat meliriknya sebentar, lalu langsung beralih pandang ke wajah Arka dengan datar saja, sama sekali tidak merubah nada bicara.

"Ngomong‑ngomong Ka Arka, kemarin sore sempat lewat depan rumah Bapak Suryo tetangga lama sebelah sana. Beliau sempat bertanya kapan Papa Aditya bisa duduk diluar lagi seperti dulu."

Arka cepat menarik turun lengan bajunya rapat‑rapat, napasnya sempat tertahan sebentar lalu kembali lega saat sadar Dimas sama sekali tidak menyinggung soal lukanya.

"Oh iya ya, Bapak Suryo. Saya juga sempat sapa kemarin. Insya Allah kalau kondisi Bapak sudah makin membaik minggu depan, kita coba bantu dudukkan sebentar di teras ya Bu."

"Aamiin. Iya mudah‑mudahan begitu, Nak." sahut Bu Kirana.

Farhan menutup berkasnya pelan‑pelan di meja keluarga tempat mereka sedang berkumpul.

"Ngomong‑ngomong Ka, kalau nanti ada perubahan data atau tambahan dokumen apa pun, kabari saya kapan saja. Saya siap bantu urus kapan pun. Selama berkasnya ada dan jelas, semuanya pasti aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sedikit pun."

"Siap Mas Farhan. Pasti akan saya kabari. Saya tenang sekali kalau urusan administrasi sudah dipegang sama kamu."

Tak lama kemudian Arka pamit pulang dengan alasan ada urusan mendadak di luar kota. Langkahnya ringan sekali, bahunya terasa jauh lebih enteng dibanding saat dia datang tadi. Begitu suara motornya benar‑benar hilang menjauh, barulah keempatnya saling berpandangan panjang lebar. Nada bicara yang tadinya ceria dan santai seketika berubah rendah dan serius.

Alina mendahului bicara. "Kalian dengar kan tadi? Soal rencana ke makam Ayahnya Dimas. Baru saja kita omongkan di dalam ruangan tertutup. Dia tidak mungkin cuma kebetulan dengar lewat pagar."

"Jelas sekali. Dia masih terus mendengar. Dan lihat responnya tadi saat aku bilang semua berkas lengkap aman. Dia langsung sangat lega, sampai‑sampai lengah sendiri sampai kebobolan bicara hal yang tidak seharusnya dia tahu." ungkap Farhan.

"Dan lukanya. Dia sempat panik saat bajunya terangkat. Tapi lihat responku tadi? Aku pura‑pura buta sama sekali tak melihatnya. Dan itu yang bikin dia tenang kembali. Dia yakin sekali kemarin cuma firasat buruknya saja. Dia yakin 100 % kita sama sekali tidak tahu siapa dia sebenarnya." tambah Dimas tersenyum puas.

Bu Kirana menghela napas panjang sambil mengelus dada.

Ibu masih sulit mempercayai semua ini. Tapi apa yang baru saja terjadi… tidak mungkin dibantah lagi. Dia benar‑benar ada di mana‑mana."

"Justru itulah yang kita mau, Bu. Biarkan dia merasa menang sepenuhnya. Biarkan dia merasa dia satu‑satunya orang paling pintar di sini, yang memegang semua kendali. Semakin dia merasa aman dan percaya diri, semakin banyak dia akan melakukan kesalahan kecil seperti tadi. Satu per satu. Tanpa dia sadari sedikit pun." jelas Farhan.

"Dia mengira keheningan kita artinya kita tidak tahu apa‑apa. Padahal… diamnya kita itulah yang sedang merajut jaring yang perlahan makin mengepal di sekeliling tubuhnya sendiri." Dimas kembali menambahkan ucapan Farhan.

Alina memandang ke arah pagar tempat Arka tadi berdiri.

"Dia pikir, dia yang sedang mengawasi setiap langkah kita. Padahal mulai hari ini… kitalah yang justru sedang mencatat setiap langkah kecilnya. Satu per satu. Tanpa dia sadari sedikit pun." Alina memincingkan kedua matanya. Wajahnya memperlihatkan akal licik cerdik, untuk membalas perlakuan Raka.

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Tidak ada teriakan, tidak ada kemarahan. Hanya ketenangan yang penuh hitungan — persis seperti yang sudah mereka sepakati malam sebelumnya. Arka pergi dengan hati sangat ringan dan penuh keyakinan. Dia sama sekali tidak tahu, pagi itulah hari pertama di mana dia sebenarnya sudah mulai kalah, perlahan tapi pasti.

Bersambung....

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!