Ariana, dibenci oleh suaminya dan mertua karena melahirkan anak yang buta, juga karena pekerjaan Ariana sebagai guru honorer yang dianggap tidak bisa membantu perekonomian keluarga.
Masalah semakin pelik di saat anak mereka terserang virus misterius yang menyebabkan kedua kaki nya lumpuh dan membutuhkan banyak biaya, pengobatan tidak ditanggung seratus persen oleh asuransi. Ariana pun dicerai oleh suaminya.
Ariana sangat mencintai puteri semata wayangnya meskipun cacat dan membutuhkan banyak biaya.. Ariana harus berjuang keras untuk mendapatkan uang agar anak nya sembuh dan tidak lumpuh permanen , Ariana terus berusaha agar punya banyak uang, Dia juga punya mimpi ada biaya untuk operasi mata puteri nya agar puteri nya bisa melihat indah nya dunia.. Dia pun iklas jika harus mendonorkan satu kornea mata nya...
Hmmmmm apa mungkin Ariana bisa mewujudkan mimpi nya dengan status nya sebagai guru honorer dengan gaji lima ratus ribu per bulan????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29.
Setelah jam pelajaran terakhir usai, Ariana segera menemui kepala sekolahnya.. Ariana duduk di kursi di depan pak kepala sekolah bersekat meja kerja. Di atas meja kerja itu lap top milik Pak Kepala Sekolah terbuka layar nya..
“Bu Ar ini sedang apa?” tanya Pak Kepala Sekolah sambil menggeser letak lap top nya agar Ariana bisa melihat tampilan di layar monitor lap top.
Ariana mengusap wajahnya, dia melihat dirinya yang tidur di ruang kantor di layar lap top Pak Kepala Sekolah yang sedang menampilkan rekaman CCTV ruang guru.
“Maaf Pak, saya tadi sangat mengantuk maka di waktu jam istirahat saya sempatkan untuk tidur sebentar saja.” Ucap Ariana dengan jujur.
“Bu Ar, saya tahu beban ekonomi Bu Ar sangat berat anak sakit ditambah sekarang menjadi single parent. Dan gaji sebagai guru honorer sangat minim. Saya maklum jika Bu Ar mencari pekerjaan sampingan. Sudah saya beri peringatan agar pekerjaan sampingan Bu Ar tidak mengganggu pekerjaan Bu Ar di sekolah. Dari informasi yang saya dengar Bu Ar sekarang juga bekerja di malam hari apa benar itu?” ucap Pak Kepala Sekolah selanjutnya.
“Benar Pak, tapi bagi saya pekerjaan itu tidak mengganggu pekerjaan utama saya.” Ucap Ariana
“Tidak mengganggu menurut Bu Ar? Sampai tidur di sekolah masih dikatakan tidak mengganggu? Bu Ar saya ingatkan lagi ya, insentif Bu Ar bisa gagal didapat kalau Bu Ar selalu mendapat teguran karena kinerja Bu Ar yang kurang baik.”
“Maaf Pak, bukannya saya membela diri, tapi saya tidur di saat jam istirahat. Kegiatan mengajar tidak terganggu, Bapak bisa cek di CCTV kelas tempat saya mengajar tadi , saya mulai merasakan mengantuk saat menunggu anak anak menyelesaikan evaluasi itu pun di menit menit terakhir akan istirahat.” Ucap Ariana agak emosi tidak terima jika insentif yang begitu dia harapkan gagal didapat karena bukan kesalahan yang dia buat.
“Hmmm sebagai kepala sekolah saya ingin tahu apa pekerjaan Bu Ar di malam hari. Jika itu pekerjaan yang maaf ... kurang bermoral Saya bisa keluarkan Bu Ar dari sekolah ini.” Ucap Pak Kepala Sekolah sambil menatap tajam wajah Ariana.
Ariana mengusap lagi wajahnya dan mengambil nafas dalam dalam sambil ber istigfar ..
“Astaghfirullahaladzim.. Pak, kerja malam saya menemani seorang Ibu yang sudah lansia karena dia sendirian di rumah besar nya, itu pun saya tidur dengan anak saya. Apa itu termasuk pekerjaan yang kurang bermoral?” ucap Ariana dengan tegas dan menatap balik Pak Kepala Sekolah.
“Dan saya mengantuk tadi juga bukan karena pekerjaan saya itu, tapi karena saya terbangun di dini hari, harus menyelesaikan pekerjaan saya yang harus saya kumpulkan pagi tadi. Bukannya Bapak juga tahu guru honorer mendapat banyak tambahan pekerjaan administrasi yang menguras waktu juga, di samping itu banyak teman teman senior meminta bantuan pekerjaan nya. Kalau tidak dibantu laporan guru honorer juga jadi jelek.” Ucap Ariana dengan nada serius.
Suasana di ruang kerja kepala sekolah itu sejenak hening, dan sesaat kemudian...
