Impian Malika menikah dengan Airlangga kandas ketika mendapati dirinya tidur bersama Pradipta, laki-laki asing yang tidak dikenalnya sama sekali. Gara-gara kejadian itu Malika hamil dan akhirnya menikah dengan Pradipta.
Sebagai seorang muslimah yang taat, Malika selalu patuh kepada suaminya.
Namun, apakah dia akan tetap menjadi istri yang taat dan patuh ketika mendapati Pradipta masih menjalin asmara dengan Selina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Kisah Masa Lalu (2)
Bab 29
Malika lebih percaya dengan ucapan Syifa dibandingkan dengan Mama Aisyah. Hal itu karena sang pengasuh selalu menghasut sesuatu yang mempengaruhi pikiran si gadis kecil dan adiknya. Ditambah lagi Syifa bisa menunjukkan kalau ibu mereka memang jahat.
Syifa akan memancing emosi Mama Aisyah yang labil akibat baby blues sindrom pasca melahirkan Alkhaf. Wanita itu selalu bisa mengambil kesempatan kapan dia menyakiti Aisyah secara psikis dan mencelakakan tanpa menyentuhnya, cukup membuat jebakan.
Namun, ketika terlihat ada ada Malika atau Adzam, maka Syifa akan berperan menjadi orang yang terzalimi dan dicelakakan oleh Mama Aisyah. Makanya semakin bencilah Malika kepada ibunya yang dianggap sudah menjadi seperti seorang monster.
"Papa, Mama kembali berbuat jahat hari ini kepada kita dan Tante Syifa," ucap Malika begitu sang ayah baru pulang kerja. Gadis kecil itu mengadukan semua perbuatan Mama Aisyah kepada Papa Andromeda.
Mendengar ucapan putrinya Papa Andromeda merasa heran. Karena dia tahu istrinya tidak akan melakukan hal itu.
"Mana mungkin mama berbuat jahat. Kalau mama galak sama Kakak mungkin Kakak sudah melakukan kenakalan. Itu bukan jahat, tetapi rasa perduli karena sayang sama Kakak," jelas Papa Andromeda sambil memangku Malika di pangkuannya.
"Tidak, Papa!" batah Malika. "Jika Mama sayang sama aku dan Adzam tidak akan memarahi kita. Pastinya akan bicara lemah lembut seperti Tante Syifa."
Papa Andromeda terdiam. Belakangan ini Mama Aisyah jadi suka marah-marah. Sosok istri yang lemah lembut terkadang manja hilang entah ke mana. Katanya sang istri mengalami baby blues, jadi emosinya labil.
"Katanya Mama sedang sakit jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa," lanjut Malika. Dia meminta Alkhaf untuk diasuh oleh Syifa karena ibu mereka dianggap bisa saja mencelakainya.
"Bukan sakit jiwa, Sayang. Mama hanya lelah, makanya sudah sering papa bilang jangan buat mama pusing dan kelelahan," balas Papa Andromeda berharap anaknya tidak salah paham.
"Mama mendorong Tante Syifa sampai jatuh tersungkur ke lantai. Lalu, memaki-maki Adzam sampai menangis. Mama juga memarahi kakak," ujar gadis kecil yang rambutnya di ikat satu.
"Masa Aisyah melakukan perbuatan jahat seperti itu?" batin Papa Andromeda.
"Saya punya beberapa rekaman bagaimana jahatnya Bu Aisyah," ucap Syifa yang datang tiba-tiba. Wanita itu memberikan handphone miliknya yang merekam kejadian di mana terlihat Mama Aisyah mendorong Syifa.
Di video kedua, Mama Aisyah berhadapan dengan Adzam yang menangis tergugu. Awalnya Papa Andromeda tidak percaya pada ucapan Malika. Dia menganggap kalau putrinya itu sudah salah paham. Jadi, menasehatinya dan menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya.
***
Ketika naik ke lantai dua, Malika mendengar suara teriakan Mama Aisyah dari kamar orang tuanya. Rupanya pintu kamar tidak tertutup sempurna.
Mama Aisyah marah karena Papa Andromeda lebih percaya kepada Syifa hanya karena ada bukti video. Karena kejadian sebenarnya tidak seperti itu.
