-----
Raeviga hanya bisa menghela napas ketika kata "Sah" telah terdengar begitu jelas di telingganya.Sekarang ia telah menjadi wanita yang telah menikah.Menikah dengan seorang lelaki yang baru dikenalnya selama 1 minggu.Tidak lebih.
"Rae.." Lelaki itu memanggil nama Istrinya .Menenggelamkan wajahnya di lekukan leher gadis itu dan menciumnya.
"Aku mencintaimu.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : MABUK
Dava memeluk erat tubuh Raeviga dan menenggelamkan wajahnya pada bahu kanan wanitanya.
"Aku merindukanmu,Rae.."
"Sangat merindukanmu" ungkapnya dengan setetes air mata yang melesat keluar.
"Maaf,aku meminta maaf atas kesalahanku di masa lalu.."
"kumohon Rae,kembalilah bersamaku lagi.."Dava semakin menenggelamkan wajahnya di pelukan Raeviga.
Raeviga merasakan air mata Dava menetes membahasi punggung,gadis itu membiarkan Dava menangis dalam pelukannya.Selama beberapa menit mereka saling memeluk tanpa bersuara,membiarkan tubuh mereka yang akan berbicara.
Dava melepaskan pelukannya setelah emosinya dapat dikontrolnya kembali.Dia menatap wajah Raeviga begitu lekat.
"kumohon kembalilah bersamaku lagi.."pinta Dava sembari mengenggam kedua tangan Raeviga.
Namun dengan cepat Raeviga melepaskan genggaman tangan itu.
"Maaf,aku tidak bisa.Kembali bersamamu hanya akan membuat luka Dav.."perkataan Raeviga itu seolah telah menusuk hati Dava dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Rae.."seru Dava pada gadis yang telah berbalik menjauh darinya.
Dava memukul tembok lorong ikut berkali-kali meluapkan emosinya sekarang.Air mata lelaki itu masih menetes membasahi pipinya.
__________________
Raeviga berlari menjauh dari Dava dan masuk ke dalam kamar tidurnya.Menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh orang lain.Pertemuannya lagi dengan Dava membuatnya kembali membayangi pikiran gadis itu.Air mata yang sedari tadi di tahannya akhirnya merebak keluar membahasi pipinya.
Dava mengendarai mobilnya dengan asal di jalan raya,kekesalan dan amarahnya dia lampiaskan dengan menyetir tak tentu arah dengan kecepatan yang cukup tinggi.Seolah telah siap ketika malaikat mau merengut nyawanya.
"Sial!"gerutunya ketika mengingat kembali ucapan Raeviga yang menusuk hatinya itu.
Dava semakin mempercepat laju kendaraannya.Jalanan ibu kota yang masih terlihat ramai walau sudah larut malam itu mengumpat dan memaki kepada Dava yang mengendarainya secara ugal-ugalan.
20 menit kemudian,Mobil berwarna silver itu sudah terparkir di sebuah tempat yang sangat tidak asing baginya.Tempat yang sangat cocok untuk melampiaskan kemarahannya sekarang ini.Dava melihat papan nama yang bertuliskan "NIGHT BAR" dengan hiasan lampu yang menyala terang mengitari barisana huruf itu.
Dava mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam Bar dan duduk di meja yang berada paling ujung.Tangan Dava melambai pada seorang waiter yang saat itu sekilas menatapnya.
Pelayan itu mengangguk menghampirinya ketika Dava melambaikan tangan ke arahnya.
"ambilkan aku Bir dengan kadar alkohol yang tinggi.."pinta sembari melepaskan dua kancing baju bagian atasnya membuat dada bidang milik Dava itu sedikit terekspos.
Beberapa menit kemudian dua botol minuman yang di minta Dava telah tersaji di mejanya.Lelaki itu menuangkan minuman itu pada gelas kecil yang telah di sediakan.Dava mencicipi minuman alkohol itu dengan nikmat.Seorang wanita penghibur melihat keberadaan Dava yang sedikit terkulai karena pengaruh Alkoholnya.Wanita itu mendekat ke arah Dava dan melancarkan aksinya menggoda Dava.
Lelaki yang masih setengah sadar itu melirik sekilas pada wanita yang duduk sangat dekat padanya dengan kedua tangannya yang telah menyentuh dada bidang milik Dava.
"Singkirkan tangan lo dari tubuh gue,jalang!"gertak lelaki itu sembari menyentak dengan keras tangan wanita penghibur itu.
Wanita itu menyingkirkan tangannya dan pergi meninggalkan Dava sendiri karena ketakutan melihat amarah lelaki itu.
Dava berdiri dengan dari keluar dari tempat maksiat dengan sedikit sempoyongan.
"Gadis jalang,tubuhmu istriku jauh lebih nikmat darimu.."racau Dava di perjalanan menuju mobilnya.
