Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02
.
Dalam mobil taksi yang melaju perlahan meninggalkan gedung hotel bintang lima itu, air mata perlahan membanjiri wajah Alena. Gadis yang tampak begitu tegar saat berdiri di hadapan semua orang, bahkan dengan tegas menjawab kata-kata orang tuanya, nyatanya tampak begitu rapuh ketika sendirian.
“Kita ke mana, Nona?" tanya sopir taksi yang menatapnya dari kaca spion.
Alena mengangkat wajahnya sesaat lalu menatap keluar jendela. Ia juga tak tahu mau ke mana. Tangannya meremas gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.
Sopir taksi yang seakan mengerti kebingungan gadis itu, mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Alena.
Alena menatap wajah sopir itu sesaat sebelum kemudian menerimanya. Ini pertama kalinya ia mendapat perhatian. Dan mirisnya itu dari orang yang sama sekali tak ia kenal. Seorang sopir taksi yang tadi ia hanya masuk ke dalam mobilnya secara asal saat taksi itu menurunkan penumpang di halaman hotel. Gadis yang bahkan lupa kalau ia memiliki mobil sendiri.
“Terima kasih, Pak," ucap Alena tulus.
Sopir taksi hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali fokus pada jalan di hadapannya. “Jadi, saya harus mengantar Anda kemana?" tanya sopir itu lagi.
“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya tidak punya tujuan."
Sopir taksi mengambil nafas dalam kemudian melajukan mobilnya ke sebuah taman kota. Taman yang tetap sejuk meski sinar matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sesampainya di taman kota, sopir itu menghentikan mobilnya lalu dia turun. Mesin mobil masih dibiarkan menyala.
"Saya tiba-tiba merasa lapar,” ucapnya saat Alena membuka kaca jendela. "Bisakah nona menunggu di sini sebentar? Saya akan mencari makanan di sana," lanjutnya sambil mengarahkan ujung jarinya ke sebuah kedai yang ada di depan taman.
Alena menganggukkan kepala, lalu sopir itu pun berjalan ke arah yang tadi ia tunjuk. Namun, hanya beberapa menit hingga sopir itu kembali dan mengulurkan sebotol air mineral pada Alena. Alena merasa ragu, tapi tetap menerimanya juga. Tak ingin berprasangka buruk pada seseorang.
"Kak Selena?" gumam Alena lirih saat hanya tinggal dirinya di dalam mobil. Mata yang baru saja ia keringkan menggunakan tisu itu kembali basah. Namun, bukan karena kakaknya yang masuk rumah sakit, melainkan karena rasa sakit dan kecewa yang telah terpendam sekian lama.
Ini bukan pertama kalinya. Sejak kecil, Selena selalu tiba-tiba jatuh sakit setiap kali Alena mendapatkan sesuatu yang membahagiakan. Saat Alena lulus dengan nilai terbaik, dan seharusnya kedua orang tua mereka mendampingi menerima penghargaan, Selena mendadak sesak napas dan harus dirawat.
Saat hari ulang tahun Alena, Selena tiba-tiba demam tinggi hingga seminggu tidak bisa bangun dari tempat tidur. Pesta untuk Alena pun dibatalkan. Dan banyak lagi acara Alena yang harus gagal hanya karena Selena.
Dan hari ini... di hari pernikahannya yang telah direncanakan dengan sangat matang... lagi-lagi Selena sakit. Hari pernikahan yang telah dipersiapkan berbulan-bulan, dari pemilihan gaun hingga resepsi yang sudah dibayar lunas... di hadapan ratusan tamu yang datang dari berbagai kota... ditunda hanya karena calon suaminya memilih menemani kakaknya?
“Bodohnya aku,” gumam Alena sambil tertawa getir. “Bagaimana bisa aku mengabaikan gelagat Selena yang selalu mencari perhatian Reno?"
Alena membuang nafas yang terasa menyesakkan dadanya. Ini bukan hanya salah Selena, tapi juga Reno yang selalu menuruti apapun kata Selena. Hanya dengan alasan bahwa Selena adalah kakak dari Alena.
Alena mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya, lalu mengambil nafas dalam dalam untuk melonggarkan dadanya yang masih saja terasa sesak.
Bertepatan dengan itu, sopir taksi kembali masuk ke dalam mobil. Seakan tahu bahwa kondisi Alena sudah lebih tenang.
"Anda sudah tahu kita akan ke mana?” tanya sopir taksi itu lagi.
Alena pun menyebutkan alamat rumahnya.
Sopir taksi mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya.
Tak lama kemudian taksi yang ia tumpangi telah berhenti di depan gerbang rumah mewah keluarga Bagaskara. Gadis itu membayar ongkos taksi menggunakan aplikasi QR di ponselnya karena dia memang tidak membawa dompet.
Baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah, mamanya menghampiri dengan wajah merah padam.
"Alena, cepat ganti baju. Kita sekarang langsung ke rumah sakit untuk melihat kakakmu."