Tadi, ketika Mama Aisyah lewat hendak mengajak Malika untuk belajar, Syifa mencoba mencegahnya. Sebagai seorang ibu, Mama Aisyah ingin anaknya selalu disiplin. Tahu kapan waktu belajar dan kapan waktu bermain. Namun, seharian ini dia perhatikan putrinya terus bermain. Hari-hari sebelumnya juga jadwal belajar menjadi kacau.
Ketika tangan Mama Aisyah ditahan oleh Syifa, di menghempaskan agar terlepas. Namun, Syifa malah pura-pura jatuh. Tentu saja Mama Aisyah mengejeknya, orang itu yang menarik tangannya malah dia sendiri yang jatuh.
Ternyata itu adalah skenario yang sengaja dibuat oleh Syifa. Karena dia sedang membuat rekaman. Kebetulan di sana tidak tersorot oleh kamera CCTV.
Syifa bukanlah orang bodoh. Dia salah satu mahasiswa yang pandai ketika di kampus, dahulu. Sayangnya otak cerdasnya digunakan untuk suatu kejahatan.
Malika yang mendengar bentakan ibunya kepada sang ayah membuat dia semakin benci kepadanya. Karena dia sangat sayang kepada Papa Andromeda.
***
"Tahu tidak kenapa Mama Aisyah suka memarahi Kak Malika?" tanya Syifa ketika mereka sedang duduk di halaman belakang.
"Kenapa?" tanya Malika penasaran.
"Karena Kak Malika itu anak haram," jawab Syifa dengan berbisik.
"Anak haram?" ulang Malika yang belum paham, tetapi dalam pikirannya itu sesuatu yang buruk. Karena ada kata haram.
"Anak yang dikandung sebelum menikah. Mama Aisyah hamil terlebih dahulu, baru nikah," jelas Syifa dengan tatapan tajam.
"Wanita yang hamil di luar nikah, kan, wanita yang tidak benar atau disebut wanita nakal," lanjut Syifa.
"Anak haram itu tidak bernasab kepada ayahnya. Jadi, jika menikah nanti wali nikah tidak bisa sama ayahnya, harus sama orang lain," tambah wanita berjilbab instan itu terus mencekoki pikiran Malika.
"Anak haram juga tidak akan mendapatkan warisan dari orang tuanya. Pokoknya anak haram itu sangat hina!" Syifa terus ngoceh membuat diri Malika merasa rendah.
Malika terdiam. Dia merasa dirugikan karena terlahir menjadi anak haram. Semua itu gara-gara Mama Aisyah. Jika bisa memilih gadis kecil itu tidak mau menjadi anaknya.
Syifa tersenyum licik. Dia bisa melihat pancaran sinar mata Malika yang penuh kebencian. Inilah yang dia inginkan. Menghancurkan hidup Mama Aisyah melalui anak dan suaminya.
***
Pagi hari ketika matahari sedang hangat-hangatnya, Mama Aisyah berjemur bersama Alkhaf di halaman belakang. Malika dan Adzam bermain bola tidak jauh darinya. Wanita itu memerhatikan kedua anaknya yang sedang kejar-kejaran memperebutkan bola untuk masuk ke gawang lawan.
Malika menoleh dan melihat ibunya menakar Syifa. Tentu saja dia terkejut.
"Goooool! Goooool!" teriak Adzam senang.
Malika mengalihkan perhatian kepada adiknya sejenak karena dia sudah lengah sehingga gawangnya kebobolan. Suara teriakan Mama Aisyah kembali mengalihkan perhatian gadis kecil itu.
" Mama! Alkhaf!" teriak Malika melihat pemandangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
***
"Pembunuh! Pembunuh!" teriak Malika kepada ibunya yang duduk terdiam dengan wajah datar.
Alkhaf meninggal karena ketimpa tubuh ibunya. Tulang lehernya patah.
Semua tamu yang melayat dibuat terkejut oleh teriakan Malika. Mereka tahu alasan kenapa bayi itu meninggal.
"Aku benci Mama!" jerit Malika. "Dasar pembunuh!"
Menteri—ibu Rania dan Rayyan—mencoba menenangkan Malika. Dia tidak tahu kenapa gadis kecil itu bisa mengatakan hal begitu.
Mama Aisyah tidak berdaya dalam pelukan ibu mertuanya. Air mata wanita itu sudah habis sejak kejadian di halaman belakang tadi pagi.
"Adzam jangan dekat-dekat Mama. Nanti kamu akan dibunuh juga olehnya," ucap Malika ketika melihat Adzam memeluk Mama Aisyah.
