NovelToon NovelToon
Surat Terakhir Ayah

Surat Terakhir Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Yatim Piatu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dfe

Tegar adalah seorang ayah dari dua anak lelakinya, Anam si sulung yang berusia 10 tahun dan Zayan 6 tahun.

Mereka hidup di tengah kota tapi minim solidaritas antar sekitarnya. Hidup dengan kesederhanaan karena mereka juga bukan dari kalangan berada.

Namun, sebuah peristiwa pilu membawa Tegar terjerat masuk ke dalam masalah besar. Membuat dirinya berubah jadi seorang pesakitan! Hidup terpisah dengan kedua anaknya.

Apakah yang sebenarnya terjadi? Bisakah Anam dan Zayan melalui jalan hidup yang penuh liku ini? Jawabannya ada di 'Surat Terakhir Ayah'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan untuk mu

Pagi harinya, Alin bangun lebih dulu. Dia menuju dapur. Sudah ada asisten rumah tangga yang bertugas menyiapkan sarapan di sana. Alin tersenyum bak kerasukan setan dengan memiringkan kepala menunjukkan seringainya.

"Ngapain?" Tanya Alin bertanya pada asisten rumah tangga yang sedang mengupas kentang.

"Eh, Bu Alin. Ini bu, mau buatin sarapan sama bekal makan siang nanti di sekolah, buat den Anam sama den Zayan." Kata simbok itu ramah.

"Udah sana, kerjain yang lain. Ini biar aku aja." Alin mengusir keberadaan ART di sampingnya terang-terangan.

"Tidak perlu Bu. Ini tugas saya, Bu Alin tidak perlu repot-repot karena ini--"

"Bisa diam nggak?! Kamu hanya pembantu di sini, tapi berani melawan perintah anak majikan mu?!! Udah bosan kerja di sini??" Alin memotong ucapan simbok dengan tatapan tak suka.

"Di rumah ini sudah banyak yang berubah rupanya. Bahkan pembantu saja nggak ada sopan-sopannya padaku!! Sialan!!!" Imbuh Alin geram.

Emosi di pagi hari, jelas Alin tak suka apa yang menjadi keinginannya tidak bisa dia dapatkan. Tapi, dengan sedikit ancaman akan memecat dan mengusir tanpa gaji nyatanya simbok mau juga pergi dari dapur.

Mata Alin melihat ke arah makanan yang belum beres disiapkan. Dia meludahi setiap bahan makanan itu, alih-alih mencucinya. Dengan sengaja Alin mengisi botol yang biasa Anam dan Zayan bawa untuk pergi ke sekolah dengan air keran dan tetesan sabun pencuci piring. Jangan lupa irisan lemon dia masukkan ke sana. Akan menjadi minuman rasa lemon yang segar pastinya dengan efek busa melimpah yang akan membersihkan isi perut dua bocah tersebut, pikir Alin cekikikan.

Kentang yang tadi dikupas dibiarkan begitu saja. Alin lebih memilih mengambil cangkang telur lalu menumbuknya asal, dimasukkan ke dalam terigu dan digoreng begitu saja.

"Ini sudah lebih dari layak untuk mereka makan! Memang apa yang mereka harapkan dengan hidup menumpang di rumah orang? Makan enak? Hidup terjamin? Jangan mimpi!"

Ada sisa nasi yang kemudian Alin blender dan dicampur kupasan kulit kentang, ditambah segenggam garam dia mengukus kembali bahan pangan amburadul tersebut untuk dimakan Anam dan Zayan nanti. Pun, dengan blender kotor itu.. Alin bukan mencucinya tapi menambahkan air keran dan menuangkan sisa blenderan nasi yang ada di blender tadi ke dalam gelas.

"Dua gelas sereal untuk anak kampung yang bisanya cuma jadi benalu, udah siap."

Bahkan Alin bersenandung ria dengan perasaan bahagia. Sudah bisa dia bayangkan bagaimana nanti wajah pucat anak-anak kampung itu menggelepar merasakan sakit di perutnya, mungkin akan bagus jika mereka keracunan lalu bablas ke akhirat. Itung-itung Alin berhasil ngusir mereka dari dalam rumahnya, dari dunia malah!

Tapi yang tidak Alin tahu, semua yang Alin kerjakan itu sedang diawasi oleh seseorang. 'Mau main-main sama nyawa? Baiklah.. Kita lihat, siapa yang akan memenangkan permainan ini.'

"Mau bangun jam berapa kalian?! Udah numpang aja sok manja, bangun nunggu matahari ada di atas kepala?! Sialan kalian!! Bangun atau-"

"Nggak usah berisik Tante. Kami udah bangun dari tadi."