“Hmmm baik lah, silakan Bu Ar tinggalkan ruang saya sekarang.” Ucap Pak Kepala Sekolah selanjutnya.
“Baik Pak.” Ucap Ariana dan segera bangkit berdiri.
Ariana segera melangkah ke ruang guru, saat di ruang guru suasana sudah sepi teman teman guru sudah pulang, kecuali Shelly sahabat nya yang masih duduk di kursi kerja nya sambil menulis nulis di buku nya..
Shelly menoleh saat mendengar suara langkah kaki memasuki ruang guru..
“Gimana Ar?” tanya Shelly. Ariana terus melangkah menuju ke meja kerja nya.
“Aku ditunjukin rekaman CCTV ruang guru ini saat aku tidur tadi, katanya incentif ku bisa gagal didapat. Sial banget ga terima lah aku, aku tidur juga di waktu istirahat tidak ada yang terganggu. Terus dia tanya apa pekerjaan ku malam hari kalau tidak bermoral mau dipecat aku.” Ucap Ariana lalu mengambil tas ransel kerja nya.
“Gila , pasti tuh mulut Pak Anton dan Bu Marsi, kamu kan waktu itu bilang kerja menemani tidur. Lagian napa itu orang terutama pak Anton sirik banget ke kamu Ar.” Ucap Shelly lalu dia memasukkan buku ke dalam tas ransel nya untuk berkemas kemas pula.
“Entahlah Shel, keluarga Respati kan memang tidak suka ke aku. Namanya orang tidak suka kan ya gitu itu, selalu mau bikin aku sengsara.” Ucap Ariana sambil menggendong tas ranselnya.
“Ditambah Ar, siswa siswa itu lebih nge fans kamu dibanding Pak Anton dan guru sejarah lainnya.. Kalau Bu Marsi mungkin karena dagang dia ga selaku dagangan kita he... he.. he.. kita kan sudah kirim kirim ke luar jawa. “ ucap Shelly yang juga bangkit berdiri sambil menggendong tas ransel nya dan membawa lagi barang dagangan yang belum laku.
“Sudahlah, kalau aku benar benar dipecat aku mau buat surat terbuka biar viral.” Ucap Ariana dan terus melangkah.
“Iya Ar, aku yang akan memberi komentar pertama kali.” Ucap Shelly yang melangkah di samping Ariana.
“Aku kadang sudah capek banget Shel, ingin resign saja dari sini. Tapi orang tua ku dan Bu Retno guru SD ku selalu menyuruh aku agar sabar.. “ ucap Ariana.
“Iya sabar Ar, sayang juga sih kalau kita resign, kita sudah menjalani bertahun tahun, cari pekerjaan di lain tempat juga susah Ar.. “ ucap Shelly.
“Iya sih Shel, aku sempat berpikir untuk jadi TKI.. tapi mikir bagaimana Arumi kalau aku tinggal jauh dan waktu lama..”
“Iiihhh jangan tergoda hanya gaji TKI tinggi Ar, resiko juga tinggi kerja jadi TKI .. “ ucap Shelly terdengar sangat serius.
Dua perempuan itu terus melangkah menuju ke tempat parkir motor nya.
Ariana melajukan motor dengan kencang. Dia ingin segera bertemu dengan Arumi yang sejak pagi ditinggalnya berada di rumah Bu Hajjah Khasanah. Ariana pun berpikir bagaimana Arumi makan dan minum obat nya, bagaimana buang air nya..
Di saat motor melewati mini market..
“Aku belikan pampers Rumi tidak ya? Tapi tadi malam Bu Hajjah pesan aku tidak usah membelikan barang kebutuhan Arumi..” gumam Ariana di dalam hati yang tidak jadi mampir di mini market.
“Nanti aku lihat saja kalau belum ada pampers aku bisa keluar lagi untuk membelikan.” Gumam Ariana di dalam hati lagi dan terus melajukan motor nya dengan kencang karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan puteri semata wayangnya.
Beberapa menit kemudian motor sudah memasuki halaman rumah Bu Hajjah Khasanah, pak petugas penjaga pintu gerbang langsung membukakan pintu saat mendengar suara motor Ariana.
“Terima kasih Pak..” ucap Ariana agak keras dan terus melajukan motor nya ke garasi.
Di saat Ariana melangkah, bibir Ariana tersenyum saat mendengar denting piano dan suara beberapa orang bernyanyi lagu Ibu Kita Kartini. Suara Arumi pun terdengar lantang dan terdengar juga suara seorang laki laki ikut bernyanyi..
Ariana terus melangkah dan betapa terkejut nya Ariana saat denting piano tidak dimainkan dengan nada yang itu itu saja.. Akan tetapi dengan nada yang utuh.. Ariana mempercepat langkah kakinya telinganya terus mendengar dentingan piano dan panduan suara ala kadarnya.
Do re mi fa sol mi do, la do si la sol
Ibu kita kartini putri sejati
Fa la sol fa mi do, re fa mi re do.
