NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Malam harinya, suasana rumah yang semula tegang sedikit mencair dengan kedatangan Mama Prameswari dan Angela.

Mereka datang membawa aroma kerinduan dan perhatian yang sangat dibutuhkan.

Di ruang makan, meja kembali tertata, namun kali ini Liana sudah duduk di sana, menempati kursi yang biasanya berada di dekat Abi.

"Mama, Angela..." suara Liana terdengar serak saat melihat kepulangan ibunya.

Mama Prameswari langsung menghambur memeluk putrinya.

"Liana, sayang. Bagaimana keadaanmu?"

Liana menundukkan kepalanya dan merasa malu dengan Mamanya.

"Ma, Liana minta maaf soal kemarin. Liana khilaf, Liana hanya sangat merindukan Papa."

Mama mengusap air mata Liana dan mencium kedua pipi putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Sudahlah, Nak. Mama mengerti. Lihat, Mama bawakan Panada kesukaanmu, masih hangat baru saja Mama buat di rumah."

Saat Liana hendak meraih piring Panada, gerakan tangannya yang terbatas membuat selimut tipis yang menutupi kakinya sedikit tersingkap.

Angela, yang sejak tadi memperhatikannya dengan mata tajam seorang sahabat, segera menangkap pemandangan yang mengerikan dimana bekas lebam kebiruan dan garis merah yang membengkak di betis Liana.

"Li! Kakimu kenapa?!" teriak Angela histeris, membuat Mama Prameswari dan Genata tersentak.

Abi yang sedang menuangkan air minum seketika membeku.

Jantungnya berdegup kencang, ia melirik Liana dengan tatapan penuh ketakutan.

Ia tahu, jika Liana jujur, maka hancurlah reputasinya di depan mertuanya sendiri.

Mama Prameswari segera menyingkap selimut itu lebih lebar dan memekik tertahan.

"Ya Allah, Liana! Kenapa kakimu sampai seperti ini? Bi, apa yang terjadi?"

Suasana menjadi sangat mencekam, Abi membuka mulutnya, hendak mengakui dosanya, namun Liana lebih dulu menggenggam tangan mamanya dengan erat.

"Aku jatuh di kamar mandi, Ma," ucap Liana dengan suara yang sangat tenang dan meyakinkan.

Ia bahkan memberikan senyum tipis ke arah Abi, sebuah senyum yang membuat Abi merasa semakin bersalah sekaligus lega.

"Lantai atas licin dan saat aku ingin lari karena emosi semalam, aku terpeleset hebat. Paman Abi yang menemukanku dan langsung mengobatiku. Karena itu sekarang aku dipindahkan ke kamar bawah agar tidak jatuh lagi."

Mama Prameswari menghela napas lega, meski matanya masih menatap luka itu dengan perih.

"Lain kali hati-hati, Nak. Untung ada Abi yang menjagamu."

Abi tertegun dan menatap Liana dengan tatapan tak percaya.

Di satu sisi, ia merasa sangat bersyukur karena Liana melindunginya, namun di sisi lain, ia melihat kilat aneh di mata Liana dimana sebuah kilat yang menandakan bahwa perlindungan ini adalah hutang yang harus ia bayar mahal nantinya.

Angela menyipitkan mata, ia tahu Liana sedang berbohong.

Jatuh di kamar mandi tidak akan meninggalkan bekas garis lurus seperti cambukan. Namun, melihat Liana yang memberi isyarat lewat mata agar ia diam, Angela hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja.

"Makanlah, Li. Panadanya nanti dingin," ucap Genata memecah keheningan dan mencoba menyembunyikan rasa sesaknya.

Liana mengangguk, ia memakan Panada itu dengan nikmat.

"Enak sekali, Ma. Lebih enak dari masakan siapa pun di rumah ini."

Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk membuat senyum Genata sedikit memudar.

Liana sedang menunjukkan wilayahnya, perlahan tapi pasti, ia mulai memangkas satu per satu peran Genata di mata orang-orang terdekat mereka.

Pukul sepuluh malam berlalu seiring dengan deru mesin mobil Angela yang membawa Mama Prameswari pulang.

Keheningan kembali merayap masuk ke dalam rumah besar itu, namun kali ini atmosfernya terasa sangat berbeda.

Ada ketegangan yang tertahan di udara, seperti benang tipis yang siap putus kapan saja.

Liana tidak lagi menyeret kakinya dengan lemah dan menahan rasa perih.

Ia berjalan dengan dagu terangkat, melangkah menuju kamar utama yang kini menjadi wilayah kekuasaannya. Di ambang pintu kamar, ia berhenti dan berbalik.

Abi sedang berdiri di dekat tangga, sementara Genata berada beberapa langkah di belakangnya, baru saja selesai merapikan sisa meja makan.

"Mas..." panggil Liana. Suaranya tidak lagi dingin atau ketus. Kali ini, suaranya terdengar sangat lembut, sedikit serak, dan penuh nada manja yang sengaja ia buat-buat.

Abi dan Genata serempak menoleh saat mendengar panggilan Liana.

"Malam ini, Mas mau tidur sama siapa?" tanya Liana sambil memiringkan kepalanya sedikit.

Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu kamar utama, menatap Abi dengan mata sayu yang tampak sangat merindukan perlindungan.

Genata mematung dan dadanya berdenyut sakit mendengar pertanyaan itu terang-terangan di depan matanya.

Ia menatap Abi, berharap suaminya akan mengingat janji mereka di sofa tadi sore. Namun, Abi tampak goyah.

Ia melihat Liana gadis yang baru saja berbohong demi menyelamatkan wajahnya di depan mertua berdiri di sana dengan luka-luka yang ia buat sendiri.