Alin membulatkan matanya saat melihat Anam dan Zayan sudah ada di depan pintu. Teriakannya jadi terjeda namun tidak dengan muka garangnya. Dia masih melipat kedua tangan di atas dada.

"Bang, semalem aku mimpi ketemu bapak." Zayan tersenyum mulai bercerita tentang apa yang dia mimpikan semalam.

"Masa? Pasti kamu kangen banget sama bapak ya, udah bacain doa buat bapak?" Tanya Anam ikut tersenyum menimpali cerita adiknya.

"Selalu bang. Tiap ingat bapak, aku selalu baca alfatihah."

"Pinter. Nanti sore ke tempat bapak, mau?"

"Mau bang!"

Pembicaraan keduanya tak lepas dari pengawasan Alin. Wanita dewasa itu merotasikan bola matanya malas. 'Ya ya ya, mimpiin orang yang udah mati.. Mungkin aja bentar lagi kalian ikut nyusul ke tempat bapak kalian itu?!'

Alin menyuruh mereka untuk makan. Tanpa ragu mereka mulai sarapan. Tidak buruk, mereka makan tanpa banyak protes. 'Apa mereka memang serakus itu sampai tidak bisa membedakan rasa makanan yang sedang mereka makan itu semua dari bahan tak layak konsumsi? Dasar anak-anak kampung, lidah mereka pasti sudah kebas saking tak pernah makan makanan enak! Kasian..!'

"Mbooook, ambilin bekal mereka! Nggak usah kasih uang saku, udah mending dibikin bekel. Ngelunjak amat masih dapet jatah uang jajan!!"

Mendengar teriakan Alin, simbok asisten rumah tangga itu berjalan sedikit berlari mengambilkan tas bekal makan siang untuk Anam dan Zayan.

"Nggak usah minta anter supir! Jalan kaki sana! Merepotkan!!" Alin membentak Anam dan Zayan yang sudah ditunggu supir mereka.

Supir pribadi Abut hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia bingung harus berbuat apa. Jika tidak dituruti, Alin pasti mengancam akan memecat semua pekerja ayahnya di rumah tersebut.

"Kami jalan aja. Tidak masalah, udah sering jalan kaki kok." Anam memberi keputusan melihat supir itu kebingungan.

"Ya bagus!! Punya kaki itu dimanfaatkan sebagai mana fungsinya, jangan manja! Biasanya ke sekolah jalan kaki ya jalan kaki aja, nggak usah sok minta diantar jemput pakai mobil segala!! Sadar, itu bukan mobil peninggalan bapak kalian!! Numpang juga harus tau diri?!"

Alin terus mengoceh tak tentu arah. Dia puas bisa mengerjai Anam dan Zayan hari ini. Melihat kedua anak itu berjalan menjauhi rumah ayahnya, hatinya sangat senang.

"Kalau perlu nggak usah balik sini lagi!!" Tambah Alin berteriak.

Zayan menoleh ke belakang, melihat jika Alin tersenyum mengejek ke arah mereka.

"Nggak usah dilihat. Biarin aja." Anam menarik tangan Zayan untuk fokus berjalan tanpa menengok ke belakang.

"Tapi, sakit hati ku bang denger dia marah marahin kita terus kayak gitu. Kenapa kita diem aja sih bang, kenapa Abang nggak bolehin aku buat ngejawab omongannya? Kita di sana bukan untuk terus dihina bang!" Zayan kesal sekali karena Anam terkesan lembek menghadapi Alin.

"Ngadepin orang kayak gitu jangan pakai otot tapi pakai otak. Biarin dia capek sendiri marah-marah, toh nanti setelah engkong pulang, dia nggak bakal macem-macem sama kita lagi. Nggak usah adu mulut sama orang tua, kesannya kita ini kurang ajar. Biarin aja dia membeo sesuka hati. Paling kalo capek juga diem sendiri."

Zayan tak senang mendengar jawaban Anam. Dia melengos begitu saja.

"Kamu mau tau sesuatu yang seru?" Tanya Anam pada adiknya yang sudah tak berselera bicara dengan Anam. Baginya abangnya sekarang ini nggak asik sama sekali!

Tak menunggu jawaban Zayan, Anam mulai bercerita.

"Tadi abis subuhan, Abang liat Tante Alin masak di dapur. Tapi, yang dia masak bukan sesuatu yang bisa dibilang pantas untuk kita makan. Semua masakannya diludahi. Dan dia sengaja menyiapkan semua itu untuk kita. Bekal kita aja dari cangkang telur dan tepung, minumnya air sabun cuci piring rasa lemon." Anam tersenyum saat Zayan terkejut mendengar ceritanya.