Putri indonesia, harum nama nya
Fa mi fa la sol la sol mi do, mi re mi fa sol mi.
Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia.
Ariana yang begitu penasaran cepat cepat membuka pintu rumah.. kedua mata Ariana membulat melihat apa yang ada di depannya.. Tubuh mungil Arumi duduk di depan piano dan jari jari mungilnya di atas tuts piano bergerak gerak. sedang kan Bu Hajjah Khasanah, Bu Supri, Bu Slamet dan Kakek berdiri di belakang piano menghadap ke arah Arumi.. dan mereka masih melanjutkan lagu nya..
Fa mi Fa la sol la sol mi do, mi re fa si re do
Sungguh besar cita cita nya, bagi Indonesia..
PLOK PLOK PLOK PLOK
Keempat orang tua itu bertepuk tangan dan tersenyum lebar..
“Arumi hebat satu hari belajar sudah bisa memainkan satu lagu.” Ucap Bu Supri tampak sangat bahagia..
“Arumi sangat berbakat.. Lukman dan Fadli kalau tahu pasti akan sangat senang sekali..” ucap Bu Hajjah Khasanah terdengar kagum dan bahagia.. sedang Kakek kedua matanya terlihat berkaca kaca dan melangkah mendekati Arumi..
Ariana sudah tidak lagi berkaca kaca kedua mata nya, akan tetapi air bening sudah mengalir membasahi kedua pipi nya..
“Masya allah Terima kasih ya Allah...” ucap Ariana penuh syukur dan terus melangkah mendekati Arumi..
“Rumi... kamu sudah bisa siapa yang mengajari?” tanya Ariana sambil mendekati Arumi.. lalu dia cium puncak kepala Arumi.
“Bunda... sudah datang? Aku sampai tidak mendengar suara kaki Bunda karena memainkan piano dan bernyanyi.. yang mengajari Bu Supri dan Bu Hajjah.. tapi juga Kakek yang mencarikan kelanjutan not nya di hand phone..” suara imut Arumi dan bibir tersenyum lebar..
“Iya Mbak Ar, tadi pagi Kakek mengantar kursi roda, terus Arumi tanya kelanjutan yang saya tidak hafal itu, terus Kakek mencarikan di hand phone dan ini saya catat he.. he... he... tapi saya tetap tidak hafal juga kalau tidak lihat catatan, Arumi malah sudah hafal.. “ ucap Bu Supri sambil menunjukkan kertas bertulisan angka angka not lagu Ibu kita kartini.
“Terima kasih, Arumi sudah mengucapkan terima kasih belum ke mereka..” ucap Ariana sambil mengusap lembut kepala Arumi.
“Sudah dong Bun.. tadi kalau Bu Supri kerja Bu Hajjah yang mengajari aku. Kakek juga sejak pagi di sini Bun.. menunggu aku. Bu Slamet sudah membelikan pampers Bun, tapi belum dipakai karena ada Kakek tadi Kakek yang mengantar aku ke kamar mandi..” suara imut Arumi lagi..
“Mbak Ar, sekarang makan dulu ambil sendiri sana di dapur. Kami semua sudah makan dan ini sedang istirahat sambil dihibur oleh Arumi.. Ayo Rumi main kan lagi piano nya agar Bunda makan nya terasa enak dihibur dengan mainan piano kamu.” ucap Bu Hajjah Khasanah yang sudah duduk di sofa paling dekat dengan piano itu. Suara dentingan piano pun kembali terdengar..
“Ayo Mbak Ar, ke dapur saya mau lanjut kerja untuk buat snack sore dan makan malam..” ucap Bu Slamet..
“Para penyanyi nya untuk sementara istirahat dulu ya Rumi... mau melanjutkan tugas kenegaraan dulu.” Ucap Bu Supri sambil tersenyum lebar.
“Iya Bu... “ suara imut Arumi.. dan masih terus memainkan jari jari mungilnya di atas tuts piano. Kakek pun juga melangkah meninggalkan Arumi.. kursi roda Arumi berada di dekat kursi yang diduduki oleh Arumi kini.
“Bu Hajjah kalau begitu saya juga pamit pulang ya.. terima kasih sekali Bu, sudah membantu anak dan cucu saya..” ucap Kakek nya Arumi.
“Sama sama Pak Syamsu, kita sebagai umat memang harus saling membantu.” Ucap Bu Hajjah Khasanah sambil tersenyum wajahnya memberi aura keteduhan pada orang yang melihat nya, cerminan dari hati nya yang tulus membantu sesama nya.
Akan tetapi tiba tiba hand phone yang ada di atas meja di depan Bu Hajjah berdering... Bu Hajjah cepat cepat melihat layar hand phone nya..
“Fadli..” gumam Bu Hajjah saat melihat layar hand phone ada foto dan nama anak bungsu nya ..
hatinya tenang adem ayem gk tertekan kayak waktu hidup bareng loe..