Adzam jadi ketakutan. Dia pun melepaskan pelukan itu dan menjauh dari ibunya. Lalu, dia memilih duduk di pangkuan Syifa di samping kakaknya.
***
Di bawah ini cerita versi Mama Aisyah di novel Adzam.
"Kamu ke Amerika bersama siapa?" tanya William.
Tubuh Aisyah menegang saat mendengar pertanyaan dari laki-laki bule yang pernah beberapa kali bertemu dengannya sejak masih remaja dulu. Wanita ini tahu betul siapa William, karena sering datang ke rumah kakaknya sewaktu masih hidup dulu, dan juga pernah beberapa kali ke rumah orang tuanya juga. Terakhir mereka bertemu adalah saat ada acara di keluarga Hakim.
"Andro, mana?" lanjut William bertanya.
"A–ku …."
"Dia datang ke Amerika bersama dengan keluargaku."
"Alex!" William terkejut saat melihat salah satu kerabatnya, atau bisa dibilang cucu dari kakak kedua dia.
"Assalamualaikum, Kakek Willy," salam Alex mengingatkan laki-laki yang terpaut 1 tahun darinya.
"Wa'alaikumsalam," balas William sambil tertawa.
"Kok, Aisyah datang bersama kamu ke Amerika? Ada acara apa?" tanya William lagi.
"Acara apa, ya? Mungkin penculikan? Tapi bisa juga bukan," jawab Alex menggoda laki-laki yang sering membuatnya kesal dan jengkel semenjak masih pakai diapers.
"Apa? Untuk apa kamu menculik Aisyah? Apa Cantika tahu kamu membawa istrinya Andro?" tanya William bertubi-tubi sambil memicingkan mata.
"Lah, ini ide Cantika sendiri. Aku hanya ikut membantunya saja. Sekalian membuat pelajaran untuk si Andro," jawab Alex santai dan William melongo.
Bilqis hanya mendengarkan dan memperhatikan suami dan saudaranya itu. Dirinya sering tidak mengerti dengan jalan pikiran keluarga William. Otak dia sering tidak kesampaian dengan perbuatan, ucapan, dan pikiran mereka.
Sementara itu, Aisyah hanya menunduk memainkan ujung jilbabnya. Hati dan pikirannya kembali terlempar pada ingatan satu setengah bulan yang lalu.
"Memangnya apa yang diperbuat oleh si Andro sampai Cantika membawa kabur Aisyah?" tanya William.
"Ya, perbuatan dia mengingatkan aku akan perbuatan kamu dulu, Kakek Willy," jawab Alex dengan tatapan serius.
Tubuh William menegang saat melihat sorot mata Alex seperti itu. Dulu di mana dia hampir mati di hajar habis-habisan oleh Fatih dan baru juga bisa membuka mata, giliran Alex yang menghajarnya sampai koma.
"Kenapa?" tanya William dengan suara yang bergetar.
"Se–mua itu salahku," kata Aisyah mencicit dan wajahnya pucat.
Bilqis langsung memeluk Aisyah dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya. William dan Alex merasa iba pada wanita yang menangis menahan rasa pilu.
William membawa Aisyah ke mansion milik keluarga Green. Bilqis memberi minuman teh herbal untuk menenangkan perasaan tamunya.
Cantika pun datang ke sana setelah di telpon oleh Alex. Dikarenakan saat ini mereka sedang berada di mansion depan milik William, jadi wanita itu cepat datang.
"Sejak kapan kalian tinggal di mansion itu?" tanya William dengan kesal karena baru tahu ada Alex dan Cantika sedang berada di mansion tempat peninggalan kakaknya.
"Sekitar satu Minggu ini," jawab Cantika sambil memberikan sapu tangan kepada Aisyah.
"Tahu ada kalian di sana aku titipkan dulu Bilqis," sahut William.
"Aku juga tidak tahu kamu ada di sini. Aku kira kamu sedang berada di Kanada bersama anak-anak," balas Alex.
"Aku ada perlu di kantor pusat. Malah dapat tambahan masalah dengan perusahaan yang ada di beberapa negara Eropa akibat krisis ekonomi global," ucap William.
"O-iya, kenapa dengan si Andro?" tanya William lanjut.
"I–tu, sebaiknya Aisyah yang cerita. Tapi kita tidak boleh memaksa jika dia tidak mau bercerita," tutur Cantika.
