NovelToon NovelToon
Bukan Aku Yang Jahat Mas

Bukan Aku Yang Jahat Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Setiap hari aku difitnah mertuaku.

_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_

Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.

_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_

Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.

_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_

Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.

Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.

Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?


Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌

Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Diusir

Aku masih berlutut di depan pagar rumah.

Lututku menyentuh tanah yang kotor. Nisa memeluk leherku dengan tubuh kecilnya yang gemetar. Raffi menangis kencang di dalam gendonganku. Di depan kami, nasi goreng yang kubuat jam setengah lima pagi tadi sudah bercampur tanah di dalam tempat sampah.

Tetangga-tetangga sudah keluar semua. Bu RT, Bu Yuni, beberapa bapak-bapak yang baru pulang dari masjid. Mereka menonton. Tidak ada yang berani melerai. Mereka hanya berbisik-bisik.

"Kasihan ya menantu Bu Ratna itu."

"Iya, tiap hari ribut terus."

Ibu Ratna yang mendengar bisikan itu justru semakin menjadi. Ia merasa panggungnya semakin besar.

"Lihat! Lihat semua! Menantu saya tidak tahu diri! Saya kasih hati, dia kasih racun! Nasi sisa sarapannya dikasih ke mertuanya! Apa saya ini tempat sampah!"

"Bu, itu bukan nasi sisa Bu," isakku pelan. Suaraku hampir habis. "Itu nasi baru Bu, saya masak baru pagi tadi Bu, saya belum sempat masak sayur karena kulkas kosong Bu."

"Bohong! Kamu bohong lagi!"

Arman berdiri mematung di samping motor. Wajahnya merah padam. Malu. Ia malu karena tetangga melihat keributan rumah tangganya. Tapi rasa malunya bukan untuk membelaku, melainkan menyalahkanku.

"Alya, bangun! Malu dilihat orang! Masuk ke dalam!" bentaknya.

Aku mencoba berdiri, tapi kaki Nisa masih memelukku erat. Aku menggendong Raffi yang semakin berat.

Saat aku masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih, Ibu Ratna mengikuti dari belakang sambil terus mengoceh.

"Dasar perempuan tidak tahu malu! Sudah numpang, bikin malu, bikin ribut! Kalau tahu begini, dulu Ibu tidak akan izinkan Arman menikah sama kamu!"

Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku peluk Nisa dan Raffi di atas kasur tipis kami.

"Mama lapar, Ma." bisik Nisa dengan suara kecil.

Raffi menarik-narik bajuku mencari ASI, tapi ASI ku sudah tidak keluar banyak karena aku sendiri belum makan,pagi tadi aku tidak sempat sarapan karna terlalu bersemangat diajak Arman jalan-jalan.

Aku membuka kulkas, kosong. Membuka toples beras, kosong. Hanya ada air putih di teko.

Aku merebus air itu dan memberi sedikit garam, seperti lalu kuberikan pada Nisa.

"Minum ini dulu ya sayang, nanti malam kita makan."

Nisa meminumnya sambil menangis.

Jam sembilan malam, Arman pulang. Ia tidak masuk ke kamarku. Ia langsung masuk ke kamar Ibu Ratna. Dinding kamar kami hanya triplek tipis, jadi aku bisa mendengar semuanya dengan jelas.

"Man, Mama sudah tidak kuat, Man," suara Ibu Ratna terdengar sesenggukan. Sesenggukan yang ia buat-buat seperti biasanya lagi. "Mama tiap hari dimasakin nasi sisa, dimarahin, difitnah. Lebih baik Mama saja yang pergi dari rumah ini. Mama pulang kampung saja. Biar Mama mati di kampung."

"Jangan begitu Bu, ini rumah Ibu juga."

"Kalau begitu usir saja istrimu itu, Man. Suruh dia pulang ke rumah orang tuanya. Mama tidak mau tinggal serumah sama perempuan pembawa sial itu. Mama melihat wajahnya saja hati Mama sakit."

