Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.
Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.
Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.
Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran dari Sang Penguasa
"A-aku aku uhuk uhuk uhuk uhh uhhh... ", suara Nyai Rampet terputus-putus karena nafasnya yang juga tersengal-sengal. Rasa nyeri bercampur sakit di punggung kirinya membuat perempuan cantik ini sampai kesulitan berbicara.
Gadis muda berbaju hijau muda dengan rambut panjang ini memperhatikan keadaan Nyai Rampet dan menemukan sebuah pisau belati kecil menancap di punggung kirinya. Segera ia membantu Nyai Rampet untuk duduk di sebuah tempat duduk dari batang kayu besar yang rata atasnya.
Segera ia memeriksa luka di punggung kiri Nyai Rampet. Matanya melebar kala melihat luka yang ada. Sekitar ujung pisau belati kecil itu muncul guratan-guratan berwarna hijau kehitam-hitaman. Jelas bahwa luka ini beracun.
"Darimana kau mendapat luka ini, Kangmbok Rampet?", tanya perempuan muda ini sembari memperhatikan dengan seksama luka itu.
" A-aku baru bertarung me-melawan seorang pendekar berbaju wulung ( biru kehitaman), Selasih..
Bukan aku saja tapi juga kakang Lowo Ijo. Uhuk uhuk uhuk, te.. tetapi kemampuan Si Iblis Wulung ini benar-benar luar biasa. Kakang Lowo Ijo saja mati di tangannya. Dan yang ah yang lebih menakutkan adalah dia menguasai Ajian Tapak Wisa dengan sangat sempurna uhuk uhuk uhuk.. ", tutur Nyai Rampet yang membuat perempuan muda berbaju hijau muda bernama Selasih itu kaget setengah mati.
" A-ajian Tapak Wi-sa???!!", Nyai Rampet mengangguk cepat mengiyakan apa yang dikatakan oleh Selasih adik seperguruannya.
"Itu adalah ilmu andalan Guru kita Dewi Upas, Kangmbok. Bagaimana mungkin ada orang lain yang bisa menguasainya? ", tanya Selasih penuh heran.
" Awalnya aku juga sulit untuk percaya, tetapi luka beracun di tangan kanan Kakang Lowo Ijo adalah bukti tak terbantahkan lagi, Selasih uhuk uhuk...
Kita semua tahu bahwa murid guru Dewi Upas hanyalah kita Tujuh Anak Racun. Dan jika ada orang lain yang menguasai Ajian Tapak Wisa pastilah dari kita bertujuh. Tetapi guru Dewi Upas juga memiliki seorang kakak seperguruan yang juga menguasai Ajian Tapak Wisa dengan sangat sempurna bahkan lebih sempurna dibanding dengan milik guru", Nyai Rampet menghela nafasnya dalam-dalam.
"Jadi orang berpakaian wulung itu pasti adalah murid kakak seperguruan guru, Selasih... Dia pasti murid Dewi Segala Racun, Nyai Rengganis.. ", lanjut Nyai Rampet kemudian.
Selasih terkejut dengan apa yang dia dengar. Bukan, rahasia lagi jika Dewi Upas gurunya memiliki dendam dengan Nyai Rengganis Sang Dewi Segala Racun saat keduanya masih menjadi murid Ki Mahesa Tamping Si Manusia Racun, di Lembah Seribu Bunga. Keduanya sama-sama dididik oleh Mahesa Tamping dengan kadar pengajaran yang serupa tetapi Nyai Rengganis lah yang mampu menguasai ilmu racun Mahesa Tamping dengan sempurna. Ini membuat Dewi Upas iri hati dan akhirnya berhasil melukai Nyai Rengganis dengan bantuan beberapa orang pendekar.
Nyai Rengganis kemudian seolah menghilang di telan bumi usai kejadian di Lembah Sungai Wulayu itu, membuat semua orang telah mengira bahwa ia sudah tiada saking lamanya tak kelihatan. Tetapi kemunculan si pendekar berpakaian wulung yang berhasil melukai Nyai Rampet ini menjadi bukti bahwa Nini Rengganis mungkin masih hidup. Jika itu yang terjadi, besar kemungkinan bahwa ia akan membalas dendam pada Dewi Upas yang pernah melukainya dengan sangat parah.
"Kalau begitu, kita harus secepatnya mengabari guru Kangmbok Rampet. Juga saudari saudari kita yang lain. Masalah ini juga menyangkut tentang masa depan Perguruan Racun Kembang.
Mari kangmbok, kita masuk ke dalam. Aku akan mengobati luka mu ini sebelum mengirimkan merpati surat ke tempat semedi guru".
Dengan bantuan Selasih, Nyai Rampet berjalan masuk ke dalam tempat itu. Meskipun dengan sedikit terseok-seok, perempuan cantik berbaju merah menyala ini sedikit bisa menarik nafas lega. Terbersit harapan indah di hatinya bahwa ia akan segera terlepas dari siksa rasa sakit akibat pisau belati kecil milik Si Iblis Wulung.
*****
Para prajurit yang berjaga-jaga di depan gerbang istana Lodaya, langsung menghormat pada rombongan kecil Putri Rara Larasati begitu mereka sampai disana.
Dengan segera, mereka memasuki pendopo agung Istana Lodaya dimana sang penguasa Kerajaan Lodaya yang bergelar Bhre Lodaya Singhawardhana berada.
Diatas singgasana Kerajaan Lodaya, seorang laki-laki paruh baya dengan tubuh gempal berambut gondrong berombak mengenakan sebuah mahkota indah bertabur permata, duduk sambil mengusap kumis tebalnya.