Dava berkali-kali meracau memanggil Raeviga di sela perjalanannya.Tangannya merogoh ponsel disaku celananya.Dava mencari nama seseorang di kontak panggilannya dengan pengeliatannya yang sedikit buram.
"Akhh!"racaunya ketika menemukan nama seseorang yang sedang dicarinya.Dava mulai menekan tombol call di layar ponselnya.
"Halo"ungkapnya lelaki dari seberang telepon Dava sembari menggeliatkan tubuhnya dan menguap sesekali.
"Hai,sobat apa aku boleh menginap kerumahmu?"tanya Dava yang kadar kesadarannya sudah melemah.
"Sekarang?"tanya pria itu sedikit terkejut dan melirik jam dinding yang telah menunjukkan angka setengah 1 malam itu.Waktu yang tidak semestinya untuk orang berkunjung melainkan waktu untuk istirahat.
"Hmmz! apa aku harus menunggu lebaran monyet untuk ke rumahmu?sialan!"racau Dava sembari membuka pintu mobilnya sedikit kesusahan.
"Kau mabuk ya?"tanyanya lelaki itu namun tidak ada jawaban dari Dava.
"kabari aku jika sampai" lanjut lelaki itu kemudian dan memutuskan panggilan telponnya tanpa menunggu jawaban Dava.
"sialan!menganggu orang tidur saja.."umpatnya sembari memeluk wanita yang terbangun karena umpatannya.
"ada apa,Xel?"tanya wanita yang berada di pelukannya.
"Dava akan kesini"jawab Axel singkat.
"kesini?malam ini?"tanya Maura dengan mata yang masih sangat mengantuk.
Axel hanya berdeham dan memeluk Maura.
"biarkan saja dia.."ungkapnya melanjutkan tidurnya yang terganggu.
____________
Raeviga terbangun melihat jam dinding yang sudah berkali-kali di lihatnya.Wanita ini terus saja terbangun dari tidurnya sedari tadi,seolah dirinya merasa cemas dan gusar.Pikirannya di penuhi oleh seseorang yang sudah lama ingin di lupakannya.
Raeviga bangun dari tidur dan beranjak keluar dari kamar karena rasa cemas tak beralasan itu terus menganggu tidurnya.Raeviga berada di dapur mencari makanan yang mungkin masih tersisa dan bisa menjadi cemilannya malam ini.
Dugg..Dug
Suara ketukan pintu yang sangat keras dan terdengar racuan dari luar membuat Raeviga sedikit terkejut.Pikiran sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.
Perampokan biasanya sering terjadi di malam hari
Raeviga melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu depan,tangannya sedikit gemetaran memegang knok pintu yang terkunci.Raeviga terdiam cukup lama di depan pintu dan ketukan pada pintu itu semakin keras.
"Apa yang kamu lakukan?"tanya Axel tiba-tiba di belakang Raeviga.
"Ekkh,itu di luar.."jawab Raeviga dengan nada ketakutan.
"buka saja mungkin dia temanku"pinta Axel dengan wajah mengantuk yang di tahannya.
"teman?jam segini?"tanya Raeviga tak mengerti.
Axel berdeham pelan membuat Raeviga terpaksa dengan takut membuka pintu itu.Raeviga membuka pintu rumah itu dan terkejut tiba-tiba seseorang terjatuh menimpa dirinya
"Astaggaa!"pekik Raeviga ketika tubuh manusia yang lumayan berat itu menimpa tubuhnya hinga terjatuh bersama di lantai.
Raeviga membelalakkan kedua matanya ketika melihat Dava yang terjatuh menimpa tubuhnya.
"Dav,Lo benaran mabuk?Astaga nih orang"keluh Axel yang berjalan mendekat menarik tubuh Axel yang menimpa Raeviga.
Raeviga masih terduduk di lantai menatap Dava yang sekarang berada di depannya dengan kondisi tak sadarkan diri.Bau alkohol tercium jelas dari tubuh Dava membuat Raeviga menatap tidak suka pada Dava.
"tolong bantu aku,Rae"seru Axel meminta pertolongan untuk membawa Dava yang sudah tak sadarkan diri itu.
Raeviga sedikit merasa canggung saat dirinya menyentuh lengan Dava yang terasa hangat itu.
"Rae.."gumam Dava membuat Raeviga yang berada di sampingnya menatap ke arah Dava yang memejamkan kedua mata dan meracau tidak jelas.
BERSAMBUNG
NB: Vote dan Like cerita ini ya kalau menurut kalian cerita bisa layak untuk dilihat lebih banyak pembaca dan mendapat apreasi dari kalian.
Terima kasih,
Tapi kenapa harus di jodohin sama anak bungsu apa Arga si sulung udah nikah kah?