Anak adalah titipan,anak adalah amanah,dan kewajiban kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.
Dan Dinda,yang diusia muda sudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi tiga buah hatinya harus berjuang keras menafkahi meskipun ada begitu banyak rintangan yang harus dihadapi.
Mampukah Dinda melewati ujian hidupnya seorang diri,sekuat dan segigih apa perjuangannya untuk ketiga anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penggemar Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doakan dia agar menjadi baik,,
"kamu gak panggil Yoga untuk sarapan,Din?" tanya Zaida yang heran melihat Dinda membereskan semua sisa sarapan padahal Yoga belum muncul.
"kak Yoga gak pulang semalem bu" jawab Dinda sambil mengelap meja lalu membawa semua piring dan gelas kotor ke dapur.
"dia gak bilang menginap dimana sama kamu?" Dinda menggeleng
"anak itu,selalu saja bikin masalah" geram Zaida
Tiba tiba Dinda merasa kepalanya begitu pusing,hingga harus berpegangan di kursi meja makan untuk menopang tubuhnya.
"bu,boleh Dinda istirahat dulu sebentar? kepala Dinda tiba tiba pusing" ucap Dinda sambil memegangi sebelah kepalanya
"kenapa kamu,Din?" tanya Zaida khawatir
"gak tau bu tiba tiba migrain" jawabnya
"kecapek an kali kamu,ya udah istirahat saja dulu,nanti buat makan siang biar ibu yang masak,anak anak juga biar sama ibu"
Dinda mengangguk lalu berjalan masuk ke kamarnya,tapi saat berbalik,Zaida memanggilnya kembali,
"Din,itu pelipismu kenapa?"tanya Zaida sambil mendekati menantunya itu dan memeriksa pelipisnya,namun saat disentuh,Dinda langsung meringis
"sakit banget?" tanya nya lagi
Dinda mengangguk pelan
"Ya Allah,maafkan Yoga ya Din,ibu juga gak tau kenapa dia bisa jadi begini" raut wajah Zaida berubah
"gak papa bu,mungkin kak Yoga lagi banyak pikiran,semenjak gak kerja dia jadi uring uringan" Dinda masih membela suaminya
"kamu maklumin aja ya,doakan agar dia kembali berubah jadi baik" wajah Zaida menghiba,Dinda hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan ibu mertuanya yang masih memandanginya hingga hilang dibalik pintu kamar
"hhhhh" Dinda mendesah pelan sambil memperhatikan pantulan wajahnya di cermin,
'jadi memar begini' gumamnya sambil menyentuh pelipisnya yang terasa nyeri 'aw' pekiknya pelan
Dinda kemudian berbaring di ranjangnya,hatinya sedang lelah sehingga tubuhnya ikut merasa lelah luar biasa,Dinda memejamkan mata dan sesaat kemudian dirinya sudah terlelap,namun dalam hitungan menit,satu bentakan membuatnya kaget dan terbangun
"bagus ya,pagi pagi enak enakan tidur,bangun,dasar pemalas!" bentak Yoga dengan emosi
"aku udah bangun dari subuh pa,cuma tadi kepalaku sakit jadi aku ijin ke ibu untuk istirahat sebentar" Dinda membela diri
"alasan,bilang aja memang kamu malas,suami pulang bukannya disambut,disuguhi sarapan,malah tidur,bangun sana kamu" Yoga membentak lagi namun kali ini sambil mendorong lengan Dinda dengan kencang sehingga Dinda terjungkal ke samping ranjang
"sakit kak" protes Dinda
"apa? mau ku tambahi lagi?" Yoga membuat gerakan seolah ingin menendang Dinda,membuat Dinda beringsut mundur dan melangkah keluar dari kamar
"pergi sana" usir Yoga
Dinda menahan air matanya karena diluar kamar Zaida,Galng dan Nabila memandang ke arahnya,Dinda menyunggingkan senyum seolah tidak terjadi apa apa padahal semua juga mendengar bentakan kasar Yoga barusan.
"Yoga marah marah lagi?" tanya Zaida, Dinda hanya mengangguk tanpa menjawab lalu menggendong Nabila untuk menutupi suasana hatinya yang sedang kacau.
ingin sekali dirinya menumpahkan segala perasaan hatinya tapi bingung kepada siapa,sejak menikah,nyaris tak ada kontak dengan teman temannya,hanya sekedar bertegur sapa jika berpapasan saja.
"bu,,kayanya Galang makin parah pileknya" Dinda memegang kening putra sulungnya yang terasa hangt,kemudian menurunkan Nabila dari gendongannya.