"Aku sudah bisa cerita sekarang. Terima kasih untuk perhatian kalian semua," balas Aisyah.
"Kemarin aku sempat depresi atas meninggalnya putra bungsuku," lanjut Aisyah menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Semenjak aku melahirkan anak ketiga, aku merasa ada yang berubah dalam diriku. Aku mudah marah, tersinggung, dan tidak merasa percaya diri. Apalagi berat tubuh aku tidak bisa kembali ke ukuran semula. Aku merasa kalau sudah berubah jelek dan ada ketakutan Mas Andro akan pergi meninggalkan aku. Pikiran negatif terus saja memenuhi otak ini. Meski aku selalu berusaha berpikir positif dan melakukan hal yang bisa mengalihkan perasaan dan pikiran itu. Ternyata perubahan yang aku alami itu Dokter bilang karena baby blues sindrom," jelas Aisyah.
William membenarkan perubahan fisik Aisyah yang kini jauh sekali ukurannya dengan sosok dalam ingatan dia. Dulu tubuh Aisyah itu layaknya tubuh artis Asia Timur, kurus, putih, dan pipi agak chubby. Namun, kini berbadan besar, bahkan lebih besar dari Bilqis yang sedang hamil anak kembar.
"Karena aku juga harus memperhatikan kedua anak aku yang lainnya. Mas Andro menyewa baby sitter untuk membantu aku dalam mengurus anak kami yang bayi. Ternyata wanita itu suka menggoda suamiku, maka aku pun memecatnya. Kejadian ini terus berulang, setiap baby sitter yang kami pekerjakan itu sering menggoda Mas Andro," lanjut Aisyah. Wanita itu menarik napas dengan panjang dan mengeluarkan lewat mulut seakan ingin mengeluarkan beban yang sedang dia rasakan saat ini.
"Setahu aku Andro begitu bucin sama kamu. Sampai-sampai di handphone kamu tidak ada satu pun kontak laki-laki," kata William yang sempat mendengar hal ini langsung dari orangnya.
"Iya, Mas Andro juga bilang kalau aku sudah cemburu buta dan dia merasa tidak tertarik sama para baby sitter itu. Namun, tujuh bulan yang lalu datang baby sitter baru, seorang perempuan cantik yang bernama Syifa, ternyata dulunya adalah mahasiswi yang dibimbing oleh Mas Andro. Dia itu sangat licik dan pintar berkilah. Bahkan dia sering berbuat sesuatu yang seolah-olah aku berbuat jahat kepadanya dan bilang aku berhalusinasi, agar Mas Andro sangsi dengan ucapan dan pengakuanku. Awal aku bertengkar besar dengan suamiku adalah ketika Kang Syakir mengantarkan Syakila ke rumah. Padahal dia cuma mengantar calon adik ipar aku itu, tetapi Mas Andro menuduh aku berselingkuh dengan Kang Syakir." Aisyah menyeka air mata yang masih terus keluar dari netranya.
Keempat orang lainnya mendengarkan dengan seksama. Baru kali ini Aisyah mau berbicara dan menceritakan apa yang sudah menimpa dirinya.
Kemudian belakangan aku baru tahu kalau Syifa yang diam-diam memotret aku dan Kang Syakir. Aku marah kepadanya dan memecatnya, tetapi Mas Andro tetap bersikukuh mempekerjakan dia. Sampai suatu hari aku sedang meninabobokan anakku sambil melihat Malika dan Adzam bermain di halaman samping rumah. Syifa tiba saja datang sambil mual-mual, lalu tersenyum meremehkan dan menghina aku," lanjut Aisyah.
"Aku menyuruh dia istirahat atau pulang dulu ke rumahnya sampai sembuh. Lalu, dia bilang kepada aku tidak mau berpisah dengan Mas Andro. Aku tiba-tiba saja merasa emosi dan menampar dia. Ternyata Syifa membalas tamparan dan mendorong aku sampai terjatuh terguling di tangga," tambah Aisyah.
Ada beberapa anak tangga jika akan masuk ke teras rumah. Posisi Aisyah saat itu berdiri di dekat anak tangga. Dia yang sedang menggendong anaknya terguling dan posisi Aisyah menindih bayinya dan kepala sang anak tertimpa badan dia yang besar. Ternyata Malika melihat saat ibunya menampar Syifa. Anak kecil itu berpikir kalau Aisyah sudah berbuat jahat kepada pengasuh adiknya itu. Sejak itu sang putri bilang benci kepada ibunya. Aisyah yang sudah kehilangan putra bungsu, dibenci oleh putrinya, dan suami hanya diam mengabaikan dirinya.
