Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 23
"Wah... Mas Abi rapi banget pagi-pagi gini," sapa Yuri dengan suara lembut yang manis, meletakkan gelas air putih di atas meja rias.
"Parfumnya juga wangi banget. Beneran semangat banget ya mau berangkat gathering kantor?"
Abimana berbalik dengan dada membusung bangga, merapikan kerah kemeja batiknya di depan Yuri.
"Harus dong, Dek!" tawa Abimana renyah, penuh nada kesombongan yang menggebu-gebu.
"Ini kan acara gathering dan koordinasi proyek penting. Yang hadir bos-bos besar dan anak pemilik perusahaan. Mas sebagai calon Manajer Utama harus tampil paling prima, dong. Biar mereka makin yakin kalau Mas ini aset paling berharga di kantor!"
Yuri mengangguk-angguk kagum, memasang binar mata yang seolah-olah sangat mengagumi suaminya.
"Iya ya, Mas... Mas kelihatan gagah banget. Semoga acara gathering dan koordinasinya lancar ya, Mas. Semoga Mas dapat semua jabatan dan harta yang Mas impikan."
"Pasti, Dek! Pasti dapat!" sahut Abimana jemawa, menepuk-nepuk bahu Yuri seraya terkekeh puas. Pria itu sama sekali tidak menyadari racun sarkasme yang terselip dalam setiap kata yang diucapkan istrinya.
Abimana melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ia buru-buru menyambar tas kerja dan kunci mobil sedannya dari atas meja.
"Ya sudah, Dek. Mas berangkat sekarang ya, takut terjebak macet di jalan," ujar Abimana terburu-buru. Pria itu sempat mengusap kepala Yuri sekilas, sebuah gestur kasih sayang palsu yang membuat Yuri menahan rasa mual di perutnya.
"Kamu jangan lupa langsung berangkat ke kedai kopi. Bekerja yang rajin, ya. Cari uang lemburan yang banyak!"
"Iya, Mas Abi... Hati-hati di jalan ya," sahut Yuri dengan senyum paling manis.
Yuri mengantar Abimana hingga ke depan pintu rumah. Ia berdiri di teras, memperhatikan mobil sedan putih Abimana bergerak perlahan meninggalkan pelataran rumah menuju apartemen Sandra untuk menjemput sang gun-dik.
Begitu deru mesin mobil Abimana menghilang di ujung gang, senyum manis di wajah Yuri seketika lenyap. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan menusuk.
Pagi itu, deru mesin mobil sedan putih Abimana berhenti dengan mulus di pelataran parkir basement sebuah apartemen mewah di pusat kota. Abimana melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.45 WIB. Hatinya bergemuruh penuh antusiasme. Skenario yang ia susun berjalan sempurna; Sandra sama sekali tidak tahu bahwa dirinya sudah memiliki istri, karena selama ini Abimana selalu mengaku sebagai seorang lajang mapan yang siap menikahinya.
Abimana keluar dari mobil, merapikan setelan batik dan wangi parfumnya, lalu menekan tombol lift menuju lantai 22 unit apartemen Sandra.
Ting!
Pintu lift terbuka. Abimana melangkah mantap di koridor berkarpet tebal, lalu menekan bel pintu unit apartemen nomor 2204 sebanyak dua kali.
Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka lebar. Sosok Sandra berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sukses membuat napas Abimana tertahan. Sandra mengenakan dress satin sutra berwarna merah muda yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, berpotongan rendah di bagian dada, serta pulasan riasan wajah yang begitu memukau dan mahal.
"Pagi, Sayang..." sapa Sandra manja, langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Abimana begitu pria itu melangkah masuk.
Abimana tersenyum lebar, menyambut pelukan itu dengan penuh gairah dan mencium pipi Sandra bertubi-tubi.
"Pagi juga, ratu aku. Kamu cantik banget hari ini. Bener-bener siap buat ketemu orang tua aku, kan?"
