NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 — Rumah Ummi dan Abi

Pagi di Jakarta menyambut mereka dengan cuaca yang lebih panas dibanding Bali.

Pesawat yang membawa Jifan dan Diara sudah mendarat sejak beberapa jam lalu, dan kini keduanya sudah kembali ke rumah Syahrezan.

Namun tidak seperti perjalanan sebelumnya, kali ini tidak ada rasa asing yang menyambut.

Hanya kelelahan ringan setelah perjalanan panjang.

Diara masuk ke kamar lebih dulu.

Ia melepas jilbabnya perlahan, lalu duduk di tepi ranjang sambil menghela napas panjang.

“Alhamdulillah…”

Suara itu keluar pelan.

Bukan hanya karena perjalanan selesai, tapi juga karena beberapa hari terakhir terasa… berbeda.

Lebih dekat.

Lebih hangat.

Lebih sulit dijelaskan.

Sementara itu, di kamar sebelah, Jifan juga baru selesai mengganti pakaian.

Ia berdiri sebentar di depan cermin.

Tatapannya kosong, tapi pikirannya tidak.

Bali.

Diara.

Senyum kecil yang tidak sengaja muncul di pikirannya membuatnya menghela napas pelan.

“Harusnya fokus,” gumamnya.

Namun kali ini, bahkan dirinya sendiri tidak terlalu yakin.

Beberapa jam kemudian, setelah sholat Dzuhur, Diara berdiri di depan pintu kamar Jifan.

Ia sudah berganti pakaian rumah yang rapi, menata niatnya dengan sopan.

Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu.

Tok… tok…

Namun sebelum ia sempat mengetuk lagi—

pintu sudah terbuka.

Dan Diara langsung membeku.

“AAAA—!”

Ia refleks mundur satu langkah sambil menutup mata sebentar.

Jifan berdiri di depan pintu.

Tanpa atasan.

Baru saja selesai mandi.

Rambutnya masih sedikit basah.

Air menetes perlahan di bahunya.

“Mas Jifan!!!”

Suara Diara langsung naik satu nada karena kaget.

Jifan justru terlihat santai.

“Kenapa?”

“Kenapa… kenapa Mas tidak pakai baju?!”

Jifan menatap dirinya sendiri sekilas.

Lalu kembali menatap Diara.

“Ini kamar saya.”

Diara langsung kehilangan kata-kata.

“Bukan itu maksudnya…”

Namun Jifan tidak terlihat terganggu sedikit pun.

Bahkan… ada sedikit ekspresi iseng di matanya.

“Kamu mau masuk atau mau berdiri di situ sampai sore?”

Diara langsung panik.

“Aku… aku mau bicara!”

Jifan menyilangkan tangan.

“Bicara apa?”

Diara menatap ke samping, berusaha tidak melihat terlalu lama.

“Aku mau ajak Mas ke rumah orang tuaku sore ini.”

Hening.

Jifan menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk kecil.

“Bisa.”

Seolah tidak terjadi apa-apa tadi.

Namun sebelum Diara pergi, Jifan sedikit mencondongkan badan.

“Dan kamu… terlalu gampang kaget.”

Diara langsung menoleh.

“Mas!!!”

Jifan hanya tersenyum tipis.

Dan itu… cukup membuat Diara semakin panik.

Sore harinya, mereka bersiap pergi ke rumah Kinnas dan Biantara.

Perjalanan tidak terlalu lama.

Diara duduk di samping Jifan di dalam mobil, masih sedikit canggung mengingat kejadian tadi siang.

Sementara Jifan seperti biasa—tenang, tidak menunjukkan apa pun.

Namun kali ini, sesekali ia melirik Diara.

Seolah masih mengingat reaksi kagetnya.

“Mas jangan lihat aku seperti itu,” kata Diara akhirnya.

“Seperti apa?”

“Seperti sedang… menggoda.”

Jifan menatap jalan.

“Aku tidak menggoda.”

Diara menoleh.

“Jelas-jelas tadi Mas—”

“Refleks.”

Diara langsung terdiam.

Dan Jifan… hampir tersenyum lagi.

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan rumah sederhana namun hangat milik Kinnas dan Biantara.

Pintu langsung terbuka.

Kinnas berdiri dengan senyum lebar.

“Diara!”

Diara langsung turun.

“Ummi…”

Mereka berpelukan hangat.

Biantara muncul di belakang dengan ekspresi tegas namun penuh rasa bangga.

“Selamat datang.”

Jifan turun terakhir.

Ia sedikit membungkuk sopan.

“Assalamualaikum, Abi.”

“Waalaikumsalam.”

