Wanita yang selalu di cari dan di pikirkan oleh nya sejak dahulu telah hilang, Hilang karna kepindahan nya dan juga kedua orang tua nya ke tempat yang baru membuat Jonathan Adijaya kehilangan persahabatan, Bukan persahabatan melainkan cinta pertama nya. Wanita yang selalu saja ada saat diri nya sedang sedih karna tidak di belikan apa yang di ingikan nya oleh kedua orang tua nya membuat nya jatuh cinta kepada wanita kecil nya itu.
"Gak usah ngelakuin tes DNA nanti bayi kakak sakit" Ara Riyanti.
"Tapi itu benaran bukan anak aku" Jonathan Adijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tari channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gw iri sama kalian
Sedangkan nathan dan nita hanya melihat mereka bertiga berdebat. "Udah sana kalian pergi sekolah" ucap ara lagi kepada Erina dan juga Andita.
"Lo budek atau gimana ra....kita males sekolah....kita mau tetep disini" bentak Andita kepada ara tapi ara tidak terlalu memasukkan ke hati bentakan Andita tersebut karna sudah biasa mereka berbicara seperti itu.
Ara tidak bisa berkata apa lagi karna Andita dan Erina memang tidak mau sekolah. "Srah kalian dah" ucap ara dan melempar tubuhnya untuk menyender di tempat tidur.
"Bunda kalo mau pulang pulang aja bun......biar kita yang jagain ara" ucap Erina kepada nita dan melebarkan senyumannya.
Ara langsung menoleh ke arah nita dan juga nathan. "Iya bun.....kalo bunda mau pulang pulang aja.....ara gapapa kok" ucap ara lagi sambil tersenyum.
"Bunda gapapa kok nak.....biar bunda yang jagain kamu" jawab nita sambil tersenyum dan mengelus lembut rambut ara.
"Bunda pulang aja......kan bunda capek jagain ara dari semaleman" ucap ara dengan menundukkan kepalanya.
"Bunda gapapa kok sayang" jawab nita sambil mengangkat kepala ara untuk melihat ke arahnya.
"Bunda pulang aja bun....biar Erina dan Andita yang jagain ara" ucap Erina kepada nita.
Nathan yang sedari tadi hanya diam dan mendengar Erina dan ara menyuruh ibunya pulang pun angkat bicara. "Ayo bun kita pulang.......kita udah gak di butuhin lagi disini" ketus nathan dengan mengambil tangan nita yang terletak di pipi ara.
Ara yang mendengar ucapan nathan langsung melihat kesal ke arah nathan. "Iiihh lo kok ngomong gitu sih?" tanya ara kepada nathan.
"Kan lo nyuruh bunda pulang" jawab nathan ketus.
"Ya kan maksud gw supaya nyokap lo istirahat di rumah" jawab ara sedikit merasa bersalah.
Sedangkan nathan tidak menjawab perkataan ara dan tetap mengajak sang ibu pulang. "Yaudah ayo bun kita pulang aja" ucap nathan datar.
"Yaudah bunda pulang dulu ya nak" pamit nita kepada ara Erina dan juga Andita sambil melebarkan senyumannya dan di balas senyuman juga oleh ara dan tamannya.
Nathan dan nita berjalan keluar menuju ke parkiran untuk mengambil mobil mereka. Setelah sampai di parkiran nathan membuka pintu untuk sang ibu dan setelah itu dia masuk ke dalam mobil dan melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Nathan terlihat sedikit kesal. nita yang melihat anaknya dengan wajah yang di tekuk langsung bertanya. "Kamu kenapa?" tanya nita kepada nathan.
"Nathan gapapa kok bun" jawab nathan kepada nita tapi pandangannya masih pokus ke kemudi.
"Nat kamu kenapa kasar banget sama ara?" tanya nita kepada nathan.
Nathan langsung melihat ke arah nita. "Nathan gak kasar kok sama ara bun" jawab nathan.
"Trus kenapa tadi kamu ngomong gitu sama ara......kan ara jadi sedih" tanya nita lagi.
"Ya nathan kesel aja.....dia nyuruh nyuruh kita pulang.....kan sama aja dia itu ngusir kita bun" jawab nathan kesal.
"Tapi kamu gak boleh gitu sama dia" ucap nita.
Di rumah sakit tepatnya di ruangan ara terlihat ara yang masih menundukkan pandangannya sedangkan Erina dan Andita bingung karna ara semenjak di bentak oleh nathan dia tidak berbicara apa apa. "Ara" panggil Erina kepada ara.