Lelaki paruh baya berdandan selayaknya seorang bangsawan inilah Bhre Lodaya, Singhawardhana. Meskipun ia hanya seorang raja bawahan dari Kemaharajaan Majapahit, Singhawardhana sesungguhnya masih kerabat dekat dengan penguasa Majapahit saat ini, Prabu Stri Suhita. Di katakan bahwasanya Singhawardhana adalah Singhawardhana kedua karena pemilik gelar sebelumnya adalah ayahnya yang menjadi raja bawahan di Daha. Dia bisa duduk sebagai raja Lodaya setelah menikahi saudara jauhnya Dyah Chandradewi, ibu Rara Larasati.
Saat ini Singhawardhana sedang dalam kesulitan karena adiknya yang ia bawa dari Daha, Singhakerta memberontak melawan nya. Dia sedang mencari cara terbaik untuk secepatnya bisa memadamkan pemberontakan tersebut. Saat melihat kemunculan Rara Larasati, wajah buruk Bhre Lodaya langsung berubah. Seutas senyuman manis terukir jelas di wajah Singhawardhana.
"Putri ku Larasati, kau sudah kembali cah ayu.. ", sambut Singhawardhana segera. Penguasa kerajaan Lodaya itu sampai berdiri dari singgasana nya.
" Sembah bakti hamba Kanjeng Romo ", ucap Rara Larasati dengan penuh hormat.
" Bangunlah anak ku. Romo bersyukur kau bisa pulang ke Lodaya dengan selamat. Maafkan Romo yang terpaksa harus menyuruh mu berangkat ke Daha agar kakek mu mau ikut campur menghadapi pemberontakan paman mu", sambut Bhre Lodaya segera.
"Kekuasaan Kanjeng Eyang memang telah berakhir tetapi beliau sudah memerintahkan agar Paman Bhre Daha untuk membantu kita. Paman juga geram dengan sikap Paman Singhakerta yang hanya putra seorang selir tetapi berani menginginkan kekuasaan yang bukan hak nya", ucap Rara Larasati yang membuat Bhre Lodaya langsung tersenyum puas.
"Bagus, kau pasti sudah bekerja keras untuk meyakinkan Kakang Singhamurti agar ia turun tangan.
Tumenggung Dandang Pengaron, kau sudah berjasa besar untuk melindungi keselamatan putri ku selama perjalanan ini. Sesudah perang ini berakhir, aku pasti akan memberikan hadiah besar atas kerja keras mu", Bhre Lodaya mengalihkan perhatiannya pada Tumenggung Dandang Pengaron yang duduk di belakang Rara Larasati.
"Hamba merasa tidak berhak atas hadiah itu, Sinuwun. Hamba gagal membawa pulang para prajurit pengawal dengan selamat. Bahkan jika tidak ada bantuan dari pendekar Mahesa Sura, mungkin Gusti Putri Rara Larasati pun tak terselamatkan dari kejaran Jaran Guyang dan para pengikutnya", lapor Tumenggung Dandang Pengaron sembari memberi hormat pada Bhre Lodaya.
Hemmmmmmmm...
"Dimanakah orang yang berjasa itu, Tumenggung Dandang Pengaron? ", Bhre Lodaya melihat belakang Tumenggung Dandang Pengaron yang hanya duduk Mantri Mpu Teja sang penasehat kerajaan.
" Orang nya masih ada di luar, Gusti Bhre. Dia sedikit aneh karena tidak suka dengan pejabat. Gusti Putri Rara Larasati bisa memintanya untuk menjadi pengawal perjalanan pulang dengan iming-iming uang yang banyak
Dia orang nya berilmu tinggi namun tegas dan kejam. Tak peduli lelaki atau perempuan, selama itu dianggap mengganggu pasti akan dihajar habis-habisan olehnya ", lanjut Tumenggung Dandang Pengaron jujur.
Mendengar jawaban Tumenggung Dandang Pengaron ini, Singhawardhana Baru Lodaya terdiam sejenak. Dia memang sedang membutuhkan bantuan dari para jagoan dunia persilatan untuk memadamkan pemberontakan Singhakerta. Dan sepertinya Mahesa Sura adalah orang yang tepat untuk ia gunakan sebagai pelaksana tugas yang ingin ia lakukan.
"Panggil orang itu kemari, Tumenggung Dandang Pengaron. Aku ingin bicara dengan nya", titah raja Lodaya itu segera.
" Sendiko dawuh Gusti Bhre... "
Usai berkata demikian, Tumenggung Dandang Pengaron segera menyembah sebelum keluar dari pendopo paseban agung Istana Lodaya. Tak berapa lama waktu berselang, Tumenggung Dandang Pengaron kembali dengan seorang pemuda berparas tampan dengan pakaian warna biru gelap.
"Kau yang bernama Mahesa Sura? ", tanya sang penguasa kerajaan Lodaya segera setelah mereka duduk bersila di lantai balai paseban agung.
" Benar, hamba Mahesa Sura. Kalau boleh tahu, hal apa gerangan yang membuat paduka baginda raja memanggil hamba kemari? ", rupa-rupanya sisa-sisa sopan santun berbicara seperti bangsawan masih diingat oleh Mahesa Sura dengan baik.
" Apa kau tertarik untuk bergabung dengan keprajuritan Lodaya? "
Mendengar tawaran Bhre Lodaya ini, Mahesa Sura langsung menggelengkan kepalanya sembari berkata,
"Maaf Baginda raja. Saya tidak tertarik.. "
Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
SMG upnya jgn di tunda trs