Jantungku berdebar kencang. Nisa yang mendengar itu langsung memelukku lebih erat.

"Bu, jangan begitu Bu, kasihan anak-anak," kata Arman.

"Kasihan anak-anak? Anak-anak bisa tinggal sama Mama. Mama yang urus. Biar istrimu itu pulang sendiri. Biar dia tahu rasanya hidup susah tanpa suami."

Hening lama. Aku menunggu jawaban Arman. Aku menunggu ia berkata, tidak Bu, Alya istriku, anak-anak butuh ibunya.

Tapi yang kudengar adalah langkah kaki mendekat ke kamarku.

Pintu kamarku diketuk keras.

"Alya, keluar."

Aku keluar dengan Raffi di gendongan dan Nisa menggandeng tanganku erat.

Arman berdiri di depan kami dengan wajah lelah dan marah. Di belakangnya, Ibu Ratna berdiri dengan tangan bersedekap dan senyum tipis penuh kemenangan.

"Alya," kata Arman tanpa menatap mataku. Ia menatap lantai. "Mulai besok, kamu pulang dulu ke rumah orang tuamu."

Dunia seakan berhenti.

"Apa Mas?" suaraku bergetar hebat.

"Ibu butuh ketenangan. Kamu bikin Ibu stres terus. Lebih baik kamu pulang dulu ke kampung, biar Ibu tenang."

"Mas, ini rumahku juga Mas. Aku istrimu Mas. Nisa dan Raffi anak-anakmu Mas. Aku,"

"Anak-anak tinggal di sini. Kamu saja yang pulang. Nanti kalau Ibu sudah tenang, kamu boleh balik lagi."

Nisa langsung menjerit dan memeluk kakiku.

"Tidak mau! Nisa tidak mau sama Nenek! Nisa mau sama Mama! Nisa mau ikut Mama!"

Ibu Ratna langsung menarik Nisa.

"Sini, Nisa sama Nenek saja. Nenek yang akan mengurus kamu sama adik rafii,Mamamu itu tidak becus ngurus kalian."

"Jangan pegang anakku!" Aku menarik Nisa kembali. Untuk pertama kalinya aku berani melawan.

"Lihat Man! Dia melawan Mama!

Arman langsung naik darah.

"Alya! Jangan melawan Ibu! Kalau disuruh pulang ya pulang saja! Jangan drama!"

"Mas, aku bukan drama Mas! Mas tega misahin aku dari anak-anakku? Raffi masih dua tahun Mas, masih butuh aku Mas! Mas tega Mas?"

"Alasan! Kamu selalu banyak alasan!"

Pertengkaran itu semakin keras. Raffi menangis sejadi-jadinya. Nisa menjerit ketakutan.

Dan di tengah keributan itu, tangan Arman terangkat.

PLAK!

Tamparan itu mendarat di pipi kiriku,keras,rasanya panas sampai membuat telingaku berdenging dan pandanganku berkunang-kunang.

Nisa menjerit histeris.

"Mama! Ayah pukul Mama! Mama berdarah!"

Raffi menangis tanpa suara lagi, karena terlalu takut.

Aku memegangi pipiku. Bekas jari-jari Arman tercetak jelas di kulitku yang pucat. Rasa perihnya menjalar sampai ke jantung.

Arman juga terkejut dengan apa yang ia lakukan. Tangannya masih menggantung di udara,matanya membelalak.

"Mas... Mas pukul aku Mas? Di depan Nisa dan Raffi Mas?"

Ibu Ratna langsung menarik tangan Arman dan masuk ke kamar.

"Sudah Man, sudah. Jangan kotori tanganmu. Perempuan seperti itu tidak usah dipukul, usir saja besok pagi."

Pintu kamar Ibu Ratna dibanting.

Aku masih terduduk di lantai. Nisa memelukku dan meniup pipiku yang memerah.