"Hmm" jawab ara dengan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Erina dan Andita.
"kenapa?" tanya ara.
"Lo kesinggung sama ucapan kak nathan?" tanya Erina kepada ara.
"Ya enggak lah" ucap ara sambil tertawa kecil.
"Trus lo kenapa murung gitu tadi?" tanya Erina kepada ara.
Ara mendengus kasar dan kembali menundukkan pandangannya. "Huhh gw gak ada uang.....sedangkan ponsel gw rusak....kan kenangan gw sama kak dewa ada di sana" ucap ara sedih dan masih menundukkan kepalanya.
"Kan duit lo banyak ra" ucap Andita dengan volume sedikit meninggi.
"Kan itu bukan duit gw Dit" jawab ara lagi.
Andita mendengus kasar dan duduk di atas ranjang ara tepat di depan ara. "Ara dengerin gw.....mami sama papi ngirimin lo tiap bulan......dia kerja buat lo.....lo masih mau bilang kalo lo gak ada uang?" tanya Andita kepada ara. Ara yang mendengar perkataan Andita langsung menatap ke arah Andita.
"Mereka kerja buat buat gw Dit" jawab ara sambil menatap Andita dengan mata yang berkaca kaca. Sedangkan Andita tidak mau menjawab perkataan ara karna dia tau jika ara sangat rapuh jika di singgung masalah perhatian dan kasih sayang.
"Mereka kerja buat Sheyla bukan buat gw....lo tau itukan" bentak ara dengan air mata yang tiba tiba keluar.
Andita dan Erina tidak mau berbicara karna mereka tau dengan menangis lah ara bisa sedikit tenang. "Mereka gak pernah sayang sama gw Dit" bentak ara lagi dan menangis sejadi jadinya sedangkan Andita hanya diam dan tak mau berbicara.
"Gw gak sama kayak lo Dit.....biarpun lo anak tiri lo selalu ngedapetin kasih sayang dari nyokap sama bokap lo" ucap ara dengan tangisan yang semakin menjadi dan menundukkan kepalanya.
Andita yang mendengar perkataan ara yang mengatakan bahwa dirinya anak angkat langsung terlihat emosi. Erina yang menyadari jika Andita sedang emosi langsung memegang tangan Andita. "Jangan di masukin hati.....kita liat aja" ucap erina dan Andita, Erina dan Andita yang tadinya ingin menampar mulut ara pun di urungkan.
Ara yang menundukkan kepalanya kembali mengangkatkannya dan kembali menyambungkan perkataanya tadi. "Gw iri sama lo Dit" sambung ara dengan melihat ke arah Andita. sedangkan Andita dan Erina yang melihatnya pun alngsung merasa iba dan memeluknya.
"Udah jangan nangis lagi....ntar kita ikutan nangis" ucap Andita sambil mengelus lembut punggung ara.
"Gw iri sama lo dit" ucap ara di pelukan Andita dan Erina.
"Udah udah jangan sedih lagi" ucap Erina yang melihat Andita juga ikut menangis.
"Gw iri sama kalian......kalian mempunyai orang tua yang sayang sama kalian sedangkan gw gaak" ucap ara dengan tangisnya begitupun dengan Andita.
"Udah lo gak usah iri sama kita......mami sama papi sayang kok sama lo" ucap Erina dengan memeluk erat kedua sahabatnya tersebut.
"Mereka gak pernah sayang sama gw......mereka aja gak ngejenguk ataupun nelpon gw....padahal gw butuh mereka Er" ucap ara masih menangis.
"Gw capek hidup gini Er" sambung ara dengan membenamkan wajahnya ke pelukan Andita dan Erina sedangkan Andita tidak bisa berkata apa apa karna dia juga sedih dan ikut menangis.
Ruangan tersebut di penuhi dengan suara tangisan. Erina hanya bisa mencoba menenangkan kedua sahabatnya tersebut. Tidak lama kemuadian terlihat Andita yabg sudah selesai dengan tangisannya. "Ra kita selalu ada buat lo" ucap Andita dengan suara khas orang baru selesai menangis dan melepaskan pelukannya dari ara.
"Lo gak usah sedih lagi" ucap Andita dan kembali memeluk erat tubuh kedua sahanbatnya tersebut.
"Gw sayang banget sama kalian" ucap ara yang masih dalan keadaan menangis dan mempererat peluk nya kepada kedua sahabatnya tersebut.