Sandra tertawa kecil, melepaskan pelukannya setengah hati lalu menarik tangan Abimana agar masuk lebih dalam ke unit apartemen yang harum semerbak itu.
"Tentu saja aku siap, Mas," ucap Sandra manja, mendudukkan diri di sofa beludru ruang tamu sementara Abimana berdiri di hadapannya.
"Tapi... sebelum kita berangkat ke rumah orang tua kamu, aku mau kita bermesraan dulu di sini. Rasanya kangen banget. Semalaman kita nggak ketemu."
Abimana tersenyum salah tingkah, meski ada secercah rasa gugup di benaknya karena takut terlambat.
"Duh, Sayang... kita harus berangkat ke rumah orang tua aku sekarang. Nanti keburu siang dan macet di jalan."
Sandra merengek manja, menarik tubuh Abimana hingga pria itu terduduk di pangkuannya.
"Ih, sebentar aja, Mas... Lima menit aja, peluk aku dulu di sini. Biar aku tenang dan semangat seharian."
Sandra dengan sengaja merapikan tali dressnya yang sedikit melorot, memamerkan belahan dadanya yang menggoda, lalu merengkuh leher Abimana erat-erat. Dengan tangan kirinya, Sandra merogoh ponsel di atas meja kopi, mengarahkan kamera ke arah wajah mereka berdua yang tengah berpelukan mesra di sofa apartemen.
Cekrek!
Foto intim itu tersimpan di layar ponsel Sandra. Tanpa pikir panjang, Sandra langsung membuka aplikasi pesan dan mengirimkan foto tersebut ke nomor Yuri.
"Ya sudah kita berangkat sekarang sayang..."
"Cium dulu. Mas..."
Sandra tersenyum manis penuh kemenangan, memiringkan wajahnya seraya memajukan bibirnya. Abimana yang sudah mabuk kepayang tanpa ragu mendaratkan ciuman mesra di bibir gundiknya itu. Di saat yang bersamaan, jemari Sandra yang berada di belakang punggung Abimana menari cepat di atas layar ponselnya, menekan tombol send untuk mengirim foto mesra yang baru saja mereka ambil.
Cekrek! Cekrek!
Tiga foto mesra berbeda sudut terkirim bertubi-tubi dari nomor Sandra ke ponsel Yuri, foto mereka berpelukan mesra di sofa, foto Abimana yang sedang mengecup bibirnya dari samping, dan foto selfie Sandra dengan gaun satin berpotongan rendah sementara Abimana tersenyum semringah di belakangnya.
Sandra tak lupa menyertakan pesan teks bernada mengejek dan penuh keangkuhan:
[Sandra]: Lihat nih, Yuri! Mas Abi sengaja datang pagi-pagi cuma buat manja-manjaan sama aku di apartemen sebelum kita berangkat ke rumah orang tuanya!
[Sandra]: Dia bilang kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding aku. Hari ini, aku bakal resmi dikenalin ke calon mertua aku! Kamu duduk manis aja ya di kedai kopi, nyari uang lemburan yang banyak buat bayar cicilan! Sepertinya kamu harus bersiap-siap angkat kaki dari rumah dan kehidupan Abimana. Dan aku juga nggak perlu memberikan uang yang kamu minta itu. Permintaan konyol. Toh aku adalah pemenangnya.
Sandra menyunggingkan senyum miring yang amat puas saat melihat ketiga pesan tersebut berubah menjadi centang dua biru. Di pikirannya, Yuri saat ini pasti sedang menangis histeris di pojokan kedai kopi, meratapi nasibnya yang dicampakkan.
"Oh iya Sayang, apa papa kamu bilang sesuatu kapan aku akan mulai di promosikan menjadi Manager di perusahaan?"
"Papa masih di luar kota kan dari kemarin, Mas. Nanti paling Papa akan bicara saat lamaran kita..." Jawab Sandra membuat Abimana bingung bereaksi bagaimana. Karena inginnya secepatnya.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