"Mama sakit ya? Nisa tiup ya Ma biar tidak sakit."

Hatiku tersayat,bukan karna rasa sakit dipipiku.Tapi bagaimana mental anak-anakku yang selalu menyaksikan keributan, pertengkaran,bentakan dan malam ini.Malam ini anak perempuanku melihat ibunya dipukul didepan matanya.Aku takut,anakku trauma dengan semua itu.

Malam itu aku tidak tidur sama sekali. Aku menatap wajah Nisa dan Raffi yang akhirnya tertidur karena lelah menangis.

Aku mengambil tas ransel kecil. Kumasukkan dua baju untukku, dua baju untuk Nisa, dua baju untuk Raffi. Buku gambar Nisa dan boneka kelinci Raffi.

Aku tidak akan meninggalkan anak-anakku di sini. Tidak akan pernah, meskipun aku harus menyandang status janda, ataupun aku harus dicap sebagai istri dan menantu durhaka, tapi aku tidak akan membiarkan anak-anakku diasuh oleh orang yang tega membuang makanan mereka dan memukul ibunya.

Jam empat pagi, aku bangun. Sholat subuh untuk terakhir kalinya di rumah ini. Di atas sajadah itu, aku berdoa bukan lagi untuk rumah tanggaku, tapi untuk kekuatanku.

"Ya Allah, kuatkan aku."

Jam lima pagi, saat rumah masih sepi, aku menggendong Raffi yang masih terlelap, menggandeng Nisa yang masih mengantuk, dan menyeret tas ransel kecil itu.

Aku membuka pintu depan pelan-pelan.

Di meja ruang tamu, ada sepiring nasi putih dan telur ceplok,masih hangat,ditutup tudung saji. Di bawahnya ada secarik kertas dengan tulisan Arman yang berantakan.

"Maaf, Al. Makanlah sebelum pergi."

Air mataku jatuh lagi,ternyata ia tahu kami lapar,ternyata ia masih punya sedikit hati.

Tapi sedikit hati itu sudah terlambat.

Aku tidak mengambil nasi itu. Aku hanya melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku gamisku.

Lalu aku melangkah keluar dari gerbang rumah itu, meninggalkan lima tahun neraka di belakangku.

Pagi itu gelap dan dingin, tapi untuk pertama kalinya, aku bisa bernapas lega meskipun aku tak tau kemana kakiku harus melangkah.

Bersambung

1
Atha Diyuta
iya mau balik tapi Alya udah nolak😄
Dewi kunti
sampai ak ngitung disini bilang man sampai 8x🤭
Atha Diyuta: 😅😅😅😅😅😅
total 3 replies
Dewi kunti
balik lagi Man🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
biasanya manggil cm man,sekarang tumben mas
Atha Diyuta: 😄😄😄😄😄😄😄
total 5 replies
Dewi kunti
mending ngekost man ,drpd hidup sama msk Lampir
Atha Diyuta: semoga Arman berkenan 😅
total 9 replies
Dewi kunti
ibu po mama iki🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi kunti
lha bukannya nisa sudah paham ya mereka pergi dari rumah karena dimarahi nenek dan ayahnya,bahkan lihat ibunya yg ditampar
Atha Diyuta: yah anak kcil critanya cuman tau pergi dan akan kembali🤭🤭
total 1 replies
Dewi kunti
terlunta2 dijalanan 🤭
Dewi kunti
memperlihatkan kejulidannya mungkin
Atha Diyuta: Aduuh iya k typo lagi , trimakasih nanti direvisii 🙈🙈
total 1 replies
Dewi kunti
nama kamu hrsnya
Atha Diyuta: baik ka trimakasih nnti direvisi ☺️☺️
total 1 replies
Atha Diyuta
Asiap ka trimakasih sudah mampir
senjani jingga
semangat thor!, kalau berkenan mampir juga di novel baruku ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!