Alena menoleh perlahan, wajahnya yang sembab terlihat datar tanpa ekspresi. Sedikit terkejut karena mamanya sudah ada di rumah. Bagaimana cara kedua orang tuanya menenangkan para tamu di hotel tadi? Tapi, untuk apa ia peduli. Dirinya saja sudah dipermalukan sedemikian rupa.
“Untuk apa?" tanya Alena acuh.
Wajah nyonya Miranda mengeras mendengar pertanyaan itu. "Untuk apa katamu? Yang sedang sakit itu kakakmu. Dia sedang kritis, dan kamu bertanya untuk apa? Apa kamu tidak punya hati nurani?”
Alena menatap mamanya dengan mata menyipit. "Kritis? Benarkah?"
Tatapan nyonya Miranda yang tadinya penuh dengan kesal mendadak berubah tajam, bahkan matanya mulai memerah karena kemarahan. "Maksudmu apa bertanya seperti itu? Kamu menuduh kakakmu hanya berpura-pura?"
"Kenyataannya memang seperti itu!”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Alena hingga membuat kepala gadis itu tertoleh ke samping. Alena memegang pipinya yang terasa kebas. Tawa getir lagi-lagi tersungging di sudut bibirnya. Selalu saja seperti itu. Dirinya tak boleh salah bicara sedikitpun apalagi tentang Selena. Pernah ia bertanya dalam hati, apakah dirinya benar-benar anak kandung namanya? Kenapa perlakuan mereka berbeda antara dirinya dan kakaknya?
"Berani sekali kamu menuduh kakakmu seperti itu!" bentak sang ibu dengan wajah merah padam "Selena sudah selalu baik sama kamu, tapi kamu malah bisa berpikir jelek begitu padanya!"
Papanya yang baru saja turun dari lantai atas ikut menatap marah, kedua tangannya mengepal kuat-kuat.
"Kamu memang selalu iri pada Selena! Dari kecil kamu selalu tidak suka kalau Selena lebih banyak mendapat perhatian! Harusnya kamu sadar. Kami melakukan itu karena kondisi kakakmu yang tidak baik-baik saja. Harusnya kamu itu prihatin pada kakakmu, bukan malah menyimpan iri dengki!"
Alena tertawa lirih di sela air mata yang kembali mengalir. "Iri? Aku iri?” tanyanya pilu. Benar-benar tidak percaya papanya mengatakan itu. Gadis itu menggeleng pelan dengan mata menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
"Sejak kecil, apa pernah ada yang benar-benar menjadi milikku? Boneka yang aku inginkan selalu diberikan ke Kak Selena. Buku cerita yang aku mau selalu dibeli untuknya. Bahkan jika aku ingin gaun baru, aku harus menunggu Selena bosan dengan gaun lamanya!"
“Dasar picik!" sahut nyonya Miranda. “Selena memberikan gaunnya karena dia sayang padamu. Dia yang selalu mau mengalah agar kamu merasa bahagia, tapi ternyata kamu hanya adik yang tidak tahu terima kasih!”
Alena memejamkan matanya, merasa muak dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Orang tuanya hanya menyayangi selena. Apapun yang dilakukan Selena selalu benar. Jadi percuma ia berdebat, hanya akan menghabiskan tenaga. Mungkin lebih baik mandi dan berendam air hangat untuk mengembalikan kewarasannya.
Namun, belum sempat ia beranjak dari tempat itu, sang ibu kembali menarik lengannya dengan kuat.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau ganti baju. Pokoknya sekarang juga kamu ikut kami ke rumah sakit. Jangan membuat kakakmu menunggu lama!"
"Tidak.” Alena menghempaskan tangan mamanya dengan cepat, lalu mundur satu langkah.
"Apa? Kamu tidak mau pergi?"
"Aku tidak akan pergi ke rumah sakit.”
"Kamu mau membiarkan kakakmu mati sendirian di rumah sakit?"
Alena menatap lurus kedua orang tuanya, matanya yang tadi merah karena menangis kini mulai menunjukkan sikap tegas yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.
"Selena sudah memiliki banyak orang yang menyayanginya. Jadi aku tidak mau ikut-ikutan. Mulai sekarang, aku akan lebih memilih menyayangi diriku sendiri!”
“Anak kurang ajar!" Tuan Gunawan mengepalkan tangan hingga urat-uratnya menonjol, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. "Kamu sangat egois, Alena! Padahal Selena selalu menyayangimu!"
Alena tersenyum pahit sambil menatap lurus wajah papanya. "Egois? Papa bilang aku egois? Hari ini adalah hari pernikahanku. Tapi calon suamiku memilih menemani kakakku di rumah sakit. Dan kedua orang tuaku... juga memilih kakakku daripada aku yang sedang berdiri sendirian di tengah aula pernikahan yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan."
Alena mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Tolong katakan... siapa sebenarnya yang egois?" tanya Alena keras bahkan sambil menepuk-nepuk dadanya yang mungkin terasa sesak.
Alena mengangkat ujung gaunnya yang panjang, lalu melangkah perlahan meninggalkan ruangan itu. Sebelum menaiki tangga menuju kamarnya, Alena berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.
"Hari ini bukan hari aku kehilangan calon suami, tetapi hari aku berhenti memohon untuk dicintai."
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