Genre : Fantasi, Fantasi-Isekai, Action, Harem, Romance, Adventure, Reinkarnasi, Isekai, Magic, Demon, Royal.
[On Going]
- Bagian 1 — Isekai Slime - 27 Chapter
- Bagian 2 — Princess and Princess - ?
- Sinopsis -
Setelah bertahun-tahun dibully oleh orang-orang kaya, Sion akhirnya mencapai batas kesabarannya. Dengan amarah yang telah lama dipendam, ia meluapkan segala emosinya tanpa peduli pada konsekuensinya.
Namun, kepuasan itu hanya sesaat. Pada akhirnya, Sion memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri—tanpa penyesalan sedikit pun.
Tapi tak seperti kebanyakan orang, kematiannya bukanlah akhir. Ia terlahir kembali di dunia lain.
Akankah Sion berjuang untuk mencapai puncak? Tetap menjadi korban? Atau justru berbalik menjadi sosok yang menindas?
- Untuk jumlah kata ga full 1k yah gaes, kadang cuma 800 atau bisa aja lebih sampai 1,5k kalau benar-benar niat. Kalau agak sibuk yahh, antara 1k atau 800+ doang.
- Up-nya yah suka-suka aku wkwk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Badai Gelap Terlihat
[Jura Bastie—Pahlawan PoV]
Sial! Sial! Sial!
Pria brengsek itu selalu saja mendekati Nona Devolica, seharusnya dia menjadi milikku! Bukan bersama orang rendahan sepertinya!
Hanya sampah yang bahkan mana-nya tidak terasa, apa yang sebenernya hebat darinya! Aku jauh lebih baik dari itu. Mengesalkan, aku pasti akan memisahkan orang itu dari Nona Devolica!
Hahahahaa! Ini membuatku gila!
Ruang tengah kerajaan.
Aku dipanggil oleh Raja, untuk membicarakan beberapa hal. Yang pertama tentu saja tentang keamanan wilayah kerajaan Fronshen. Dan juga tentang pergerakan kerajaan lainnya.
"Jadi kira-kira itu yang bisa saya sampaikan, Yang Mulia."
"Ada satu lagi yang ingin kutanyakan, Tuan Pahlawan."
"Apa itu, Yang Mulia?"
"Akhir-akhir ini ada aktivitas monster dari hutan didekat tebing. Apa kau mengetahui soal itu?"
"Saya rasa tidak, saya tidak merasakan apa-apa dari sana."
"Kemungkinan akan berbahaya, jadi aku ingin kau pergi menyelidiki hutan itu. Sekalian bawa juga Leon Valencia."
Membawa pria itu! Aku tidak selemah itu sampai memperlukan bantuannya!
Ah—Tunggu sebentar.
Bagaimana jika dia kubunuh saja dihutan! Tinggal membuatnya seakan-akan dibunuh monster, kan! Ghahahaha! Aku memang Pahlawan jenius.
Leon Valencia! Aku akan menyingkirkan orang itu. Aku ingin melihat wajah putus asanya itu, aku ingin melihatnya berteriak kesakitan! Aku akan merobek-robek wajahnya itu!
Ah sial, ini akan membuatku gila.
Setelah menerima tugas itu, aku langsung saja menemui Leon Valencia, yang sedang bersama dua wanitanya. Mengesalkan, saat dia mati nanti, akulah yang akan memakai kedua wanita itu!
"Leon, bisa bicara sebentar?"
Ia menoleh, setelah kedua wanitanya itu mengangguk akhirnya ia bicara. "Baiklah."
Kami mengambil tempat yang cukup sepi, yaitu ruangan milikku. Setidaknya tidak ada siapapun yang akan masuk.
"Aku ingin kau membantuku untuk mengawasi pergerakan monster dihutan disebelah utara kerajaan."
"Langsung ke inti yah. Kenapa aku harus melakukannya?"
"Ini adalah perintah Raja."
"Apa tidak bisa ditolak? Aku tidak memiliki kewajiban untuk melakukan itu, kan. Aku disini sebagai tunangan Devolica, bukan untuk membantu kerajaan ini."
"Apa yang kau bicarakan! Dengan menjadi tunangannya seharusnya kau meminjamkan kekuatan untuk membantu kerajaan ini, kan!"
"Mungkin benar. Tapi aku mendapatkannya dengan memenangkan turnamen, kan. Ini bukannya pertunangan yang dilakukan untuk kerajaan."
Wajahnya itu, benar-benar seperti tidak perduli sama sekali. Membuatku semakin kesal!
"Kalau sudah tidak ada lagi, aku akan pergi saja."
