NovelToon NovelToon
Alvaro'S Diary

Alvaro'S Diary

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Trauma masa lalu / Slice of Life
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wèizhī

Alvaro Ardiwinata adalah seorang remaja berusia 16 tahun yang terlahir dari keluarga kaya. Namun, meskipun hidup dalam kemewahan, dia merasa tidak pernah menjadi bagian dari keluarga tersebut. Dia lebih dianggap sebagai "anak pelayan" oleh kedua orangtuanya, Jhon dan Santi Ardiwinata. Setiap kesalahan, besar atau kecil, selalu berujung pada hukuman fisik. Meskipun ia berusaha menarik perhatian orang tuanya, mereka tidak peduli padanya, selalu lebih memperhatikan adiknya, Violet. Violet yang selalu mendapat kasih sayang dan perhatian lebih, tapi di balik itu ada rasa iri yang mendalam terhadap Alvaro.

Sementara itu, Alvaro berusaha menjalani hidupnya, tapi luka psikologis yang ia alami semakin mendalam. Saat ia beranjak dewasa, ia merasa semakin terasingkan. Tetapi di balik penderitaan itu, ada harapan dan usaha untuk menemukan siapa dirinya dan apakah hidup ini masih memiliki makna bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wèizhī, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

“Sialan!!! Gintara pasti dibalik semua ini!“ Geram Bhram dengan ekspresi kesalnya.

“Ini membuatku gila. Fyuh~” Bhram mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

“Tuan. Lima menit lagi akan diadakan rapat dengan para pemegang saham” seru Ares.

“Ya. Ares, suruh orang bawah untuk melakukan sesuatu pada Alvaro, si sialan itu” titah Bhram yang kemudian ia membetulkan dasi nya.

“Maaf? Bukankah dulu Anda yang menolak membunuh nya?“ Tanya Ares bingung.

“Mati atau tidak, itu sudah tak berarti lagi bagiku. Anak itu… memang seharusnya dibunuh saja dengan orangtua nya!“ Ucap Bhram yang lalu ia berlalu pergi menuju ruang rapat.

—-

“Flashdisk ini, bagaimana cara menggunakannya? Tak ada laptop ataupun komputer disini…” gumam Alvaro bingung.

Saat ini ada sebuah flashdisk ditangannya. Alvaro menemukannya tergeletak disela tangga di kediaman Ardiwinata.

“Atau, aku kembalikan saja sama kak Violet, ya… pasti ini punya dia” lanjutnya, karena seingatnya, saat itu hanya ada dirinya dan Violet yang berada si kediaman.

Ceklek!

Grep!

Sebuah pelukan Alvaro dapat dari arah belakang. Karena terkejut, ia langsung menoleh kearah pelaku. Angga tersenyum manis dan menduselkan wajahnya pada wajah Alvaro dengan gemas.

“Baby lagi apa?“ Tanya nya.

“Kirain siapa… ini bang, Al nemu flashdisk di kediaman, udah lama sih. Mau dikembaliin, tapi…” Alvaro tak lanjut berbicara, ekspresi yang awalnya nampak biasa saja, kini berubah murung.

“Tapi takut? Emang isinya apa?“ Tanya Angga sembari ia mengusap wajah sang adik.

“Gatau” jawab Alvaro menggelengkan kepalanya perlahan.

Angga mengambil flashdisk ditangan Alvaro, lalu ia menelisik nya. Saat semakin diperhatiin, ada sebuah pola yang tak asing menurutnya. Pola bulan sabit.

“Abang mau liat ah isinya. Tapi nanti. Sekarang ke bawah yuk. Bang Xavier merajuk tuh” ajak Angga yang ingat akan tujuan awalnya.

Tujuannya datang ke kamar Alvaro adalah untuk mengajaknya kebawah dan masalah Xavier yang terlihat murung setelah dari kamar Alvaro.

“Hah? Emangnya bang Xav kenapa?“ Tanya Alvaro penasaran.