Suasana rumah langsung terasa hangat.

Berbeda jauh dengan mansion Syahrezan yang besar dan dingin.

Di sini ada suara, ada tawa, ada kehidupan.

Kinnas langsung mengambil alih suasana.

“Masuk, masuk. Kalian capek perjalanan.”

Diara tersenyum.

“Alhamdulillah tidak terlalu capek, Ummi.”

Tidak lama kemudian, Diara memberikan beberapa oleh-oleh yang mereka beli dari Bali.

Diara menyerahkan satu per satu.

“Ini untuk Ummi, Abi…”

Kinnas tersenyum senang.

“MasyaAllah, terima kasih nak.”

Sore berubah menjadi malam.

Setelah berbincang sebentar, Kinnas menyuruh mereka beristirahat di kamar Diara dulu.

“Istirahat dulu sebentar sebelum makan malam ya.”

Di kamar Diara.

Ruangan itu lebih kecil dari kamar hotel, tapi jauh lebih hangat.

Warna lavender mendominasi.

Buku-buku tertata rapi.

Ada foto keluarga di meja kecil.

Jifan masuk dan melihat sekeliling.

“Kamar kamu… berbeda.”

Diara menoleh.

“Berbeda bagaimana?”

“Lebih… hidup.”

Diara tersenyum kecil.

“Karena ini rumah Ummi.”

Jifan duduk di tepi ranjang.

Lalu tanpa peringatan—

ia merebahkan kepala di pangkuan Diara.

Diara langsung kaget.

“Mas?!”

Tangannya refleks berhenti di udara.

Namun Jifan sudah menutup mata.

“Aku mau istirahat sebentar.”

Diara membeku.

“Di pangkuanku?”

“Iya.”

“…kenapa?”

“Capek.”

Jawaban singkat.

Tapi tidak ada niat untuk bangkit.

Diara akhirnya pasrah.

Ia duduk pelan sambil menahan detak jantung yang tidak stabil.

Satu tangannya mulai bermain di ujung selimut.

Sementara yang lain… diam.

Beberapa menit berlalu.

Jifan tidak bergerak.

Napasnya pelan.

Dan Diara tanpa sadar menatapnya lama.

Terlalu lama.

“Mas…”

“Hm?”

“Tidur?”

“Tidak.”

“Kenapa di sini?”

Jifan membuka mata sedikit.

“Nyaman.”

Diara langsung salah tingkah.

“Ini pangkuanku…”

“Iya.”

“…aneh.”

“Tidak.”

Dan untuk pertama kalinya, Diara tidak tahu harus membantah apa.

Malam tiba.

Suara Kinnas memanggil dari luar.

“Makan malam sudah siap!”

Diara langsung berdiri.

“Mas, bangun.”

Jifan duduk pelan.

“Sudah?”

“Iya. Kita dipanggil.”

Mereka turun bersama.

Makanan sudah tersaji di meja.

Sop kulit tahu.

Kari kentang.

Ayam goreng lengkuas.

Sambal terasi.

Semua aroma itu membuat suasana rumah terasa semakin hangat.

Biantara duduk di ujung meja.

“Silakan makan.”

Mereka mulai makan bersama.

Suasana cair.

Hangat.

Di tengah makan, Biantara berbicara.

“Bagaimana proyek Villa Sagara?”

Jifan menaruh sendoknya.

“Berjalan lancar, Abi.”

Biantara mengangguk puas.

“Bagus.”

Kinnas tersenyum lalu menatap Diara.

“Diara…”

“Iya, Ummi?”

“Kamu… sudah ada tanda-tanda hamil?”

Suasana langsung hening sepersekian detik.

Jifan menoleh sedikit.

Tenang.

Tapi jelas.

“Ummi…” ucap Jifan sopan. “Kami masih dalam proses adaptasi.”

Kinnas tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa. Ummi hanya bertanya.”

Diara menunduk.

Namun di dalam hatinya…

ada sesuatu yang terasa berat.

“Bagaimana mungkin…,” pikir Diara.

“…kalau bahkan belum pernah benar-benar disentuh sebagai suami istri.”

Ia tetap diam.

Tersenyum sopan.

Seolah tidak ada apa-apa.

Namun Jifan yang duduk di sampingnya…

tidak mengatakan apa pun.

Hanya matanya sedikit berubah.

Seolah menyimpan sesuatu yang tidak ia ucapkan.

Malam itu, di rumah yang hangat itu…

dua orang yang sudah mulai saling dekat kembali diingatkan oleh satu hal sederhana:

bahwa hubungan mereka masih jauh lebih rumit daripada sekadar perasaan yang mulai tumbuh.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!