Saking depresi Aisyah pun menyerahkan diri kepada polisi karena merasa sudah membunuh putranya. Namun, kedua mertuanya meminta polisi untuk tidak memproses laporannya, karena itu hanya kecelakakan tidak disengaja.
Dunia Aisyah kembali terasa hancur untuk kedua kalinya. Suami dan anak-anaknya serasa menjauh dan membiarkan dirinya berada dalam kegelapan. Sampai datang Cantika dan membawa Aisyah atas izin kedua mertua wanita itu dan tanpa sepengetahuan Andromeda. Di sini dia akan melakukan pengobatan untuk memulihkan psikis dan fisiknya.
William menangis tergugu, dia memang laki-laki yang mudah menangis. Nonton drakor saja dia bisa menangis. Apalagi ini mengingatkan dirinya yang kehilangan putra kesayangan, kakak kandung, dan anak angkatnya karena kebodohan dirinya.
"Aku tidak pernah menyalahkan kematian putra kita kepadamu, Aisyah!" Andromeda berdiri di depan pintu dengan penampilan yang kusut.
***
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan kedatangan Andromeda. Laki-laki itu berlari lalu memeluk Aisyah dengan erat. Seakan takut istrinya itu pergi jauh lagi.
"Kenapa kamu pergi meninggalkan aku?" tanya Andromeda berbisik di dekat telinga Aisyah.
Perasaan wanita itu saat ini merasa senang, sedih, dan takut. Dalam hati kecil dia juga merasa sangat rindu kepada sang suami yang sudah bersama dengannya beberapa tahun ini.
"Anak-anak mencari kamu. Mereka merindukan kamu, Sayang." Andromeda menelusupkan wajahnya di leher Aisyah.
Suara tangis Aisyah semakin terdengar pilu. Dia juga sangat merindukan kedua anaknya, Malika dan Adzam.
"Aku seperti orang gila mencarimu kesana-kemari dan semua orang bilang tidak tahu keberadaan kamu." Andromeda menengadahkan wajah sang istri dan ditelisiknya secara seksama. Dilihat semua bagian yang ada di wajah Aisyah, lalu menciuminya dengan lembut.
"Pamer," celetuk Alex. Balasan untuk Andromeda yang biasanya selalu mengomentari dirinya jika sedang bersama Cantika.
"Sayang," bisik Cantika memberi kode untuk diam.
'Huh, rasakan kau Andro! Sekarang tahu bagaimana rasanya jauh dari istri. Apa kedepannya kamu akan mengolok-olok aku yang tidak bisa jauh dari Cantika,' batin Alex yang masih merasa kesal kepada sepupu istrinya itu.
Bukan hanya Aisyah dan Andromeda yang menangis di sana, begitu juga dengan William. Laki-laki itu masih saja bersedih atas kematian anak Aisyah yang masih bayi. Dia tahu betul bagaimana rasa kehilangan anak yang disayangi dan dicintai oleh kita.
Bilqis memberikan pelukan kepada suaminya, agar lebih tenang. Wanita itu juga mengingatkan kalau mereka akan mempunyai dua orang bayi beberapa bulan lagi.
Andromeda meminta maaf kepada semuanya karena sudah merepotkan mereka. Dia juga menerima tawaran Alex untuk mengobati Aisyah di rumah sakit milik keluarga Anderson yang lebih lengkap fasilitasnya dibandingkan dengan rumah sakit milik keluarga Green. Selian itu ada Angkasa, anak sulung Cantika dan Alex yang bisa memantau perkembangan Aisyah nantinya.
"Kamu harus jaga baik-baik istrimu. Jangan sampai kamu lepaskan dia, karena nanti akan berakhir dengan kesedihan dan penderitaan," ucap William kepada Andromeda. Laki-laki itu sudah pernah merasakannya dan butuh waktu yang lama untuk merelakan dan menerima takdir yang dihadapi olehnya.
"Ya. Aku akan menjadikan perjalanan hidupmu sebagai pelajaran berharga bagi aku," balas Andromeda.