“Katanya adek cuekin dia tadi” jawab Angga.

“Abang gak kesini, ah. Tadi Al lagi ngotak-atik jam tangan” ucap Alvaro

“Pantes. Adek gak sadar akan keberadaannya, bang Xav pasti sedih banget” seolah memprovokasi, Angga berkata demikian.

“Yaudah yuk kebawah. Al pengen buat teh susu” ucap Alvaro yang lalu menggandeng tangan Angga.

“Dibuatin ama maid aja. Adek sama abang ke ruang keluarga”

Alvaro hanya mengangguk, dan berjalan beriringan dengan Angga.

Di ruang keluarga, tampak Ayah Samuel yang tengah sibuk dengan laptopnya, Bunda Lily yang sibuk menonton drakor, dan Xavier yang sibuk pada buku nya.

Alvaro berjalan santai melewati orangtua nya dan berakhir duduk disamping Xavier. Abangnya itu sadar, hanya saja pura-pura tak peduli.

Alvaro menatap heran Xavier. Tak biasa Xavier diam, yah, walau sebenarnya memang sudah banyak diam. Alvaro hendak berbicara, tapi seorang maid datang membawakannya teh susu yang ia sempat pesan.

“Tuan muda, ini teh susu Anda” ucapnya yang lalu menyimpan teh susu Alvaro diatas meja kecil.

“Iya, terimakasih, bi” ucap Alvaro dengan senyuman manisnya.

“Baby! Sini, abang pangku” seru Angga yang sudah duduk di karpet bulu.

Alvaro sontak langsung duduk diatas pangkuan Angga. Xavier sempat melirik terkejut, ia menggenggam bukunya dengan perasaan kesal.

“Baby, mau cemilan gak?“ Tanya Bunda Lily.

“Nggak, bund. Al cuma duduk disini aja, udah itu ke kamar lagi” tolak Alvaro halus.

“Loh? Kenapa?“ Tanya Bunda Lily dengan ekspresi sedihnya.

Alvaro melirik kearah Xavier, dan lalu ia kembali memandang sang Bunda.

“Gakpapa, kok” jawab Alvaro dengan senyuman nya.

“Gak biasanya” gumam Bunda Lily merasa heran.

Alvaro mengambil cangkir berisi teh susu nya. Ia teguk perlahan sambil matanya mencuri pandang kearah Xavier.

“Kenapa, ya…?“ Batinnya bertanya-tanya dengan heran.

Saat matanya fokus pada Xavier, tanpa sadar teh panas yang ia pegang, tumpah dan mengenai tangannya. Namun Alvaro tampak biasa saja, tak merasa sakit atau panas sedikit pun. Sampai akhirnya Angga dan Ayah Samuel bersuara.

“Baby!!“ Seru mereka bersamaan dengan terkejut, Alvaro pun ikut terkejut.

Xavier sontak langsung menoleh kearah Alvaro. Matanya membola dan lalu ia langsung mendekati sang adik.

“Sshhh…” ringis Alvaro saat ia sadar akan sensasi panas membakar di tangannya.

“Kenapa melamun? Teh nya masih panas” Ayah Samuel dengan panik menggelung baju lengan Alvaro.

Bunda Lily langsung pergi mengambil kotak obat dan sebuah air. “Dek, sini abang tiup dulu” ucap Angga yang lalu meniup pelan tangan Alvaro.

“Dek…” Xavier tampak shock, ia memang sadar bahwa Alvaro terus memandangnya. Tapi ia tak tahu Alvaro akan melamun dengan tanpa sadar membuat teh susu yang masih panas itu tumpah.

“Bang Xav, kenapa?“ Tanya Alvaro dengan wajah polosnya.

“Kenapa apanya?! Adek luka, kenapa ceroboh banget. Tehnya masih panas!“ Seru Xavier dengan nada penuh kekhawatiran.

“Hmm… ini sih kecil, di diemin juga sembuh” ucap Alvaro enteng.