"Jadi tadi.. Kita makan makanan yang udah diludahi orang bang? Dan Abang masih bisa cengar-cengir?? Abang--"

"Bukan. Semua itu Abang ganti. Kita tadi sarapan sereal yang Abang bikin sendiri. Gelasnya sama, jadi gampang buat Abang menukarnya. Dan bekal tadi Abang udah fotoin dan kirim ke engkong, semua yang Tante Alin kerjakan tadi pagi juga Abang bagiin ke engkong. Biar engkong tau, anak perempuannya sebaik itu mau menyiapkan sarapan dan bekal makan siang kita untuk kita."

Senyum Zayan langsung terbit. "Terus bang??"

"Nanti siang engkong pulang." Jawab Anam santai.

"Wooow keren! Abang emang keren!! Terus sereal buatan Tante tadi Abang buang??"

Anam hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Di rumah Abut, Alin bersantai dengan menonton drama favoritnya. Karena mengira semua yang dia lakukan berhasil mengerjai dua bocah itu, dia sesekali menyesap minuman rasa lemon yang terasa sangat asam di lidahnya. Memang dia membuat minuman itu tadi bersamaan dengan hasil karyanya yang lain, Alin terbiasa minum air lemon di pagi hari untuk menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ramping, langsing, mendekati cungkring.

Tapi.. Ini, rasanya sangat asam dan meninggalkan rasa getir di mulut. Namun Alin tidak peduli, dia menghabiskan minuman buatannya itu hingga tandas tak tersisa. Padahal yang dia minum adalah racikan air lemon, air sabun, dan cuka yang sengaja Anam buat spesial untuk Tante Alin seorang. Alin tidak curiga dengan bau sabun di dalam minumannya karena ternetralkan oleh cuka yang Anam tambahkan.

1
Riaaimutt
deuh suami ria jahat bgt sama anak kecil juga
untung nya suami ku orangnya baik hati bijaksana dalam permusyawaratan perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
klo sikapmu sprti itu trs, lama² anakmu juga ogah idup samamu..
arogan bener jadi manusia, udah kek Fir'aun bae
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
masih ada aja manusia yang hormat hanya karna hartanya🤦🏻‍♀️
🍊 NUuyz Leonal
susah sih kalau orang nya modelan kayak Aline ini semua semua di salah kan ke orang lain padahal dia sendiri yang membuat hidup nya seperti itu
🍊 NUuyz Leonal
sepertinya lebih berbahaya jika celine bersama kamu
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤ𒈒⃟ʟʙᴄ
heh alin berkaca lah sebelum terlambat bgt menyadari kesalahan mu😒😒😒dari tadi asik nyalahin orang dasar 🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤ𒈒⃟ʟʙᴄ
sebenarnya sangkala itu kenapa benci banget sama zayan dan Anam yaa🤔🤔🤔🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Dewi kunti
dipecat aj sopir yg gak tahu diri kong
Rahmawati
km sudah gk dianggap anak lagi line, mending km pergi aja, celine akan lebih terurus kl tinggal sm engkongnya
Rahmawati
ini knp kok sengkala benci bgt sm anam dan zayan,,
🍊 NUuyz Leonal
apapun bisa terjadi jadi jangan pernah melihat atau menilai apalagi membenci seseorang dengan kadar porsi yang berlebihan
𝐙⃝🦜尺o
si mandor so iye, gak tau apa2 mau tuduh sembarangan akhirnya dipecat kan
Rahmawati
bagus anam km pinter kl mau sukses
Was pray
belajar terus anam dan zian, harta dipakai habis , tapi kl ilmu dipakai bertambah
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
lagian, org kerja itu nyari duit..
bukan nyari muka
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
baru mandor tapi udah petantang petenteng
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍
nam sibuk masak pak, gak bisa ikut olimpiade /Facepalm/
𝐔 𝐏 𝐈 𝐋 𝐈 𝐍: kesian..
masih sekwildapa aja dari dlu😌
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚: mana ada.. nam sibuk ngelus dada dan paha
total 2 replies
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚
aih bulu 😱
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚: aih dah diganti kertas 🤭
𝐓𝐄𝐓𝐄𝐇 𝐇𝐈𝐍𝐘𝐀𝐈☝🏿🌚: typo Thor
total 4 replies
🍊 NUuyz Leonal
buktikan namza Klian pasti bisa
seperti kata kong abut berubah lebih baik untuk kalian sendiri
🍊 NUuyz Leonal
bulu 😳😳😳
bulu apa ini 🤔🤔🤔
🍊 NUuyz Leonal: bulu apa itu???
Dfe: apa apa?
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!