Sebenarnya William dan Andromeda tidak begitu dekat secara pribadi. Mereka saling kenal keluarga Cantika dan Alex yang menjadi penghubung mereka. Kedua bisa bertemu jika ada acara yang diadakan oleh keluarga itu.
"Bagus. Apalagi kalian masih punya dua anak yang harus dididik, diayomi, dibesarkan, dan diarahkan agar bisa jadi kebanggaan kalian," ujar laki-laki berlensa biru langit itu sambil menepuk bahu.
"Selama Aisyah di sini untuk menjalani pengobatan, Malika dan Adzam bisa dibawa ke sini atau dititipkan sama orang tua kalian," tambah Cantika.
"Kedua orang tuaku yang akan mengurus mereka selama kita di sini," ujar Andromeda.
"Sebaiknya kamu pulang ke Indonesia. Bukannya keadaan perusahaan sedang goyah karena imbas dari krisis ekonomi global ini!" titah Cantika.
"Iya, itu benar. Bukannya selama ini kamu sedang memperjuangkan perusahaan agar para karyawan kamu tidak kehilangan sumber penghasilan mereka," ujar Alex.
"Tapi …." Andromeda merasa berat jika harus berpisah lagi dengan sang istri.
"Mas, aku akan berusaha cepat sembuh dan pulang ke rumah," kata Aisyah dengan tatapan hangat dan senyum lembut.
Andromeda sangat enggan sekali meninggalkan Aisyah di Amerika. Namun, dia juga tidak bisa melepas tanggung jawab dia agar para karyawan di perusahaan miliknya tidak kehilangan pekerjaan mereka.
"Percayakan Aisyah kepada kami. Aku untuk saat ini akan di sini, kebetulan Fatih dan Mentari sedang berada di Kanada menjaga anak-anak," tukas William.
Aisyah meyakinkan Andromeda kalau dia akan baik-baik saja dan segera pulang ke Indonesia. Meski dengan berat hati akhirnya, laki-laki itu memberikan izin kepadanya.
"William, aku titip dan percayakan istriku kepadamu," ucap Andromeda.
"Ya. Kamu jaga saja kedua anakmu dan beri mereka pengertian. Apalagi putrimu yang sudah salah paham kepada ibunya," balas William.
Aisyah tidak sampai dua bulan di Amerika. Pemulihan dirinya jauh lebih cepat dari perkiraan semua orang. Tekad ingin cepat sembuh agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya adalah kunci kesembuhan itu. Keluarga Andromeda semua datang ke Amerika. Mereka sangat senang sekali saat melihat secara langsung keadaan wanita itu.
Baik psikis dan tubuh Aisyah kini sudah kembali dalam keadaan seperti semula. Betapa bahagianya mereka semua bisa berkumpul bersama kembali.
"Mama, maafkan kakak," ucap gadis kecil itu sambil menangis dalam pelukan ibunya.
"Sama-sama, Sayang. Mama juga minta maaf sama kalian." Aisyah memeluk erat Malika dan Adzam.
Semua orang yang ada di sana merasa terharu melihat pertemuan keluarga itu yang sudah lama berpisah. Venus dan Sakti—orang tua Andromeda—mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga Anderson dan Green dalam membantu proses penyembuhan Aisyah.
"Suatu hari izinkan keluarga kami untuk menjaga dan melindungi keluarga kalian," kata Andromeda kepada William.
"Ya, aku berharap kalau anak kita bisa mempererat hubungan keluarga kita di masa yang akan datang," balas William dengan senyum tipisnya.
"Bagaimana kalau anak kita jodohkan saja?" Andromeda memberikan usul.
"Bilqis mengandung sepasang anak kembar yang diperkirakan laki-laki dan perempuan," pungkas William masih ragu-ragu.
"Bagus kalau begitu. Aku jodohkan Adzam dengan putrimu itu," lanjut Andromeda.
Kedua keluarga itu setuju untuk menjodohkan Adzam dengan bayi yang masih ada di dalam perut Bilqis. Mereka berharap keduanya benar-benar bisa berjodoh.
***
karna dia satu satunya pria yg menyentuhmu
lagian suami mu tidak bersalah
💪💪 update thorrr 😍😍
Di novel nya mama Reni
Ayok Malika bangkit cari orang yng menyebabkan Misha nggak ada , jangan2 Selina dan ibu mertua mu pelaku nya , atau Syifa sdh beraksi 😠😠😠
Duh koq bisa mereka keracunan