"Mas Abi sudah janji mau menjagaku, kan? Kakiku masih sangat berdenyut, aku takut kalau mau ke kamar mandi nanti tidak ada yang membantu bopong," lanjut Liana dengan suaranya mengecil seolah ia adalah wanita paling malang di dunia.

Abi menghela napas panjang, ia menoleh ke arah Genata dengan tatapan penuh permohonan maaf.

"Gen, kamu naiklah ke atas dulu. Aku akan menemani Liana sebentar sampai dia benar-benar terlelap. Kasihan dia, lukanya masih baru."

Genata merasakan matanya memanas dengan perasaannya yang campur aduk.

"Sebentar, Mas? Atau semalaman?" bisiknya yang hanya bisa didengar oleh Abi.

"Aku akan naik kalau dia sudah tidur, aku janji," jawab Abi pelan, meski ia sendiri tidak yakin.

Liana melihat kemenangan kecil itu dari kejauhan.

Sebuah seringai tipis yang tak terlihat oleh Abi muncul di bibirnya saat ia melihat Genata perlahan memutar tubuh dan menaiki tangga dengan bahu yang lunglai.

"Ayo, Mas. Masuklah," ajak Liana.

Begitu Abi masuk ke dalam kamar, Liana segera menutup pintu.

Suasana kamar yang biasanya menjadi tempat paling tenang bagi Abi, kini terasa menyesakkan.

Di atas ranjang yang luas itu, Liana duduk dan menatap Abi yang tampak serba salah.

"Terima kasih sudah membelaku di depan Mama tadi, Liana," ucap Abi sambil duduk di tepi ranjang menjaga jarak.

Liana mendekat dan merangkak di atas kasur hingga lututnya bersentuhan dengan paha Abi.

"Jangan berterima kasih, Paman. Maksudku Mas Abi. Aku melakukannya karena aku istrimu sekarang. Dan sebagai istri, bukankah aku harus menjaga martabat suamiku, meskipun suamiku baru saja mencambukku?"

Perkataan seperti tamparan halus bagi Abi. Liana meraih tangan Abi dan menempelkannya di pipinya yang lembut.

"Malam ini, lupakan Mbak Genata sejenak. Aku hanya ingin bersama suamiku," bisik Liana sambil mulai memadamkan lampu utama, menyisakan cahaya lampu tidur yang remang dan menggoda.

Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, suasana kamar utama yang biasanya tenang kini berubah menjadi medan pertempuran rasa yang membingungkan bagi Abi.

Liana dengan cerdik membawa ingatan Abi kembali ke masa-masa indah saat ia masih kecil, saat dunia mereka hanya berisi tawa dan kasih sayang seorang paman dan keponakan.

Abi tertawa kecil mendengar cerita konyol Liana tentang es krim yang jatuh dulu.

Ia memandang wajah Liana yang tampak sangat cantik dan rapuh secara bersamaan. Namun, tawa itu seketika terhenti saat Liana tiba-tiba mengikis jarak di antara mereka.

Liana mendekatkan bibirnya, membelai lembut bibir Abi dengan miliknya.

Jantung Abi berdetak kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Ada pergulatan hebat di batin pria itu antara rasa bersalah dan gairah yang mulai membakar.

"Li, kaki kamu masih sakit," bisik Abi mencoba menahan diri, suaranya parau dan bergetar.

Namun Liana tidak berhenti dan dengan gerakan yang penuh maksud, ia menarik kemeja Abi, melepaskan kancing-kancingnya satu per satu sambil kembali memburu bibir suaminya itu dengan ciuman yang lebih dalam.

Seolah tersihir, Abi kehilangan kendalinya dan melepaskan pakaiannya sendiri dan mulai melucuti pakaian yang dikenakan istrinya.

Ciuman panas yang menuntut itu membuat Liana mendesah pelan. Sebuah desahan yang sengaja ia keraskan sedikit, seolah ingin menembus dinding kamar hingga terdengar ke lantai atas.

Di kamar atas, Genata terduduk di atas sajadahnya.

Butiran tasbih di tangannya mendadak berhenti berputar.

Kalimat dzikir yang sedang ia lafalkan terputus di tenggorokan saat telinganya menangkap suara desahan yang sayup-sayup namun jelas berasal dari kamar bawah.

Genata memejamkan matanya rapat-rapat, air mata jatuh membasahi mukenanya.

Dadanya sesak, seolah jantungnya diremas paksa. Ia tahu ini adalah tujuannya meminta Abi menikah lagi, ia tahu ini adalah bagian dari "perjanjian" itu. Namun, mendengar suaminya sedang memadu kasih dengan wanita lain di ranjang mereka terasa ribuan kali lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan.

Kembali di kamar bawah, gairah telah memuncak. Abi sudah tidak bisa lagi berpikir jernih.

Rasa bersalahnya atas kejadian di gudang semalam kini ia kompensasikan dengan sentuhan-sentuhan yang menuntut di atas ranjang.

Saat Abi akhirnya menyatukan tubuh mereka, memasuki wilayah paling suci milik Liana untuk pertama kalinya, sebuah teriakan pecah dari bibir gadis itu.

"Paman Abi!" teriak Liana sambil mencengkeram erat bahu bidang suaminya, kuku-kukunya menancap di kulit Abi sebagai bentuk pelepasan rasa sakit dan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Abi segera membungkam teriakan itu dengan ciuman yang dalam di bibir Liana, mencoba menyalurkan rasa memiliki yang seutuhnya.

Di tengah pergulatan panas itu, Liana meneteskan air mata di sudut matanya.

Bukan air mata bahagia, melainkan air mata kemenangan yang pahit.

'Satu langkah lagi, Mbak Gen. Anak ini akan menjadi awal dari kehancuran kalian,' batin Liana di sela napasnya yang memburu.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!