"Tunggu!"
Ia berbalik, melihat dari balik bahunya.
"Kemungkinan monster itu cukup kuat, dan juga memiliki batu sihir yang mahal. Aku tau kau mungkin tidak tergiur dengan uang. Tapi, bagaimana dengan kekuatan?"
"Apa maksudmu?" Ia kembali menghadapku.
"Batu sihir, jika digunakan dengan benar itu akan sangat berguna. Terutama jika batu sihir yang dipakai adalah, batu sihir yang kuat."
"Jadi singkatnya, aku bisa mendapatkan keuntungan dengan ikut membantumu?"
"Ya, begitu. Jangan khawatir, selama ada aku, monster itu tidak akan bisa berbuat apa-apa."
Yah, monster memang tidak akan berbuat apa-apa, tapi akulah yang akan membunuhmu! Manusia rendahan, sadarilah tempatmu. Aku akan membuatmu sadar tentang kekuranganmu.
Setelahnya kamj menyiapkan perlengkapan kami masing-masing, banyak hal yang harus kusiapkan karena melawan monster disana juga tidak semudah itu. Ada kemungkinan monster disana berada di tingkat yang tinggi.
Percuma saja kalau aku berhasil membunuhnya, tapi malah terbunuh oleh monster.
...---...
[Sion PoV]
Aku sudah membicarakannya kepada Lise dan Liana, kalau aku akan ikut dengan Pahlawan itu. Memang menyebalkan, tapi yang dikatakannya tidak salah. Bahkan Liana juga telah mengakui,
kalau batu sihir itu berguna.
Dengan adanya itu, aku bisa meningkatkan kekuatanku. Hanya karena sudah berhasil mendapatkan Lise, bukan berarti aku jadi yang terkuat, kan.
Kekuatan masih diperlukan. Aku sudah menyiapkan beberapa hal tidak penting, lebih tepatnya tidak menyiapkan apapun. Aku tidak terlalu nyaman mengenangkan pakaian kesatria atau apapun itu.
Karena itu hanya akan membatasi pergerakanku saat menggunakan peringan. Kelihatannya pertarungan jarak dekat akan sering terjadi, aku tidak bisa terlalu mengandalkan sihir. Noriutsuru juga tidak berkerja untuk melawan monster tanpa wujud manusia.
Satu-satunya pilihan hanyalah mengandalkan Amplifier dengan pedang. Sebaiknya juga jangan gegabah menggunakan Guil Arc, itu bukanlah kemampuan yang bisa dipakai seenaknya.
Setelahnya aku keluar, lalu mengikuti Pahlawan itu. Dibelakang Lise dan Liana hanya melambaikan tangan mereka dengan senyuman menawan.
Hutan yang disebut Helheim. Hutan dimana pergerakan monster sangat diwaspadai, karena memang mereka sekuat itu.
Jujur saja, aku tidak mempercayai Pahlawan itu sama sekali. Dia bisa saja mencoba melakukan sesuatu yang merugikanku. Karena itulah, sampai hal itu terjadi, aku harus lebih meningkatkan kewaspadaanku.
Setelah dua hari menaiki kereta kuda, kami akhirnya sampai ke hutan itu. Memang pantas diwaspadai, aku merasakan banyak niat membunuh disini.
"Tetap waspada, kita tidak tahu kapan para monster akan menyerang," ucapnya.
"Bukankah kita hanya perlu mengawasi?"
"Kau lihat sendiri, kan. Mereka sudah bergerak, jika tidak melawan akan berbahaya bagi kita."
Benar saja, beberapa monster mulai keluar dari semak-semak dan menyerang kami. "Amplifier."
Krankk—!
Dengan pedangnya Pahlawan berhasil menangkis serangan dari monster itu.
Kelihatannya monster itu adalah goblin, meski belum pernah melihatnya, tapi dari bentuknya itu saja sudah jelas. Badan berwarna hijau, sedikit gemuk diperut. Mata berwarna merah menyala dengan gigi runcing yang tajam.
Nampaknya benar-benar tidak semudah itu mendapatkan batu sihir yah.
Baiklah, mari mulai.
"Wind Booster."
Wushh—!
Dengan Wind Booster aku melesat ke udara membelah seekor goblin dengan satu tebasan. Mereka memang tidak terlalu kuat, tapi jumlahnya lumayan.
"Jangan khawatir, batu sihir goblin sama sekali tidak berharga. Jangan ragu membunuh mereka."
"Water Slash!"
Dan beginilah, ini berakhir. Kami berhasil membunuh semua goblin yang menghalangi. Kemudian beristirahat untuk memulihkan tenaga.