Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29
Miltus berjalan mengikuti Bernaz, sosok tak asing berdiri di pondok utama, tempat biasanya Miltus akan menerima beberapa tamu-tamunya.
"Salam, Tuan." Sapa Miltus membungkukkan badan memberi penghormatan dan penyambutan.
Pria itu membalikkan badan menatap Miltus, "Apa kabar Miltus, putra Codi, berkatmu pasukan Zuba berhasil dipukul mundur. Secara pribadi aku mengucapkan terimakasih, aku malu mengakui, tapi aku yang membuat kekacauan itu."
"Tuan Taddeus jangan bicara seperti itu, kami menyerang Zuba dengan tujuan kami sendiri sebenarnya," ucap Miltus rendah hati. "Ada hal apa sampai membuat Tuan datang sendiri ke sini?"
"Aku datang untuk memastikan beberapa hal. Tapi bisakah kita membicarakan hal ini di tempat lain? Aku rasa ... kita bisa sambil menguji kemampuan pedang masing-masing."
Meski rasanya sangat aneh, namun Miltus menyetujui usulan Taddeus. Entah kenapa rasanya Taddeus datang di saat yang sangat tepat, saat dimana Miltus sedang membutuhkan pengalihan emosi, mengingat betapa penatnya hati dan pikiran Miltus.
KLANG ... KLANG ...
Suara pedang Miltus dan Taddeus beradu dalam kecepatan tanpa celah, situasinya tepat seperti seorang ayah sedang berlatih bersama sang putra.
"Sudah lama sekali aku tidak melakukan hal ini, aku pikir aku sudah lupa cara menggunakannya!" seru Taddeus mengimbangi kecepatan pedang Miltus.
"Tuan memang hebat, usia tidak menunjukkan pengurangan kecepatan dan ketepatan. Tuan masih selalu hebat." Miltus membalas dan menangkis semua serangan Taddeus.
Hingga akhirnya Taddeus mengaku kalah karena kelelahan mengejar kemahiran Miltus. Taddeus terjerembab dan pedangnya berhasil terlepas dari genggamannya.
Keduanya merebahkan badan di tanah, telentang sepuasnya, memejamkan mata menikmati matahari yang mulai menghangatkan pagi itu. Kedua pria beda generasi itu masih mengatur napas yang sama-sama kelelahan.
"Putriku tertangkap basah oleh pamannya, dan Math terlanjur sanggup menikahinya," ucap Taddeus sangat canggung.
"Saya tahu Tuan, saya menyaksikannya sendiri." Miltus memiringkan badan membelakangi Taddeus.
"Bahkan adikmu menjadi menantuku, kamu yakin semua akan baik-baik saja? Kamu tidak ingin kembali berbaikan pada ayahmu?" Meski ragu dengan hal yang ia pertanyakan, namun Taddeus tak ingin menyimpan rasa bersalahnya sendirian.
"Memangnya Tuan bisa berbaikan dengan putra Tuan sendiri?"
"Aku selalu bisa menerima dan memaafkan dia, tapi sepertinya dia masih kokoh pada pendiriannya, tapi memang aku yang bersalah padanya seutuhnya. Aku yang terlalu membuatnya sering kecewa." Taddeus menatap jauh ke langit cerah pagi itu, sambil menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan.
Miltus menghela napas, "itu juga yang aku rasakan terhadap ayahku. Aku terlalu muak dengan semua kemunafikan dan ketidakadilannya, aku sudah bersumpah tidak akan pernah kembali, aku akan hidup dengan caraku sendiri."
"Tapi, benarkah kamu baik-baik saja jika Usstica ...."
"Ku rasa putramu itu bukan pria yang akan menyia-nyiakan adiknya, aku melihat sorot mata keadilan di sana."
Miltus sudah sangat lama mengenal Taddeus, semua berawal ketika Taddeus tak sengaja menyelamatkan Miltus kecil yang hampir tenggelam sewaktu dia bermain-main dengan beberapa saudaranya di danau.
Masa kecil Miltus tidak mudah, ia yang memiliki tubuh lebih kecil bila dibandingkan saudara-saudara pria dalam klannya, sering mendapat bully-an dan hinaan, bahkan perlakuan kasar dan sangat tidak adil dari ayahnya sendiri.
Semenjak Tadeus menyelamatkannya dari niat buruk saudara-saudaranya Miltus, mereka lebih sering bertemu, setiap Taddeus melakukan perjalanan melewati wilayah Codi. Miltus yang begitu nyaman dan bahagia setiap Tadeus mengajarkan banyak hal padanya, hingga waktu berlalu cepat, keduanya bahkan sering berlatih menggunakan pedang bersama. Bagi Miltus, Taddeus adalah sosok ayah pengganti untuknya, di dalam diri Taddeus, ia menemukan sosok yang tak pernah ia temui sebelumnya.
Tuan Xillas adalah ayah yang penyayang terhadap anak-anak perempuannya, namun menjadi ayah yang terlalu keras terhadap putra-putranya. Karena didikan keras yang ia terapkan, membuat putra sulung keluarga Codi, Jarm Codi, meninggal di usia delapan belas tahun. Semenjak itu Miltus mulai sering cekcok dengan sang ayah, akhirnya ia memilih meninggalkan gelar pewarisnya, untuk mencari kehidupan yang diinginkannya.
"Berkunjunglah sesekali, temui adikmu, dia putri yang manis, aku sedikit khawatir dia tidak bisa mendapatkan teman di tempatku." Tadeus bangun, membersihkan pedangnya, lalu berniat melangkah, namun...
DOR!!!
Satu tembakan tepat mengenai dada Taddeus.
...****************...
To be continue ...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