“Apanya yang kecil? Tak ada yang namanya luka kecil, Baby!“ Ucap Ayah Samuel menolak penuturan dari sang anak.

Bunda Lily datang dengan membawa baskom kecil berisi air, dan kotak obat. Langsung saja dia membasuh lengan Alvaro dan mengelapnya dengan tisu. Setelahnya Bunda Lily dengan telaten mengobati luka Alvaro dengan salep.

“Tapi ini kecil. Kan biasanya juga Al dapet” ucap Alvaro santai.

Alvaro tak mengerti akan luka nya. Yang ia tahu, semua luka ini adalah hal biasa baginya. Walau memiliki trauma, mendapat luka bukanlah pemicu nya. Menurutnya semua luka sama saja.

Mendengar penuturan dari Alvaro. Membuat Gintara shock ringan, sisanya shock berat.

“Baby, kau tak bisa seperti ini… luka itu, semuanya menyakitkan” gumam Xavier menundukkan kepalanya. Entah kenapa, ia merasa bersalah.

Xavier pikir, ini disebabkan olehnya yang membuat Alvaro gagal fokus.

“Huh? Gak faham, ah” ucap Alvaro menggeleng ringan.

“Huft… sudahlah. Baby, lain kali berhati-hati lah. Luka nya ringan, hanya saja akan terasa sedikit perih. Jangan memegang cangkir berisi air panas terlalu lama dalam kondisi melamun. Lagipun, melamun tak baik.“ Nasihat Bunda Lily berikan pada sang anak dengan suara lembutnya. Alvaro hanya mengangguk saja.

“Baby… abang, minta maaf” ucap Xavier.

“Loh? Kan salah Al, bang. Tadi pegang cangkirnya gak bener. Malah ngelamun liatin abang” ucap Alvaro.

“Ya makanya abang minta maaf. Secara gak langsung, abang udah bikin adek luka” ucap Xavier.

“Makanya! Jangan sok-sokan cuekin adek. Pas gini malah nyesel” ucap Angga dan membuat Xavier semakin tertunduk lesu.

“Sudah, sudah. Jangan pada ribut, lebih baik adek istirahat saja.“ Lerai Ayah Samuel.

“Bang. Al mau gendong” ucap Alvaro merentangkan tangannya didepan Xavier.

Xavier termenung sebentar sampai akhirnya ia tersenyum tipis dan mulai menggendong bayi kecilnya.

“Dih, kok gak minta abang sih?!“ Tanya Angga tak rela.

“Udah bang, Al ngantuk” ucap Alvaro tak serius menanggapi.

“Ihh! Adek jahat ah!“ Teriak Angga dramatis.

—-

End of Chapter 24

—-

Hallo guys. Maaf ya, mungkin ini gak nyambung atau gimana. Tapi aku gamau lama-lama bikin alur. Rencana mau bikin sampe 40 bab untuk cerita ini.

Jujur, saya juga baru pertama kali bikin cerita novel yang panjang kek gini. Biasanya baru nyampe bab 3 udah gak kulanjut. Hehe~.

Makasih ya buat kalian yang udah baca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan juga…. Jangan lupa kasih gift ya~.

Jika ada kata yang typo, mohon maklum ya. Soalnya saya bikin ceritanya selalu malam sebelum tidur, jadi kurang fokus sama ketikan di keyboard.

Sebentar lagi lebaran, bagi THR nya dong, dengan kasih like, komen positif, dan jika bisa kasih gift juga~~ ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

So, sekali lagi, terimakasih banyak~~.(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧

1
Unknown
Halo guys. terimakasih mau nyempetin baca karya ku ini. mungkin masih banyak kurangnya dalam beberapa hal, tapi aku usahain ceritanya agar tetap seru. sekali lagi terimakasih sudah mampir. and tinggalkan jejak, oky?! ~
Hebe
Saya enggak sabar untuk membaca kelanjutannya thor!
Izuku_Uzumaki
Gak nyangka bisa ketawa terbahak-bahak saat baca ini😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!