"kayanya harus Dinda bawa ke Puskesmas ya bu"ucap Dinda
"ya sudah bawa saja,Din,takutnya makin parah" ucap Zaida
"mau dua duanya kamu bawa?" tanya Zaida lagi
"kalau Nabila ditinggal nanti nangis bu" jawab Dinda
"iya sih,ibu juga mau masak" sahut Zaida
"ya sudah kalau begitu dibawa aja dua duanya,Galang juga kayanya masih kuat jalan" sambil menatap ke arah Galang yang sedang duduk di sofa
"Galang kuat jalan nak?" tanya Dinda,Galang oun mengangguk cepat
Dinda segera beranjak kemuadian menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil baju untuk kedua anaknya.
Dengan langkah pelan dan hati hati Dinda membuka pintu kamar dan masuk,terdengar dengkuran halus dari atas ranjang,Yoga sedang tertidur pulas.
gegas Dinda mengambil pakaian untuk dirinya dan anak anaknya serta perlengkapan yang akan dibawa dan segera keluar lagi dari kamar dengan langkah yang sepelan mungkin agar tidak membangunkan suaminya.
"ok sudah siap" ucapnya setelah mengganti pakaian Galang dan Nabila,sedangkan dirinya sendiri sudah lebih dulu berganti pakaian.
Dimda memasang kain gendongan dan menaikkan Nabila ke gendongannya,sedangkan Galang hanya digandeng saja
"bu,kami pergi dulu" pamit Dinda pada Zaida
"hati hati dijalan Din,hati hati naik angkotnya" pesan Zaida,yang dibalas anggukan oleh Dinda
" ehm bu,mungkin sehabis dari puskesmas,Dinda bawa anak anak mampir dulu kerumah ibu,sudah lama gak kesana"
"jangan sore sore pulangnya,salam ya buat ibu kamu" ucap Zaida
"iya bu,nanti Dinda sampaikan,Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" balas Zaida
Dinda segera menuntun putranya berjalan menuju jalan raya untuk mencegat angkot.
***
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Yanti menyahut dari dalam rumah.
krieettt,,
Yanti muncul dan langsung tersenyum sumringah begitu melihat siapa yang datang,
"eeeh,cucu nenek,ayo masuk" ajak Yanti pada anak dan cucunya
"kamu apa kabar Din? udah lama gak main kesini,ibu juga agak susah mau main kesana karena Rani gak mau ditinggal,gak mau di ajak juga" jelas Yanti panjang lebar
"Dinda baik bu,owh ya ada salam dari omanya anak anak" ucap Dinda
"Waalaikumsalam,ibu mertuamu sehat?"
"Alhamdulillah bu,sehat" jawab Dinda
"suamimu gak ikut?"
"nggak bu,lagi kerja" Dinda menjawab dengan suara pelan,memang ibunya tidak tau apa apa tentang keadaan rumah tangganya jika tidak Dinda yang bercerita
Yanti masuk ke dapur dan tak lama kemudian keluar lagi membawa banyak makanan,,Galang dan Nabila langsung berebut cemilan yang dibawa nenek nya itu.
"pelan pelan,sini nenek suapin" ucap Yanti sambil memangku Nabila dan mulai menyuapi kedua cucunya itu bergantian.
Dinda melepas jilbab instannya,dan ikut juga menikmati cemilan yang diletakkan di atas meja,
"kalian memang sengaja datang kemari?" tanya Yanti
"iya bu memang sengaja ingin mampir tapi tadi brusan dari puskesmas,berobat si Galang" jawab Dinda menjelaskan
"flu ya sayang" Yanti memegang kening cucu sulungnya itu
"tapi gak demam kan?"
"nggak bu,cuma pilek aja,takutnya kalo gak diobatin nanti nuler ke Bila?"jawab Dinda lagi
Yanti manggut manggut mengerti
"mau ke kamar mandi dulu" Dinda beranjak dan berlalu menuju arah dapur tempat dimana letak kamar mandi rumah itu juga.
setelah selesai Dinda kembali lagi ke ruang keluarga dan duduk kembali ke tempatnya semula,
Yanti yang mengawasi wajah putrinya itu tanpa sengaja melihat warna biru lebam di pelipis
itu blm seberapa, karma yg
di terima oleh anak mu yg tersayang.
siapkan mental, siapkan pisik.
dan berlapang dada.
thanks mbak 💪😍
bacanya, kayak buah dd Ng pake
bra, tergantung tapi masih nempel
di dada, kalo novel ini di hati.
thanks mbak 💪🥰